6. Mantan Pacar

1449 Words
"Sebenarnya masih ada satu lagi, tapi belum jadi karena custom. Lagipula kayaknya ... sekarang nggak terlalu kamu butuhkan." Bisma mengatakan hal tersebut tanpa menoleh pada Maura. Pria tinggi itu fokus menatap ke jalanan depan dengan kedua tangan mengangkat kotak hadiah yang sudah jadi milik Maura. Keduanya berjalan berdampingan, menuju rumah Ervan dan Gisa yang hanya beberapa meter dari tempat tinggal Bisma. Maura menolak mentah-mentah saat Bisma menawarkan untuk naik motor lagi saat mengantarnya pulang. Karena menurut Maura ia akan kesulitan membawa kotak hadiah tersebut jika naik ke boncengan motor yang terlalu tinggi bagi tubuh mungilnya. "Emang aku butuh apa?" Bisma menoleh sesaat sebelum menjawab pertanyaan Maura. "Hmmm... di rumah sakit tempat aku study di Jepang lagi ngembangin gelang versi terbaru untuk pasien jantung. But ... seperti yang aku bilang tadi, kayaknya kamu nggak terlalu butuh lagi benda itu. Kata Papi kamu sehat banget beberapa tahun ke belakang." Gadis di sebelah Bisma tergelak kecil. "Kesehatan jantungku memang membaik belakangan ini, aku rajin check up. Semoga nggak pernah kambuh-kambuh lagi." "Glad to see you smile like that," ujar Bisma tertular senyum. "Kalau gelangnya cantik aku tetap mau kok, Mas." Maura tahu jenis gelang kesehatan seperti yang Bisma sebutkan tadi. Belakangan ini memang desain terbarunya memang sangat cantik, terlihat seperti perhiasan biasa, tak nampak seperti pendeteksi kesehatan dan sebagainya. "Cantik banget, kalau biasanya pendeteksinya berbentuk persegi panjang, aku custom bentuk sunflower dengan warna emas khusus kamu aja, Yaya." "Serius?" Maura menghentikan langkahnya untuk mengamati wajah Bisma. "I'm serious, nanti aku kasih tahu designnya." "Mas Bisma ngasih aku banyak hadiah gini karena kasihan dan nganggap aku masih anak penyakitan ya?" Bisma mengernyit, ikut menghentikan langkah saat memahami kalimat Maura. "Heyy, nggak gitu dong, Yaya." "Terus?" "Ya aku ngasih hadiah karena mau aja, dan kamu layak, meski pun ini nggak seberapa." Nggak seberapa...?? Tapi tetap saja bermakna jika itu dari Bisma. Maura memang tak pernah kekurangan, terlebih lagi ia satu-satunya anak perempuan di rumah yang selalu mendapat banyak curahan kasih sayang. Orang tua dan ketiga saudaranya selalu bisa memberinya apa saja yang ia minta. "Mas Bisma loyal gini juga ke gadis-gadis lain?" Bisma menghembuskan napas panjang. Dasar Maura sukanya cari masalah yaa? pertanyaannya itu lagi, itu lagi. Tentu saja Bisma lagi-lagi enggan menjawabnya. "Eh, udah ditungguin Papi ternyata." Bisma mempercepat langkah saat melihat Ervan sudah berdiri bersandar di pagar besar depan rumah. Padahal sebenarnya, ia sengaja juga mengalihkan topik pembicaraan. "Kok jalan kaki? Motornya yang tadi mana?" tanya Ervan usai Bisma menyalami tangannya. "Yaya nggak mau pake motor, Pap. Minta jalan kaki aja katanya." Bisma melirik gadis cantik yang mengikat tinggi rambutnya. "Yaelah ... motornya Mas Bisma ketinggian, Papi. Kaki aku nggak nyampe, susah banget naiknya," gerutu Maura menanggapi Bisma. Ervan tergelak begitu saja mendengar keluhan Maura. Putrinya ini memang paling tak suka jika harus naik motor dengan posisi boncengan yang terlalu tinggi. Itulah kenapa ia hanya mau berkendara roda dua dengan sang ayah atau kakak sulungnya saja. Karena Ervan dan Tama sama-sama pecinta vespa yang notabene kendaraan dengan ukuran cenderung kecil, pas untuk tubuh mungil Maura. “Ayo masuk lagi,” ajak Ervan menunjuk ke arah rumahnya dengan ibu jari. Sebenarnya itu tawaran yang menggiurkan tapi sepetinya ia harus menolak saat ini. “Langsung balik aja, Pap, mau beresin kamar masih kayak kapal pecah,” jawab Bisma meringis. Ervan mengangguk-angguk pelan. “Oke kalau gitu, eh iya, link yang tadi Papi kasih udah diisi kan?” “Udah langsung aku isi, Om, biar nggak ketinggalan batch ini.” Maura mengerutkan kening, tak paham dengan obrolan ayahnya dan Bisma. “Link apaan, Pi?” “Bisma mau ikut premium healthy catering di Vanmeals.” Vanmeals adalah bisnis catering yang dimiliki oleh Ervan di samping usaha restorannya yang sudah bercabang di beberapa tempat. Karena ingin terjun secara langsung Ervan membuka dapur cateringnya di bangunan sisi selatan rumahnya, bersebelahan dengan cooking studio yang biasanya menjadi tempat kelas memasak. “Woaa… harusnya Mas Bisma daftar lewat aku aja, biar aku dapet komisi dari papi.” Ervan melirik Maura lantas meraup wajahnya dengan telapak tangan. “Kayak yang masih kurang aja duit bulanannya. Padahal dapet gaji dari dua tempat lho.” “Ya kan lumayan juga, Pi, buat tambahan lagi,” sahut Maura meringis lebar. "Kan udah dapet tambahan bonus tiap kali bawain catering buat pengajar SS." Ervan mengingatkan putrinya. Sejak lulus kuliah, Ervan memang sengaja mengurangi uang bulanan untuk sang putri. Bukan karena pelit. Ia hanya ingin Maura yang terkenal manja itu lebih bijak dalam mengatur keuangan karena ia sudah sedewasa itu. Meski demikian, Ervan tetap bermurah hati memberikan beberapa bonus setiap kali putrinya itu melakukan pekerjaan tambahan di luar sebagai tenaga pendidik di Senyum Semesta atau menjadi karyawan dadakan di tempat cateringnya. Setiap kali Maura membantunya di dapur menyiapkan hidangan untuk klien khusus, setiap kali ikut mendampingi kelas memasak bahkan setiap kali Maura bersedia mengantar catering ke beberapa pelanggan, Ervan tetap memberi sang putri 'gaji' tambahan yang layak. Maura menggembungkan pipi sambil menggaruk pelipis. "Ya ... kan aku emang mata duitan, Papi. Biar bisa nabung buat nonton konser lagi gitu," respon Maura membuat Ervan dan Bisma tergelak bersamaan. *** "Sebenernya, Mas Bisma tuh ngapain sih pindah ke Bali, Pi? Bukannya dia udah lebih segala-galanya kalau mau stay di Jakarta?" Pertanyaan Maura tersebut terlontar begitu saja ketika ia sedang membantu sang ayah menyelesaikan catering. Memang hanya lima puluh kotak, karena Ervan membatasi jumlah pesanan yang masuk demi menjaga eksklusifitas rasa. Tapi tetap saja koki handal tersebut turun tangan langsung demi menjaga cita rasa. "Kok baru tanya sekarang?" Ervan melirik sang putri sambil tersenyum. Memang kesannya sudah agak terlambat, lantaran Bisma sudah menetap di Bali hampir dua bulan lalu. Tapi dasarnya Maura yang gengsi, jadi ia tahan-tahan saja untuk melempar pertanyaan tersebut. Dan baru pagi ini ia mendadak mengutarakannya pada sang ayah. "Ya baru kepikiran aja, makanya tanya," jawab Maura sambil mengangkat kedua bahu. "Mungkin Bisma pindah ke Bali sekalian cari suasana baru. Dia kan gagal nikah tahun lal—" "HAHHH? Apa, Pi?!" Maura sontak terkejut dengan kenyataan yang baru ia dengar, sampai-sampai ia nyaris menjatuhkan satu kotak catering yang baru saja ia tutup. "Isssh, biasanya dong kagetnya." Om Ajiz yang berada di samping Maura menyikut lengan gadis itu. "Segitu banget sampe matanya hampir keluar." "Iih... Om Ajiz iiih, aku beneran kaget," ujar Maura manyun. "Beneran gagal nikah, Pi?" sambung Maura kembali menatap sang ayah. Ervan mengangguk singkat tanpa menoleh. "Beneran kok, kenapa? Kamu mau daftar jadi calonnya Bisma yang baru gitu?" Maura sontak tersedak dengan kelakar sang ayah. “Iihhh, ya nggak dong, Pi. Aku cuma kaget aja.” Maura meringis tipis. Ternyata pria yang sempat jadi cinta pertamanya itu sedang patah hati. Pantas aja ia memilih pindah ke Bali, mencari suasana baru sekaligus menenangkan diri. Tapi kira-kira, dia gagal nikah dengan siapa ya? Apa mungkin dengan Rere Rere Regina yang dulu sempat membuat cemburu Maura itu ya? "Buruan ditutup semua itu kotaknya, habis itu bangunin Marcel," titah Ervan memecah lamunan Maura. Ia harus berhenti menerka-nerka dan kembali ke dunia nyata. Bisma dan patah hatinya biarkan aja, toh bukan urusannya. Sepuluh menit kemudian Maura menuju bangunan utama hendak membangunkan sang adik lebih awal karena pemuda itu sedang masa PKKMB atau ospek di kampusnya. Karena harus sampai di kampus lebih awal, hari ini Marcell diijinkan meminjam sedan Maura dengan syarat sekali jalan mengantarkan catering ke kantor pemda. Belum sampai ke kamar sang adik, ternyata Marcel sudah muncul di ujung tangga. “Cateringnya udah siap tuh, buruan!” ujar Maura mengendik ke arah Lorong yang menghubungkan rumah utama dan dapur Vanmeals. “Paham,” jawab Marcel singkat setelah mengambil kunci mobil milik sang kakak. “Eh, Sist, semalam gue ketemu Bang Shakti, dia nawarin tiket Idgitaf mau nggak?” “Kok dia nggak langsung hubungi gu—” belum sampai menyelesaikan kalimatnya, ia langsung ingat kalau ponselnya semalam sempat tercebur di kolam belakang dan belum bisa menyala sampai sekarang. “Astaga gue butuh ponsel baru, biar tetep update sama jadwal konser kekinian!” sambung Maura sambil menepuk-nepuk kening. “Awas aja kalau gara-gara konser sampe kena hukum Papi lagi.” Marcel mengingatkan sang kakak sambil cekikikan kecil. “Nggak akan ah, Papi kan percaya banget sama Shakti.” “Diih, pede bener. Kalau udah jadi mantan pacar, nggak mungkin percaya lagi, gimana sih?” Marcel dan Maura sudah sampai di garasi depan, hendak menyiapkan mobil. Maura berniat membantu memindahkan catering ke bagasi karena ia yang lebih luwes menata setiap harinya. “Waaah, Yaya beneran udah punya mantan pacar? Serius pernah pacaran?” suara tak asing yang berasal dari dekat pagar membuat Maura dan Marcel menoleh bersamaan. “Eh, Mas Bisma? Kebetulan … sini, Mas, bantuin mindahin catering ke mobil. Nanti imbalannya aku ceritain tentang deretan mantan Maura.” Sialan mulut si Marcel!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD