7. Mantu Bunda

1611 Words
"Mas Bisma jangan percaya gitu aja sama mulut bawelnya Marcel. Bahaya tuh bibit-bibit buaya!" Bisma tergelak kecil mendengar kalimat Maura. "Marcel seru banget ceritanya, gimana aku nggak tertarik coba?" Pria itu memasang sabuk pengaman mobil sambil tersenyum kecil. "Ya tapi jangan percaya gitu aja, Mas." Maura malah manyun, tak rela kalau nama baiknya tercoreng akibat ocehan adiknya yang terlalu dilebih-lebihkan. Bisma malah terkekeh melihat wajah menggemaskan Maura saat sebal. Cantik juga kalau sedang manyun-manyun seperti ini. "Marcel meyakinkan banget lho pas cerita, kasihan kalau ngga dipercaya." Pria itu mencondongkan tubuh ke arah Maura. Dilihat dari jarak dekat, gadis manis yang selisih lima tahun di bawahnya ini justru semakin menarik perhatian. Maura melirik sigap lalu mundur hingga kepalanya nyaris terantuk pintu mobil. "Mas mau ngapain?" "Pasangin sabuk pengaman kamu, Ya, kita mau berangkat ini." Bisma makin terkikik geli. Menjelang sore hari usai mendengar cerita seru dari Marcel tentang kakak perempuannya, Bisma sengaja menawarkan diri untuk mengantar Maura yang hendak pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di Denpasar guna membeli ponsel baru. Ervan dan Gisa tentu saja langsung memberi ijin, bahkan Gisa sengaja menitipkan beberapa belanjaan lainnya pada Maura lantaran ia sedang ingin 'berduaan' saja dengan sang suami. "Oh... ah, hmm... ya udah ayo buruan berangkat aja." Maura berdeham salah tingkah, susah payah mengatur ekspresi wajahnya lagi agar terlihat lebih tenang meski detak jantungnya berantakan. Pria di sampingnya ini benar-benar... "Kalau kamu nggak terima sama cerita Marcel, coba klarifikasi dan ceritain versi kamu sendiri." Sambil melajukan mobil, ternyata Bisma masih tertarik dengan topik para mantan kekasih Maura. "Nggak perlu bahas mantan ya, Mas, ya? yang berlalu biar aja berlalu, namanya juga mantan dan kenangan tempatnya hanya di belakang. Bukan untuk kembali dikenang dan diperjuangkan." Padahal Maura hanya asal saja meloloskan kalimat tersebut dari mulutnya tanpa pikir panjang. Namun ternyata sukses membuat Bisma menipiskan bibir dan raut wajahnya mendadak datar. Seolah sedang mengiyakan apa yang baru saja Maura katakan. "Mas..." Maura mendadak tak enak hati, padahal baru tadi pagi ia mengetahui kenyataan tentang Bisma yang gagal menikah dengan perempuan idamannya. Bisa jadi ... Bisma sedang teringat juga dengan mantannya kan. "Hah? Oh... you right, kita nggak harus bahas mantan-mantan yang memang nggak penting juga buat dibicarakan." Bisma tertawa sumbang sambil mengusap tengkuk. "Kamu sih...." lanjut Bisma sengaja mengacak rambut Maura pelan. Tak sampai membuat tatanan rambut Maura berantakan. "Aku kenapa?" "Kecil-kecil ternyata mantannya banyak," sahut Bisma lantas tergelak kencang. "Enak aja, nggak banyak ya!" "Kata Marcel ada lima." "Ngawur banget!!! cuma tiga kok yang beneran pernah jadian." "Sisanya?" goda Bisma sembari melirik usil. "Sisanya ya … cuma deket aja, nggak pernah aku terima meski mereka nembak beberapa kali." "Mereka?" Bisma menaikkan satu alisnya. "Wow ... Mauraku yang dulu kecilnya sering ingusan dan cengeng ternyata sekarang jadi gadis yang populer banget ya," sambungnya kembali mengusap puncak kepala Maura. Maura cemberut, enggan kalau mengingat masa kecil yang menurutnya jauh dari kata lucu dan menggemaskan. Kenapa yang diingat malah bagian ingusan dan cengengnya coba?! “Kenapa lihatnya gitu banget?” Bisma sesekali melirik ke arah Maura. Gadis itu masih cemberut, namun tatapan tajamnya nampak tegas dan seolah tak terima. “Udahlah lupain aja. Tuh, mallnya udah kelihatan tuh!” Maura mengendikkan dagu. Mall yang mereka tuju memang sudah sangat dekat. Tapi antusias Maura yang tadi ceria karena hendak membeli ponsel baru mendadak lesap karena pembicaraan ringannya dengan Bisma. Maura menghembuskan napas panjang. Ternyata selama ini … Bisma masih menganggapnya gadis kecil yang dulu ia anggap adik semata. Atau mungkin … sampai saat ini, predikatnya tetap saja ‘adik’ bagi Bisma. Ya sudahlah, apa mau dikata, biarkan saja. “Mau beli ponsel yang gimana?” tanya Bisma saat keduanya berjalan berdampingan menuju lantai dua yang tak terlalu padat pengunjung seperti lantai satu. “Pokoknya keluaran terbaru yang paling canggih, paling mahal.” Saldo tabungan Maura banyak, apalagi tadi sebelum pergi, sang ayah malah menambahkan lagi transferan pada sang putri. Dengan dalih, insiden ponsel Maura terjatuh ke dasar kolam kemarin akibat perbuatannya juga yang tanpa sengaja mengagetkan Maura. “Mau kembaran kayak gini nggak?” Bisma tiba-tiba mengeluarkan ponsel dari sakunya lantas menggoyang-goyangkan benda pipih tersebut di depan Maura. “Setahuku ini ponsel keluaran paling baru, paling canggih dan harganya lumayan lah…” Maura menyipitkan mata. Maksudnya apa coba ngajak kembaran ponsel segala? “Ada warna lain yang lebih girlie yang cocok buat kamu kok, Ya,” imbuh Bisma karena Maura belum menjawabnya. “Kalau mau, aku yang bayarin juga.” Maura mengerjap beberapa kali. Pria ini maunya apa sih? Belakangan ini enteng banget ngasih-ngasih hadiah. Sekarang malah mau bayarin ponsel baru. Ya emang sih, keluarganya sultan, tapi kan… “Nggak ah, ngapain juga kembaran sama Mas Bisma? kita bukan couple ya!” tegas Maura pada akhirnya. “Terus maunya … kita jadi couple dulu gitu? Hayuuukkk aja!” *** Pukul delapan kurang sepuluh menit, Bisma dan Maura sudah kembali ke rumah. Wajah Maura nampak riang lantaran sudah mendapatkan ponsel yang ia kehendaki juga barang-barang perintilan lain yang memenuhi tas belanjanya. Begitu memasuki pintu depan, gadis manis tersebut mendadak menghentikan langkah saat menyadari sedikit keramaian di ruang keluarga. "Kok berhenti?" tanya Bisma karena nyaris saja menubruk punggung Maura. "Ada ayah bundanya Mas Bisma." Gadis manis berambut panjang tersebut mengendikkan dagu ke ruang tengah. "Eeeh... yang ditunggu-tunggu akhirnya datang," pekik Gisa saat menyadari kedatangan Bisma putrinya. Mendengar suara tersebut sontak saja semua orang yang ada di sana ikut menoleh. "Kok nggak ngasih kabar dulu, Yah, Bun, tahu gitu sekalian aku jemput tadi." Bisma maju lebih dulu lantas memeluk kedua orang tuanya secara bergantian. "Surprise," jawab ayah Bisma singkat. "Kami couple time dulu sebelum ke sini, jadi sengaja nggak ngabarin siapa-siapa," sahut Fawnia tersenyum manis, nampak sekali binar wajahnya yang tengah merindukan sang putra. "Sering banget couple time, udah nggak muda lagi padahal," gerutu Bisma langsung membuat sang ibu meraup wajahnya. "Makin tua tuh harus makin banyakin berduaan, Mas, kamu ih, nyinyir aja!" “Aku c*m—” Kalimat Bisma tak tuntas lantaran sang ibu beralih pada Maura. Memeluk dan memberi kecupan ringan di kedua pipi gadis tersebut. “Mauraaa, duuuh makin ke sini makin cantik ke mana-mana sih? Gemessss banget.” Maura jelas tersipu. “Bunda bisa aja.” “Lho emang bener kok,” kekeh Fawnia lantas merangkul Maura agar bergabung bersama yang lain. “Udah dapet ponselnya? Katanya habis nyemplung kolam?” “Udah dapet, Bun.” “Syukurlah, hari gini pasti ribet banget kalau nggak pegang HP, apalagi anak muda kayak kalian.” Maura mengangguk berkali-kali. “Bener, Bun, sayang banget kalau game-game yang aku install nggak diterusin main,” serunya terkekeh lebar. “Heeeh… udah umur segitu juga, masih aja seneng main game. Kayak nggak mau kalah sama murid-muridnya,” sela Gisa sambil geleng kepala. “Iiih, seru lho, Mami.” “Seru apanya,” cibir Gisa melirik sang putri. “Tuh, temenmu aja udah repot mau persiapan nikah, kamu masa sibuknya main game di HP.” Wajah Maura berubah serius. “Hah? Temenku siapa?” “Itu, si Keyra.” “Hah?” “Keyranya Kyla? Adikku?” pekik Bisma dan Maura nyaris bersamaan. Keduanya bahkan kompak menoleh pada Fawnia dan Irawan untuk meminta penjelasan. “Bund..” “Baru omongan awal aja.” Fawnia mendebas napas panjang kala membalas tatapan putra sulungnya. “Ibunya Richard sakitnya makin serius, dan Beliau ingin sekali melihat Richard menikah sebelum tutup usia. Jadi ya … rencana nikah tahun depan, mau dimajukan jadi tahun ini.” “Keke masih kecil, Bund.” Dari nada bicaranya, terlihat jelas keterkejutan Bisma dengan berita ini. “Kecil apanya? Umur Keke udah pas buat nikah, kamu aja yang ketuaan, sampe hampir disalip adikmu. Makanya cari pasangan yang bener!” Irawan jarang berbicara panjang lebar, tapi sekalinya berbicara ya sepertinya, bisa terdengar sangat menyebalkan di telinga sang putra. Maura tergelak kecil mendengar penuturan Pak Irawan. Terlebih lagi saat ia melirik ke arah Bisma dan mendapati wajah pria itu sudah merah padam menahan kesal pada ayahnya. Sebenarnya, Maura tak terlalu terkejut dengan rencana pernikahan Keyra, lantaran sahabatnya itu sempat berseloroh ingin secepatnya menikah jika sudah menemukan pria tepat yang berhasil meluluhkan hatinya. Dan sosok itu Keyra temukan pada diri kekasihnya saat ini, Richard. “Bisma nggak ketuaan, Wan. Kan wajar kalau cowok lebih lama mempersiapkan masa depan. Nggak harus nikah secepat adiknya juga nggak masalah. Ah… kamu kayak lupa masa muda aja, yang nikahnya juga udah umur-umur cenderung tua.” Ervan tergelak kecil saat menimpali sahabatnya. “Kok malah bahas aku?” Bisma menekan-nekan pelipisnya tak terima. “Mas, kamu ngegas gini bukan karena nggak mau dilangkahi adikmu kan?” Bisma menaikkan satu alisnya. Sebenarnya tak menyangka pertemuan mereka yang ia kira hanya untuk melepas rindu, ternyata membahas hal seserius ini tentang adiknya. “Nggak gitu, Bun, aku cuma kaget aja denger kabar ini. Keke nggak ada cerita soalnya” “Woles aja ih, ini kan masih belum fix. Baru omongan awal antar orang tua aja, masih bisa berubah,” seru Fawnia santai sambil tersenyum kecil. “Kalau kamu udah ada calon dan mau maju duluan juga nggak apa-apa, Mas. Bunda malah seneng banget. Iya kan, Yah?” sambung Fawnia menoleh pada sang suami. Pria paruh baya berkacamata yang diajak berbicara mengangguk sambil mengangkat satu ibu jari, lantaran mulutnya tengah sibuk mengunyah dimsum yang dihidangkan tuan rumah. “Buruan bawa calon mantu makanya, biar bundamu sekalian nyiapin dua pesta.” Bisma kembali geleng-geleng mendengar respon kedua orang tuanya. Namun gerakan kepalanya mendadak berhenti saat melihat wajah Maura menahan-nahan senyum usil seolah menikmati percakapan yang mendadak menyudutkan dirinya. “Yaya,” panggil Bisma spontan membuat Maura menegakkan punggung. “Gimana?” “Hah? Apanya yang gimana?” Maura bertanya linglung. “Mau nggak jadi mantu bundaku?” “HAAHH?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD