Cut Azalea namanya. Icut panggilannya. Haykal suaminya. Dan sungguh, benarkah ia sudah bersuami?
Icut menggaruk-garukkan kepalanya. Penyebabnya bisa jadi karena ketombe atau mungkin kutu? Eh, Icut tidak sejorok itu juga. Lain cerita saat dirinya masih di asrama dulu. Dulu ia pernah menikmati pahit manisnya pesantren selama sebulan, tetapi kemudian pindah ke SMA di kotanya karena tidak terbiasa. Yah, Icut termasuk gadis yang sedikit bar-bar yang tidak tahan dengan sesuatu yang mengekang.
Suara gesekan antara gelas minuman dengan meja membuat atensi Icut berpindah dari HP ke si pembuat suara. Ternyata Rivan, temannya yang heboh itu.
"Cemberut aja lo," celetuk Rivan lalu menggeser gelas berisi air putih plus es itu ke depan Icut.
"Waalaikumsalam," sahut Icut seraya menyindir. Rivan berdeham lalu mengucapkan salam. Ia lupa jika sedang berhadapan dengan Icut.
"Jadi, ada apa dengan nyonya Haykal?" tanya Rivan dengan menaik-turunkan alisnya. Icut memutar bola matanya dengan malas.
"Nyonya Haykal apaan?" sinis Icut tidak terima. Namanya Cut Azalea, tidak ada unsur nama Haykal di sana.
"Lah, kan emang gitu seharusnya. Karena lo udah nikah jadi nama lo juga ikut suami. Enak didengar, Mr. Haykal dan Mrs. Haykal," kekeh Rivan membuat Icut makin ilfil.
"Makin bete gue denger nama dia. Udah ah, lo tetap manggil gue Icut atau Lea, enggak usah panggil gue nyonya Haykal segala," ketus Icut lalu menyeruput air putihnya lewat sedotan berwarna putih.
"Galak amat, udah nikah juga. Oh ya, gimana kegiatan lo hari ini? Dari yang gue lihat, lo bad mood banget. Si Nyai marah-marah lagi?" tanya Rivan dengan wajah serius.
Nyai adalah nama panggilan untuk Bu Renita, dosen pembimbing Icut. Dosen yang suka membuat mahasiswanya mumet seketika. Hal-hal yang mudah jadi sulit dengannya. Sederhana jadi rumit, bahkan cowok pendiam bisa jadi genit demi mendapat nilai sempurna darinya.
Icut mendesah. Benar seperti tebakan Rivan, dosen yang satu itu memang sedang menyulitkannya. Hampir saja ia mengulang penelitian hanya karena beradu argumen dengan sang dosen.
"Nah, bener 'kan?" tebak Rivan.
"Ah, gue jadi males lanjut kalau gini. Hari ini apes banget gue," desah Icut menekuk wajahnya.
Jika diingat-ingat, hari ini adalah hari yang paling menyebalkan. Ia bangun telat, jam tujuh pagi.
Menyebalkannya lagi, Haykal tidak membangunkannya bahkan langsung menghilang di pagi hari. Bukan sepenuhnya salah Haykal. Dua hari yang lalu Icut sendiri yang meminta Haykal untuk tidak membangunkannya dengan alasan alarm lebih baik.
Sungguh, ia merasa terganggu dengan kehadiran Haykal yang masuk ke kamarnya secara tiba-tiba. Lagipula ia akan menyalakan alarm saat subuh datang, sehingga Haykal tidak perlu masuk lagi ke kamarnya dengan dalih membangunkan. Itu termasuk daftar keinginan baru yang untungnya disetujui Haykal dengan syarat bahwa Icut benar-benar melakukannya.
Bukan hanya itu kesialan Icut. Ia bahkan hampir tumbang karena tidak sarapan, ban motor yang meledak di tengah jalan, hingga omelan dari Nyai nyaris tanpa jeda.
Lalu di sinilah Icut berakhir. Di kafe langganannya. Khusus untuk meredakan otak yang nyut-nyutan seharian. Menenangkan hati dan pikiran agar tidak meledak sembarangan.
"Sabar aja, Cut. Emang tampang lo dari awal udah kelihatan sial sih," ucap Rivan dengan nada meledek.
"Apa? Coba ulang?" perintah Icut dengan mata melotot. Ia beranjak dari kursi hendak menabok Rivan agar otaknya berjalan dengan benar.
"Ampun, Nyonya! Eh, suami lo tuh!" seru Rivan langsung mengarahkan jari telunjuknya ke suatu tempat yang berada di meja lain.
Icut menghentikan kegiatannya, wajahnya langsung berputar 180 derajat ke arah yang dituju jari Rivan. Benar, Haykal berada di sana. Tidak sendirian, tetapi bersama tiga temannya. Satu lelaki dan dua perempuan. Kedua wanita itu berkerudung dengan warna yang sama. Putih bersih tanpa noda.
"Lah, suami lo ternyata dokter, ya? Mantap jiwa!" ucap Rivan tidak menyangka.
Icut nyaris tidak mendengar ucapan Rivan. Tidak berniat menyahut dan hanya mengulas senyum tipis.
"Ah, pantesan lo tiba-tiba beralih ke kafe ini. Ternyata karena suami lo kerja enggak jauh dari sini?"
Tidak. Icut bahkan tidak tahu bahwa Haykal kerja di sekitar itu. Benar, tidak jauh dari kafe itu, ada sebuah rumah sakit swasta. Icut ke sana hanya untuk menikmati suasana baru dari kafe yang katanya bagus itu.
Jangan heran, ia hanya tahu bahwa Haykal adalah dokter. Tetapi tidak dengan tempat bekerjanya. Seperti sebelumnya, ia menganggap Haykal adalah orang asing.
"Enggak nyamperin?" celetuk Rivan membuat Icut kaget.
"Eng-enggak," sahut Icut dan membalikkan tubuhnya ke posisi semula.
"Mana pesanan gue?" todong Icut mengalihkan pembicaraan sebelum Rivan mulai cerewet.
Lelaki itu berdecak lalu mengambil sesuatu dari tas punggungnya. Sebuah kantong plastik dengan isi yang membuat Icut berbinar. Ya, itulah alasan Rivan menemuinya di kafe itu. Mereka melakukan transaksi jual beli.
"Maaf, kalau kelamaaan. Gue enggak sempet soalnya. Banyak temen gue yang datang ke rumah akhir-akhir ini," ucap Rivan terlihat merasa bersalah. Wajar, pesanan Icut sudah telat hampir seminggu.
Icut mendesah kasar. "Gue hampir mati gara-gara enggak ada 'ini'. Lo tahu kan kalau gue butuh banget?"
Untung saja Rivan adalah sahabatnya, jika tidak ia pastikan lelaki itu akan menua tanpa istri di sisinya. Karena Icut sudah menyiapkan ribuan gosip super pada teman wanitanya agar tidak tertarik pada Rivan.
"Iya-iya. Gue tahu. Lo kan emang kecanduan sama--"
"Candu apa?
Baik Icut maupun Rivan langsung menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berjas putih dengan snelli di lehernya tiba-tiba muncul tanpa disadari oleh mereka.
"Eh, halo, Mas. Apa kabar?" tanya Rivan sok akrab. Padahal Icut tahu bahwa Rivan baru pertama kali bertemu dengan Haykal di acara pernikahannya.
Wajah Haykal tampak merah. Namun, Icut tidak tahu apakah lelaki itu sedang menahan marah atau mungkin karena cuaca yang sedang panas siang ini.
"Saya baik," sahut Haykal dengan wajah dingin.
Entah perasaan Icut saja, tetapi lelaki itu tampak cemburu? Oh, jangan salahkan Icut jika berpikiran seperti itu. Haykal yang memintanya untuk menikah, apalagi kalau bukan karena cinta? Namun, Icut juga tidak bisa memastikannya. Mungkin Haykal marah karena ia berduaan dengan lelaki lain di tempat umum. Terlebih jika wanita itu telah bersuami. Memang, sebenarnya tidak baik.
Icut harus meluruskan masalah ini. Ia juga tidak mau jika Haykal berpikir bahwa ia sengaja bersama lelaki lain untuk membuatnya cemburu. Eh, tapi bukankah itu cara yang baik untuk balas dendam?
Icut tersenyum miring lalu berdeham. "Aku bisa menebak apa yang kamu pikir. Kayak yang kamu lihat, aku sama dia sebenarnya sal--"
"Bisa kamu jelaskan maksud candu tadi itu? Apa yang kamu berikan pada istri saya? g***a? n*****a?" tuding Haykal memotong ucapan Icut dengan sengaja, seolah ucapan Icut tidak berarti sama sekali. Namun, ia malah menatap tajam Rivan.
Alis lelaki yang dituduh itu bertautan. Ia memandang Icut dengan tatapan sama bingungnya.
"Maksudnya?" tanya Rivan dengan tatapan cengo.
Icut mendesah pelan. Ia bahkan sudah paham dengan maksud Haykal, tapi kenapa Rivan tidak? Yang dimaksud Haykal pasti kantong plastik yang saat ini Icut tenteng.
"Ini cuma donat."
Baik Rivan maupun Haykal langsung memandang ke arah Icut.
"Ah, iya. Candu tadi itu maksudnya donat. Mas pasti tahulah kalau Icut suka makan donat. Jadi ya gitulah, bahasa saya sama Icut kadang kebangetan. Hehehe ...."
Mungkin Rivan bisa memberi penjelasan dengan cengiran. Seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Namun, tidak dengan Haykal yang wajahnya tampak memerah lagi. Kali ini, mungkin efek malu karena telah menuduh sembarang?
"Hahaha ... bercanda. Jadi itu donat? Hahaha ...."
Haykal mungkin sudah gila. Ia bahkan menepuk pundak Rivan dan tertawa. Seolah ada hal yang lucu di sana. Rivan yang tampak kebingungan akhirnya ikut tertawa juga. Kenapa Icut harus dikelilingi oleh lelaki aneh seperti mereka?
Tawa Haykal mendadak berhenti. Begitu pula dengan Rivan. Sungguh, terkadang Icut bingung dengan otak Rivan yang tampaknya lambat loading dan terlalu polos.
Jujur, tawa Haykal tampak tidak murni. Tersirat kekesalan di matanya. Dan Icut tahu, ia hanya bisa diam. Membiarkan Haykal dengan pikiran anehnya.
Haykal menepuk pundak Rivan lalu menatapnya tajam. Seperti dugaan Icut.
"Mulai besok, kalau kamu mau ngirim donat ke Icut cukup lewat saya saja. Saya tidak suka jika nanti kehadiran kamu jadi gosip baru yang menghancurkan rumah tangga saya. Jadi, tolong jauhi Icut. Dia istri sah saya dan di--"
"Dia pacarku."
Ini awalnya.
###