2. Farewell

1910 Words
“Kayaknya bakalan delay lama nih, cuacanya serem.” Maura menoleh ke asal suara di mana sang ayah tengah berdiri menatap kaca besar di business lounge tempat mereka menunggu penerbangan menuju Denpasar. Di luar memang sedang hujan lebat, sekelebatan kilat beberapa kali terlihat menyambar di beberapa titik. Membuat beberapa jadwal penerbangan ditunda demi keselamatan. Termasuk jadwal pesawat Jakarta menuju Denpasar yang hendak ditumpangi Maura dan sang ayah yang seharusnya lepas landas lima belas menit yang lalu. “Emang lagi musimnya hujan angin, Pi. Ngeri juga kalau nekat terbang,” sahut Maura singkat lalu kembali menekuri ponsel. Sejak beberapa menit lalu matanya tertarik dengan salah satu akun media social yang diduga kuat adalah milik Rere. Nama perempuan yang sempat ia dengar tengah menjalin kedekatan dengan Bisma. Bicara soal mencari tahu, jangan remehkan kemampuan perempuan muda berusia dua puluh tahun ini. Jika sudah punya keinginan kuat, Maura bisa dengan mudah menemukan apa yang tengah ia cari. Mencari akun seperti ini termasuk mudah baginya. Cukup menelisik akun milik Bisma lalu memilah satu per satu akun yang ada di daftar following pria tersebut. Rere atau Regina Willy, akun tersebut Maura temukan di salah daftar akun yang men-like foto wisuda Bisma beberapa bulan silam. Perempuan manis berkacamata tersebut memang terlihat sedikit mencolok karena wajahnya yang rupawan lengkap dengan senyum manis yang pasti banyak menarik perhatian kaum adam. Setelah melihat bagaimana wajah Rere di sosial media, Maura jadi paham mengapa Bisma tidak tertarik padanya. Tentu saja hal itu karena penampilan dua perempuan itu sangat berbeda. Selain perbedaan umur dan tingkat kedewasaan, secara fisik, sepertinya ... Maura memang bukan tipe Bisma. Rere memiliki paras cantik yang tak kalah menarik dengan model-model ternama, begitu pula tubuh molek yang menonjol di beberapa bagian, sedangkan Maura terlihat imut bahkan terkesan kekanakan di usianya yang sudah lebih dari dua puluh tahun. “Iya sih, mending delay kalau cuacanya kayak gini. Tapi mamimu ini lho, jadi makin lebay karena dikit-dikit telpon karena cemas.” Tahu-tahu Ervan, sudah kembali duduk tepati di samping Maura. “Kamu lagi lihat apa sih, Nak? serius banget kayaknya?” Maura sontak menurunkan ponsel, dan meringis lebar pada sang ayah. “Lihat akun gossip aja, Pi. Papi mana ngerti sih?” “Eh, siapa bilang? Dulu waktu Papi masih jadi juri di Superchef, sering banget dapet bocoran gossip terbaru langsung dari sumbernya.” Mendengar kalimat bernada jumawa dari sang ayah, membuat Maura terkekeh kecil. Beberapa tahun silam, bahkan sebelum Maura lahir, Ervan memang aktif menjadi juri di salah satu acara kompetisi memasak tersohor tanah air yang disiarkan di TV nasional setiap minggunya. Acara tersebut selalu mendapatkan rating tinggi, Ervan bahkan bertahan menjadi juri sampai seri ke sembilan, alias sembilan tahun lamanya. Maka tak heran, sang ayah sampai dijuluki celebrity chef paling berpengaruh kala itu, karena kemahirannya di dunia masak memasak ditambah lagi kedekatannya dengan dunia entertainment. “Masa sih, Pi?” “Iyalah, Papi gituloh…” Maura menaikturunkan kedua alisnya jahil. “Kalau gitu aku test ya?” “Cuss aja, test segala macam gossip artis kekinian juga boleh.” Ervan mengendikkan dagu, menanggapi tantangan putri satu-satunya. “Papi, tahu Nikita Willy kan?” tanya Maura sontak diangguki sang ayah. “Siapanya Regina Willy coba?” pertanyaan itu hanya spontanitas saja, tapi sukses membuat kening Ervan berkerut tak biasa. “Siapa, siapa?” Maura terkikik senang melihat raut wajah sang ayah. “Nggak ada pengulangan, Pap—” Gelak tawa Maura mendadak lesap saat sepasang matanya menangkap sosok pria yang beberapa hari terakhir ini sengaja ia hindari tengah berlarian kecil mendekat ke arahnya. “Lho itu kan…” Ervan memutar kepala, mengikuti arah pandangan sang putri. “Bisma?” ujarnya penuh tanya. “Pi…” Pria yang menghampiri Ervan dan Maura menyapa hangat sambil melengkungkan senyum. Setelah berdiri berhadapan, Bisma langsung membungkuk untuk mengecup punggung tangan Ervan. Sahabat dekat sang ayah yang sudah seperti orang tuanya sendiri. “Kok udah ada di sini aja?” Ervan menepuk-nepuk pundak Bisma saat pemuda itu kembali tegap. Koki senior itu selalu memperlakukan Bisma selayaknya putra sendiri. Terlihat dari bagaimana caranya ia memanggil dengan sebutan 'Mas' daripada langsung memanggil nama. Hal yang sama sebagaimana yang ia lakukan pada ketiga putranya yang lain. Bisma melirik Maura singkat lantas berkata. “Aku jadi satu-satunya orang yang nggak dipamitin Yaya masa? jadi ya udah… aku samperin langsung aja ke sini. Syukurlah masih bisa ketemu.” Biasanya, kedua pipi Maura akan selalu merona dan salah tingkah ketika Bisma menyebutnya 'paling cantik' seperti barusan. Ditambah lagi dengan panggilan spesial 'Yaya' yang hanya dilakukan oleh Bisma. Sayangnya, kali ini Maura menahan hatinya agar tak mudah luluh dan gentar karena sudah memasang benteng agar tak kembali terluka. "Mas Bisma sibuk terus sih, makanya kita nggak sempat ketemu." Sibuk sama pacar baru. Maura mengulas senyum meski menggerutu sebal dalam hati. Bisma menggeleng kecil, ia tak terlalu sibuk seperti yang dikatakan gadis di depannya. Tapi memang di beberapa kesempatan, keduanya tak pernah bertemu, atau memang … Maura sengaja menghindarinya. Bisma kemudian melirik segan ke arah Ervan yang masih memperhatikan sepasang pemuda pemudi di depannya. “Kamu dadakan juga pindah ke Balinya, kalau Bunda nggak keceplosan mungkin aku tetep nggak tahu kalau kamu ikut papi hari ini.” Maura mencebik kecil. Ia memang sengaja menghindari Bisma, juga sengaja tak memberitahu Bisma tentang kapan kepastiannya pindah ke Denpasar. Selain waktu yang sangat singkat, Maura hanya memberitahukan hal tersebut pada si kembar Keyra dan Kyla juga kedua orang tua mereka ketika Maura berkunjung ke sana. “Terus … beneran jadi dibatalin daftar kuliah yang di Jakarta?” sambung Bisma lagi karena ia sama sekali tahu rencana Maura yang berubah drastis. “Jadi, udah aku batalin semuanya,” jawab Maura tertunduk sedih. Mungkin ini keputusan gegabah yang ia ambil, tapi ia yakin tak akan menyesalinya di kemudian hari. “Kalian ngobrol berdua dulu ya, Papi lanjut ngopi sambil telponan. Nanti pasti ada info kalau pesawatnya siap take off.” Ervan mengangkat ponsel dan menunjukkan layar yang berkedip menampilkan nama sang istri. Lagi pula ia juga enggan mengganggu momen ‘perpisahan’ sang putri dengan pemuda yang diam-diam ia puja dalam hati. Bisma dan Maura mengangguk bersamaan. Mereka lantas duduk bersebelahan di sofa yang tadinya ditempati Ervan juga. “Kamu—” “Persiapan Mas Bisma ke Jepang udah beres?” Maura menyela kalimat Bisma tanpa sengaja. Bisma menarik napas panjang. Tak mungkin Maura belum mendengar tentang rencananya melanjutkan pendidikan spesialis di Negeri Matahari Terbit tersebut. Padahal beberapa hari lalu Maura sempat menghabiskan waktu dengan adik kembarnya serta sang ibu. “Hmm … masih sekitar tujuh puluh persen, formulirnya udah masuk semua, kemarin udah vaksin influenza juga buat jaga-jaga.” Maura mengangguk-angguk pelan mendengar jawaban pria di sebelahnya. “Si kembar yang bilang?” Maura mengangguk lagi. “Iya, waktu kami sleepover kapan hari.” “Padahal aku mau bilang sendiri ke kamu. Tapi malah kamunya yang ngasih aku kejutan duluan dengan pindah ke Bali.” Bisma tersenyum miring saat menoleh dan menatap lekat Maura. “Kamu nggak … lagi hindarin aku kan, Ya?” sambung pria itu akhirnya mengutarakan rasa penasarannya. Bisma bahkan menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Maura. Maura mengernyitkan dahi. "Nggaklah... ngapain juga aku hindarin Mas Bisma." Bisma tersenyum, ia memiringkan wajah demi melihat ekspresi Maura lebih dekat dan teliti lagi. "Syukurlah kalau gitu, aku cuma ... hmm, sempat berpikir kalau kepindahan kamu yang sangat mendadak ke Bali. Itu semua karena aku." Yess, absolutely yes!!! Sayangnya kalimat itu hanya bisa Maura teriakkan dalam hati. "Mas Bisma bebas menentukan pilihan tentang pendidikan lanjutannya. Begitu juga aku. Aku pindah ke Bali biar dekat sama mami papi, biar mereka nggak dikit-dikit cemas. Kekhawatiran agak lebay belakangan ini kalau aku di Jakarta." Setidaknya itu alasan paling aman yang bisa Maura pikirkan saat ini. Karena kenyataannya, kedua orang tuanya memang sering khawatir jika ia tinggal berjauhan dengan mereka, meski pun di Jakarta tetap ada Tama yang menjaganya. "Iya sih, itu bener. Mami Gissa pasti seneng banget kalau kalian tinggal bareng lagi," ujar Bisma diangguki Maura berkali-kali. "Hmm … sebelum terbang ke Jepang nanti, akan aku usahakan mampir, pamitan yang proper ke papi mami kamu." "Sendirian kan?" Maura hanya belum siap jika Bisma akan mengajak Rere turut serta untuk dipertemukan dengan keluarganya. Jangan, hatinya belum sesiap itu untuk bertatap muka dengan perempuan yang akhirnya berhasil mencuri hati Bisma. "Maksudnya?" Bisma kembali mengernyit tak paham. "Aku harus ngajak si kembar gitu?" "Oh, ah... hmm, iya gitu maksudku. Kalau ke Bali kan biasanya duo ceriwis itu ikutan juga." Maura meringis sangat lebar ketika Bisma justru menangkap maksud lain dari pertanyaannya. "Masa Mas Bisma tega ninggal mereka?" "Bahkan aku rencananya sendirian aja ke sana." "Ehh.." Syukurlah… Maura mengerjap sesaat, lalu cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan demi menjaga kesehatan hatinya. "Mas Bisma ... kuliahnya lama ya di Jepang?" Bisma tersenyum lagi. Hal manis yang dirutuki oleh Maura lantaran ia harus mati-matian menahan diri agar tak terlena dengan garis lengkung yang tercipta di wajah pria tersebut. "Kalau cepet sih lima tahun." "LIMA TAHUN?" Maura buru-buru menutup mulut saat sadar ia menaikkan volume suara. Hal yang sontak membuat beberapa orang menoleh padanya. Tak terkecuali sang ayah yang malah melambaikan tangan lalu menunjuk-nunjuk arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Memberi tanda bahwa penerbangan mereka sepertinya bersiap lepas landas. “Kok lama, sampai lima tahun….” Maura mencebik tanpa sadar. Membuat Bisma tergelak kecil lantas mengacak rambut gadis itu. Kenapa sekarang terlihat menggemaskan begini? “Emang segitu masa belajarnya, karena yang dipelajari emang nggak main-main.” Maura mengangguk-angguk pelan. Dirinya memang sudah berikrar akan menghapus perasaannya pada Bisma pelan-pelan. Tapi jika harus berjauhan dan tak melihat pria itu selama lima tahun rasanya… belum terlalu rela juga. “Nggak pulang juga selama lima tahun?” cecar Maura kali ini dengan raut wajah tak terbaca. “Lebaran diusahakan pulang. Kamu pengennya aku pulang tiap tahun?” “Hah? Eh? Hmmm…” Bisma terkekeh kecil melihat wajah kebingungan Maura yang tampak lucu. “Kamu juga kuliah yang bener ya? kesehatannya dijaga biar nggak sampe drop kayak dulu,” ujarnya sengaja membelokkan topik pembicaraan. Kali ini Maura menggangguk lesu. Janji untuk kembali ke bangku kuliah setelah nyaris dua tahun tak berdaya karena penyakitnya kambuh adalah salah satu target hidupnya. Jadi tak mungkin ia melewatkan begitu saja kali ini. Setelah pengobatan intens dua tahun silam, ia merasa tak perlu mengkhawatirkan penyakitnya lagi. Karena itu kali ini ia bertekad kuliah sampai selesai. “Princesss!” pekik suara sang ayah menyadarkan Maura dari lamunan singkatnya. “Ayo siap-siap, dua puluh menit lagi,” sambung Ervan mendekati sang putri. “Udah aman, Pi?” Ervan mengangguk sekali. “Udah siap take off katanya, disuruh bersiap,” serunya lalu menoleh pada Bisma sambil menepuk pundak pemuda tersebut. “Kami pamit ya, Mas. Nanti ngobrolnya lanjut lagi di telpon.” “Siap, Pi.” Bisma tersenyum lebar saat mengangkat kedua jempol. Maura tak banyak bawaan karena koper kecilnya sudah dibawakan sang ayah. Ia hanya perlu memasukkan ponsel dalam tas dan memakai sweater berwarna gelap yang tadi ia letakkan di bahu sofa. Ervan berjalan terlebih dulu mendahului putrinya. “Mas—” Bisma menahan pergelangan tangan Maura sebelum gadis itu menuntaskan kalimatnya. “Peluk bentar, Ya,” ujarnya lirih lalu tanpa aba-aba langsung menarik Maura dalam pelukan. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa berat untuk berpisah. Maura sontak membeku, namun ia tak mengelak juga. Jakarta-Bali tak terlalu jauh, tapi perpisahan ini terasa menyesakkan baginya karena jarak hatilah yang memisahkan keduanya. “Sehat-sehat ya, maaf kalau selama ini aku salah,” lirih Bisma mengeratkan pelukannya. “Mas nggak—” “Kabari kalau wisuda, aku pasti datang.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD