06. Terancam

1417 Words
"Yang bisa dilakukan oleh mereka yang terjebak friendzone adalah mendukung dari depan, tetapi mencoba menikung dari belakang." ❤❤❤ "Jadi cuma salah paham?" Icut mendesah berat lalu mengangguk-anggukkan kepalanya terhadap pertanyaan Devina. Sahabatnya itu mengembuskan napasnya dan bersender di kursi. "Dari awal Cut, penilaian lo ke Haykal udah enggak bener. Suudzon mulu. Bukan hanya lo, tapi gue juga udah kenal lama sama Haykal. Dia bukan tipe lelaki yang suka selingkuh." Icut mengernyit. "Dev, lo lupa kita enggak ketemu dia udah beberapa tahun? Dunia terus berputar, waktu terus berjalan, sudah pasti manusia akan berubah. Tergantung dia berubah jadi baik atau buruk. Haykal yang sekarang masih jadi misteri buat gue. Bayangin dia tiba-tiba muncul setelah beberapa tahun, lalu nikahi gue." "Apa yang elo raguin emang? Jelaslah dia masih cinta sama elo," ketus Devina tidak mengerti isi pikiran Icut. "Cinta? Dia bahkan enggak pernah bilang cinta, Dev. Terkadang gue mikir, siapa yang memainkan pernikahan?" "Cut, Cut. Terkadang elo masih berpikiran kekanakan. Enggak terkadang, tapi emang kekanakan. Denger ya, dari awal lo terima lamaran dia dengan niat balas dendam aja udah enggak bener. Sekarang lihat, siapa yang makin terjerumus. Elo, kan? Lo yang makin cinta sama dia." "Hah, cinta? Enggak, deh." Tersirat keraguan di mata Icut. Devina tersenyum lalu menepuk pundak sahabatnya dengan pelan. "Sekarang, daripada elo mikirin gimana balas dendam sama Haykal, lebih baik lo pikirin cara agar perasaan Haykal terbuka untuk lo. Maafin dia dan jadi istri yang baik. Balas dendam lo cuma sia-sia dan nambah dosa aja," peringat Devina lalu beranjak dari kursinya. "Udah jam sebelas, gue mesti balik ke lab. Semoga hati elo terbuka. Assalamu'alaikum." "Wa-wa'alaikumsalam." Seperginya Devina, Icut menyenderkan kepalanya ke dinding kantin fakultas. Untung saja mie ayamnya sudah habis. Jika tidak, Icut yakin ia tidak berselera makan lagi dan akhirnya mie ayam pun terbuang sia-sia. Mubazir. Memikirkan Haykal memang tidak pernah ada habisnya. Sikap Haykal di kali pertama mereka bertemu setelah bertahun-tahun yang lalu, awalnya terkesan dingin dan ketus. Namun, semua berubah saat ijab kabul terucap dari bibir lelaki itu. Haykal terlihat lebih ramah. Seringkali ia yang memulai pembicaraan untuk memecah keheningan yang sengaja diciptakan Icut. Perhatian kecilnya juga membuat Icut tersentuh. Bahkan lelaki itu anteng-anteng saja saat Icut ingin kamar mereka dipisah. Jika benar seperti kata Devina, maka harusnya Icut mengikis rasa bencinya dan memulai yang baru. Sejauh ini, pernikahan mereka masih jauh dari kata normal. Ia masih menganggap Haykal bak orang asing. Sedangkan Haykal memperlakukannya seperti seorang teman. Kembali berpikiran buruk, apa ia tidak semenarik itu menjadi wanita? Haykal yang tenang dan tidak mempermasalahkan perihal kamar yang berbeda, apa karena Haykal tidak tertarik padanya? "Astagfirullah 'alazim!" Icut tidak tahu pikiran apa yang sudah merasuki otaknya. Yang pasti sangat buruk. Baiklah, ia sudah meyakinkan diri untuk memperbaiki pernikahan mereka. Pemikirannya pun harus dewasa. Percuma umur 26 tahun jika masih menganggap sesuatu sebagai permainan. Jika Haykal tidak memulai pernikahan normal mereka, maka ia yang akan memulainya. *** Icut melangkah dengan tergesa-gesa keluar dari laboratorium. Tumpukan buku yang berada di lengannya hampir saja terjatuh karena tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf, maaf," ucap Icut tanpa melihat siapa orangnya. "Lho, Cut. Mau ke mana buru-buru?" Merasa familier, Icut menghentikan langkahnya lalu menoleh ke sumber suara. "Rivan?" "Iya. Lo sampe enggak tahu siapa yang elo tabrak. Mau ke mana buru-buru?" tanya Rivan dengan alis yang bertautan. "Oh itu, mau ketemu sama Haykal. Dia udah nunggu di depan gerbang." Tadi, Haykal tiba-tiba mengirimi Icut sebuah pesan. Katanya lelaki itu ingin mengajaknya pulang. Tumben. Walau begitu, Icut tetap segera menyelesaikan pekerjaannya di laboratorium. Begitu Haykal mengirim pesan bahwa ia sudah tiba, ia segera buru-buru keluar. Rivan mengernyit. "Tapi elo salah arah." "Ah, gue mau balikin buku dulu ke lab sebelah. Buku-bukunya punya si Devina." Rivan manggut-manggut. "Kalau gitu biar gue bantu. Lo mau ketemu suami lo, kan?" Senyuman tipis terbit di bibir Icut. Beruntungnya ia bertemu Rivan di saat-saat seperti ini. Dengan cepat, ia meletakkan tumpukan buku itu di atas tangan Rivan. Dengan langkah yang memburu, ia meninggalkan Rivan yang sepertinya terlihat pasrah. "Makasih, Riv. Moga cepet nikah sama Devina, ya," seru Icut lalu menghilang di balik tembok. Rivan mendesah berat. "Berpura-pura terlihat baik-baik aja itu enggak bagus. Tapi ya gitulah, lo harus bisa ikhlas. Icut dan suaminya kelihatan sama-sama saling cinta. Gue harap elo enggak berniat ngasih tahu perasaan lo yang sebenarnya ke Icut. Hapus dan buang aja." Suara Devina dari belakang membuat Rivan menoleh. Ia mendapati wanita berjilbab ungu itu mengulurkan tangannya. "Kok bengong. Siniin bukunya. Gue mau pulang." Rivan masih tidak berkutik. "Riv!" tegur Devina kesal karena Rivan tidak kunjung memberikan bukunya. "Biar gue yang bawa. Btw, walau gue sayang sama Icut bukan berarti gue berpikiran buat ngerebut dia dari suaminya. Gue enggak sepicik itu. Tapi seandainya Icut dan Haykal pisah, gue siap gantiin posisi Haykal." Devina cengo mendengar ucapan Rivan yang seserius itu. Ia tidak menyangka bahwa Rivan mengatakan hal serius tentang cinta. Jadi, sebegitu besarnyakah cinta Rivan ke Icut? Sedewasa itukah lelaki itu hingga rela melakukan apa saja agar orang yang dicintainya bahagia? "Jadi apa lo berharap mereka pisah?" Rivan tidak menoleh pada Devina, ia memilih berjalan. "Sejujurnya, iya." Devina menghela napas panjang lalu mengekor langkah Rivan. Nyatanya bukan hanya Rivan yang terjebak friendzone, tapi ia juga. Sayang, tatapan Rivan hanya untuk Icut. Sementara Icut tidak menyadari bahwa Rivan menyukainya, wanita itu malah menggoda Devina dan Rivan yang seharusnya menikah. Sementara itu, Icut sudah masuk ke dalam mobil Haykal. Lelaki itu sempat memberi senyuman yang membuatnya geregetan. Nyatanya, senyuman Haykal adalah pengobat lelah yang manjur. Awalnya ia berpikir Haykal masih marah karena kejadian semalam. Bahkan pagi tadi lelaki itu berangkat lebih cepat. Namun, ternyata di luar dugaan Haykal masih bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Masalah sepele sih, tetapi tetap saja berakibat fatal. "Kapan penelitian kamu selesai?" tanya Haykal memulai pembicaraan. "Udah selesai, kok. Cuma tinggal selesain tesis." "Hm, berarti enggak lama lagi kamu wisuda?" "Iya." Hening. Baik Haykal dan Icut sama-sama canggung. Apa mungkin karena Icut membalas senyuman Haykal tadi? Ya, biasa Icut tidak peduli dengan hal itu dan bersikap dingin. Sekarang jadinya malah aneh. Berselang beberapa menit kemudian, Haykal berdeham. Ia terlihat gelisah seperti ingin menyampaikan sesuatu. "Kenapa, Kal?" Icut memberanikan diri untuk bertanya. "Ehm ... itu. Tadi Umi nelpon kapan bisa pulang ke rumah. Kamu ada waktu?" Icut mengernyit. "InsyaAllah, aku selalu ada waktu. Kenapa? Rasanya bukan itu yang mau kamu bahas. Ada hal lain?" "Mungkin ada baiknya kamu tanya ke Umi langsung." "Maks--" "Kita udah sampai, enggak mau turun?" potong Haykal. Icut melempar pandangan keluar jendela. Mereka sudah tiba di depan sebuah butik. Lagi, Icut mengernyit. "Bukannya kamu jemput aku buat ngajak makan? Kok ke butik?" Haykal tersenyum. "Iya, tapi setelah kita ambil HP dan barang aku. Kamu lapar?" Icut menggeleng. Karena pada dasarnya bukan lapar yang menjadi masalah. "Barang apaan, sih?" Icut mencoba bersikap netral. Jujur, ia tidak menyangka akan dibawa menjumpai Mira. "Nanti kamu juga tahu," ucap Haykal terlihat senang. Lelaki itu bahkan tidak sadar telah menyematkan jari-jarinya di antara jemari indah Icut. Icut yang menyadari itu jadi gelisah. Ia merasa sangat gugup. Bukan karena tersentuh akan perlakuan Haykal, tetapi karena pertemuannya dengan Mira. Haykal dan Icut telah tiba di dalam butik. Ucapan salam dan senyum nan semringah dalam menyambut tamu membuat Icut makin gelisah. Ia menundukkan kepalanya. "Loh, kirain kamu enggak datang," kekeh wanita dengan rambut yang disanggul itu. Mira ternyata adalah wanita yang sangat cantik. Penampilannya yang elegan menandakan bahwa ia adalah pemilik butik tersebut. "Kenalin, Mbak. Ini Cut Azalea." Mata Mira mengarah pada Icut. Mau tidak mau, Icut menaikkan wajahnya. Membiarkan Mira melihatnya dengan jelas. Icut berharap semoga ia lupa dengan hal yang mereka bicarakan kemarin. "Ah, Mbak Icut? Wanita yang ngangkat telepon kemarin, kan?" "Ah, iya." Benar-benar canggung! "Wah cantik, sama kayak kamu, Kal. Mama kalian pasti cantik juga, kan? Ya ampun," puji Mira terlihat excited. "Mama?" Haykal membeo. "Kamu enggak bawa istri kamu, Kal? Kirain kalian bakal datang bertiga." "Maksudnya?" tanya Haykal terlihat bingung. Icut menggigit bibir bawahnya. Semoga saja Haykal tidak marah setelah ini. Ia baru saja akan memulai kembali pernikahan mereka. "Iya, Icut ini adik kamu, kan?" Dalam sekejap, Haykal melepas tautan jarinya dengan Icut. Wanita itu menoleh, ingin tahu raut wajah Haykal. Tampak tenang. "Bukan, Icut ini istri saya," sahut Haykal dengan nada menekankan. Baik Icut maupun Mira tampak kaget dengan reaksi Haykal. Menyadari situasi canggung, Mira mengajak keduanya untuk duduk di sebuah sofa. Wanita itu menawarkan minuman. Walau Haykal menolak, Mira tetap pergi untuk membuatkan mereka minuman. Meninggalkan kedua insan dengan suasana tidak nyaman. Haykal tidak berbicara apapun, begitu pula dengan Icut. Rasanya Icut ingin menjelaskan, tetapi ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Suara deringan telepon membuat Icut segera merogoh tasnya. Ia mengeluarkan HP, menampilkan nama seseorang yang tak seharusnya ada di situasi tegang seperti ini. "Kenapa enggak diangkat?" tanya Haykal. Icut meremat ujung bajunya. Ia benar-benar ingin mendatangi Rivan saat ini juga untuk menjewer telinganya karena menelepon di saat yang tidak tepat. "Angkat aja. Pacar kamu, kan?" Icut hampir lupa dengan sandiwaranya saat itu. Bak senjata makan tuan, ia harus menerima konsekuensi yang dibuatnya sendiri. Sepertinya pernikahan mereka mulai terancam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD