Tepukan pelan di bahu membuat Keira gelagapan. Ia cepat-cepat menghapus air mata yang membasahi pipinya dan menoleh ke belakang. Senyumnya langsung kaku saat matanya bertemu dengan sosok yang begitu familiar. "Liam?" bisiknya dengan nada setengah terkejut. Pria itu tersenyum, menampakkan lesung pipi. Rambutnya sedikit acak-acakan, tetapi wajahnya tetap menyimpan kesan ramah yang membuat orang mudah merasa nyaman. Liam, teman lamanya saat kuliah, berdiri di sana dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana jeans. "Keira? Serius, ini kamu?" tanya Liam sambil tertawa kecil. "Aku tadi nggak yakin, tapi ternyata benar." Keira mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan tertawa kecil. "Ya ... ini aku. Nggak nyangka ketemu kamu di sini." "Aku juga nggak nyangka. Eh, kenapa kamu di sini? Kamu

