bc

Hay, Kal!

book_age16+
2.7K
FOLLOW
12.1K
READ
love after marriage
dare to love and hate
doctor
drama
sweet
campus
office/work place
spiritual
affair
friends
like
intro-logo
Blurb

"Aku pengen tahu kenapa kamu nikahi aku, Kal. Kamu enggak pernah lupa 'kan pernah ninggalin aku? Kamu enggak lupa 'kan pernah ngilang gitu aja? Kamu enggak lupa 'kan pernah mutusin aku secara sepihak?"

~Icut

"Aku menikahi kamu untuk menyempurnakan agamaku, Cut. Apa sudah jelas?"

~Haykal

-------

Delapan tahun yang lalu, Icut diputuskan oleh pacar pertama yang sekaligus menjadi cinta pertamanya, Muhammad Haykal Darris. Delapan tahun Icut menata hatinya kembali dan mencoba untuk move on.

Namun, delapan tahun itu menjadi sia-sia tatkala Haykal tiba-tiba muncul lagi. Orang yang membuangnya tanpa perasaan itu, kembali merebut hatinnya dengan pinangan.

Icut telah bertekad, bahwa mulai saat ini ia membenci Haykal sebenci-bencinya. Namun, ia lupa satu hal. Surah Al-Baqarah ayat 216.

"... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

"Aku menikahimu karena Allah, Icut."

Jika sudah begini, bagaimana cara Icut menolaknya?

chap-preview
Free preview
00. Dia Kembali
Sreek! Sreek! Sreek! Tebak itu suara apa? Ya, itu adalah suara yang terjadi akibat gesekan sapu dengan dedaunan kering yang entah kenapa sangat suka mengotori halaman rumah. Percayalah, di balik suara gesekan sapu dengan dedaunan kering itu ada u*****n-u*****n kecil yang keluar dari bibir pecah-pecah seorang Icut. Gadis yang berumur 26 tahun itu menyapu halaman rumahnya sejak sejam yang lalu. Sayangnya pekerjaan itu belum selesai hingga sekarang. "Kak Icut! Adek Ina gigit-gigit baju Fatih!" Astagfirullah al-'azim! Icut berdecak sebal dan melempar sapu ijuknya sembarangan. Beginilah jika ia ditinggalkan dengan dua adik-adiknya. Pasti ada saja ulah baru yang dilakukan mereka. Oleh sebab itulah, Icut tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya itu. Icut menghampiri kedua adiknya di ruang tamu. Ia berkacak pinggang. Awalnya ia ingin memarahi Ina, adik paling kecilnya yang berumur lima tahun itu, tetapi ia harus berpikir dua kali jika melakukannya. Dengan senyum palsu nan manis, Icut mendekati adik bungsunya itu. Berdrama seolah ia adalah harimau yang hendak menerkam mangsanya. "Mama, huaaa ...." Musnahkan saja anak kecil ini bolehkah? Icut meringis kesakitan tatkala sebuah jeweran mendarat di telinganya. Ia meminta ampunan, tetapi jeweran itu semakin keras. Di lain sisi, kedua adiknya tertawa terbahak-bahak melihatnya dianiaya. "Gini ya kerjaan kamu di rumah? Gangguin adek? Di luar juga belum disapu," omel sang kanjeng ratu. "Ih, bukan salah Icut. Itu si Ina ganggu Fatih. Mama sakit!" bela Icut tetapi sepertinya sang mama tidak percaya, terbukti dengan jeweran yang semakin keras. Allahu! Akhirnya, jeweran itu terlepas beberapa detik kemudian. Icut mengusap telinganya yang berlapiskan hijab yang agak tipis. Tahu begini, Icut memakai jilbab setebal bulu domba, jeweran mamanya masih sama. Padahal umur tidak muda lagi. Bukan berarti Icut berharap mamanya cepet tua loh ya. Icut cuma berusaha mengatakan realita. "Ma, salam dulu, gitu. Masuk rumah langsung jewer bidadari, gimana, sih," gerutu Icut. "Oh iya, Mama lupa. Assalamualai'kum," ucap mamanya dengan suara lembut. Kalau seperti ini kan enak dengarnya. Mamanya itu sering lupa. Faktor umur, Icut maklum. Tetapi, kalau masalah jewer-menjewer, mamanya tidak pernah lupa. "Waalaikumsalam Ibunda Kanjeng Ratu," balas Icut dengan tak kalah manisnya. "Ngapain lagi? Nyapu sana!" ketus kanjeng ratu dengan galaknya. Icut memanyunkan bibirnya. Mama terkadang suka mengomel dan galak. Namun, Icut tahu kanjeng ratu sebenarnya amat menyayanginya. Jangan tanya kenapa kanjeng ratu terlihat ketus padanya, itu karena Icut meminta izin melanjutkan S3. Padahal Icut masih belum menyelesaikan S2. Ia baru mengutarakan niatnya dan langsung ditolak mentah-mentah. "Perempuan itu jangan terlalu tinggi sekolahnya. S1 aja sebenarnya udah cukup, selebihnya tinggal di rumah. Layani suami dan jaga anak-anak. Ngurus rumah. Lihat Mama, Mama bahkan cuma tamatan SMK. Gak kuliah, tapi hidup makmur aja." Itu kata-kata kanjeng ratu beberapa hari yang lalu. Ya iya mamanya hidup makmur, ayahnya Icut adalah seorang dosen yang merangkap sebagai pemilik rumah makan Bahagia. Jangan salah, rumah makan itu bahkan punya cabang di mana-mana. "Icut kan gak kayak Mama. Icut bosen dong kalau di rumah melulu," protes Icut kala itu. "Lah, bosen apanya? Denger nih, Mama tamatan SMK dan sekarang jadi tukang jahit. Tetep di rumah. Gak bosen. Lagian liat Ayah kamu tiap hari. Kalau ada orang yang kita cintai, pasti gak akan pernah bosen tinggal di rumah." Jadi intinya, Icut disuruh menikah dan kalaupun ingin kerja harusnya berwirausaha yang menetap di rumah. Tidak bisa! Icut tidak bisa seperti itu. Dia adalah perempuan yang serba ingin tahu. Duduk di rumah saja tentu bukan keinginannya. Ah, Mama memang susah mengerti. Dengan langkah lesu, Icut keluar dari rumah. Sesaat ia menoleh pada dua adiknya yang terlihat menyebalkan. Kedua adiknya itu memeluk manja sang mama, apalagi kalau bukan sedang merayu? Bisa Icut lihat di kantung plastik yang dibawa pulang oleh mamanya terdapat beberapa makanan ringan dan es krim. Icut berharap es krim-es krim itu tidak ludes dihabisi kedua adiknya. Icut keluar dari rumahnya dan kembali menyapu halamannya. Sekarang mamanya sudah pulang dari pasar, sudah pasti tidak akan ada lagi yang menganggu aktivitas Icut hingga ia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Selesai. Alhamdulillah. Akhirnya Icut menyelesaikan tugasnya. Ia merenggangkan tubuhnya yang sedikit terasa lelah. Tidak lupa membenarkan letak roknya yang ternyata sudah miring. Untung saja tidak ada yang lewat. Jika ada, sudah pasti icut ditertawakan sekampung. Oke, itu sedikit lebay. Icut baru saja akan membenarkan letak jilbabnya, tetapi pergerakannya terhenti saat ayahnya datang bersama dua orang lainnya. Icut mengenal dua orang paruh baya itu, sangat kenal malah. Mereka adalah tetangga depan Icut yang rumahnya paling mewah di komplek itu. Abi Bara dan Umi Icha. Jangan heran dengan sebutan Abi dan Bunda, Icut sudah dari dulu disuruh memanggil dengan sebutan itu. "Umi Icha!!!" seru Icut kegirangan lalu langsung menghambur ke pelukan Umi Icha. "Ya ampun, Icut!" seru Umi Icha tak kalah girangnya. Kedua manusia yang berjenis kelamin sama itu pun saling berpelukan. Ayah Icut terlihat geleng-geleng kepala dengan kelakuan anaknya. Padahal umur Icut sudah dewasa, tetapi masih saja bersikap seperti anak-anak. Setelah melepas pelukannya, barulah Icut mengucapkan salam. Umi Icha dan Abi Bara hanya terkekeh pelan. Tidak lupa Icut menyalami Ayah dan Umi Icha. Sedangkan untuk Abi Bara, ia menangkupkan kedua tangannya di depan d**a. "Ini ada bingkisan," ucap Umi Icha lalu memberikan sekantung plastik hitam yang Icut tebak adalah makanan. "Makasih, Umi, Abi. Masuk dulu ke dalam," ajak Icut. Begitu masuk ke dalam rumah, Abi Bara dan Umi Icha langsung diserbu oleh kedua kurcaci menyebalkan itu. Sementara itu, Icha menyerahkan bingkisannya pada kanjeng ratu. Ia hendak membuat minuman, tapi dihalangi mamanya. Icut malah disuruh membuang sampah dan menyimpan sapu ijuk yang ia gunakan tadi. "Cut, itu jilbabnya benerin," suruh sang kanjeng ratu. Sayangnya Icut sudah lebih dulu meninggalkan dapur. Sang kanjeng ratu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Anak gadisnya itu selalu ceroboh. Melewati ruang tamu, Icut memberikan senyuman termanisnya pada dua orang tamunya itu. Sementara kedua kurcaci itu malah menertawainya. Memang adik jahat. Memilih mengabaikan, Icut langsung keluar dari rumah dengan menentengi kantong sampah. Selesai membuang sampah pada tong besar di depan rumah, Icut hendak menutup gerbang. Namun, kegiatannya ditahan oleh seseorang. Icut menegang di tempat. Orang yang termasuk kaum adam itu mendorong gerbang agar ia bisa memasukinya. Mengabaikan tatapan kaget nan syok Icut. Icut melihat penampilan lelaki itu dari atas ke bawah secara berulang kali. Lelaki yang baru saja masuk itu langsung bersedekap. "Itu mata dijaga," ketus lelaki menyebalkan itu. Seolah baru sadar dari lamunan, Icut langsung memasang wajah tidak sukanya. Memang tidak aneh jika lelaki itu datang ke rumahnya mengingat kedua orang tua lelaki itu menjadi tamu di rumahnya, hanya saja ia tidak menyangka akan bertemu lelaki itu lagi. Delapan tahun sudah berlalu. Ia bahkan hampir lupa wajah lelaki itu. Dan niat itu baru terlaksana akhir-akhir ini. Niat melupakan lelaki itu. Lalu rencana indahnya hancur seketika karena kehadiran lelaki itu. Kenapa dia harus muncul lagi di kehidupan Icut? Kenangan semanis tebu berputar-putar di otak indah Icut. Bagaimana dulu ia sangat memuja lelaki itu, bahkan senyuman yang dulu mampu menghipnotisnya. Lelaki yang tidak ingin disebut namanya itu adalah sang masa lalu yang telah mencampakkannya begitu saja.  Bayangkan, di saat cinta sedang bermusim semi, tiba-tiba turun salju menghancurkan bunga-bunga indah yang bahkan baru bermekaran. Seperti itulah kiranya perasaan Icut saat itu. Tidak bisa dipungkiri bagaimana bahagianya Icut dulu saat cinta pertamanya pada akhirnya menjadi pacar pertamanya juga. Belum sampai setahun berhubungan, tiba-tiba lelaki itu menghancurkan mimpi masa depannya dan meninggalkannya begitu saja. Lelaki dengan kediktatorannya itu tiba-tiba mengatakan, "kita putus, Icut. Tanpa penolakan." Bisa bayangkan bagaimana hancurnya hati Icut saat itu? Ia bahkan tidak mendapat alasan apapun. Diputuskan secara sepihak lalu ditinggalkan. Sejak saat itu, Icut bertekad untuk membenci lelaki itu. "Abi sama Umi udah di dalam?" tanya lelaki itu. Demi apa? Suara lelaki itu berubah menjadi lembut. Icut sampai pangling dibuatnya. Namun, ia menyadarkan dirinya agar tidak jatuh dalam pesona lelaki itu lagi. "Ngapain nanya-nanya? Lihat sendirilah," ketus Icut lalu mengalihkan wajahnya kea rah lain. Terdengar helaan napas dari lelaki itu. Icut mengenyitkan keningnya, dan melirik ke arah lelaki tadi. Namun, ternyata lelaki itu sudah terlebih dahulu melangkahkan kakinya meninggalkan Icut. Oh, mau main tinggal-tinggal? Tenang, sekarang Icut yang bakal ahli dalam hal tinggal-meninggalkan.  Dengan langkah cepat, Icut melewati lelaki itu yang hendak masuk ke dalam rumah. Untung pintunya lebar, jika tidak Icut mungkin berniat untuk menyenggol bahu lelaki itu agar terjerembab ke lantai. Bukan muhrim dan niat yang sangat buruk, Icut. Icut langsung duduk di sebelah kanjeng ratu. Ia kesal dengan kedatangan lelaki itu yang kini sedang mencari perhatian ayah dan mamanya. Bersikap manis yang memuakkan. Icut sebenarnya malas berada di ruangan yang sama dengan lelaki jahat itu, ia berniat untuk mengurung diri di kamar. Namun, sang kanjeng ratu menahannya. Jujur, Icut malas mendengar percakapan antara dua keluarga itu. Ia terlihat tidak peduli dan malah mengantarkan matanya pada kartun si kembar botak di TV yang berjarak agak jauh, tetapi masih bisa ditonton. "Jadi, Icut udah mulai penelitian lagi?" Mendengar namanya disebut, sontak Icut menoleh ke arah Umi Icha. "Iya, Umi," sahut Icut. "Icut ini kalau gak saya bilang kalau saya sakit, dia gak bakalan pulang-pulang. Setahun cuma dua kali, pas lebaran. Itu pun dia lebih milih langsung ke kampung. Makanya jarang jumpa sama Abi Umi," omel sang kanjeng ratu mulai lagi. "Lagian Umi Abi juga jarang di rumah. Banyak tugas di luar kota. Baru kali ini bisa lihat Icut lagi. Si Haykal bahkan lebih jarang pulang," kekeh Umi. Mendengar nama lelaki yang duduk di depannya itu, Icut kembali mengalihkan pandangannya pada televisi. "Jadi gimana Ical?" tanya ayah Icut. Haykal berdeham sesaat, pandangannya sempat terhenti pada Icut lalu kembali pada ayah Icut. "Kayak yang Umi Abi bilang ke Ayah, Ical mau lamar Icut." Icut tersentak kaget mendengar penuturan Haykal, lantas ia langsung berdiri. Belum sempat Icut mengeluarkan suaranya, Haykal terlebih dahulu memotong. "Kita nikah, Icut." Haykal menarik napasnya pelan. "Tanpa penolakan." Ucapan selanjutnya ini tidak bersuara, hanya pergerakan bibir saja yang hanya bisa dilihat oleh Icut. Icut mencengkram ujung jilbabnya dengan geram. Icut bisa melihat wajah bahagia kedua orang tuanya. Namun, tidak dengan perasaan Icut. Karena tak ada seorang pun yang tahu kecuali dirinya dan Allah, bahwa Icut membenci Haykal. Sebenci-bencinya. ### Tbc.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hello Wife

read
1.4M
bc

Loving The Pain

read
3.0M
bc

Noda Masa Lalu

read
208.8K
bc

My Ex Boss (Indonesia)

read
3.9M
bc

Mafia and Me

read
2.1M
bc

Orang Ketiga

read
3.6M
bc

DOKTER VS LAWYER

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook