03. Cemburu Oh Cemberut

1125 Words
"Jadi ... kamu benar-benar seorang dokter?" tanya Icut dengan suara pelan. Nyaris tidak terdengar. Haykal mengernyit. Seingatnya ia pernah mengatakan profesinya pada Icut, hingga melengkapi biodata yang khusus ia buat untuk Icut. Kali saja wanita itu lupa akan hari ulang tahunnya. "Iya. Kenapa? Kaget?" tanya Haykal dengan suara yang terdengar kesal. Icut mengusap lengannya berulang kali. Tampak canggung. "Yah, enggak juga, sih. Rasanya aneh aja kamu jadi dokter. Belum bisa dipercaya. Dan rumah sakit Damai Medika, beneran kerja di sana? Bukannya dulu cita-cita kamu jad--" "Jadi suami kamu maksudnya?" Icut menoleh pada lelaki yang sedang menyetir itu. Ia mencebik. Bagaimana bisa Haykal menggombal di saat-saat seperti ini? Tapi wajahnya terlihat datar. Apa itu bukan candaan? "M-maksudnya apa? Jangan ngaco," ucap Icut gugup. "Lupain aja." Haykal yang sekarang berbeda dari yang dulu. Dan itu sedikit menyebalkan. "Lagian kamu jadi dokter di mana pun apa peduliku. Asal kamu enggak kerja haram aja udah bagus dan yang penting bisa memenuhi kehidupanku," sahut Icut lalu melempar pandangan keluar mobil. "Oleh karena sikap bodo amatmu itu, kamu bahkan enggak tahu suamimu kerja apa. Gimana kalau misalnya aku bandar n*****a?" Icut tersentak kaget dengan ucapan Haykal. Ia memandang lelaki itu dengan tatapan tajam. "Aku bakal cerai sama kamu!" Haykal tersenyum miring. "Seharusnya kamu sebagai istri bisa ngarahin suami ke jalan yang benar. Bukannya ninggalin dia dalam kegelapan sendirian." Icut tertegun. "Jadi ... kamu beneran bandar n*****a?" tanya Icut sedikit takut-takut. "Kamu percaya sama ucapan tadi?" tanya Haykal lalu menoleh pada Icut. Lampu merah membuat Haykal bisa menatap istrinya dengan tatapan dalam. "Enggak tahu." Haykal menghela napas panjang. Ia merasa kurang puas dengan jawaban Icut. Wanita itu, masih sulit ditaklukkan. Keheningan mendominasi. Traffic light berubah warna menjadi hijau. Suasana canggung seperti ini rasanya aneh. Harusnya tadi Icut tidak menerima tawaran Haykal untuk pulang bersama. "Cowok tadi ... siapa?" Icut mengernyitkan keningnya. Haykal bertanya tentang Rivan, kan? Apa ini saatnya untuk memulai? "Ah, Rivan maksud kamu?" "Terserah. Dia siapa?" Ada aura mengintimidasi. "Kenapa kamu kepo?" "Emangnya aku enggak boleh nanya?" "Dan aku juga boleh enggak jawab 'kan?" "Icut ...," geram Haykal. Icut hanya tersenyum puas. "Kayak yang aku bilang tadi di kafe. Dia pacar aku," sahut Icut santai. Haykal mengeratkan cengkramannya dengan stir mobil. Rahangnya terlihat mengeras dengan wajah memerah. Dia marah, heh? "Kamu udah punya suami, Cut. Harusnya kamu enggak punya hubungan semacam itu dengan orang lain!" ucap Haykal menekankan. "Kenapa? Kenapa enggak boleh?" sengit Icut. "Karena ... karena ...." "Karena apa? Kamu cemburu?" tanya Icut dengan nada menantang. "Karena ... itu dosa," lanjut Haykal. Icut mendengus. Apa-apaan ini? Apa susahnya mengatakan bahwa Haykal sedang cemburu? Dan apa juga ini? Kenapa Icut malah berharap bahwa Haykal cemburu? Ah, iya. Tentu saja untuk pembalasan dendam. "Ah, begitu, ya. Jadi mau kamu gimana?" tanya Icut. "Jalani aja kayak biasa." "Biasa, ya? Aku terbiasa benci sama kamu, gimana, dong?" Dan Haykal terdiam untuk waktu yang lama. *** Musibah! Haykal tidak mau berbicara dengan Icut. Jika ditanya pun hanya menjawab sekedarnya saja. Biasa lelaki itu akan sedikit cerewet. Padahal Icut sengaja masuk ke dalam kamar lebih dahulu agar Haykal mengajaknya makan malam lalu salat Isya. Tapi ada apa ini? Icut mondar-mandir di dekat ranjangnya. Seharusnya ia tidak uring-uringan seperti ini. Namun, apa dia sangat keterlaluan hingga Haykal tidak berbicara dengannya? Oh ayolah Icut, ini baru beberapa jam. Icut tidak tahan lagi, ia pun keluar dari kamarnya dan langsung berdiri di depan kamar Haykal. Niat ingin mengetuk pintu, tetapi rasa gengsi meragukan segalanya. "Icut?" Icut hampir saja jatuh karena berjengit kaget tatkala suara Haykal memanggil namanya. Ia menghela napas lega begitu melihat sosok Haykal di belakangnya. "Ngapain?" tanya Haykal heran. Icut menelan ludahnya dengan sukar lalu menampilkan senyum canggung. "Ah, itu. A-aku mau ngajak makan." "Oh, makan? Aku udah tadi," sahut Haykal dengan wajah santai. Icut mengerutkan keningnya. "Loh, kapan? Kok enggak ajak makan?" tanya Icut keheranan. "Lah, harusnya suami yang nunggu masakan istri. Karena enggak ada apa-apa di meja makan, aku makan di luar tadi. Sekalian salat Isya di mesjid," sahut Haykal tanpa rasa bersalah. Icut benar-benar tidak percaya dengan jawaban Haykal. Jadi, intinya ia tidak diajak makan? "Lah, terus aku makan apa? Kamu enggak bawa pulang?" tuding Icut seraya melihat ke tangan Haykal, barangkali ada tentengan kantong plastik berisi makanan. "Enggak ada. Kamu enggak nyuruh," sahut Haykal lagi. Dan Icut benar-benar kesal dengan Haykal. Lelaki itu bisa-bisanya tidak memikirkan nasib istri di rumah. Sudah ditinggal makan pula. "Awas, ngapain berdiri di depan kamar orang lain? Bukannya enggak boleh ya datangi kamar orang lain?" sindir Haykal membuat Icut mengepalkan tangannya. Muka Icut memerah tanda marah. Namun, ia tidak bisa apa-apa selain meminggirkan tubuhnya agar Haykal bisa masuk ke dalam kamar. Namun, bukan Icut namanya jika ia menyerah begitu saja. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Haykal sedang balas dendam saat ini. Mumpung ada ide yang mengalir lancar, maka Icut akan memulai permainan baru kali ini. Saat Haykal membuka pintu kamarnya, Icut langsung mendorong tubuh Haykal diikuti dengan tubuhnya sendiri. Lelaki itu tampak kaget tatkala Icut langsung mengunci pintu kamar. Gadis itu menyimpan kunci kamar Haykal di saku baju tidur bagian d**a sebelah kiri. "Apa-apaan kamu, Cut! Balikin kuncinya!" suruh Haykal terlihat kesal. Icut tersenyum penuh kemenangan. Haykal tidak mungkin mengambil kunci itu. Karena si kunci sudah berada di tempat aman yang tidak akan berani dijamah Haykal. "Kamu ...." Haykal terlihat geram, tetapi berbanding terbalik dengan raut wajah Icut yang senang. Ini kesempatan Icut untuk melihat isi kamar Haykal yang sebulan ini terjaga bak wilayah steril nan terlarang. Lagipula tidak adil jika hanya Haykal yang bisa semena-mena terhadap kamar tidurnya. Toh, rumah itu sudah menjadi milik bersama. Walaupun Haykal yang membelinya, tetapi sekarang Icut telah menjadi istri Haykal. Yang berarti ia adalah nyonya besar di rumah itu. Dari pengamatan Icut, kamar Haykal lebih besar dan lebih mewah dari kamarnya. Bahkan kasur saja berukuran king size. Itu berarti bahwa Haykal memakai kamar tidur utama. Rasanya sedikit tidak adil. Icut melemparkan tubuhnya di atas kasur Haykal. Lebih empuk dan lebih lembut ketimbang kamar tidurnya. Yang lebih menyebalkannya lagi adalah ketika ia melihat AC di sudut kamar. Sedangkan kamar Icut sendiri harus memakai kipas angin setiap malam. Ini benar-benar diskriminasi namanya. Icut ingin marah saat ini, tetapi ia lebih memilih menikmati fasilitas di kamar Haykal. Toh, melihat wajah lelaki itu marah saja sudah puas rasanya. "Icut ... kamu udah bisa keluar dari kamar ini," geram Haykal penuh penekanan. Icut menulikan pendengarannya. Ia malah berguling ke sana kemari di ranjang Haykal. Ini baru ranjang belum lagi jika ia melihat isi lemari dan kamar mandi Haykal. Mungkin lebih mewah lagi. "Icut!" "Enggak mau, Kal!" Haykal mendesah berat. Mungkin ia sedang berpikir kenapa harus menikahi Icut yang sangat keras kepala itu. "Ini enggak adil, Kal. Kamar kamu sebagus ini," protes Icut dengan mata terpejam. "Ini rumahku, wajar aja. Kamu enggak berhak protes," sahut Haykal dengan nada menyindir. "Tetap aja. Aku istri kamu. Harusnya kamarku juga sebagus ini." Tak ada sahutan. Apa Haykal kesal karena Icut tidur di kasurnya? Atau Haykal sedang di kamar mandi sehingga tidak mendengar suaranya? "Karena kita suami istri, bukannya ini juga kamar kamu?" Icut merinding. Refleks ia membuka matanya. Namun, ada yang lebih mengerikan dari bisikan halus nan mendayu-dayu itu. Ketika mata Icut malah terperangkap dalam netra Haykal. Sial, apa yang lelaki itu lakukan di atas tubuhnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD