01. Pengantin Baru

1252 Words
"Selalu ada celah untuk menyelesaikan masalah. Kepala yang dingin dan hati yang sejuk, dari itulah permasalahan selesai." *** Icut tidak tahu apakah pilihannya ini benar atau salah karena telah menerima lamaran Haykal. Namun, keputusannya menerima Haykal murni dari hatinya. Cinta? Icut masih membenci lelaki itu. Sedikit pembalasan dendam melalui pernikahan, mungkin? Yap, Icut ingin memberi sedikit pelajaran untuk Haykal. Pernikahan ini harus berakhir dengan perceraian, itu tekadnya. Icut akan meninggalkan Haykal suatu saat nanti. Saat dirinya puas untuk melukai hati Haykal. Sama seperti apa yang dilakukan lelaki itu padanya. Ternyata setan j*****m telah mengikat sebuah pertalian yang disebut pertemanan. “Icut, bangun ….” Suara itu. Sebuah suara yang cukup menganggu untuk Icut. Ia tidak lupa dengan suara berat yang selalu menyentaknya dari mimpi indah di tiap menjelang subuh. “Salat, Icut,” ajak lelaki yang kini berstatus sebagai suami Icut. Mau tidak mau Icut beranjak dari posisi tidurnya. Ia mengusap matanya dan saat terbuka dengan lebar, ia melihat sesosok lelaki dengan baju koko dan sarung yang melilit di pinggangnya. “Aku lagi enggak bisa salat,” ketus Icut memasang wajah kesal. Lelaki yang telah menjadi suaminya itu hanya menggaruk kepalanya. “Bukannya minggu lalu kamu juga datang bulan?” tanya Haykal mengernyitkan keningnya. Icut membeku di tempat. Apa Haykal menghafal jadwal menstruasinya sekarang? Lelaki itu ... Icut tidak bisa mendeskripsikannya. “I-itu ….” “Jangan bohong sama suami, Cut. Dosa!” tegas lelaki itu dengan tatapan dingin.  Icut mencebik. “Iya, iya. Ini juga mau salat, kok. Udah sana, ke masjid!” usir Icut. Lelaki itu menghela napas panjang lalu keluar dari kamar Icut. Yap, kamar Icut. Blam... Icut menutup pintu kamarnya setelah sosok Haykal keluar dari sana. Buru-buru Icut berlari ke kamar mandi. Ia langsung bercermin. Rasanya Icut ingin menjedotkan kepalanya di dinding. Jadi, apakah Haykal melihat wajah kucelnya setelah bangun tidur tadi? “Aarrgghh!!!” *** Icut mendesah berat. Ia baru saja menyelesaikan kegiatan dapurnya dengan memasak nasi goreng. Selesai? Tidak juga. Lebih tepatnya Icut menyerah. Ia tidak bisa memasak. Itu kesimpulannya. Sedari dulu, Icut paling anti dengan kegiatan memasak. Semua pekerjaan rumah bisa ia lakukan, tapi tidak dengan memasak. Sang mama bahkan menyerah saat mengejari Icut. Jangankan memasak kari ataupun rendang, menggoreng saja bisa gosong, sayur asem jadi terasa asin, bahkan memasak air di panci pun sampai kering. Seberapa banyak pun Icut berusaha, tetap saja ia tidak bisa. Atau mungkin ia belum berusaha lebih keras. Sudah sebulan sejak pernikahannya dengan Haykal. Selama ini, lelaki itu yang lebih banyak berkecimpung di dapur. Itu pun hanya di saat-saat tertentu. Lagipula baik Icut maupun Haykal jarang berada di rumah. Keduanya lebih sering makan di luar. Mereka menjadi asing. Lebih tepatnya Icut yang mengasingkan dirinya sendiri. Ia memang menerima pernikahan, tetapi tidak sepenuhnya ikhlas. Sejak hari pertama setelah menikah, Icut langsung mewanti-wanti Haykal dengan beberapa peraturan. Pertama, mereka berdua pisah kamar. Untungnya, Haykal sudah menyiapkan sebuah rumah minimalis dengan tiga kamar di dalamnya. Entah sejak kapan Haykal membangun rumah itu, Icut tidak peduli. Kedua, Icut akan tetap mengejar impiannya dan Haykal tidak boleh melarang. Jadi, ia tidak ingin pernikahan itu menjadi penghalang untuk mimpinya. Bagusnya, Haykal menyetujui kedua persyaratan tersebut. Namun, ada satu syarat yang diberikan oleh Haykal, yaitu ia berhak mencampuri urusan Icut. Yah, itu sedikit sulit, tetapi Icut menerima persyaratan Haykal mengingat mereka adalah suami istri. “Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Icut tersentak dari lamunannya dan langsung menoleh ke sebelahnya. Sungguh, wanita itu merinding mendengar bisikan Haykal yang lembut itu. “Wa-wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas Icut dengan pelan. Haykal menarik kursi di sebelah Icut. Lalu lelaki itu meletakkan sebuah kantong plastik di depan Icut. “Gagal lagi masaknya? Nih, makan dulu buburnya,” ucap Haykal. Icut memincingkan matanya saat lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu malah terkekeh geli. “Ada yang lucu?” sinis Icut. “Kamu masak apa sih sampai gosong gitu?” kekeh Haykal. Icut memasang wajah kesal. “Masak nasi goreng, puas?” kesal Icut lalu beranjak dari kursi. Haykal menghentikan kegiatan tawanya. Icut pasti ngambek, pikirnya. Lantas ia menarik tangan Icut agar wanita itu kembali ke tempat duduknya. “Maaf. Makan bubur dulu, biar aku yang beresin dapur,” ucap Haykal lalu beranjak dari kursinya menuju dapur. Icut berdecak kesal. Sejak kapan lelaki itu pulang ke rumah? Bahkan sampai melihat dapur yang berantakan karena ulahnya. Icut ikut beranjak dari kursinya, menyusul Haykal ke dapur. Lelaki itu baru saja akan mencuci piring beserta antek-anteknya, tapi sebuah sentuhan di lengannya membuat Haykal sedikit kaget. Ia mendapati Icut yang bersedekap, menatapnya dengan tatapan kesal. “Aku istri kamu, kenapa kaget gitu disentuh?” tanya Icut kesal. Satu hal yang kadang membuat Icut jengkel, Haykal selalu kaget saat disentuh olehnya. Bukan hanya kaget, tetapi juga menghindar. Seolah Icut adalah kuman yang sangat berbahaya. Bukankah seharusnya Icut yang melakukan hal itu? Ia yang sangat membenci Haykal. “Maaf, tadi cuma kaget aja,” ucap Haykal merasa tidak enak hati. Icut menghela napas. “Kamu pasti belum sarapan juga, kita makan bubur bareng. Urusan cuci piring itu jadi tugas aku nanti. Lagipula, ada satu hal yang mesti kita omongin,” ucap Icut terkesan buru-buru. Wanita itu mengambil dua buah mangkok beserta sendok dari rak piring. Haykal mengikuti langkah istrinya menuju meja makan. Lelaki itu menempatkan dirinya di depan Icut. Sepertinya ada sesuatu yang penting. Posisi berhadapan adalah yang paling baik. Haykal tidak melepas pandangannya dari Icut yang sedang menuangkan bubur ke dalam mangkok. Lelaki itu menahan diri untuk tidak membenarkan letak jilbab Icut. Wanita itu terkadang memakai jilbab miring. Entah karena kecerobohannya, ataupun memang karena kemalasannya untuk bercermin. Icut menyodorkan mangkok yang telah berisi bubur itu pada Haykal. Ia baru saja hendak memulai pembicaraannya, tetapi Haykal menegurnya dengan dalih bahwa tidak baik berbicara selagi makan. Itu adab katanya. Icut yang tidak sabaran malah memburu kegiatan makannya. Hingga ia akhirnya tersedak. Untung Haykal segera menyodorkan segelas air putih. “Makanya pelan-pelan aja kalau makan,” peringat Haykal. Icut manyun. Ia tidak punya pilihan lain. Daripada tersedak lagi, lebih baik ia makan bubur dengan tenang. Haykal telah menyelesaikan makannya. Lelaki itu beranjak dari kursinya hendak membawa mangkok ke dapur, tetapi Icut menahan tangannya. Akibatnya, mangkok berbahan kaca itu pun terjatuh ke lantai menghadirkan kepingan-kepingan runcing yang dapat membahayakan siapa saja. Icut kaget, begitu pula dengan Haykal. Ia hendak membereskan pecahan mangkok itu, tetapi Haykal lebih dulu menginterupsinya. “Biar aku aja,” ucapnya dengan suara dingin. Icut kembali duduk di kursinya. Membiarkan Haykal membersihkan pecahan mangkok itu. Di dalam keterdiamannya, ia memikirkan sesuatu. Ini permasalahannya. Haykal kaget karena ia menyentuh lelaki itu. Apakah pantas seorang istri diperlakukan seperti kuman seperti ini? Haykal kembali ke tempat duduknya semula. Ia telah membereskan kerusuhan yang terjadi. Ia menatap Icut yang juga menatapnya. “Jadi, ada apa?” tanya Haykal datar. “Masalah pernikahan ini ...," sahut Icut lalu menjeda kalimatnya. “Kenapa? Kita udah pernah bicarain ini, kan?” tanya Haykal mengernyitkan keningnya. “Iya, udah. Tapi, rasanya masih kurang sesuai,” sahut Icut. “Kurang sesuai gimana maksudnya? Aku rasa aku enggak ngekang kamu untuk raih mimpi kamu. Kamar kita terpisah. Apa lagi?” tanya Haykal dengan wajah yang mulai kesal. “Kamar kita terpisah, tapi kamu masih seenaknya masuk kamar aku. Rasanya itu—“ “Kita udah nikah, Icut. Bukannya aku udah bilang kalau aku boleh mencampuri urusan kamu? Bahkan kalau sekamar pun itu enggak masalah,” potong Haykal menekankan. “Masih masalah, Kal. Kita nikah karena ….” Icut tidak bisa melanjutkan kalimatnya. “Karena apa, Cut?” tuding Haykal. “Karena … karena kamu paksa aku nikah!” Haykal mengerutkan keningnya. “Tanpa penolakan, kamu bilang gitu,” lanjut Icut. Hening sesaat. Haykal tampak berpikir, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berbagai spekulasi muncul di kepala Icut. "Aku cuma bercanda." Icut tampak marah. "Bercanda kamu bilang?" Haykal mengernyit. "Kamu masih bisa nolak pinangan aku, Cut. Enggak logis jika kamu nerima pinanganku hanya karena ucapanku itu, kan?" Haykal benar. Dan Icut terdiam. Mencerna dengan baik ucapan Haykal. Ia juga bingung dengan pilihannya sendiri. Benarkah ia menerima pinangan Haykal karena ingin balas dendam atau karena hal lain? “Lagipula kalau kamu nolak pun percuma,” ucap Haykal lalu beranjak dari kursinya.  Icut mendongak, menatap lelaki berpostur tinggi itu. “Kenapa? Kamu punya tujuan apa dengan nikahin aku?” Ia memang bisa menolak lamaran Haykal. Namun .... “Karena kita mungkin sudah berjodoh.” Berjodoh? Hanya Allah yang tahu, Kal. ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD