"Kal," panggil Icut tampak gusar.
Berulangkali ia merapikan jilbab yang sebenarnya tidak bermasalah. Justru, karena tangan nakalnya, jilbabnya malah kusut. Namun, itu adalah reaksi yang tidak sadar ia lakukan kala gugup.
Haykal hanya berdeham. Tidak berniat merespon panggilan Icut dengan ucapan.
"Kamu marah?" tanya Icut to the point.
"Aku? Kenapa harus?"
Haykal malah membalikkan pertanyaannya. Wanita itu mendesah frustrasi. Diamnya Haykal sejak sore kemarin sudah menjadi pertanda bahwa lelaki itu sedang marah. Jujur, Icut tidak tahu harus memulainya dari mana. Apa ia harus menjelaskan bahwa ia ingin memulai lembar baru dengan Haykal secara benar? Lalu apa tanggapan lelaki itu jika tahu niatnya yang sesungguhnya?
Icut benar-benar ingin mengumpati Rivan. Semua karena teleponnya kemarin yang semakin memperparah keadaan. Dan tahu apa yang disampaikan Rivan lewat telepon?
"Cut, pulpen kamu ketinggalan."
Apa-apaan itu? Sangat menguras emosi. Hanya karena sebuah pulpen, Rivan meneleponnya dan membuat masalah baru pada pernikahannya. Icut tidak tahu apa yang dipikirkan Rivan saat itu. Walau sedikit konyol, ia rasa Rivan bukanlah orang yang suka berpikiran kekanakan seperti itu.
"Aku rasa karena Riv--"
"Hak kamu, Cut. Dia lelaki yang seharusnya kamu nikahi, kan?"
"Kal!"
Haykal beranjak dari sofa. Ia terlihat tidak berminat lagi menikmati tayangan televisi. Padahal sebelumnya lelaki itu sangat antusias. Menonton tayangan berita ditemani kopi buatannya sendiri. Bukan, bukan karena Icut malas membuatkan suaminya kopi, hanya saja ia baru tahu jika Haykal lebih suka minum kopi.
Melihat Haykal yang memilih meninggalkannya membuat Icut marah. Ia merasa tidak dihargai. Malam ini ia harus mengatakan yang sebenarnya. Ia baru saja membuat keputusan untuk menerima pernikahan itu dan kembali membuka hati pada Haykal. Namun, tampaknya Haykal mulai berulah.
Haykal terlihat masuk ke kamarnya. Icut mendecih lalu ikut menyusul suaminya ke dalam kamar. Ia tidak peduli jika nanti Haykal marah karena telah masuk ke kamarnya tanpa izin. Toh, sebelum semuanya terlambat, kan?
Icut membuka pintu kamar Haykal. Lelaki itu tampak kaget saat melihat Icut yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Apa?" tanya Haykal dingin.
"Kita harus bicara," tegas Icut.
"Ya udah. Bukannya kita udah ngobrol dari tadi?"
Haykal membuka kancing kemejanya satu per satu. Tidak tahu malu sama sekali! Pipi Icut memerah, memalingkan wajah ke arah lain. Sesaat kemudian, ia melihat Haykal sudah berganti pakaian dari kemeja ke kaos biasa.
"Kamu tahu maksudku, Kal!"
"Jadi, apa?"
Haykal tampak tidak berminat pada pembicaraan mereka. Terbukti dengan lelaki itu memilih berbaring di kasurnya. Sementara itu, Icut tampak kesal karena Haykal mengacuhkannya.
"Kamu cinta aku, Kal?"
Icut tidak tahu kenapa pertanyaan itu keluar dari bibirnya. Haykal bahkan tampak kaget dengan pertanyaannya. Ia ingin meluruskan sesuatu sebelum membahas hal inti.
"Perlu dijawab, Cut?" Ini yang Icut tidak suka, Haykal malah membalikkan pertanyaannya.
"Perlu, Kal. Biar kita tahu kelanjutan pernikahan ini."
Haykal mengerutkan keningnya. Ia memandang Icut lekat. Tampaknya lelaki itu mulai tertarik pada pembicaraan yang mengarah pada keemosian Icut ini.
"Maksud kamu apa, Cut?" Dahinya mengernyit. Tangan yang tadinya sibuk nergerak di atas layar handphone mendadak berhenti.
"Aku rasa kamu tahu apa yang aku maksud. Kamu pintar, kan?" sindir Icut. Haykal menarik napasnya panjang, kali ini ia beranjak dari kasur, berdiri di hadapan Icut.
"Kamu punya niat apa dari pernikahan ini, Kal?" tuding Icut tidak sabaran.
"Kamu kira apa niat yang benar untuk sebuah pernikahan?"
Haykal tampak tenang, tetapi tidak dengan Icut yang merasa jawaban suaminya terlalu bertele-tele. Tatapannya teduh, tidak tajam atau mengintimidasi. Namun, mengapa tampak lebih mengerikan?
"Sekarang aku pengen nanya sama kamu. Apa tujuan pernikahan sebenarnya?"
Karena cinta? Karena ingin memiliki keturunan? Karena sebuah status? Atau untuk menghindari pertanyaan kaum lansia akan pernikahan? Banyak hal yang bisa dijadikan sebuah alasan. Pernikahan zaman sekarang mudah saja dilakukan. Saking mudahnya, bahkan anak-anak SD yang bahkan belum sepenuhnya baligh sudah menikah. Tidak heran banyak terjadinya perceraian.
"Aku pengen tahu kenapa kamu nikahi aku, Kal. Kamu enggak pernah lupa, kan, pernah ninggalin aku? Kamu enggak lupa, kan, pernah ngilang gitu aja? Kamu enggak lupa, kan, pernah mutusin aku secara sepihak?"
"Cut ...."
"Kamu enggak pernah nanya sama aku kenapa aku terima lamaran kamu? Apa kamu enggak lihat gimana sikap benciku sama kamu? Coba tanya, Kal!" desak Icut dengan d**a naik-turun. Menandakan bahwa dia sudah sangat emosi.
"Kita enggak usah lanjutin pembicaraan kita, Cut. Kamu lagi emosi. Setan sedang menguasai kamu."
"Jangan menghindar, Kal! Aku butuh jawaban kamu!"
Haykal menghindarinya. Icut tidak tahu apa yang ada di pikiran lelaki itu. Haykal tidak mau memberinya jawaban. Jadi, salahkan Icut jika berpikiran buruk pada suaminya? Sementara Haykal sendiri tidak mau meluruskan masalah mereka?
Melihat Haykal berjalan menuju pintu, buru-buru Icut menghadangnya. Lelaki itu tampak kaget, apalagi ketika Icut melepas penutup kepala yang selama ini tidak dibiarkan terbuka di depan Haykal.
"Cut!"
Jilbab Icut luruh ke lantai. Icut membiarkan rambutnya yang hitam legam itu terlihat. Ia bahkan membuka ikatan rambutnya hingga rambut itu tergerai bebas.
"Aku mulai terima kamu lagi, Kal. Aku mulai terima pernikahan ini. Kamu enggak tanya kenapa?"
Haykal terdiam, tampak syok. Tentu saja, selama ini Icut tidak pernah membiarkannya melihat aurat wanita itu. Mereka seperti orang asing dalam satu rumah.
"Apa aku sudah terlihat menghargai kamu sebagai suamiku? Jadi, tolong perjelas kenapa kamu mau pernikahan ini. Karena yang aku rasa, ada yang enggak normal, Kal," lirih Icut sendu.
Lama suasana menjadi hening. Sementara Icut menunggu suaminya berbicara, Haykal malah berdecak. Beberapa detik kemudian, Icut berada di pelukan Haykal. Sebuah kontak fisik yang mendebarkan. Ini pertama kalinya untuk wanita itu.
Selama ini, Icut menjaga diri dari lelaki mana pun. Sehingga tidak heran, banyak lelaki yang segan dengannya. Beda dengan Rivan, lelaki itu dengan beraninya menawarkan pertemanan dengan batasan-batasan tertentu.
Berpelukan mungkin hal yang tabu baginya. Dulu, saat berpacaran dengan Haykal pun, tidak ada sentuhan fisik yang menjerumus. Misalnya berpelukan seperti ini.
Sesaat pikiran Icut blank. Ia terlalu kaget dengan perlakuan Haykal hingga tidak mampu bergerak. Tubuhnya terasa membeku.
"Aku menikahi kamu untuk menyempurnakan agamaku, Cut. Apa sudah jelas?" bisik Haykal membuat bulu kuduk Icut merinding.
Aroma khas Haykal yang baru-baru ini terekam di ingatan Icut, perlahan menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Membuatnya merasa tenang di dalam dekapan. Namun, ketenangan itu menghilang seiring dengan timbulnya pertanyaan baru di otak Icut. Dia belum menemukan jawaban yang ia inginkan.
Jika Haykal menikahinya untuk menyempurnakan agamanya, lalu bagaimana dengan Icut? Apa hanya dia yang jatuh cinta di sini?
Haykal melepas pelukannya. Ia mencium kening Icut lama. Ada apa ini? Icut memang merasa berdebar, tetapi rasanya ada yang aneh. Setelah pertengkaran mereka yang tidak kunjung mendapat jawaban memuaskan, Haykal bersikap lebih manis. Tapi bukankah ini yang diinginkan Icut?
"Kal, tentang Rivan ...."
"Walau kamu cinta dia, tolong putuskan hubungan kalian. Orang tua kamu akan kecewa kalau tahu anaknya mengkhianati sebuah pernikahan."
Apa maksudmu, Kal? Aku tidak mengerti. Kenapa kamu bersikap seolah-olah menjadi orang yang tersakiti? Pernikahan seperti apa yang kamu inginkan?
###
Tbc