Icut mendesah berat. Hari ini, otaknya memanas. Merevisi tesis lebih berat ketimbang menyusunnya. Belum lagi dengan ucapan tante-tantenya di telepon beberapa hari yang lalu.
Ia tidak tahu bahwa sanak saudaranya sudah pulang ke kampung halaman neneknya. Ya, minggu depan anak Tante Rifa akan menikah. Oleh karena itu, seluruh keluarga akan pulang lebih awal ke kampung halaman untuk persiapan pernikahan.
Oh, jangan pikir saat pernikahan Icut pun seperti itu. Tidak banyak yang tahu, sekalinya tahu mereka pasti akan memborbardirnya dengan berbagai pertanyaan. Jadi, biarlah ia datang ke acara minggu depan sekalian mengenalkan Haykal sebagai suaminya.
Jadi, ucapan seperti apa yang membuat Icut kepikiran?
"Icut udah mau beranjak kepala tiga. Kuliah mulu buat apa kalau pekerjaannya enggak tetap? Mending dia nikah dan ngurus anak aja udah. Ngabisin uang orang tua aja."
Ingin sekali ia berteriak kalau dirinya tidak lagi memakai uang orang tuanya sebanyak itu. Ia berniat menjadi dosen, suatu saat nanti. Lagipula, saat ini ia punya bisnis online yang penghasilannya lumayan. Kenapa tante-tantenya jadi sejulid itu?
"Tante jangan risau. Tunggu kabar baiknya saja ...."
Juga kabar mengejutkannya.
Dan lagi, hubungannya dengan Haykal masih datar. Tidak ada peningkatan sama sekali. Setelah pertengkaran yang berakhir baperan seminggu yang lalu, hubungannya dengan lelaki itu tidak ada perubahan. Padahal ia sudah mempermalukan dirinya sedemikian rupa. Menerima pernikahan? Haykal pasti merasa di awang-awang.
Prasangka buruk lagi-lagi menghinggapi otaknya. Jika Haykal tahu bahwa dirinya sedang mencoba memperbaiki pernikahan, kenapa lelaki itu tampak acuh tak acuh? Entah benar Haykal sibuk dengan operasinya atau memang sengaja menghindarinya. Icut tidak tahu.
Sangat sulit untuk menebak isi otak Haykal. Dulu seingat Icut, Haykal bukanlah orang yang dingin seperti ini. Tampak humoris dan ramah. Tidak heran, banyak yang menyukai Haykal dengan alasan senyumannya yang manis serta pembawaannya yang hangat. Faktor usia bisa saja membuat Haykal lebih berwibawa, tetapi rasanya tetap saja berbeda.
Sedari kecil, mereka bertetangga. Sekolah di tempat yang sama, dari SD hingga SMA. Tidak berteman, tetapi saling bersaingan. Mencoba menjadi posisi terbaik di sekolah, lalu memamerkan.
Lalu perasaan bermusuhan itu seolah sirna dengan rasa suka yang hadir entah sejak kapan. Ketika Icut beranjak kelas sepuluh, sang rival menjadi pacar. Mereka sempat dinobatkan menjadi pasangan terbaik. Dan siapa sangka, ketika Haykal selesai UN, hubungan mereka kandas tanpa kejelasan.
Haykal menghilang, tanpa pamitan. Hanya kedua orang tuanya yang datang ke rumah untuk memberi tahu bahwa putra mereka melanjutkan studi ke luar kota. Lelaki itu tidak memberi sepatah kata pun. Bahkan kata-kata perpisahan. Di saat itu, Icut ditinggalkan dengan hubungan yang digantung bak jemuran.
Sebelum menghilangnya lelaki itu, sebuah insiden menyayatkan hati terjadi. Haykal terpergok bersama gadis berkerudung lebar di sebuah cafe. Memang awalnya tidak hanya berdua, tetapi tetap saja mereka terlihat lebih akrab. Padahal saat itu Icut sengaja mendatangi Haykal--berbekal alamat dari Umi--, tetapi apa yang ia dapatkan? Kekecewaan.
Lalu saat Icut dengan kegamblangannya mendatangi Haykal. Kehadirannya menjadi buah bibir. Hingga Haykal menyeretnya menjauh dari kelompok teman-temannya. Di situ, lelaki itu mengucapkan kata-kata kejam tanpa beban.
"Kita putus Icut, tanpa penolakan."
Tak ada alasan yang jelas. Icut juga merasa tak ada yang salah dengannya, dengan hubungan mereka, kecuali Haykal sendiri.
Jika Haykal tidak segera pergi, Icut berniat menjambak lelaki itu dan mengatakan bahwa dia pun tidak akan memohon agar Haykal tetap tinggal di sisinya. Seseorang yang telah menyakitinya, tidak pantas untuk diperjuangkan lagi.
Dan ternyata tidak semudah itu. Ia berakhir di sisi lelaki itu sekarang. Seolah tak ada masa lalu yang menyakitkan terjadi. Haykal dengan gamblangnya melamar, setelah mencampak di masa lalu.
Tidak tahu apa yang terjadi pada Haykal. Delapan tahun menghilang, kemudian datang dengan pinangan. Sungguh lucu.
Banyak hal yang terjadi di masa lalu dan Icut hanya bisa pasrah darinya. Tidak ada yang bisa diubah, karena seperti itulah jalan takdirnya.
Ia mengusap pelipisnya, memikirkan Haykal. Lelaki itu, bagai orang asing.
"Kamu baik-baik aja, Cut?"
Icut yang sedari tadi memejamkan matanya, perlahan membuka kelopak matanya. Memandang sosok wajah seorang lelaki dengan wajah tegang. Haykal sudah pulang dan dia khawatir.
"Baru pulang, Kal?"
Haykal mengangguk. Tumben Haykal pulang secepat ini. Padahal akhir-akhir ini lelaki itu tampak sibuk dan pulang larut. Terkadang Icut menunggunya di sofa, tetapi jika tidak sanggup lagi, wanita itu akan masuk ke kamarnya terlebih dahulu.
Icut berencana untuk bangkit, tetapi kepalanya terasa berat. Sedikit kaget saat Haykal meraih tengkuknya, membantunya bangkit dan bersandar pada sofa.
Diletakkannya punggung tangan ke dahi Icut. Wajahnya lebih khawatir lagi.
"Demam, Cut?"
Bukannya tidak mau menyahut, tetapi ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Jadi ia hanya bisa membungkam, membiarkan Haykal tiba-tiba menggendongnya ke kamar. Setelah membaringkannya, tak lupa lelaki itu membenarkan letak bantal dan selimut agar Icut merasa nyaman.
"Kamu demam, Cut."
Yah, ia rasa Haykal lebih tahu. Bukankah Haykal adalah seorang dokter?
Tak heran jika ia demam. Kesibukan merevisi tesis membuatnya lupa akan kesehatan. Banyak alasan yang membuat kesehatan tubuh bahkan hatinya menurun drastis.
"Mana ikat rambutmu?" tanya Haykal dengan alis terangkat.
"Itu." Telunjuk Icut mengarah pada sebuah benda kecil berbentuk donat yang berwarna ungu di atas meja rias. Diraihnya benda tersebut dari meja rias yang untungnya masih bisa dijangkau.
Sesuai ucapannya seminggu yang lalu, Icut melepas jilbabnya jika di rumah, lebih tepatnya di depan Haykal--suaminya. Ia tak lagi menganggap Haykal sebagai orang asing. Setidaknya ia sudah memulai untuk tidak melukai harga diri dan hati lelaki itu.
Di tengah-tengah lamunannya, Icut tidak sadar jika Haykal menjumput rambutnya dengan mengikatnya secara asal. Untung ikatannya masih terbilang bagus dan rapi. Ingatkan Icut untuk mengajari Haykal cara mengikar rambut seorang wanita.
"Oh ya, tunggu sebentar."
Haykal keluar dari kamarnya dengan langkah terburu-buru. Tidak lama kemudian, lelaki itu muncul dengan sebuah baskom kecil dan handuk di tangannya.
Ia meletakkan baskom itu di nakas, membasahi handuk dan kemudian memerasnya. Terakhir, diletakkan handuk itu di dahi Icut. Sungguh, Icut cukup terharu dengan apa yang telah dilakukan Haykal padanya.
"Kal."
Icut berhasil mengeluarkan sepatah kata dari bibirnya. Melawan rasa sakit yang datang bertubi-tubi ke kepalanya.
"Ya?"
"Kamu baru pulang?"
Haykal melirik pakaian yang melekat di tubuhnya. Masih mengenakan pakaian yang sama dengan pagi tadi. Ditambah jas putih yang belum dilepasnya.
Haykal mengusap tengkuknya. "Aku mau mandi dulu."
"Kal."
Langkah Haykal terhenti. Ditolehnya wajah ke arah Icut yang menatapnya dengan mata sayu.
"Selesai mandi, temenin aku, ya, Kal?" pinta Icut dengan nada lirih.
Icut sebenarnya tidak yakin dengan permintaannya sendiri. Apalagi suasana berubah canggung. Jujur, tidak berniat merepotkan ataupun memiliki maksud tertentu yang menguntungkan, tetapi ia hanya ingin ditemani seseorang. Seseorang harus ada di sisinya di kondisi lemah seperti ini.
Tak kunjung mendapat jawaban, Icut memejamkan matanya. Haykal mungkin akan menolak permintaannya.
Sementara itu, Haykal tampak mematung sesaat. Ia menampilkan seculas senyum yang jarang ia tunjukkan lalu menghampiri wanitanya.
"Aku akan nemenin kamu, Cut. Sampai pagi."
###
Tbc