3. Time Flies

2088 Words
Nyaris empat tahun berlalu, dan ternyata janji yang pernah diucapkan oleh pemuda tampan bernama Bisma bisa dibilang hanya angin lalu. Alias palsu. Mana yang katanya akan datang ke acara wisuda Maura? Manaaaa? Padahal Maura sudah bersiap dengan wajah cerah ceria hendak memamerkan prestasinya yang berhasil lulus cumlaude hanya dengan tujuh semester saja. Sayang seribu sayang, sejak tadi siang begitu prosesi wisudanya berakhir. Hingga saat ini menjelang malam Maura akan mengadakan graduation dinner bersama para sahabat dan keluarga dekat, pria bernama Bisma Shadu Dwisastro itu tak nampak juga batang hidungnya. Ah, sudahlah… sepertinya Maura memang harus benar-benar melupakannya. "Mauraaaa, ayo turun!!" pekik Kyla sambil mendorong pintu kamar lebih lebar. "Pacar Keke udah dateng, dia bilang mobilnya disrempret stranger gitu, makanya dateng molor." Si kembar Kyla dan Keyra yang tak lain adalah adik Bisma, bahkan sudah berada di Bali sejak dua hari lalu. Bermalam di salah satu resort keluarganya yang tak begitu jauh dari tempat tinggal Maura. Katanya sengaja mengosongkan jadwal demi menghadiri acara besar Maura. Lihatlah, si kembar berisik ini saja rela mengosongkan jadwal kegiatannya, lalu si Bisma Bisma ini mana? “Kesrempet gimana?” Maura mengerutkan kening. Kekasih dari saudara kembar Kyla ini memang bukan asli warga negara Indonesia, melainkan warga negara Singapura. Bisa jadi adegan kesrempet yang dikatakan tadi akibat ketidaktahuannya tentang jalanan Bali seperti penduduk lokal lainnya. “Nggak paham juga gue, makanya buruan keluar, tuh yang lain udah pada ngumpul nungguin elo doang nih. Shakti juga udah dateng, ternyata dia makin ganteng ya?” bisik Kyla lantas terkikik. “Iyeeeuh…” Maura mencebik saat menoleh pada sahabatnya. “Ambil aja sana!” “Nggak dulu deh, kayaknya dia masih bucin banget sama lo, meski udah jadi mantan.” "Bucin apaan, kami temenan aja kok sekarang. Kan putusnya baik-baik." Maura melirik Kyla sekilas. Dirinya dan Shakti memang pernah menjalin kasih di awal masa perkuliahan. Namun berakhir begitu saja bahkan sebelum genap satu tahun bertahan. Alasannya klise, tak ada kecocokan. Padahal sebenarnya, Maura yang kalah dengan perasaannya sendiri. Dikiranya sudah berhasil melupakan Bisma seratus persen dengan keberadaan sosok kekasih. Sayangnya, bayang-bayang Bisma tetap saja menggenggam erat hatinya saat itu. Bahkan mungkin, hingga ... detik ini. "Elo anggep temen, tapi dianya masih demen." "Enak aja!! enggak ya," elak Maura tak terima. “Mantan lo yang lain nggak diundang?” Maura menggeleng. “Yang masih berhubungan baik kan cuma Shakti, yang lain entah ke mana,” jawab Maura santai. Selama hampir empat tahun memang tak hanya Shakti pria yang pernah menjalin hubungan dengannya. Bukti lain bahwa ia benar-benar bertekad melupakan Bisma. Terhitung ada Dion dan Juna yang pernah juga menjadi kekasih Maura, tapi kedua mantannya itu sekarang entah bagaimana kabarnya. “Naaah kan, itu tuh salah satu bukti kalau cuma Shakti yang gagal move on dari lo.” “Nggak ah, kami murni berteman aja sekarang. Status kekasih nggak cocok buat kami.” Kyla mencibir tipis. “Hiliiihh….” "Cantik-cantik banget sih, anak gadis Mamiiiii," suara melengking khas Gisa menjeda perhatian Maura dan Kyla yang turun tangga bersama. "Aunty tetep pemenangnya," sahut Kyla pintar sekali bersilat lidah. Membuat ibunda Maura itu seketika tersipu malu dan tersenyum bangga. "Mami tetap juaranya," imbuh Maura sambil mengepalkan tangan ke udara. "Tuh buktinya sampai bikin Papi takluk tak berdaya." "Iiiih... kalian berdua ini, pinter banget mujinya." Perempuan paruh baya yang masih nampak cantik itu tersenyum malu-malu lantas mencubit gemas pipi Maura dan Kyla secara bergantian. "Mamiiiii..." "Eh, temen-temen kamu udah mulai banyak yang datang, buruan-buruan," potong Gisa sedikit memberi dorongan pada sang putri. Lalu ia sendiri berjalan di belakang Maura bersebelahan dengan Kyla. "Kalau Masmu dateng pasti makin rame ya, Kyla. Terakhir telponan sama bundamu, katanya lagi sibuk-sibuknya di sana." Gisa dengan santai ganti berbincang dengan Kyla. Sahabat putrinya itu pun langsung menjawab tanpa sungkan karena memang kedua orang tua mereka sudah bersahabat sangat lama sampai seperti keluarga. "Kayaknya something happen deh, Aunty. Aku nggak tahu apa, tapi minggu lalu mendadak aja Bunda terbang ke Jepang, cuma sama asisten, nggak ditemani ayah." Langkah tegas Maura sontak memelan ketika mendengar jawaban Kyla. Ia tak ingin berpikiran buruk, tapi jika Bunda Nia sampai terbang mendadak ke Jepang untuk mengunjungi putra sulungnya, sudah pasti terjadi sesuatu. Entah sakit atau... "Bisma sakit?" tanya Gisa seolah mewakili rasa penasaran di benak putrinya. "Katanya sih enggak, terakhir video call juga biasa aja orangnya. Mungkin ada hal lain, Bunda sama ayah diem pas aku tanya, jadi ya kami nggak berani tanya lebih jauh." Maura masih menyimak dengan seksama. Menguping lebih tepatnya. Karena sepertinya, secuil informasi tentang Bisma itu terdengar lebih berharga daripada kedatangan teman-temannya. "Waduuh, malah bikin penasaran aja ya bundamu," kekeh Gisa lirih. "Jangan-jangan Masmu minta lamarin anak orang lagi, makanya bundamu sampe bela-belain terbang ke sana." Maura terkesiap, sampai tanpa sadar menghentikan langkah. Bukan dugaan seperti itu yang ingin ia dengar. Meski pasangan Bisma di masa depan memang bukan urusannya, tapi tetap saja Maura merasa ada yang sesuatu yang mencubit hatinya. Ya, kecemburuan kecil itu ternyata masih saja ada meski sudah ia kubur sekian lama. "Diiih, Aunty bisa aja. Mas Bisma aja sibuk banget kuliah spesialis, kayaknya nggak bakalan sempet mikir pasangan atau nikah dalam waktu dekat. Pacarnya yang terakhir juga nggak jelas, nggak pernah cerita-cerita lagi kayak dulu." "Ya siapa tahu aja, toh kuliahnya kurang dikit kan?" Kyla mengangguk membenarkan. "Mungkin satu tahunan lagi, Aunty, kan sekalian ambil PhD, kayaknya awal tahun depan deh beres semuanya terus bisa pulang bantuin Om Seno ngurus rumah sakit." Gisa mengangguk-angguk paham, namun begiu melihat putrinya menghentikan langkah ia lantas menepuk pundak Maura yang masih memegangi selasar tangga. "Princess, kok malah berhenti sih?!" Maura menoleh, menampilkan cengiran lebarnya. "Eh, oh... nggak kok, Mi. Kayaknya ponselku ketinggalan di kamar deh." "Aman, udah gue bawain nih," potong Kyla mengangkat dua ponsel di tangan kanan. Salah satunya memang ponsel milik Maura. "Ya udah, ya udah, buruan sana. Mami sama Papi nikmatin dari sini aja, kan udah tua-tua ... have fun ya kalian." Gissa berhenti di ruang santai outdoor sebelah barat. Sedangkan pesta kecil yang dihelat sang putri berada di halaman samping, sebelah kolam renang yang leluasa dilihat dari teras bangunan utama. Di sana, deratan kursi dan meja panjang sudah di tata sedemikian rapi dan estetik oleh event planner yang sudah menjadi langganan keluarga Maura. “Oke, Mami, aku gabung sama yang lain dulu kalau gitu.” Maura mengecup pipi kanan sang ibu, setelah itu berjalan cepat untuk berbaur dengan teman-temannya yang sudah lama menunggu. Makan malam yang dihelat Maura berjalan lancar sesuai rencana. Meriah, hangat dan membuat semua tamu undangan berdecak kagum. Terutama dengan dekorasi dan menu makanan yang disajikan. Siapa sih yang tak kenal Ervano Bhalendra, ayah Maura itu bahkan tersohor ke seantero negeri karena keahlian memasak yang mumpuni. Tak hanya terkenal karena sempat menjadi celebrity chef hits pada masanya, tapi juga dikenal karena memiliki bisnis kuliner yang menggurita di mana-mana. "Gokil sih kalau Maura yang punya acara, gue demen banget sama menu-menunya," ujar Vika, sahabat Maura yang ikut rebahan santai di halaman rumah meski acara sudah berakhir satu jam yang lalu. Vika dan Kyla memutuskan tinggal dan menginap di rumah Maura. Berbeda dengan Keyra yang memutuskan pamit pulang terlebih dahulu karena perlu mengantarkan kekasihnya ke bandara. "Inget janji lo minggu lalu ya, Vik! Lo udah berikrar mau nurunin berat badan minimal lima kilo bulan ini!" sahut Kyla sembari mengacungkan telunjuk. “Eh, eh… itu kenapa si Shakti masih nempelin Muara coba?” Perhatian Kyla mendadak teralihkan ketika mendapati Maura mendekati mereka berdua. Namun ada Shakti yang berjalan santai mengekor di belakang gadis itu. “Ngapain nih mantan masih keliaran di sini aja?” tembak Kyla menunjuk Shakti yang langsung memanyunkan bibir tak terima. "Heh… gue lagi ngomongin bisnis sama Marcell ya!" jawab Shakti mengendik ke arah adik bungsu Maura yang berdiri di belakangnya. “Kirain nempelin Maura mau ngajak balikan,” sahut Vika ikut mengomentari. “Enak aja!!!” pekik Maura dengan wajah sebal. Shakti terkekeh pelan sambil mengangkat telunjuk ke arah Kyla dan Vika. “Maura nggak mau diajak balikan! maunya langsung gue lamar,” lanjutnya membuat Muara mendelik tak terima. "Dasar buaya buntung!! Najiss!! Hadepin dulu tuh para bodyguard gue kalau berani ngelamar!" cibir Maura masih memelototi Shakti. Hal yang membuat pria itu mengangkat kedua telapak tangan dan mundur beberapa langkah. Sangat paham dengan sosok yang dimaksud bodyguard oleh mantan kekasihnya itu. Tentu saja keempat pria yang selama ini selalu melindungi Maura. Ervan sang ayah dan ketiga saudara laki-lakinya, Tama, Giri dan Marcell. "Eh, Ra... Papi Mami lo nggak ada niatan mau adopsi anak cewek lagi apa? gue mau loh, mauuuu banget. Biar lo nggak jadi princess sendirian di rumah ini." Vika menoleh pada Maura sambil mengedipkan mata berkali-kali. "Kalau pun Mami Papi mau, gue yang ogah!" Maura tergelak dengan niatan Vika. "Soalnya Mami Papinya Maura niatnya cari menantu kayaknya gue." Plakkk!! "Duuuh…. Jahat banget tangannya! untung cantik!" Shakti meringis sambil mengusap-usap lengannya yang jadi sasaran pukulan Maura. "Ya makanya jangan asal ngomong!" “Vika tuh yang asal ngomong, minta diadopsi segala!” Shakti tersungut-sungut menyalahkan Vika. "Ogah ya, gue paling menikmati jadi satu-satunya anak cewek di keluarga ini. Jangan diserobot, Vik!!" Maura mencubit gemas pipi tembam Vika. "Mending lo fokus skripsi aja deh, daripada ngerayu gue jadi saudara angkat." Vika mengibaskan satu tangan ke udara. "Halaaah skripsi gue mah gampang, nggak sepuyeng anak FK, ada untungnya juga dulu gue nggak jadi masuk kedokteran." "Yaelaaah ngeless aja bisanya," cibir Maura lantas ikut duduk di tengah-tengah tiga sahabatnya di sofa panjang sambil menghabiskan minuman. "Seriusan gue, Kyla pernah cerita gimana stresnya Mas Bisma waktu kuliah kedokteran. Otak gue nggak nyampe." “Gue nggak ambil kedokteran juga stress tuh pas skripsi.” Shakti masih senang menyela Vika. “Elo emang stress dari sananya, Shak, Maura aja yang siwer bisa-bisanya sempat jadian sama modelan kayak lo.” Kali ini Kyla ikut mencibir sambil menyikut Shakti. “Jahat ya, lo-lo pada, awas kalau ada apa-apa, curhatnya nyari gue!” Shakti menunjuk ketiga gadis di depannya. “Kagak, mending gue nyari Mas Bisma aja yang lebih oke dari segala sisi.” Vika menyahut sinis. Kyla menepuk paha Vika. “Kok jadi bahas Mamas gue sih, Vindut?” “Ya kan, dari dulu gue fans berat Mamas lo yang satu itu.” Maura hanya berdeham ketika mendengar nama Bisma disebut-sebut lagi. Meski sudah yakin bahwa dirinya berhasil move on. Tetap saja ada gelenyar aneh di dadanya setiap kali mendengar nama pria itu. Sialan! "Eh, Mas Bisma gimana kabarnya sih? biasanya dateng loh kalau Maura ada acara." Vika mengendik ke arah Kyla yang kali ini tiduran di sebelahnya sambil memainkan ponsel. "Itu dulu, Vika, duluuuu banget," potong Maura mendahului. "Sekarang Mas Bisma makin sibuk sama residency-nya. Iya kan, La?" sambungnya sengaja memancing Kyla. "Kayaknya sih iya, dia emang sok sibuk belakangan ini," jawab Kyla santai. "Eh, eh... coba video call dong, gue kangen sama asupan kegantengan saudara lo itu." “Kecentilan banget!” Shakti ikut mencibir. “Bodo amat, asal gue nggak centil ke buaya macem lo.” Maura menoleh, tiba-tiba berdeham gugup dengan permintaan Vika yang baru didengarnya. Selisih waktu antara Bali dan Jepang tak begitu jauh, jadi bisa saja Bisma sedang tak sibuk saat ini. “Bentar-bentar, gue chat dulu.” Kyla tersenyum lebar lantas mengetikkan cepat di ponselnya. Siapa sangka, hanya dalam hitungan detik justru ponsel Kyla yang berdering nyaring karena Bisma melakukan panggilan video. “Buruan angkat,” bisik Vika nampak senang. Maura melirik ragu ke arah ponsel Kyla. Bagaimana pun juga ia tak menampik, tetap penasaran dengan keadaan kakak sulung sahabatnya tersebut. “Kenapa, Dek?” suara berat dan wajah segar Bisma langsung mendominasi layar ponsel Kyla. Maura spontan mundur agar dirinya tak masuk camera. “Anak-anak nih, kangen sama Mas Bisma. Kamu nggak lagi sibuk kan?” “Nggak kok, ini udah di apart, baru kelar beresin laporan.” Bersandar di sandaran sofa, Maura diam-diam melirik ke sosok Bisma. Setidaknya ia merasa lega karena pria itu sehat dan baik-baik saja meski melupakan janjinya. “Siapa yang kangen? Maura? Kata bunda kalian ke Bali sejak kemarin.” “Jangan ganggu Maura deh, dia lagi sibuk dirayu mantannya biar mau balikan. Nih si Vika Ndut yang nyariin kamu,” jawab Kyla tergelak kecil sambil menggerakkan ponsel ke segala arah. “Oh Vika yang lucu itu ya, haiii—” “Bisma, handuknya ini taruh mana?” Suara manja seorang perempuan yang terdengar di belakang Bisma sontak membuat hening suasana. Kyla dan Vika bertatapan sesaat. Sedangkan Maura sontak berdiri, memilih berjalan menjauh, langsung diikuti Shakti yang masih mengekor ke mana-mana. Setelah sekian lama … ternyata hati Maura belum sekuat itu untuk menerima keberadaan perempuan lain yang mendampingi Bisma. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD