“Aduuh, Papi, Bang Giri loh yang ngajakin aku. Aku juga udah pamit sama Kak Tama kok. Aku termasuk korban di sini.”
"Korban kok bisa happy banget nyanyi jingkrak-jingkrak paling depan," sahut Ervan tak peduli dengan rengekan putrinya yang masih mengantuk.
"Yaa... kan aku meresapi konsernya, Pi, jarang-jarang lho bisa sedekat itu sama Bruno."
"Naaah, namanya bukan korban kalau sampai meresapi gitu. Papi juga udah lihat semua foto-foto kamu di sosmed Vika. Heboh, kelihatan happy banget, gitu kok merasa jadi korban." Ervan mencibir lantas tetap memanggul putrinya dalam gendongan. Mana peduli ia dengan rengekan Maura yang meminta belas kasih.
Di usianya yang sudah lebih dari kepala lima, Ervan masih kuat membopong putrinya dari lantai dua tanpa kepayahan sama sekali. Ini karena tubuh Maura yang terbilang ringan. Sebanyak apa pun makanan yang masuk ke tubuh putrinya tidak pernah menjadi lemak yang menonjol. Bahkan bisa dibilang Maura terlalu kurus untuk usianya yang hampir dua puluh empat tahun.
"Papiiii, aku masih ngantuk!" rengek Maura lagi.
Ervan menurunkan tubuh putrinya di ujung anak tangga lantas berkacak pinggang. Bersiap mengomeli putrinya lagi. "Ya salah sendiri nyampe rumah tengah malem, sekarang kecapekan kan?!"
"Ya kaan..."
"Hukuman tetap hukuman! Bang Giri milih nyuci semua mobil sama vespa di garasi. Kamu juga udah milih hukuman sendiri kan?!" tegas Ervan berkacak pinggang.
"Iya juga sih," jawab Maura terdengar lirih. Bibirnya manyun, wajah cantiknya merengut bak siput kepanasan di siang hari.
Ini semua gara-gara konser Bruno Mars yang spektakuler semalam. Coba saja penyanyi idola Maura itu menggelar konser di Bali, tentu ia takkan sembunyi-sembunyi war tiket sampai terbang ke ibukota. Bahkan rela bolak-balik Jakarta-Bali hingga kembali ke rumah pukul satu dini hari.
"Ya udah sekarang buruan ke dapur, ikut prepare bahan buat exclusive class nanti siang!" tegas Ervan tak terpengaruh dengan jurus memelas putri satu-satunya.
"Siap, Papi, tapi aku cuci muka dulu." Bibir Maura makin manyun ke depan. Tapi ia tak kuasa menolak titah cinta pertamanya tersebut.
Ervan geleng-geleng kepala. "Ya udah buruan cuci muka sampai benar-benar sadar," ujarnya lantas melenggang ke paviliun selatan. Tempat di mana ia membuka kelas memasak edisi terbatas.
"Pagi-pagi udah kenceng banget berantemnya." Gisa muncul dari ruang tengah hendak menengahi perdebatan suami dan putrinya.
"Papi, jahat, aku nggak boleh tidur, padahal mumpung weekend ini, Mi." Maura spontan memeluk lengan sang ibu hendak mencari sekutu. Sayangnya...
"Ya kamu juga sih, nonton konser nggak bilang-bilang! Mana berani banget pulang pergi seharian ke Jakarta." Ternyata Gisa berada di pihak sang suami, kompak memarahi Maura.
"Tapi kan sama Bang Giri." Maura mencebik merasa kalah dua kali.
"Bang Giri pasti lemah sama kamu, Princess, makanya diajak kesana kemari juga berangkat aja dia," ujar Gisa kembali mengingatkan betapa Giri selalu memanjakan adik perempuan satu-satunya itu.
"Udah ijin Kak Tama juga lho, Mi."
"Ijin tuh sama Papi Mami, bukan sama Kak Tama yang lagi repot ngurus nikahan."
"Iya. Maaf, Mami." Maura memajukan bibir bawah sambil melirik-lirik kecil, nyalinya kembali ciut karena omelan sang ibu tak mungkin ia hadapi.
"Ya udah sana ke dapur. Bantuin Om Ajiz. Jalanin hukuman dari Papi."
Iya juga sih, Maura juga paham kalau dirinya salah. Tapi ya gimana lagi, pesona Bruno Mars itu memang menggelapkan mata. Sudahlah, Maura terima saja hukuman sementara dari sang ayah ini. Asal hatinya sudah lega setelah semalam berhasil kabur dan menjadi fans sejati.
Maura berjalan gontai ke arah kamar mandi di lantai satu. Hendak mencuci muka dan menyegarkan wajah agar kuat menjadi asisten sang ayah selama kelas memasak seharian nanti. Namun baru saja langkahnya sampai di depan pintu kamar mandi, obrolan pelan kedua orang tuanya membuat radarnya peka seketika.
"Itu, si Bisma jadi tinggal di villa sebelah kita, Pi?"
Bisma?
Ini maksudnya ... Bisma Shadu yang dulu Maura cintai secara menggebu-gebu itu? Karena yang ia tahu keluarga Bisma memang memiliki villa di kompleks yang sama dengan milik keluarganya. Tak bersebelahan langsung, karena berjarak dua atau tiga bangunan lainnya. Tapi tetap saja masih satu area.
"Jadi, kapan hari Irawan bilang villa mereka yang lain udah full booked sampai akhir tahun. Tinggal yang di sebelah sama yang di Uluwatu. Kalau di Uluwatu terlalu jauh sama BIH." Suara Ervan kembali menyita perhatian.
"Praktek di BIH? Bukannya di Rosemary?"
Ervan menggeleng. "Katanya sih mau mandiri tanpa bawa nama besar keluarga yang emang pemiliknya Rosemary, Awan sendiri kok yang bilang. Ya sudah diiyakan saja sekalian. Nanti kalau Rosemarry butuh baru deh panggil dia."
"Bisma kan udah mandiri juga sejak kuliah, apalagi pas ambil spesialis di luar negeri daripada di sini. Padahal di sini banyak kenalannya Mas Seno."
"Umur-umur segitu kan lagi kenceng perjuangin idealisme, Mi. Kayak aku pas muda dulu."
Gisa melirik suaminya penuh tanya. "Kamu dulu merjuangin apa coba?"
"Ya merjuangin kamu lah, Sayang."
Perempuan di hadapan Ervan sontak menipiskan bibir. "Heleeeh, kamu mah pinter banget modusin aku, pake perantara Giri sama Tama," ujarnya lantas mencubit pipi sang suami. Hal sederhana yang dibalas rangkulan mesra oleh Ervan.
Salah satu pemandangan romantis yang mau tak mau harus Maura telan setiap hari. Entahlah... kenapa kedua orang tuanya ini begitu tega bikin panas hati anaknya yang masih berstatus jomlo ini. Padahal kan Maura juga mau bermanja-manja seperti itu, tapi masalahnya, pasangan saja belum nampak hilalnya. Semua tak ada yang benar-benar klik di hatinya.
"Princess...!! Malah ngelamun sih? Awas kesambet!" pekik Ervan sontak membuat Maura meringis lebar lalu cepat-cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Buyar sudah lamunan dan segala tebakan tentang Bisma yang tadi sempat melintas di benaknya.
Begitu selesai membersihkan diri, Maura tak mendapati kedua orang tuanya lagi di ruang tengah. Suara-suara kesibukan pagi sudah berpindah ke dapur bagian selatan. Maura gegas memakai apron yang tergantung di belakang pintu lalu berbaur dengan ayahnya yang sedang fokus memberi arahan pada Om Ajiz, asisten kepercayaannya selama puluhan tahun.
"I'm ready, Papi." Maura mendekati sang ayah sambil melirik layar tablet yang dipegang Ervan.
Ervan menoleh sekilas, mengamati penampilan sang putri yang lebih segar. "Good, Princess."
"Cantiknyaaaa ponakan Om." Om Ajiz tersenyum lebar menyambut Maura.
"Kamu bantu mindahin keju ke box kecil-kecil yang di sana, jangan lupa kasih label jenis kejunya," ujar Ervan sambil menunjuk ke ujung dapur. "Nanti setelahnya ikutin arahan Om Ajiz aja."
Maura mengangkat ibu jarinya. "Siap, chef," serunya menirukan karyawan memanggil ayahnya.
“Eh, eh.. Ra, kamu beneran udah putus sama si kriwil, itu kan?” Panggil Ervan lagi ketika mengingat sesuatu. Si kriwil adalah sebutan Ervan yang ditujukan pada Galang, mantan kekasih Maura yang 'katanya' baru putus dua minggu lalu.
"Duuuh, Papi... kenapa bahas dia deh, males banget!"
Ya bagaimana tidak malas, karena ternyata pria yang menjadi kekasihnya hanya dua bulan itu benar-benar parasit yang hanya memanfaatkan nama besar keluarga Maura saja. Jadi ya, sekalian saja Maura putuskan sebelum ia jatuh terlalu dalam.
"Ya kan Papi khawatir kamu nonton konser semalam sengaja janjian atau balikan sama dia."
"Diiih, ogah... semalam aku nonton konsernya sama Bang Giri, Kyla, sama Vika aja kok."
"Biarin aja sih kalau balikan, siapa tahu jodohnya si princess. Ganteng lho dia—"
"OGAH!!!" Maura dan sang ayah kompak menyela pernyataan Om Ajiz.
"Oke-oke, Shakti aja kalau gitu," asisten Ervan itu kembali menimpali. "Jiwa pemimpinnya oke lho, Om Ajiz ngikutin kontennya pas dia ikut demo besar-besaran kapan hari itu. Keren orasinya."
Shakti memang dikenal sebagai konten kreator yang kerap kali mengkritisi kebijakan pemerintah. Namanya makin melambung ketika pria itu menjadi pemimpin aksi demo di depan DPR Jakarta.
"Ajizzz.."
"Om, udah ya... mending kita prepare buat kelas aja. Daripada diterkam Papi." Maura menepuk-nepuk pundak Om Ajiz. Sekedar mengingatkan kalau ekspresi Ervan mulai terlihat tegas tak bersahabat.
Mendengar penuturan tersebut, Ajiz hanya meringis lebar lalu berbalik mendampingi Maura yang kali ini akan menjalani hukuman dari ayahnya. Lebih baik ia kembali bekerja daripada ikut dihukum oleh atasannya.
Bagi Maura, sebenarnya ini bukan hukuman, karena ia menikmati betul kegiatannya di dapur. Jika orang-orang di luar sana perlu membayar jutaan untuk satu kali sesi kelas memasak bersama Ervan. Maura malah bebas kapan saja mengambil ilmu secara langsung dari koki kenamaan tersebut. Jadi tak heran, meski Maura tak pernah secara khusus belajar memasak ia sangat mahir mengolah berbagai menu makanan. Selain karena bakat alami, ia juga sudah melihat rutinitas sang ayah sejak kecil yang tertanam sempurna di benaknya sampai ia sedewasa ini.
Hukuman Maura hari ini baru selesai menjelang sore hari. Pukul empat sore ia sudah kembali segar sehabis mandi, lalu memeriksa halaman belakang rumah di mana ia dan sang ibu berkebun bersama. Jika Gisa memilih menanam banyak sayuran, Maura justru menanam bunga-bungaan. Dan bisa ditebak, kebanyakan yang ia tanam adalah bunga matahari dan krisan karena menjadi favoritnya.
Maura memejamkan mata sambil merentangkan kedua tangan ke atas. Mencoba menghidu udara segar pulau dewata sebanyak-banyaknya. Hal yang diam-diam ia syukuri karena memutuskan kembali tinggal di Bali bersama orang tua dan saudaranya, daripada harus berjibaku dengan polusi tebal di ibukota.
“Haii, Yaya…”
Tubuh Maura berputar ke arah sumber suara yang teramat sangat familiar tersebut. Apalagi tak banyak yang mengetahui panggilan masa kecilnya. Yaya. Kedua tangan Maura spontan turun ke sisi tubuh. Mulutnya nyaris menganga kala menyadari siapa sosok yang memanggilnya kini.
Hanya dalam hitungan detik, Maura seolah membeku. Tubuhnya mendadak mematung tatkala melihat senyum tipis di bibir pria bertopi yang kini melambaikan tangan padanya. Maura gugup, tapi juga enggan berpaling dari wajah pemuda yang nampak silau lantaran posisinya bertolak belakang dengan semburat langit senja.
“Ma- Mas Bisma?”
Pria tegap di depannya kembali memasang senyuman maut. “Maaf, baru bisa datang sekarang.”
“Hah?”
GIMANA? GIMANA?
.
.
*BIH : Bali International Hospital