Hujan tadi sore belum juga reda. Sepulang dari kafe, Icut harus rela basah-basahan hanya agar segera sampai di rumah. Tidak nyaman baginya jika harus menunggu lama hingga hujan reda. Buktinya hingga sekarang, hujan semakin deras saja.
Icut merasa bosan. Selesai Isya, dia tiba-tiba merasa kelaparan. Percuma susah payah memasak dengan bantuan tutorial dari Youtube, ia bahkan tidak bisa menghabiskan semuanya. Yah, lebih tepatnya tidak dihabiskan karena makanan itu tidak layak dimakan. Berharap Haykal akan menghabiskan makanannya. Mungkinkah? Tetapi sebelum itu, apakah Haykal pulang malam ini?
Yang sejujurnya terjadi adalah Icut sedang gelisah. Haykal mungkin punya shift malam hingga belum pulang. Namun, entah kenapa ia merasa gusar.
Suara ketukan pintu membuat lamunan Icut buyar. Beranjak dari sofa, ia berjalan cepat dan membuka pintu. Benar saja, sosok itu muncul.
"Assalamu'alaikum."
Salam yang terucap dari bibir lelaki di hadapannya saat ini membuat Icut mendadak menjadi patung. Suara indah itu mengalun di telinganya. Namun, bukan itu masalahnya. Haykal pulang dengan basah kuyup.
"Cut ...."
"Ah, Wa-wa'alaikumsalam," sahut Icut. Kenapa ia harus gugup?
"Kamu enggak kasih aku masuk?" tanya Haykal dengan bibir yang bergetar.
"Ah, iya."
Icut menggeser tubuhnya hingga Haykal masuk ke rumah. Pandangannya tidak lepas dari Haykal yang kemudian menduduki sofa. Dengan cepat ia mengunci pintu dan menyusul suaminya.
Namun, Icut berubah haluan secara tiba-tiba. Ia membelokkan langkahnya ke dapur dengan niat membuatkan teh hangat untuk suaminya. Lalu dihampiri Haykal yang terlihat menyenderkan kepalanya di sofa.
Icut meletakkan cangkir teh itu di atas meja dan ikut duduk di sebelah Haykal yang sedang memejamkan matanya.
"Kenapa bisa basah-basahan?" tanya Icut tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Haykal membuka matanya perlahan. Ia tersenyum kecut dan menghela napas panjang.
"Alhamdulillah."
"Alhamdulillah?" Icut membeo.
"Iya. Alhamdulillah kamu ada di rumah dengan selamat."
Icut mengernyit. Apa yang dibicarakan Haykal?
"Emang kenapa?"
"Aku khawatir. Kamu sedang penelitian dan sudah pasti bakal pulang telat. Karena hujan deras, aku jemput kamu. Tapi kamunya enggak ada di lab. Kata rekan kamu, kamu udah pulang bareng Devina. Aku coba nelpon pake HP temen, kamu enggak angkat."
Haykal khawatir karenanya? Icut menaikkan alisnya, sedikit skeptis dengan pernyataan Haykal. Jika benar, bukankah berarti lelaki itu menjemputnya?
"HP temen?" tanya Icut dengan nada sindiran. Masih lekat di ingatannya, suara seorang wanita saat ia menelepon suaminya.
"Ah, itu. Terjadi sedikit kecelakaan, terus ditolong sama seorang laki-laki dan istrinya. HP aku ketinggalan di rumahnya."
Icut bungkam. Apa-apaan ini? Ia bahkan belum menuding Haykal dengan berbagai pertanyaan. Tetapi, ia sudah mendapat jawabannya tanpa diminta?
"Cut?" tegur Haykal membuyarkan lamunannya.
"Kamu enggak apa-apa, kan? Kecelakaan gimana?" tanya Icut merasa bersalah. Pasalnya lelaki itu datang menjemputnya, bahkan rela basah-basahan dan mengalami kecelakaan. Siapa yang bisa jamin jika Haykal tidak terserang demam nantinya?
Icut memeriksa kedua lengan Haykal yang berbalut kemeja itu, barangkali lukanya berada di sana. Dan benar saja, ada goresan-goresan yang masih mengeluarkan darah.
"Kal, kenapa gini?" Ia prihatin. Luka Haykal memang kecil, tetapi harusnya telah diobati agar tidak infeksi.
"Mau nyebrang dan enggak lihat kanan-kiri. Jadinya keserempet motor."
"Lain kali hati-hati, Kal. Emang kamu anak kecil?" dengkus Icut kesal. Sedari dulu, Haykal terkadang bersikap kekanakan. Menganggap remeh hal-hal kecil yang dapat berakibat besar.
"Iya, mendadak aku jadi anak kecil yang kehilangan ibunya, Cut. Pikiranku nge-blank. Apalagi ...."
"Apalagi apa?"
"Aku takut kamu marah dan pergi ninggalin rumah. Pagi tadi kamu pergi lebih awal. Aku mau nelpon tapi kamu malah enggak aktif."
Icut menghela napas pelan. Pergi dari rumah? Yang benar saja. Ia tidak berniat kabur hanya karena kejadian semalam. Lagipula harusnya Haykal yang marah padanya. Kenapa lelaki itu yang merasa bersalah dan berpikir bahwa Icut yang marah?
Masalah HP, Icut memang sengaja tidak menyalakannya. Saat di kafe tadi pun, ia tidak berniat untuk mengambil telepon dari Haykal karena kesal dihubungi berulang kali. Siapa tahu jika panggilan terakhir kalinya malah mendapat kejutan berupa suara seorang wanita yang dikiranya selingkuhan Haykal. Tanpa tahu bahwa sebenarnya Haykal baru saja mengalami kecelakaan kecil.
"Aku nyalain HP, kok. Sore tadi."
"Yah, sayangnya HP-ku tertinggal. Kamu nelpon balik, gak?"
Boro-boro menelpon balik, mendapat telepon dari Haykal saja ia sudah ogah-ogahan untuk menjawabnya.
"Tadi ... ada perempuan yang pake HP kamu buat nelpon. Katanya HP kamu tinggal. Besok mau dibalikin."
"Oh itu pasti Mbak Mira yang nelpon. Orang yang tadi nolongin aku."
Icut mendesah berat. Haykal tidak bisa membaca pikiran orang lain, kan? Kenapa Haykal seolah menjelaskan hal yang belum ia permasalahkan? Ia memang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dan Allah sengaja mengatur skenario sedemikian rupa hingga tidak berburuk sangka pada sang suami.
Jika Haykal tahu, lelaki itu pasti kecewa padanya. Ia salah paham dan menjadikan kesalahan itu sebagai noda baru di hatinya.
Icut merasa malu karena telah berburuk sangka. Ia bahkan telah menyumpah serapahi Haykal. Semua karena cemburu. Cemburu, heh?
"Besok mau temenin aku ambil HP?"
Icut mengangguk. "Bentar, aku mau ambil kotak P3K dulu."
Icut segera mengambil kotak P3K di kamarnya. Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar dan mendapati Haykal sedang mengamati lukanya sendiri.
Haykal sedikit kaget dengan kehadirannya, membuat lelaki itu memberi ruang untuk diduduki Icut. Wanita itu memberanikan diri menyentuh luka Haykal, tentu saja lelaki itu meringis. Baguslah, lelaki itu tidak canggung lagi dengannya. Tidak seperti beberapa waktu yang lalu, menghindari seolah Icut adalag kuman.
"Walaupun kamu dokter, untuk kali ini biar aku yang ngobatin kamu," ucap Icut membuat Haykal menoleh padanya. Ia tersenyum dan mengangguk. Lalu membenarkan posisinya agar Icut bisa membereskan lukanya.
"Bukannya tadi kamu ditolongin sama Mbak Mira dan suaminya? Kenapa ini enggak diperban aja?" tanya Icut di sela-sela kegiatannya.
"Bagian mereka cuma nolongin barang yang aku bawa. Bagian lukaku, sengaja dibiarin biar kamu yang ngobatin."
Icut mendelik, merasa Haykal memberinya gombalan receh. Namun nyatanya wajah serius Haykal membuatnya seketika bingung.
"Barang apa?" tanya Icut. Sengaja agar tidak terlalu kelihatan tersipu.
"Sesuatu yang harusnya aku bawa pulang. Tapi malah rusak. Untung ada Mbak Mira dan suaminya."
"Kamu enggak mau ngasih tahu barang apa?" Kenapa jadi Haykal yang ingin dia penasaran?
"Makanya besok ikut aku nemuin Mbak Mira."
"Sedari tadi kamu cuma sebutin nama Mbak Mira. Suaminya?"
"Kenapa? Kamu cemburu? Oke, suaminya itu namanya Mas Arman," goda Haykal.
"Cemburu? Enggak mungkin, Kal," sergah Icut cepat.
"Why? Aku suami kamu, kan?"
"Itu ...."
Haykal terlihat kecewa. Ia tersenyum miris.
"Maaf," lirih Icut membuat Haykal mengernyit bingung.
"Kamu enggak perlu minta maaf. Kamu enggak salah, kok."
Haykal tiba-tiba beranjak dari sofa. Suasana kembali canggung, heh?
"Mau ke mana?" tanya Icut.
"Mau ganti baju. Udah basah takutnya demam."
"Kal ...."
Apa sekarang Icut terlihat seperti istri durhaka? Ia bahkan lupa menyuruh Haykal berganti baju. Padahal bibir lelaki itu mulai membiru karena kedinginan. Yang ia lakukan hanya mengajak berbicara. Ah, jangan lupakan tehnya yang belum tersentuh.
"Kenapa?"
"Luka kamu belum selesai kuobati."
"Enggak apa-apa. Aku bisa lanjutin sendiri."
"Eum ... tehnya belum diminum."
Haykal mendesah berat. "Aku enggak suka teh, Cut. Kukira kamu tahu hal itu."
Haykal tiba-tiba menjadi dingin. Membuat Icut jadi merasa tidak enak hati. Apa dia sudah keterlaluan? Tetapi sungguh ia lupa jika Haykal tidak suka teh. Apakah ada memorinya yang hilang? Atau memang Haykal yang tidak suka teh lagi? Seingatnya dulu, Haykal bukanlah seseorang yang pemilih.
Melihat punggung Haykal yang mulai menjauh, hati Icut merasa tidak nyaman.
"Eum ... Kal?"
Langkah Haykal terhenti. Ia menoleh pada istrinya yang tampak meremas kedua tangannya, gugup.
"Aku masak terlalu banyak. Kamu mau habisin 'kan?"
Haykal mengangguk pelan. Lalu lelaki itu kembali berjalan menuju kamarnya. Ah, kenapa rasanya sesakit ini saat Haykal mengabaikannya?
"Kenapa jadi gini ya, Kal?" gumam Icut di kala Haykal menghilang masuk ke kamarnya.
~Hati yang mulai gelisah. Keadaan yang berubah. Apa kamu mulai marah?~
***