"Ayah, ini berlebihan," ucap Araya akhirnya. Dia pun menyodorkan kembali map tersebut pada Rama. Rama hanya tersenyum maklum, bagaimanapun Araya terbiasa hidup mandiri sejak dulu. Jelas saja, disodorkan jabatan serta tanggung jawab yang lebih, membuat Araya enggan. Rama sudah paham bagaimana sikap dan sifat Araya. Rama pun tahu, Shania tahu bahwa Araya mampu memimpin perusahaan dengan baik. Rama tak meragukan keputusan Shania, walaupun wanita itu tak pernah mengakui secara terang-terangan potensi yang dimiliki Araya. "Apa yang membuat kamu ragu, Ray?" Araya menggigit bibirnya. "Masih ada Gevan, kenapa harus Ray?" Araya takut jika ia tak bisa memimpin perusahaan dengan baik dan amanah. Kemampuan dirinya sangat jauh dari mamanya. "Araya, yang mama kamu punya hanya kamu. Gevan sudah te

