09. Salat Subuh

1105 Words
Mereka yang berduaan menikmati terbitnya mentari akan kalah dengan pasangan halal yang salat subuh melawan sejuknya pagi. ### Sebuah sentuhan hangat terasa di dahi Icut. Terasa menenangkan. Sentuhan itu menjalar, menjadi sebuah usapan hingga puncak kepala. Perasaan nyaman, tatkala selimut membungkus tubuhnya dengan sesuatu yang berat melingkari pinggang. Sesuatu yang terasa asing, mendebarkan. Beberapa saat kemudian, matanya perlahan membuka. Akibat deru napas yang terasa hangat, menggelitiki tengkuknya. Saat itulah, ia sadar sesuatu. Ia kaget saat matanya menubruk netra yang hampir tak berjarak. Dalam sepersekian detik, mata yang menyiratkan kekagetan itu pun perlahan menjauh. Dan Icut sadar, jantungnya bergemuruh. "Maaf." Berdecak, di dalam hati. Ia tidak suka saat kata 'maaf' keluar dari bibir lelaki itu. Tak pantas, karena sebenarnya ia tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang tak berdetak normal. Kesan romantisme seperti itu, Haykal tidak perlu canggung atau pun merasa bersalah. Ah, ia tahu, ini semua pasti karena Haykal berpikir jika ia risi. Alih-alih menunggu respon Icut, Haykal malah beringsut turun dari kasur. Berjalan tanpa menoleh, menuju kamar mandi di kamar itu. Icut mendesah kecewa, Haykal malah berpaling darinya. Merasa masih demam, Icut berniat untuk memejamkan mata lagi. Mengenyahkan kekesalan yang bisa menjadi penambah pikiran pemicu demam. Ia tidak suka sakit, jadi harus segera pulih. Jika sudah seperti ini, ingin mengeluarkan unek-unek pun sulit. Akhirnya, hanya menambah beban saja. Tidak lama kemudian, Haykal muncul dengan tampilan yang lebih segar. Rambutnya tampak agak basah. Lelaki itu terlihat semakin MasyaAllah dengan lengan piama biru tuanya yang digelung hingga atas siku. Like a handsome prince. Tampak seperti pangeran surga. Ketampanan Haykal bertambah karena air wudu yang membasahi sebagian tubuhnya. Icut menyadari sesuatu, sudah waktunya subuh. Haykal berhasil mengalahkan setan-setan pagi sehingga berhasil bangun untuk menunaikan kewajibannya. Sang Muzhib pun terbukti kalah. Haykal dan air wudu mungkin adalah selengkap yang sulit dipisahkan. "Sanggup solat jama'ah?" Icut mengernyit tatkala Haykal berdiri di hadapannya dengan pertanyaan yang mampu menggetarkan jiwanya. Ia bangkit perlahan, memposisikan tubuhnya di headboard tempat tidur. Memindahkan handuk kecil yang entah sejak kapan menempel di bantalnya ke dalam baskom. "Jama'ah sama kamu?" tanya Icut meyakinkan. Haykal tersenyum kecil, lebih seperti menahan tawa. "Iya. Hari ini aku absen ke mesjid dulu. Aku jadi imamnya dan kamu jadi makmumnya. Gimana?" Icut tidak tahu harus mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Namun, seculas senyum dengan spontannya tercetak di bibir. Terlalu terbawa perasaan hingga lupa akan kepalanya yang masih pening. Rasanya ini adalah pagi yang paling indah. Tanpa khitah yang ia susun, ternyata skenario Allah lebih romantis dari yang ia duga. "Demamnya udah agak mendingan ketimbang semalam. Masih pusing?" tanya Haykal sembari menunggu sahutan Icut. Tersadar akan lamunannya, Icut jadi kelabakan. "Masih agak pusing. Tapi, aku bisa kok solat bareng kamu. Bentar, ke kamar mandi dulu." Buru-buru Icut menjatuhkan kedua telapak kakinya ke lantai marmer yang dingin itu. Ia melupakan rasa sakitnya sejenak. Ini adalah kesempatan istimewa yang hanya pasangan halal yang tahu. Salat berjamaah bersama suami terkasih. "Hati-hati. Kalau gitu, aku duluan." Icut memilih memandangi punggung Haykal yang menghilang di balik pintu, barulah setelah itu ia melesat ke kamar mandi. Melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Setelah selesai bersuci, Icut menyambar mukena berwarna putihnya yang ia sangkut di lemari. Aroma parfum bunga non alkoholnya menyerbak, semakin melumerkan hatinya. Berjalan pelan keluar kamar, hingga berakhir di sebuah ruangan yang berfungsi sebagai musala. Sengaja didesain khusus oleh Haykal, agar memudahkan saat ibadah. Biasanya, Icut yang salat sendirian di sana. Haykal lebih memilih salat di mesjid, selain itu juga dikarenakan intensitas waktu yang banyak dihabiskan di luar rumah. Haykal di sana, berdiri dengan penampilan yang lebih tampan. Paduan baju koko putih dan sarung kotak-kotak hitam. Tak lupa dengan peci hitam dengan gambar rencong di ujungnya. Menebak dengan yakin, barangkali Haykal mendapat hadiah peci dari seorang teman yang berasal dari Aceh. Tak ingin berlebihan, tetapi rasanya demamnya hilang seketika. Perasaan bahagia yang dicurahkan lewat adrenalin memacu jantung. Icut menyimpulkan, pernikahannya mulai sempurna. "Cut." Suara itu indah. Ketika suara iqamah menggema, menyentuh gendang telinga, barulah ia sadar bahwa salat akan dimulai. Walau tidak akan menyamai merdunya suara Bilal bin Rabbah, Icut cukup tersentuh. Suaminya ada untuk menuntunnya ke jalan yang benar. Seperti ucapan Haykal tempo hari, pernikahan itu untuk menyempurnakan agama. Icut berusaha khusyu' hingga salam di akhir. Perasaan menjadi lega karena telah menunaikan kewajiban. Diliriknya Haykal yang masih berzikir. Sementara itu, ia larut dalam doanya pada Yang Maha Kuasa. " ... Ya Allah, jika Haykal adalah jodohku, maka biarkanlah kami bersama hingga hayat memisahkan. Biarkan Haykal menjadi imamku, serta anak-anak kami kelak. Jika Haykal adalah jodohku, terangkanlah hatinya. Satu kata cinta yang terucap di bibirnya, adalah puncak kebahagiaanku. Biarkanlah aku mengetahui isi hatinya. Ya Allah, jika benar Haykal adalah jodohku yang Kaukirimkan, maka berkahilah pernikahan kami. ..." Di dalam doanya, terselip nama Haykal. Tulus, suci, tanpa dusta yang terselip. Hingga kata Aamiin terucap di akhir doa, perlahan ia membuka pejaman matanya. Haykal dengan pandangan teduh menatapnya. Semoga selalu seperti ini keadaannya. Meraih tangan Haykal, menciumnya. Ia memang bukan wanita sholehah yang sempurna. Bukan berdrama, tetapi ketulusan membawanya untuk menyakini hati bahwa mulai saat ini ia akan takzim pada Haykal. Tak ingin berjanji, takut mengingkari suatu saat nanti. Biarlah waktu yang menuntunnya. "Icut." Icut yakin, Haykal mungkin akan mengutarakan isi hatinya. Diangkatnya kepala, menatap lekat lelaki itu dengan penuh cinta. Tanpa dosa yang terselip, karena Haykal telah menjadi pasangan halalnya. "Ada yang mau diomongin, Kal?" tanya Icut yang diikuti batuk setelahnya. Raut wajah Haykal tampak khawatir. "Nanti dulu. Kamu mesti istirahat. Nanti, jangan ke kampus dulu." Jika Icut tidak salah, tadinya ia merasa sudah baikan. Namun, rasa pusing menyerangnya lagi. Tak mau protes, Icut hanya mendiamkan. Membiarkan Haykal melepaskan mukenanya, melipat dan menyangkutnya di lemari kecil sudut ruangan. Icut hendak berdiri sendiri, tetapi Haykal lebih dulu menyelipkan tangannya di bawah persendian lutut, sementara tangannya menahan punggung Icut. Lebih tepatnya, Haykal menggendong wanita itu dengan bridal style. Icut membiarkannya. Hingga mereka kembali masuk ke kamarnya. Haykal menurunkan tubuhnya secara hati-hati di ranjang. Menyelimuti Icut dan meletakkan handuk kecil yang agak lembap--telah diperas di dahinya. "Bentar lagi aku bikinin bubur, kamu istirahat dulu." Haykal beranjak, hendak meninggalkan Icut tetapi ditahan oleh wanita itu. Dengan tatapan seolah bertanya 'Ada apa?', Haykal menunggu responnya. "Tadi ... kamu mau ngomong apa?" Helaan napas terdengar. "Bukan apa-apa. Bukan hal yang penting." "Kal." Tipikal Icut, akan terus mendesak hingga ia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya. Helaan napas terdengar lagi. Kali ini lebih berat. "Abis makan bubur, minum obat. Nan--" "Kal!" Kali ini suara Icut lebih menggelengar. Haykal mengabaikan rasa penasarannya. "Istirahat aja dulu, Cut. Kita bicarakan nanti." Icut ingin mendumel, tetapi kepalanya semakin sakit. Menghindari rasa sakit itu, Icut memilih untuk mengacuhkan saja permasalahan ini. Seperti kata Haykal, ia harus segera istirahat. Demam memang tampaknya hanya penyakit biasa, tetapi tak ayal jika dapat menyebabkan kematian pula. "Tidur aja, Cut." Kali ini mata Icut terpejam. Hingga usapan hangat menjadi pengantar tidurnya, sadar atau tidak ia mendengar sebuah kalimat indah. "Cepat sembuh, Humaira." ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD