"Mau nggak jadi mantu bundaku?"
Meski kalimat tersebut masih terngiang-ngiang dengan kurang ajar di telinganya, Maura tetap mencoba meneguhkan hati. Ia menganggap kalimat Bisma kemarin lusa hanya candaan semata, terlebih lagi pria itu mengucapkannya dengan senyum jahil yang sangat menyebalkan. Ingat, Bisma pernah gagal menikah, bisa jadi pria itu masih stress atau depresi sehingga asal saja melontarkan kalimat tersebut. Jadi jangan sampai lengah atau kembali terbawa perasaan semu belaka.
“Princess, kalau kamu nggak enak badan bilang aja?”
“Hah? Apa, Mi?”
“Hah, heh, hah, heh terus ih, kamu… yang fokus dong, Sayang,” sambung Gisa usai melepas sabuk pengaman.
“Ini aku udah fokus kok, Mi,” jawab Maura sembari meringis lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Ngelamun terus itu mah dari tadi,” sambung Gisa lagi.
“Nggak, Mi.”
“Iya.”
“Enggak.”
“Ya udah buruan buka lock door-nya, kita keburu meeting rutin kan?” Gisa menggerak-gerakkan tuas di pintu mobil sebelahnya, karena masih terkunci dari pusat.
Maura menarik napas panjang lantas menghembuskannya berkali-kali. Sialan memang dokter yang namanya Bisma Shadu itu, bisa-bisanya mengacaukan konsentrasi Maura sepagi ini.
“Ah, oke, iya siap, Bu Kepsek,” jawab Maura mengangguk yakin.
Bagaimana pun juga ia harus tetap menjaga profesionalitas. Jika di rumah ia terbiasa dengan sikap sang ibu yang cerewet namun tetap memanjakannya, lain hal jika keduanya berada di lingkungan sekolah. Maura tetaplah seorang pengajar dan Gisa merupakan atasannya yang merangkap menjadi kepala sekolah di tempatnya bekerja.
“Mami tunggu sepuluh menit, langsung ke ruang rapat,” pesan Gisa usai keluar mobil. Sementara Maura harus merapikan dandannya terlebih dahulu agar tak terlalu pucat karena ia belum sempat memulas lipstick sejak dari rumah tadi.
Sesuai titah sang ibu, sepuluh menit setelahnya Maura sudah bergabung dengan para pengajar yang lain di ruang rapat. Padahal ini rapat rutin di Senyum Semesta setiap kali mendekati akhir semester, tapi bisa-bisanya Maura malah kehilangan konsentrasi. Untungnya saat rapat berlangsung ia bisa mengendalikan pikiran sehatnya, hingga semuanya berjalan lancar tanpa kendala berarti.
"Princess, kalau mau pulang duluan nggak masalah, Mami masih ada perlu sama Tante Ana."
Kalau Gisa sudah memanggil putrinya dengan sebutan 'Princess' alih-alih Miss Maura, bisa dipastikan jam belajar mengajar sudah benar-benar berakhir dan tidak ada murid yang 'terlantar' menunggu jemputan orang tuanya.
"Iya, Mi, bentar lagi. Lagi seru chat sama di kembar nih." Maura sedikit mengangkat ponselnya. Gisa mengangguk singkat lantas berlalu dari meja kerja.
Maura kembali menekuri layar ponsel sambil cekikikan saat membaca satu demi satu pesan dari ketiga sahabatnya di grup.
Keyra : Awas aja kalau ada yang kasih kado lingerie!! 😤
Vika : Heh, Maemunah!! Lingerie tuh properti wajib pengantin baru.
Keyra : Simpen aja buat ngado Kyla. Mulai pedekat sama artis dia.
Kyla : Tampol nih ya!! mulai ngawur mulut lo lo twins!! 😩
Vika : Spill the tea dongs, Sist, artis siapa?
Keyra : Adalah pokoknya, inisialnya Ibrahim Natayya 🤪
Kyla : Kembaran bangsaddd!! 🖕🏻
Keyra : Gue kabur dulu ya, mau pacaran sama calon laki, bye semua!
Kyla : Habis bikin rame, kabur aja lo!!
Vika : Ibrahim yang aktor film horror itu nggak sih, La?
Kyla : Diem Vika Ndut!!
Kyla : Eh... Maura kenapa nggak nongol?
Vika : Halaaah, pengalihan isu lo cari Maura segala! Minimal hati-hati kalau cari cowok, cari yang green flag aja biar aman perbucinan.
Kyla : Nggak ada ya, yang pure green flag cuma bokap sama mas gue aja.
Maura mengerutkan kening membaca chat dari terakhir Kyla. Bisma ... pria yang hobby bikin baper aman orang itu disebut green flag? serius? Setidaknya Maura paham Kyla mengatakan demikian karena Bisma memang kakak kesayangannya.
Vika : Hehh, Miss @Maura Yaya... lo kan lagi online ngapain ngumpet, ngeliatin aja kagak respon! Kembar kesayangan lo nih butuh bimbingan konseling kayaknya!
Kyla : Maura tuh diem lagi nyiapin hadits-hadits buat ceramahin kita kali. Sabar, bentar lagi juga muncul taringnya.
Maura terkikik saat Vika menyebut namanya secara terang-terangan. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan untuk para sahabatnya.
Maura : Apaan manggil-manggil? Baru kelar nih.
Vika : Kyla nih, minta dikonseling biar aware sama cowok red flag.
Kyla : Kok jadi gue sih?
Vika : Ya kan elo yang lagi pedekate sama cowok redflag.
Kyla : Gue aman ya, siapa pun yang pedekate pasti difilter dulu sama Mamas.
Vika : Mamas lo kan lagi di Bali, noh… tetanggaan sama Maura. Mana bisa ngawasin.
Maura : @Kyla, lo serius sama Ibrahim? Gue laporin Mas Bisma nih?
Vika : Laporin aja, Ra, laporin!
Kyla : Jangan pada ember ke Mamas ya, gue cuma temenan aja sama Baim 🤫
Jemari Maura terpaksa berhenti mengetik pesan lantaran ponselnya bergetar, dan menampilkan nama pria yang sempat mereka bahas baru saja. Bisma.
Maura berdeham beberapa kali sebelum menjawab panggilan tersebut. “Hallo, ya, Mas?”
"Ngajar udah selesai kan, Ya?"
Mayra mengerutkan kening sesaat. Tumben-tumbennya nih si mamas yang digadang-gadang green flag oleh kedua adik kembarnya menanyakan pekerjaan Maura.
"Hmm... ya udah kelar sih, kenapa? tumbenan banget, Mas?" Terdengar kekehan pelan dari ujung sana. Bisma pasti menertawakan kecurigaannya. Tapi memang ini aneh kan, jarang sekali pria itu mendadak perhatian seperti ini.
"Mau ngajak keluar, mumpung nggak ada jadwal poli."
"Kema—"
"Bandara yuk," potong Bisma sebelum Maura menanyakan tujuannya.
Kening Maura makin berkerut. "Ngapain ke bandara?"
"Ayah sama Bunda sore ini balik. Sekalian aja yuk main ke mana kek, eh, Ya ... kamu masih suka sama Toastie Corned Beef-nya Kopikup kan?"
Masih.
Ini benar-benar aneh, Bisma yang dulunya tak seakrab ini dengan Maura mendadak sok dekat sok akrab bahkan membuat buncah hatinya naik turun bak rollercoaster dalam beberapa bulan terakhir.
"Ke sana yuk," sambung Bisma lagi karena Maura masih belum menjawab. "Habis itu aku traktir apa aja yang lagi kamu pengenin deh, Ya."
Maura melirik jam digital di meja kerjanya. "Sekarang banget?"
"Yoi, ini lagi siap-siap."
"Ini aku masih di sekolah, Mas."
Maunya menolak dengan halus, tapi mendengar kata 'traktir', jiwa pelit Maura mendadak meronta-ronta ingin langsung berangkat saja.
"Justru mumpung masih di sekolah, bentar lagi aku jemput, kan searah. Biar nggak bolak balik."
"Tapi aku tadi bareng Mami, eh... aku belum ijin ke Mami, Mas."
"Gampang, habis ini aku yang minta ijin ke Mami Gisa. Oke? aku tutup dulu ya, Ya, mau telpon mami kamu. Bye!"
Tut... tutt...tuttt...
Ini Bisma ngajak atau maksa sih pemirsa?
***
Ijin dari Mami Gisa turun dengan mudah karena Bisma yang sudah dicap sebagai anak baik kesayangan sahabatnya menghubungi beliau secara langsung dan gentleman. Bahkan Gisa menawarkan diri membawa mobil Maura saat pulang karena putrinya ikut dengan mobil Bisma.
Setelah satu jam berlalu usai mengantarkan orang tua Bisma ke bandara dan ngopi-ngopi santai di coffee shop langganan Maura, keduanya kini sedang mengantre kasir di toko buku ternama. Sesuai janji Bisma, ia akan mentraktir Maura sesuai dengan permintaan gadis itu. Pandai memanfaatkan situasi Maura sengaja meminta dibelikan buku-buku best seller keluaran terbaru yang menjadi incarannya.
"Udah nih, yakin cuma lima?" Bisma tersenyum tipis saat melirik Maura yang tengah memeluk beberapa novel romance pilihannya.
"Yakin," angguk Maura mantap sambil nyengir lebar.
"Tadi aja bilangnya dua." Bisma terkekeh kecil mengeluarkan kartu pembayaran dari dompetnya saat Maura meletakkan buku-buku di meja kasir.
"Nggak ikhlas nih?!" Maura menipiskan bibirnya lucu.
Gelak tawa Bisma makin pecah tanpa jaim meski dilihat oleh beberapa karyawan toko buku yang sepertinya tengah menikmati wajah menawan dokter tersebut.
"Ikhlas, ikhlas. Maksudnya tuh, mumpung masih di sini, siapa tahu masih ada yang mau kamu beli, Yaya," ralat Bisma cepat-cepat.
Maura menoleh kanan kiri, mengamati barang apa saja yang kiranya menarik perhatiannya. Tapi untuk saat ini sepertinya kelima buku tersebut sudah cukup.
"Lain kali lagi deh, siapa tahu dapet traktiran lagi," seru Maura pada akhirnya.
"Jadi mau nih kalau lain kali diajak jalan lagi? Bisa... bisa, next time kamu yang tentuin tempatnya."
Maura mengatupkan bibir, ternyata ia begitu mudah masuk jerat Bisma yang pandai berkata-kata. Tapi tenang, kali ini ia akan memasang benteng setinggi harapan orang tua agar perasaannya tak mudah takluk lalu amit-amit jika dipermainkan saja. Ingat kan, kalau Bisma ini pernah gagal nikah? Ya siapa tahu ia tidak se-green flag yang disangka si kembar, bisa aja Bisma yang gantengnya Masyaallah ini diam-diam menghanyutkan alias problematik.
"Ngelamun apa sih, Ya?"
"Diiih, tangannya usil ih!!!" pekik Maura saat jemari Bisma menyentil pipinya.
Maunya sih kesal, tapi ternyata tak bisa juga karena aroma wangi yang menguar dari telapak tangan pria tersebut. Apa aroma buaya ganteng memang sewangi ini ya?
"Kamunya diem terus sih daritadi, jadinya kan takut kesambet kunti di jalan."
"Aku nggak kesambet ya!! Kuntinya malah puter balik, minder kalau deket-deket cewek cantik kayak aku!"
Bisma tergelak kencang. "Terus ngapain ngelamun?"
"Lagi mikir ... ntar mau ngasih hadiah apa kalau Keyra jadi nikah dalam waktu dekat!" Padahal ini Maura hanya asal menjawab saja.
"Aaahh..." Bisma menganggukkan kepala berkali-kali seolah paham.
Tadi saat mengantar orang tua Bisma, sedikit banyak Maura menangkap pembicaraan mereka. Irawan dan Fawnia mempercepat rencana kepulangan ke Surabaya lantaran hendak melanjutkan perjalanan ke Singapura esok lusa. Bukan untuk liburan, melainkan hendak menjenguk calon besan mereka yang kesehatannya kembali menurun. Dan itu artinya, kemungkinan besar pernikahan salah satu adik kembar Bisma akan dipercepat.
"Eh, Mas Bisma nggak masalah kalau Keyra nikah duluan? kelangkahan gitu maksudnya?" Mendadak Maura tertarik berganti topik.
Senyum usil yang tadi bertengger di sudut bibir Bisma perlahan sirna. Sepertinya ia akan menjawab serius kali ini, semoga saja.
"Nggak masalah sih sebenernya, cuma ya ...."
Satu detik, dua detik ... Bisma tak kunjung melanjutkan kalimatnya. Jadi jangan salahkan Maura kalau akhirnya gemas juga.
"Waah, nggak ikhlas dilangkahin nih kayaknya," potong Maura mencairkan suasana.
"Diiih, Yaya... bukannya nggak ikhlas, Ya. Kadang ada rasa sedikit nggak rela ngelepas Keyra nikah. Bukan karena iri atau bahkan nggak merestui lho ya..." Bisma melirik sekilas ke arah Maura. "Tapi sampai kapan pun aku tetap anggap Keyra dan Kyla adik kecilku selamanya. Berat gitu kalau sadar mereka akan dimiliki pria lain."
"Woah... tumben bijak, biasanya juga judes kalau sama si kembar."
Bisma berdecak sekali. "Coba aja sesekali tanya ke Bang Tama, Giri atau Marcel. Saudara perempuan mereka cuma kamu satu-satunya, kalau suatu saat nikah, pasti mereka berat hati dan mendadak mellow juga. Papi Ervan apalagi, pasti nangis kejer tuh di atas pelaminan," serunya sambil terkekeh kecil.
Maura manyun, tapi tak menyanggah juga pendapat tersebut. Jadi satu-satunya putri di keluarga besar memang kadang merepotkan. Hal tersebut sudah terbukti setiap kali Maura dekat dengan lawan jenis. Pasti protokol keamanan berlapis diterapkan oleh ayah dan saudaranya yang lain. Bahkan tak jarang mantan-mantan Maura mengeluhkan sikap posesif keluarganya. Kecuali mantannya yang bernama Shakti tentu saja, karena pria itu bersahabat baik dengan Giri.
"Iya kan?" ulang Bisma karena Maura mendadak diam.
"Hmmm, iya juga sih kayaknya. Pasti Papi nanti mellow, Kak Tama, Bang Giri, Marcel, mungkin juga makin nyebelin."
"Naaah... itu bukan karena mereka nggak ikhlas lho, Ya. Tapi karena rasa sayang mereka yang begitu besar ke kamu."
"Ya lihat-lihat calonnya juga kali, kalau pasanganku nanti bener, meyakinkan dan lolos fit and proper test dari keluarga besar, pasti mereka nggak sedrama itu." Maura mengangguk-anggukkan kepalanya jumawa.
"Waah... kalau cari laki yang kayak gitu, calonnya cuma satu, Ya."
Maura langsung melirik sinis pria yang mengemudi di sampingnya. "Siapa?"
"Ya cuma aku laaaaah, siapa lagi!"
***