bc

MENGANDUNG BENIH SANG MANTAN

book_age18+
203
FOLLOW
2.9K
READ
HE
pregnant
arrogant
boss
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
serious
office/work place
cheating
friends with benefits
assistant
like
intro-logo
Blurb

WARNING 21++

Saat kuliah, Restika Cempaka menjadi bahan taruhan sekumpulan mahasiswa kaya. Gestara Mangkubumi, mahasiswa populer sekaligus pewaris kerajaan properti, berhasil mendapatkan hatinya hingga Restika menyerahkan segalanya. Namun, suatu hari Restika mengetahui bahwa Gestara tidak pernah mencintainya. Lelaki itu hanya ingin memenangkan taruhan dan diam-diam pria itu kembali menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya seorang calon dokter bernama Archilla.

Dalam keadaan hancur sekaligus mengandung anak Gestara, Restika memilih pergi tanpa mengungkapkan kehamilannya.

Enam tahun berlalu, Restika (28 tahun) telah menjadi pengacara muda di Fadillah & Partners, firma hukum milik dosen yang dahulu menolongnya. Ia hidup damai di Surabaya bersama putrinya, Asa Kinara. Namun, setelah sang dosen meninggal, anak-anaknya menjual firma tersebut kepada Mangkubumi Land Development. Karena terikat janji untuk mengabdikan kariernya di firma itu sebagai balas jasa, Restika terpaksa kembali ke Jakarta.

Takdir pun mempertemukannya kembali dengan Gestara Mangkubumi (29 tahun) yang kini menjadi CEO Mangkubumi Land Development. Lebih buruk lagi, Restika ditunjuk sebagai penasihat hukum yang harus mendampingi Gestara dalam berbagai urusan perusahaan dan persidangan.

Namun, kali ini ada yang berbeda, Archilla sudah resmi menjadi istri seorang Gestara Mangkubumi.

Di tengah trauma yang kembali terbuka, Restika harus menjaga rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu Asa Kinara yang merupakan putri rahasia Gestara. Sebab, jika keluarga Mangkubumi mengetahui keberadaan Asa, Restika bukan hanya terancam kehilangan kedamaiannya, tetapi juga anak yang selama ini dibesarkannya seorang diri.

chap-preview
Free preview
Hasrat yang Berdosa
“Sudah, aku tidak tahan lagi. Aku lelah… Gestara… ah… sudah…. Ahhh… kak… sakit…” Rengekan itu tidak juga didengarkan meskipun kuku-kuku Restika telah mencengkeram punggung pria di atasnya sebagai tanda protes. Gestara tetap memeluknya begitu erat, seolah tidak ingin memberikan sedikit pun kesempatan bagi perempuan itu untuk menjauh. “Enak banget kamu…. Arghh.. sempit banget.” “Pelan, Kak… angghh…” Tatapannya terpaku pada wajah Restika yang tampak kelelahan dengan napas tersendat, helauan rambut menempel pada pelipis yang berkeringat, sementara warna kemerahan menjalar sampai ke lehernya. “Jangan berbohong. Aku tahu kamu juga menginginkannya.” “Ngh… tetapi aku lelah. Berhenti dulu se—ah! Sebentar!” “Panggil aku Kakak terlebih dahulu. Walaupun kita satu angkatan, aku dua tahun lebih tua darimu. Ayolah…,” bisiknya sambil menggigit telinga Restika yang sudah memerah. Dengan susah payah, Restika kembali bersuara. “Ka… Kakak….” “Siallan,” umpat Gestara tertahan sebelum merengkuhnya semakin erat dan menghentak semakin dalam. . . . “Ibu, bangun!” Manik hitam Restika terbuka seketika. Ia menatap langit-langit kamar dengan napas terengah, sementara jemarinya mencengkeram selimut yang telah kusut di atas tubuhnya. Keringat dingin membasahi tengkuknya meskipun pendingin ruangan masih menyala. Mimpi itu terasa begitu nyata hingga aroma Gestara, suaranya, bahkan tatapan lelaki itu seolah masih tertinggal di dalam kamar. “Ibu, dengal tidak Asa ngomong?” Suara kecil itu kembali terdengar dari sisi ranjang. “Asa mau belangkat sekolah. Katanya Ibu mau antalin Asa, bagaimana sih?” Restika menoleh dan menemukan seorang anak perempuan telah berdiri sambil berkacak pinggang. Asa Kinara sudah mengenakan seragam dengan rambut dikuncir dua, kaus kakinya terpasang rapi, dan tas berwarna merah muda telah menggantung di kedua bahunya. Wajah mungil itu tampak menggemaskan meskipun Mbakrnya sedang mengerucut kesal. “Asa?” “Bental lagi jam delapan nanti busna datang, Ibuuuuu!” Restika langsung bangkit dan meraih ponselnya. “Astaga, sudah mau setengah delapan?” “Iya.” Asa mengangguk cepat. “Asa sudah mandi, sudah makan, sudah pakai seagam dibantu Mbak, soalna Ibuna ga bangun bangun.” “Kenapa alarm Ibu tidak berbunyi?” “Belbunyi, tetapi Ibu matikan. Asa dengal! Ibu saja yang tidul telus!” Restika memejamkan mata sejenak. Ia bahkan tidak ingat pernah mematikan alarm. Sidang pertamanya dijadwalkan pukul sembilan pagi, sedangkan perjalanan menuju pengadilan membutuhkan waktu hampir empat puluh menit jika jalanan tidak terlalu padat. “Ibu benar-benar terlambat,” gumamnya sembari turun dari ranjang. “Tuh, kan. Ibu suka bilang Asa tidak boleh telambat, tetapi Ibu sendili telambat.” “Iya, Ibu salah.” Restika membungkuk lalu mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya. “Sekarang maafkan Ibu terlebih dahulu, boleh?” Asa masih berusaha mempertahankan wajah cemberut meskipun kedua lengannya sudah melingkari leher Restika. “Asa pikir-pikil dulu.” Restika mencium pipinya berkali-kali hingga gadis kecil itu menggeliat geli. “Jangan berpikir terlalu lama. Nanti bus sekolahmu benar-benar pergi.” Perempuan berambut hitam itu membawa Asa turun ke lantai bawah. Rumah dua lantai yang ditempatinya berada di dalam perumahan sederhana, tidak terlalu luas, tetapi cukup nyaman untuk mereka berdua. Beberapa mainan masih tersusun di sudut ruang keluarga, sementara aroma telur dadar dan roti panggang memenuhi ruangan. Mbak Tuti sedang membereskan meja makan ketika melihat Restika muncul dengan rambut berantakan dan wajah panik. “Ibu baru bangun?” tanyanya keheranan. “Saya kira Ibu memang sengaja mau berangkat agak siang hari ini.” “Aku ada sidang pagi, Mbak.” Restika menurunkan Asa di dekat sofa kemudian buru-buru merapikan kuncir anaknya. “Semalam aku sudah bilang mau mengantar Asa, tetapi ternyata malah bangun terlambat. Tolong antarkan Asa ke halte, ya. Aku ada sidang, harus bersiap dan tidak akan sempat kalau mengantar Asa dulu.” “Ihh Ibu…,” rengekan Asa terdengar. “Bisa ya, Mbak?” “Tentu, Bu. Biar saya yang mengantarkan. Ibu jangan lupa sarapan ya, saya sudah buatkan roti isi dan buah. Bisa dimakan di mobil.” Restika mengangguk lalu berjongkok di hadapan Asa. Rasa bersalah seketika memenuhi dadanya ketika melihat putrinya masih memasang wajah kecewa. Ia telah berjanji mengantar Asa sampai ke halte pagi ini karena selama beberapa hari terakhir pekerjaannya terlalu padat. Namun, sebuah mimpi tentang laki-laki dari masa lalu justru membuatnya mengingkari janji sederhana tersebut. “Maafkan Ibu, ya.” Restika menggenggam kedua tangan kecil Asa. “Besok Ibu benar-benar mengantarmu. Tidak boleh ada alasan lagi.” “Benal?” “Benar.” “Kalau Ibu bohong lagi, Asa mau cokelat Dubai.” Restika mengangkat sebelah alis. “Kamu belajar memeras Ibu dari siapa?” “Asa tidak melas.” Gadis kecil itu menggeleng polos. “Asa cuma minta ganti lugi.” Mbak Tuti menahan tawa dari meja makan, sedangkan Restika hanya dapat mengembuskan napas pasrah. “Baiklah, cokelat Dubai.” “Oke, nanti malam makan dengan Asa ya?” “Iya, sayang. Nanti Ibu pulang cepat.” Restika memeluk putrinya dan mencium keningnya cukup lama sebelum membiarkan Asa menggandeng tangan Mbak Tuti. Mereka kemudian berjalan menuju halte di depan perumahan, tempat bus sekolah biasa menjemput. Restika berdiri di ambang pintu sampai keduanya menghilang di balik pagar, lalu menutup pintu perlahan ketika rumah kembali sunyi. Enam tahun telah berlalu sejak dirinya meninggalkan Jakarta. Enam tahun sejak ia membawa rahasia kecil di dalam rahimnya dan memulai kehidupan baru di Surabaya tanpa Gestara Mangkubumi. Bu Fadillah memberinya tempat tinggal, kesempatan bekerja, rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan, bahkan membiayai beberapa kebutuhannya sampai ia berhasil menyelesaikan S2. Dari associate muda yang hanya membantu memeriksa berkas, Restika perlahan dipercaya menangani berbagai perkara besar hingga menjadi salah satu pengacara terbaik di firma tersebut. Namun, pencapaian terbesar dalam hidupnya bukan gelar ataupun kemenangan di ruang sidang. Pencapaian itu bernama Asa Kinara, seorang anak berusia lima tahun yang tumbuh tanpa figur ayah, tetapi tidak pernah kekurangan kasih sayang. Restika telah memberikan seluruh hidupnya kepada Asa dan bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun merebut kebahagiaan putrinya. Terlebih seseorang yang bahkan tidak pernah mengetahui bahwa anak itu ada. Gestara Mangkubumi. Dahulu Gestara merupakan mahasiswa jurusan bisnis yang nyaris dikenal oleh seluruh penghuni kampus. Kaya, tampan, populer, dan selalu dikelilingi teman-teman dengan kehidupan yang sama mewahnya. Sementara itu, Restika hanyalah mahasiswa Fakultas Hukum dari keluarga sederhana yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk kuliah, bekerja, serta menjalankan tugas sebagai sekretaris BEM. Restika terkenal pintar dan berani, tetapi tidak mempunyai apa pun yang dapat membuatnya merasa pantas berdiri di lingkungan Gestara. Restika tidak tahu bahwa ketidakpeduliannya justru membuat teman-teman Gestara menjadikannya sasaran taruhan. Gestara yang sedang frustrasi setelah hubungannya dengan Archilla berakhir menerima tantangan untuk mendapatkan hatinya. Lelaki itu mendekatinya dengan begitu sabar, menunggu rapat BEM selesai, membawakan makanan ketika Restika lupa makan, dan mengantarnya pulang meskipun harus melewati jalan sempit menuju rumah kontrakan keluarganya. Semua perhatian itu membuat Restika percaya bahwa untuk pertama kalinya, seseorang mencintainya tanpa memedulikan perbedaan kedudukan mereka. Restika menyerahkan kepercayaannya kepada Gestara tanpa mengetahui bahwa setiap perhatian, janji, dan sentuhan lelaki itu berawal dari sebuah permainan. Ketika kebenarannya terbongkar, Gestara justru kembali kepada Archilla. Restika ditinggalkan dalam keadaan hamil, sementara lelaki itu menjalani hidup seolah hubungan mereka tidak pernah terjadi. Bukan hanya perkataan Archilla mengenai taruhan itu yang terus membekas. Restika masih mengingat pertemuan terakhir mereka di sebuah toko roti. Saat itu, Gestara berdiri di samping Archilla dan memandang Restika seperti seorang pengganggu yang tidak tahu diri. “Setelah ini, berhenti mengganggu aku atau perempuan mana pun yang berada di sampingku,” kata Gestara tanpa sedikit pun keraguan. “Berhenti bermimpi, Restika. Sejak awal kamu tidak akan pernah pantas berdiri di samping seorang Mangkubumi.” Enam tahun telah berlalu, tetapi kalimat itu masih mampu menimbulkan nyeri yang sama. Restika dapat memenangkan persidangan besar, menghadapi para pengusaha berkuasa, dan membesarkan seorang anak seorang diri. Namun, di dalam mimpinya, ia masih menjadi gadis bodoh yang pernah percaya bahwa Gestara Mangkubumi benar-benar mencintainya. Restika memejamkan mata dan menekan dadanya yang mendadak sesak. “Kamu hanya mimpi buruk,” bisiknya pelan. “Dan mimpi buruk tidak akan pernah menyentuh hidup kami lagi.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.6K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.7K
bc

Tentang Cinta Kita

read
230.3K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.4K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook