1. Pelarian
Bisma Shadu Dwisastro, tersenyum samar kala mengamati satu per satu foto yang ada di ponselnya. Gambar di mana ia tengah tersenyum lebar bersama teman-teman seperjuangannya kala berhasil menuntaskan kuliahnya. Baru saja Bisma menutup ponsel, suara tenang sang ibu mengalun lembut di telinganya.
"Mas, kamu tuh serius mau lanjutin spesialis di Jepang ya?"
Bisma menoleh, menghadap sang ibu lantas mengangguk yakin.
"Bukan karena ngejar Rere yang ngejar karir di sana juga kan?"
Bisma sontak tertawa kecil. "Dih, Bunda bisa aja nyocokinnya, tapi ya … itu juga termasuk salah satu alasannya sih. Alasan utamanya tetap karena dapet MEXT di Jichi Medical University Hospital, nggak semua orang seberuntung itu dapet beasiswa full di sana kan? susah masuknya, Bun," respon Bisma dengan senyum yang masih bertahan di bibirnya.
"Bunda mampu kuliahin kamu juga lho, Mas, misalnya kamu nggak ambil tawaran itu." Fawnia, ibunda tercinta Bisma kali ini merengut. “Di sini juga tetep bisa ambil cardiovascular kan?”
"Iya bisa, tapi aku maunya ambil Jyunkanki di JMU, Bun. Lagian ya… aku juga pengen uji nyali dengan kemampuan otakku sendiri, bukan semata-mata manfaatin uang ayah sama bunda yang meteran dan nggak habis-habis itu."
Mendengar penuturan putra sulungnya, Fawnia makin merengut saja. "Iya, iya paham. Kami juga nggak pernah meragukan kepintaranmu yang di atas rata-rata itu kok, Mas, cuma ya... hmm..."
"Kalau aku dikekepin terus, kapan mandirinya, Bun?"
"Bukan mau ngekepin kamu terus, Mas... Bunda kan paling nggak bisa jauh dari anak-anak," rengek Fawnia justru membuat putranya terpingkal.
"Makanya dibiasakan dari sekarang, Bun. Aku udah bukan anak-anak lho udah hampir dua empat."
"Bunda sama adik-adikmu sedih banget kalau jauhan sama kamu." Fawnia menunduk memanyunkan bibir, hal yang membuat putranya terkekeh.
"Kalian kan bisa langsung nyusul kalau kang—"
"Maura pasti sedih juga, Bunda jamin deh, pasti dia nangisnya paling kejer kalau tahu kamu mau ke Jepang."
Bisma sontak mengatupkan bibir begitu satu nama itu disebut sang ibu. Bukannya risih, tapi hatinya merasakan perasaan aneh setiap memikirkan gadis manis bernama Maura itu.
"Sejak dulu aku sudah anggap Maura seperti adik lho, Ma. Sama kayak si kembar."
"Tapi Maura sejak dulu, hmm … bahkan sejak kecil udah anggap dirinya pacar kamu dan nggak pernah berubah sampai sekarang."
Bisma tersenyum tipis. Ingatannya sontak terbawa pada masa beberapa tahun silam kala gadis kecil bernama Maura itu mengutarakan cita-citanya.
"Mas, Mas... tahu nggak cita-citaku kalau gede nanti mau jadi apa?" Maura kecil menarik-narik lengan Bisma meminta atensi.
"Dokter?"
Maura menggeleng.
"Chef terkenal kayak papi?"
Maura menggeleng lagi.
"Terus mau jadi apa dong?" Bisma menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Maura yang tak seberapa tinggi dibanding dirinya.
"Aku mau..." Maura menggoyangkan tubuhnya sambil tersenyum malu-malu. "Mau jadi istrinya Mas Bisma," ucapnya lantang dengan wajah berseri-seri.
"Kamu udah bilang ke Maura?" pertanyaan sang ibu membuyarkan lamunan singkat Bisma.
"Belum. Nanti aja, Bun."
"Pelan-pelan aja ngasih tahunya, biar dia nggak shock."
"Nggak akan shock, dulu dia terus anggap aku pacarnya karena umur-umur segitu masih labil kan, nanti juga paham sendiri."
"Dia pasti patah hati banget kalau tahu kamu kuliah jauh ke Jepang sekalian ngejar Rere."
"Ya, kan aku sayangnya sama Rere, Bun, masa malah ngejar Maura. Nggak logis dong..." Bisma mengibaskan tangan sambil geleng-geleng pelan.
“Kalau Rere tuuh… hmm, gimana ya? Bunda belum nemu cocoknya kalian di mana? Itu … Rere yang pernah sekali kamu ajak ke sini itu kan?” Fawnia menoleh pada Bisma yang mengangguk.
“Yang rambutnya merah itu?”
Bisma memejam sekali lalu mengangguk lagi. Kedekatannya dengan Rere bisa dibilang masih sangat baru, jadi ia belum berani mengajaknya terlalu sering bertemu dengan kedua orang tuanya.
“Iya yang itu.”
“Naah itu dia, belum sreg aja hatinya Bunda kalau sama dia.”
“Itu karena Bunda belum kenal dekat sama Rere, lagian kan … kami dekatnya masih baru banget. Belum seserius kayak yang harus besok nikah gitu.” Bisma masih tergelak kecil saat menyahuti putranya.
"Tapi Bunda maunya sama Maura lho, Bunda sayang banget sama dia. Rasanya nggak rela kalau dia jadi menantu orang lain."
Bisma tersenyum miring, selalu terhibur setiap kali melihat sang ibu merajuk kesal seperti ini. "Aku juga sayang sama Maura, Bun. Sayang banget, tapi bukan kayak perasaan laki-laki ke perempuan yang melibatkan asmara."
"Iya sih, tapi kan... ya sudahlah…" Fawnia menunduk, urung melanjutkan kalimatnya. Tak ingin Bisma merasa dirinya terlalu memaksa dan ikut campur dalam urusan hatinya.
Bisma merangsek, mendekati sang ibu untuk merangkul pundaknya.
"Masalahnya, Bun, perasaan itu kan bukan hal yang bisa kita atur-atur sendiri. Sekarang aku cintanya sama orang lain, yang aku perjuangkan itu Rere. Sedangkan Maura ... beneran hanya bisa jadi adik aja buatku."
Fawnia menghembuskan napas panjang. Pembicaraan dengan Bisma akan berlarut-larut kalau ia terus merengek ingin bermenantukan Maura.
"Iya, iya... Bunda paham. Gini-gini Bunda juga pernah muda, Mas. Tahu banget lah itu masa-masa jatuh cinta sebucin-bucinnya," pungkas Fawnia mencairkan suasana.
Bisma tergelak begitu saja mendengar kelakar sang ibu yang selama ini menjadi teman curhatnya yang paling setia.
"Eh, tapi nanti kamu beneran ya, ngasih tahu Maura pelan-pelan aja, biar dia nggak kaget. Kamu tahu sendiri dia punya riwayat—"
"Iya-iya, Bunda tenang aja sih, aku udah handal hadepin Maura," ujar Bisma mengusap lengan sang ibu naik turun dengan gerakan pelan.
"Eh iya, biasanya jam-jam segini Maura udah ke sini kan, Mas, sebelum ke Crystal View? Kok hari ini belum nongol ya?" Fawnia melirik arloji yang melingkar di pergelangan putranya. Tanpa sadar Bisma ikut melirik benda tersebut.
"Atau emang jadi sesibuk itu ya kalau ngurusin masuk kuliah jaman sekarang? Apalagi kalau sempat gap year."
Bisma mengangkat kedua bahunya bersamaan. Sekarang sudah jam empat lebih, biasanya di jam seperti ini Maura sudah berteriak ceria lalu masuk ke rumahnya. Mencari si kembar, berhaha-hihi sejenak, menggoda si kecil Barsena sampai rewel atau langsung merecoki Fawnia sebelum berangkat ke Crystal View, restoran milik ayahnya. Karena setiap sore sampai malam, Maura akan melakukan hobbynya di sana, menjadi kasir restoran.
"Sibuk banget, Bun, lihat aja tuh si kembar. Kuliah masih tahun pertama, tapi tiap pulang ngampus pasti teler kecapekan kayak orang pingsan," kekeh Bisma mengendik ke lantai dua, di mana kamar kedua adiknya berada. "Apalagi si Maura yang calon maba, pasti ribet juga persiapannya."
Tanpa disadari oleh Bisma dan sang ibu, gadis yang menjadi objek pembicaraan mereka ternyata berada di balik sekat yang memisahkan ruang tamu dengan ruang tengah di mana mereka kini berbincang. Maura bahkan sudah berdiri mematung di sana sejak beberapa menit lalu. Juga tanpa sengaja menguping percakapan antara ibu dan anak tersebut.
Meski percakapan tersebut terdengar biasa, tapi isinya mampu mengoyak hati kecil Maura yang patah seketika. Dengan kedua tangan masih membawa pan pizza buatannya sendiri, gadis itu memilih berbalik dan bergegas masuk ke mobil lalu pulang ke rumahnya secepat mungkin untuk menenangkan diri. Mencoba mengatasi patah hati yang baru kali ini ia rasakan karena 'ditolak' secara tidak langsung oleh pria yang menjadi pusat dunianya selama ini.
***
"Lho, kok tumbenan telat banget nyampe sini? Biasanya habis Maghrib udah nongol," sapa Tama, kakak sulung Maura yang selama ini mengelola restoran keluarganya yang ada di ibukota.
"Lagi males ketemu sama kamu, Kak. Eh, sekarang tiba-tiba kangen," Maura hanya asal saja menjawab, tapi begitu melihat sang kakak mengernyit ia langsung memeluk Tama seolah-olah ini adalah pertemuan pertama mereka setelah terpisah puluhan tahun.
"Lebay, sana minggir dulu, aku mau cek anak-anak di dapur." Tama berdecak saat melepas lengan sang adik yang melingkar di tubuhnya.
"Papi mana?"
Tama mengendik pada sang ayah baru saja turun dari lantai dua. “Tuh barusan turun.”
“Papiiiiii….” Rengek Maura berbalik memeluk pria paruh baya yang menjadi cinta pertamanya.
“Waduuh, nada suaranya mulai beda nih, kayak lagi mau sesuatu,” ujar ayah Maura tergelak. Memiliki seorang putri di antara ketiga putra, membuatnya sangat hapal dengan tingkah laku Maura yang selalu menjadi istimewa di matanya. “Kenapa nih?” lanjut Ervan melirik pada putra pertamanya.
Tama menggeleng lalu mengendikkan bahu, karena memang tak tahu menahu dengan sikap sang adik yang sedikit berbeda hari ini. Maura yang biasanya meledak-ledak dengan wajah ceria setiap kali datang ke restoran, malam ini justru nampak sebaliknya. Gadis cantik itu menunjukkan wajah mendung yang ia sendiri tak mau menceritakan apa penyebabnya.
“Mau ikut, Papi?” Ervan menunduk melirik sang putri yang masih mendekapnya.
Tanpa bersuara, Maura mengangguk berkali-kali sambil mengerucutkan bibir.
“Ya udah ayo ikut, pulang lagi,” ujar Ervan lalu menoleh pada sang putra. “Adikmu, Papi culik dulu ya, Tam. Aman kan?”
Tanpa pikir panjang, Tama langsung mengangkat kedua ibu jari dengan semangat. Tentu saja ia setuju, karena setiap hari Maura lebih sering membuatnya pusing daripada membantu pekerjaan di restoran. Bukan karena tak becus, tapi karena adik perempuan satu-satunya itu lebih sering terjebak dengan ponselnya daripada menekuri pekerjaan yang diajarkan Tama padanya.
Sepanjang perjalanan pulang, Maura sengaja tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia memilih bepura-pura tertidur sambil merebahkan kepala ke sandaran kursi dari pada harus terjebak percakapan dengan sang ayah yang berpotensi mengorek patah hatinya lagi.
“Cantik, sini dulu, deh…” panggil Ervan dari dapur begitu keduanya sampai di rumah. Pria paruh baya yang masih nampak bugar itu mengendik ke arah stool, memberi isyarat agar putrinya duduk di sana. “Papi buatin matcha oats mau?”
Maura berjalan lambat, tapi tetap menurut karena tergiur dengan tawaran matcha oats buatan sang ayah yang kelezatannya tiada dua. “Mau banget, Pi.”
Ervan tergelak kecil, sedetik kemudian mulai menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Mengeluarkan sekotak oats, chia seeds, s**u almond, yogurt, bubuk matcha dan sirup maple. Mendung di wajah Maura perlahan surut, berganti segaris senyum manis yang membuat hatinya ikut membaik.
“Mau cerita sekarang?” tanya Ervan usai menyelesaikan apa yang ia buat dan menyodorkannya pada sang putri.
“Aku mau balik ke Bali aja, Pi?” ungkap Maura tanpa basa-basi.
Ervan yang baru saja menenggak air mineral nyaris tersedak mendengar kalimat sang putri. “Hah? Gimana maksudnya?”
Maura cemberut melihat respon sang ayah. “Aku mau kuliah di sana aja, Pi, nggak jadi di Jakarta.”
“Kok … hmm, bukannya kamu udah mantep kuliah di sini? Katanya mau satu kampus bareng si kembar anaknya Om Awan?” Bukannya tak setuju, tapi beberapa minggu terakhir ini sang putri sudah bersemangat sekali menyiapkan ini dan itu untuk memasuki jenjang pendidikan yang sempat tertunda tahun lalu.
“Nggak jadi,” singkat Maura membuat sang ayah makin keheranan.
“Alasannya?”
Maura menunduk, menghindari tatapan sang ayah. Satu tangannya tetap sibuk mengaduk oats yang tersisa separuh. “Nggak ada alasan khusus sih, setelah aku pikir berkali-kali, kayaknya aku lebih cocok slow living di Bali aja. Bisa nemenin Mami sama Papi, bisa jadi partner berantem Marcel juga biar rumah kita nggak terlalu sepi. Dan rasanya … aku mulai nggak cocok aja kalau terlalu lama di Jakarta, macetnya bikin aku makin kurus.”
Jawaban Maura sontak membuat sang ayah tergelak. Jelas itu alasan yang dibuat-buat, lantaran Ervan tahu benar apa yang membuat putrinya selama enam tahun terakhir memilih tinggal di ibukota bersama kakak sulungnya, Tama. Tentu saja karena Maura selalu ingin dekat dengan Kyla dan Keyra, putri kembar Irawan, sahabat baiknya. Bahkan diam-diam Ervan juga mulai menyadari bahwa sang putri memiliki ketertarikan pada Bisma, yang tak lain adalah putra sulung Irawan.
“Ini serius atau borongan?” Ervan yang masih terkekeh menimpali dengan candaan.
“Iiiih, serius dong, Pi. Pokoknya seribu persen aku serius, udah mantap! Aku mau kuliah di Bali aja, nggak mau di sini.”
Tentu saja tak mau di sini, karena di tempat inilah ia banyak menyimpan kenangan dengan pria yang menjadi cinta pertama sekaligus patah hati pertamanya pula.
“Alasan spesifiknya? Papi harus tahu dong, kali ini kamu beneran niat kuliah atau cuma … cari pelarian aja?”
“Kok pelarian sih?” sahut Maura makin cemberut menatap sang ayah.
“Ya siapa tahu …” Ervan sengaja menjeda kalimatnya demi mengamati wajah sang putri. “Anak cantik papi ini, nggak lagi tertarik tinggal di Jakarta karena Mas Bisma mau lanjutin spesialis ke luar negeri.”
Dan detik itu pula, Maura kehilangan kata-kata.
.
*note : Jyunkanki : Pendidikan bidang jantung