5. Special Gift

1919 Words
Maura masih terlalu asing dengan format makan malam hari ini. Makan malam yang terlalu cepat lebih tepatnya, karena ada tamu dadakan yang mengaku kelaparan dan ngidam makan di rumah ini. Kalau biasanya hanya ada empat orang di meja makan, Ervan, Gisa, Maura dan Marcell, kali ini ada sosok kelima yang menggantikan Giri. Bisma, ialah sosok tamu yang sore tadi membuat Maura gagu di tempat. "Kamu dateng jam berapa tadi, Mas?" Gisa bertanya ramah di sela-sela kegiatan makannya. "Dari jam satu sih, Mam, terus ketiduran. Ini baru banget bangun, habis mandi langsung ke sini. Laper." Bisma melebarkan senyum setiap kali menjawab pertanyaan dari Gisa atau Ervan yang bergantian menginterogasinya. Tak ada kecanggungan sama sekali karena memang sedekat inilah hubungan kedua keluarga bahkan sebelum Bisma bertolak ke Jepang. "Tahu gitu langsung ke sini aja tadi, tidur siang di sini kan nggak masalah, kalau di rumah kamu masih banyak orang mindahin barang. Biar nggak berisik." Bisma meringis lagi, tak mampu menjawab karena mulutnya masih penuh dengan dimsum mentai buatan Ervan. Menikmati sekali sepertinya, seolah tak pernah makan enak sejak lahir. "By the way makasih ya, pudingnya, bunda kamu repot-repot segala bawain puding. Habis ini biar Mami telpon." "Nggak repot kok, Mam. Bunda bilang itu memang spesial, khusus buat Mami aja." Kali ini Gisa yang tersenyum-senyum sendiri mendengar jawaban tersebut. Dirinya dan Fawnia memang bersahabat sejak lama, tepatnya ketika para suami mereka dekat dan sering menjalin kerja sama. Apalagi dulunya Fawnia juga mengidolakan Ervan ketika pria itu masih aktif berkecimpung di dunia pertelevisian. "Giri kok nggak ada, Mam?" Kali ini Bisma mencoba lebih aktif membangun obrolan. "Pacarnya tadi telpon, kayaknya kena tipes gitu deh. Jadi Giri nganter ke rumah sakit." Gisa mengusap ujung bibirnya dengan tissue. "Kok malah nanyain Giri, kamu sendiri gimana kabarnya? Kayaknya Jepang cocok ya buat kamu, makin ganteng gini." Obrolan ringan di ruang makan itu terjalin hangat. Semua saling menimpali dengan antusias, Ervan, Gisa, Marcel ... tapi tak demikian dengan Maura. Gadis itu hanya menjawab seperlunya saja, terkadang hanya berdeham singkat atau melengkungkan senyum yang dipaksakan. Keberadaan Bisma yang tiba-tiba tentu saja menjadi penyebabnya. Bukan tak suka, hanya saja ini terlalu mendadak baginya. Meski berikrar sudah tak memendam rasa cinta, tetap saja ia perlu mempersiapkan hati saat bertemu lagi dengan pria ini. "Jadi Maura sekarang sibuk bantuin Mami di sekolah ya?" pertanyaan Bisma menghentikan kegiatan Maura menggigit buah anggur di tangannya. Gadis itu menatap Bisma sekilas. Ternyata sekarang dirinya yang menjadi pusat perhatian orang-orang. "Oh, hmm... itu, iya." Maura mengangguk sekali. "Senin sampai Rabu aku di sekolah Mami. Kamis Jumat, bantuin Papi eksperimen menu buat restoran," sambungnya lagi. "Sabtu-Minggu molor seharian, kecuali kalau lagi dapet hukuman dari Papi kayak hari ini," sahut di bungsu Marcel tiba-tiba menyela. Pemuda tampan itu lantas terkikik geli melihat ekspresi kesal di wajah saudari satu-satunya itu. "Isssh... nyamber aja!" sembur Maura mendelik tajam pada sang adik. Mulutnya komat-kamit menggumam makian yang ia tujukan Marcel. "Hukuman?" rupanya Bisma tertarik dengan topik yang dilempar si bungsu keluarga Ervan itu. "Maura kabur, ternyata nonton konsernya Bruno. Padahal pamitnya pergi surfing." Maura tak tahan lagi, ia menggulung tissue bekas lantas melemparkan pada Marcel. Marcel yang berhasil mengelak malah menjulur-julurkan lidahnya mengejek sang kakak. Dipikir tinggal diam, rupanya Maura malah berdiri menghampiri sang adik hendak menjitaknya. Namun Marcel yang jauh lebih tinggi darinya berhasil kabur sambil tertawa-tawa. "Marcell, Maura!!!! enough!!" “Kalian berdua tuh, kalau nggak berantem sehariiii aja, bisa nggak sih!!!” imbuh Gisa geleng-geleng kepala. Bisma tergelak kecil mendengar teguran Ervan pada kedua buah hatinya. Hal sederhana yang mengingatkan Bisma pada keluarganya juga, terutama ketika dulu ia sering menjahili adik-adiknya sampai membuat kedua orang tuanya pusing. "Agghh ... ternyata Kyla kemarin pergi sama Maura juga?" Bisma berkata pelan. Maura meliriknya lantas mengangguk. Kyla dan Vika memang bersekongkol dengannya untuk menonton konser tersebut. Giri jadi satu-satunya lelaki dewasa yang menjaga ketiga gadis yang sudah bersahabat sejak lama itu. "Hmmm … Kyla dimarahi juga ya?" lirih Maura penasaran. "Diomelin bentar sama Bunda, soalnya pamit nginep sama Keyra di apartemen. Ternyata Keyra-nya malah ditinggalin sendirian tengah malem." Bisma menjawab hal tersebut sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum. Maura ingat malam itu Keyra batal ikut dengan mereka karena sedang flu berat. Namun tak menyangka juga jika Kyla ikut kena omelan yang sama dari orang tuanya. Sama seperti yang ia alami. "Eh.. eh.. ngomongin hukumannya si Princess, Mami jadi inget kalau ada matcha brownies di kulkas." Gisa menoleh ke arah lemari pendingin ke di sebelah ruang makan. "Princess, ambilin browniesmu tadi dong, Nak, buat cemilan kita." Maura langsung bangkit berdiri menuruti titah sang ibu. Saat melewati tempat duduk Marcel, ia sempatkan menjitak kepala adiknya sampai pemuda itu meringis kesakitan dan memekik protes. Semua sudah beralih ke teras bagian utara yang bersebelahan dengan kolam renang ketika Maura siap menghidangkan brownies yang baru saja ia potong kecil-kecil. Tak ada Marcel, karena adiknya ternyata sibuk rebahan sambil main game di ruang tengah. Hanya ada kedua orang tuanya yang masih asik berbincang dengan Bisma. "Nah ini dia ... sini-sini," panggil Gisa melambaikan tangan pada putrinya. Padahal Maura juga sudah paham kalau tujuannya memang mendekati ketiga orang itu. "Tadi ada private cooking class 2 sesi, sesi yang kedua Maura ikutan bikin brownies ini," lanjut Gisa mengulurkan tangan menerima piring besar berbentuk persegi terbuat dari kayu yang dibawa Maura. "Looks so yummy." Bisma sampai menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Terlihat tak sabaran mencicipi, padahal Maura yakin, kudapan seperti ini sudah sering pria itu rasakan. "Lebay," gumam Maura pelan namun sengaja ia tegaskan hingga Bisma bisa mendengarnya. Bisma melirik Maura sekilas, lantas tetap mencomot sepotong brownies yang dihidangkan di depannya. "Bukannya lebay, tapi kan ini brownies spesial buatanmu, Yaya. Hampir lima tahun lho aku sama sekali nggak ngerasain masakan dari tanganmu." "Salah sendiri!" Bisma mengatupkan bibir. "Siap, salah. Maaf ya, Ya," ucap pria itu mengulum senyum. "Eh bentar ya, Bunda kamu video call nih, Mas." Gisa menunjukkan layar ponselnya sekilas. "Kalian lanjut ngobrol aja, Mami masuk dulu biar enak telponnya," lanjut perempuan itu dengan mulut masih mengunyah brownies. Suasana hening sesaat karena Bisma sibuk menikmati brownies buatan gadis manis di sebelahnya. Sedangkan Maura yang biasanya banyak bicara justru sibuk mengamati papinya yang sedang asik di depan kandang iguana di sebelah kolam renang. "Kamu suka sama pekerjaanmu sekarang, Ya?" tanya Bisma sengaja memecah sepi. "Suka." "Nggak risih dikelilingi bocil-bocil berisik? Dulu pas kecil kamu sering protes kalau Marcel nangis atau berisik." Maura tersenyum tipis, ternyata pria ini masih saja mengingat beberapa momen masa kecil mereka. “Itu kan dulu, sekarang udah biasa. Anak-anak di Senyum Semesta lucu-lucu kok, nggak ada yang nyebelin kayak Marcel.” Mami Gisa memang memiliki lembaga pendidikan PAUD dan TK yang diberi nama Senyum Semesta, yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya ini. Didirikan sebelas tahun silam karena kecintaan dan kepeduliannya pada pendidikan usia dini. Terlebih lagi beliau memang dulunya adalah seorang guru pengajar. “Marcel nyebelin gitu juga karena sayang sama kamu, Ya.” “Diiih, najis, sayang kok malah bikin senewen gitu. Kasih perhatian kek, bersikap manis kek, kasih jajan, kasih hadiah…” Gisa mengucapkan hal tersebut dengan bibir menye-menye karena memang sesebal itu dengan tingkah sang adik yang kadang membuatnya panas hati. “Eh… aku jadi inget sesuatu.” Bisma sponan menegakkan punggung lantas menjetikkan jarinya. ”Ayo ikut ke villa sebentar,” sambungnya langsung menyambar pergelangan tangan Maura hingga gadis itu terpekik saat tubuhnya terangkat berdiri dan mau tak mau terseret mengikuti langkah Bisma. “Papiiii!” panggil Bisma sontak membuat Ervan menoleh. “Pinjem Maura bentar ya, ada yang ketinggalan di rumah,” ujar Bisma menaikkan volume suara. Dari kejauhan, Ervan langsung mengangguk seraya mengangkat ibu jarinya memberi persetujuan. “Mas, tapi ak—” Belum sempat Maura bersuara, Bisma kembali berpamitan singkat padat pada Gisa yang masih asik ber-video call dengan sahabatnya. Setelah mendapat ijin dari kedua orang tua, Bisma yang ternyata tetap pemaksa ini langsung menggiring Maura ke halaman rumah dengan kedua tangan masih saling menggenggam erat. “Mau ngapain sih, Mas?” “Aku punya hadiah buat kamu, Ya. Aku bawain dari Jepang.” Maura yang tadi cemberut langsung tersenyum mendengar kata hadiah, dari Jepang pula. Sebenarnya bukan karena asal negaranya, tapi tentu saja sosok yang memberinya. “Nggak mau kalau cuma satu!” Maura berakting kesal. “Banyak kok, nggak cuma satu.” Maura melebarnya garis senyum. “Beneran ya?” Bisma mengangguk sekali. “Buruan naik,” ujarnya menoleh ke boncengan belakang. Meski tempat tinggal keduanya hanya berjarak dua bangunan, Bisma tetap mengendarai motor ke rumah Maura dengan dalih malas berjalan seorang diri. Tak sampai sepuluh menit, keduanya sampai di kediaman Bisma, seorang petugas keamanan tersenyum ramah saat membukakan pagar untuk majikannya. “Aku tunggu di sini aja.” Maura menarik tangannya dari genggaman Bisma. Tak baik bagi kesehatan jantungnya jika pria itu masih saja bersikap sok dekat dengannya. “Oke, aku ambil bentar di kamar.” Bisma berjalan cepat melewati dua anak tangga sekaligus. Dari lantai dua terdengar sayup-sayup suara Bisma memberi titah pada pekerja rumah tangganya agar merapikan koper-kopernya yang sudah kosong. Maura memejam sejenak sambil merebahkan kepalanya di ujung sofa, kombinasi rasa lelah dan kekenyangan kembali mengundang kantuk di matanya. Ia memutuskan menggulir layar ponsel demi mengusir rasa kantuknya. “Ini dia,” seru Bisma sambil berjalan turun dari tangga. Kedua tangannya memeluk kardus berukuran sedang yang mengundang rasa penasaran Maura. Maura diam saja, namun binar matanya berbicara. Begitu Bisma duduk di sebelahnya barulah Maura menyuarakan isi kepala. "Boleh dibuka sekarang?" Bisma terkekeh. "Of course, ini emang special buat kamu." Maura berdecih dalam hati. Pasti lebih spesial punya pacarnya. Meski tak berharap banyak, Maura tetap membuka kotak berwarna putih yang diberikan Bisma dengan antusias. Kedua mata gadis itu tertegun sejenak begitu melihat isi di dalamnya. Tak hanya satu barang, tapi ada beberapa lagi. "Ini..." Bisma terkekeh kecil melihat ekspresi menggemaskan Maura. Sekian tahun tak bertemu ternyata gadis di depannya ini semakin cantik dan tak kehilangan aura manisnya. "Hmm... ini aku beliin udah lama, buat hadiah wisuda kamu." Bisma mendekat lantas mengangkat lampu tidur berbentuk bunga matahari. "Kalau ini hadiah ulang tahun kamu yang udah kelewatan itu." Maura meringis lebar, tapi tetap tak bisa menutupi buncah bahagianya. Biarlah meski ulang tahunnya sudah lewat dua bulan lalu, hadiahnya tetap akan ia terima dengan suka cita. "Ini..." Maura mengangkat tas cokelat dengan gantungan bunga matahari dan lebah yang lucu. "Aku sempat lihat foto kamu di akun Mami waktu hari pertama ngajar di sekolah. Jadi ya... tas itu hadiah buat kamu as a new teacher." "Thank you, Mas." Maura memeluk semua hadiah yang ia terima dengan kedua lengan. "Masih ada lagi." "Lagi?" Bisma mengangguk lalu merogoh saku celana. Tangannya cekatan mengulurkan kotak berwarna hitam yang tak begitu besar, seukuran telapak tangan. "Kalau ini ... sebagai permintaan maaf, karena nggak bisa tepati janji." Janji untuk datang di wisuda Maura maksudnya. Padahal Maura hampir lupa, diingatkan begini ia hendak marah pun jadi tak bisa karena mendapat 'sogokan' sebanyak ini. "Thank you," ucap Maura sekali lagi. Ia tahu kotak yang disodorkan Bisma adalah kotak perhiasan karena logonya tertera sangat jelas. Ia hanya tak menyangka akan mendapatkan kalung cantik dengan ornamen bunga matahari di bagian ujung. "Semoga dimaafkan." Bisma tersenyum lebar saat mengacak puncak rambut Maura. Maura tak langsung menjawab. Ia masih tenggelam dalam euforia karena mendapat banyak hadiah dadakan malam ini. Bahkan saking senangnya ia sampai menggerak-gerakkan kelapa ke kanan kiri sambil tersenyum lebar. Sampai di satu titik ia tersadar akan sesuatu. Gadis cantik itu menelengkan kepala. Menatap lurus ke arah Bisma yang ternyata juga memaku netra padanya. "Mas Bisma ... ngasih banyak hadiah spesial gini juga ke cewek lain??" "Hahhh??" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD