15; Kerja Bakti

1657 Words
Pagi itu bola mata Romeo membesar saat melihat Emma sedang berjongkok di dekat sofa. Gadis itu sepertinya sedang mencari sesuatu. Romeo masih ingat saat dirinya membuka mata. Tidak ada jam dinding di kamarnya, tapi ia menyempatkan untuk melihat ponselnya, dan waktu menunjukkan sudah jam delapan pagi lewat beberapa menit. Lantas kenapa Emma masih berada di apartemen? Beberapa detik setelah dirinya hanya berdiam diri di depan pintu sambil memperhatikan Emma, gadis itu menolehkan kepala ke arahnya. “Kamu sudah bangun?” tanya Emma. Romeo mengangguk tepat saat Emma kembali sibuk melongokkan kepalanya ke sana ke mari untuk mencari sesuatu. “Apa kamu sedang mencari sesuatu?” Ia balik bertanya. “Ya, aku sedang mencari pengisi daya ponselku, tapi belum juga kutemukan. Padahal aku yakin kemarin pagi sebelum berangkat kerja aku menaruhnya di atas nakas kamarku, tapi saat kucari pagi ini tidak ada di sana.” Pengisi daya? Romeo membulatkan mata. Ia menoleh ke belakang. Melihat kabel berwarna putih sedikit menyembul dari selimutnya yang ada di atas kasur. Sepertinya saat selesai mengisi daya kemarin, ia lupa mengembalikan pengisi daya tersebut ke kamar Emma. Melihat Emma yang masih sibuk mencari-cari di kolong sofa, Romeo bergegas mengambil pengisi daya tersebut dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. “Biar aku bantu mencarinya,” kata Romeo. Matanya melirik ke arah pintu kamar Emma yang terbuka. Dengan langkah hati-hati Romeo berjalan ke arah pintu tersebut. Berjongkok di sana dan melemparkan pengisi daya milik Emma ke bawah tempat tidur. Romeo berdeham kemudian berjalan ke arah Emma dengan langkah santai. Gadis itu kini sedang berkacak pinggang sambil menggaruk tengkuknya. "Apa sudah kamu temukan?" tanya Romeo. Emma menggeleng. Keningnya berkerut dalam. "Apa jangan-jangan aku lupa sesuatu? Apa jangan-jangan aku kemarin membawanya ke tempat kerja?" Jemari kanannya menyentuh bibir. Menggaruk-garuknya halus. "Bagaimana di kamarmu? Apa sudah kamu cari di semua tempat? Mungkin terselip atau memang ada tempat yang belum sempat kamu cek." "Tidak mungkin! Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak menemukan apa pun di kamarku. Itulah kenapa aku pergi ke luar." Dan anehnya, meskipun Emma mengatakan demikian, ia malah berjalan ke arah kamarnya. Kembali memeriksa setiap sudut kamarnya. Mulai dari nakas, meja rias, meja yang dipenuhi foto, tapi tetap tidak menemukan apa pun di sana. "Ahh, sepertinya aku memang membawanya ke tempat kerja." Emma mendengkus halus.  "Bagaimana dengan tasmu? Lemarimu? Di dalam nakas? Atau di kolong tempat tidur." Emma menatap Romeo. Kembali menggeleng untuk ke sekian kalinya. "Untuk apa aku meletakkan pengisi daya di lemari atau dalam nakas? Aku pasti akan meletakkan barang seperti itu di tempat yang mudah dilihat dan dijangkau." Emma menurunkan tubuhnya. Tengkurap di lantai dan melongokkan kepalanya ke kolong tempat tidur, "di sini juga sudah, tapi tidak a—" Tangan Emma melesak masuk ke kolong tempat tidur dan menemukan apa yang dicarinya di sana. Bagian kepalanya tertutup selimut yang menjuntai ke bawah. "Padahal tadi aku sudah mencarinya dan tidak menemukan apa pun di sana. Kenapa sekarang tiba-tiba ada?" Emma menarik diri dan duduk sambil memperhatikan pengisi daya tersebut. Terheran-heran melihat kejadian yang dialaminya. Kamarnya memang sangat berantakan karena ulahnya. Bagian kasur yang sudah rapi menjadi berantakan lagi karena mengisi daya miliknya yang hilang. Itulah kenapa selimutnya sampai menjuntai ke bawah. Tapi demi Tuhan, Emma sudah mengecek kolong kasur sebelum membuat kasurnya berantakan. "Ini aneh sekali." Emma menggaruk tengkuk. Sementara itu Romeo terkekeh geli. Tidak tahu harus berkata apa karena ulah cerobohnya. "Sepertinya aku harus memeriksakan kesehatan mataku lain kali. Sepertinya mataku bermasalah. Mungkin sejak tadi memang ada di sana, hanya saja aku tidak melihatnya." "Ya, bisa jadi." Romeo menggaruk tengkuk. Jujur saja, Romeo sebenarnya merasa sangat tidak enak pada Emma. Emma jadi kesulitan karenanya, masih pagi sudah dibuat pusing karena pengisi daya yang hilang. Sudah menumpang, tapi masih merepotkan dengan meminjam secara diam-diam. Romeo sangat malu saat menyadari hal itu. Hebatnya lagi, Emma bahkan tidak curiga pada dirinya. Padahal Emma bisa bertanya padanya, atau langsung mencarinya di kamarnya, tapi tidak dilakukan. "Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku bisa membantumu sejak tadi kalau kamu mau." Dan karena penasaran, Romeo bertanya. Ingin tahu kenapa Emma tidak melakukan hal itu. Ini adalah apartemen Emma, Emma bisa melakukan apa pun sesuka hati, bahkan Emma juga bisa mencurigainya yang merupakan orang asing. "Kenapa aku harus membangunkanmu? Ini hanya masalah kecil yang bisa aku urus sendiri. Kalaupun hilang, aku hanya perlu membeli yang baru. Itu saja." Karena kebaikan itulah Romeo sempat berpikir bahwa selama dirinya tidak ketahuan, maka semuanya aman-aman saja. Romeo lupa bahwa dirinya sama saja sedang membohongi Emma. Gadis itu mempercayainya, tapi ia justru berbuat seenaknya. Namun, Romeo masih enggan untuk berkata jujur. Ia tidak bisa memberitahu Emma apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Ia juga tidak akan memberitahu Emma bahwa sebenarnya ia memiliki ponsel. Kalau Emma sampai tahu, gadis itu pasti akan curiga dan banyak bertanya. Tidak sekarang, tapi Romeo tahu bahwa suatu saat dirinya harus jujur. Ia harus pergi dari apartemen Emma, dan jika memang sempat, kalau Emma tidak perlu tahu, maka ia akan pergi tanpa meninggalkan kisah apa-apa. Tapi kalau keadaan tidak membaik dan memaksanya untuk tinggal bersama Emma lebih lama lagi, maka ia akan jujur pada Emma tentang keadaannya. Agar tidak hanya Emma yang terbuka, tapi dirinya juga. "Ahh, ya. Aku sampai lupa." Romeo menutup mata kemudian membukanya dengan kening sedikit berkerut, "aku sejak tadi ingin bertanya. Kenapa kamu masih berada di rumah padahal sudah sangat siang? Bukankah kamu harus bekerja?" Emma tidak langsung menjawab. Ia mengisi daya ponselnya terlebih dahulu kemudian keluar kamar. "Aku kerja, tapi tidak sekarang." "Lalu?" "Nanti sore. Hari ini aku mendapat shift malam." Keduanya berjalan ke arah meja makan. Atau lebih tepatnya Romeo mengikuti langkah Emma yang berjalan ke sana. Ikut duduk saat Emma juga duduk. Gadis itu mendorong piring berisi sandwich untuk Romeo. "Jam berapa kamu akan pulang?" tanya Romeo. Belum memulai makannya, sedangkan Emma sudah mulai mengunyah. "Shift-ku akan selesai jam sebelas malam, tapi baru selesai sepenuhnya jam dua belas. Karena aku harus beres-beres, menutup toko, dan semacamnya." "Bu-bukankah itu terlalu berbahaya?" tanya Romeo sedikit gagap. Emma bertanya, "Apa yang berbahaya." "Kamu. Tidak baik perempuan pulang selarut itu. Dunia luar itu kejam. Kalau nanti ada orang jahat bagaimana? Atau memang kekasihmu akan menjemput setiap kali kamu shift malam?" "Tidak!" Emma tertawa, "dia tidak akan menjemputku. Tapi sebenarnya aku sudah terlalu biasa. Terkadang, salah satu temanku yang juga shift malam akan mengantarku kalau sempat. Tapi tidak jarang juga aku akan pulang sendirian." Romeo berhasil dibuat bergidik ngeri. Ia yang selalu dijaga oleh penjaga sana-sini mana pernah pergi sendiri, atau setidaknya keluar di waktu selarut itu. Ibunya akan marah dan ia akan diceramahi tentang apa yang dikatakan tadi. Tentang dunia luar yang kata ibunya sangat kejam. Emma itu perempuan. Cantik pula. Romeo hanya tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Pasti sangat mengerikan jika apa yang terjadi di film-film muncul di dunia nyata. Para psikopat, penculik, penjual organ tubuh ilegal, dan penjahat lainnya. Mungkin berlebihan kalau Romeo sampai berpikiran ke sana, tapi setidaknya yang namanya orang jahat itu 'kan ada di mana saja. Dan, ya, tentu saja. Siapa pun tahu bahwa manusia adalah monster paling mengerikan dan berbahaya dari monster mana pun yang ada di dunia fiksi. "Kemarin-kemarin kamu selalu shift pagi, kenapa sekarang tidak shift pagi lagi?" Sandwich yang dimakan Emma sisa setengah. Romeo hanya menatapnya sejak tadi.  "Ahh, itu. Minggu lalu aku memang sengaja bertukar shift dengan salah satu temanku. Bagaimanapun ada kamu di rumahku, aku hanya sedikit khawatir melihat kondisimu. Kalau terjadi sesuatu padamu di siang hari, kamu mungkin bisa lebih mudah mendapatkan bantuan. Tapi lain cerita jika kejadiannya malam hari, dan tidak ada aku di rumah. Jadi aku ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja seminggu belakangan. Dan sepertinya itu bekerja. Maka hari ini dan beberapa hari ke depan aku akan menggantikan shift temanku dengan masuk malam." Bukankah sudah Romeo bilang bahwa Emma terlalu baik? Ia bahkan bertanya-tanya, tidakkah Emma menganggap bahwa dirinya adalah orang asing? "Dan kenapa kamu tidak memakan sarapanmu?" Emma bertanya saat melihat Romeo yang terus memperhatikannya. Romeo mengerjap, segera menarik piringnya mendekat dan mulai menyantap sarapannya. Mengagumi Emma rasanya akan menjadi rutinitasnya belakangan. Gadis itu terlalu luar biasa. Atau karena memang Romeo jarang sekali dekat dengan lawan jenis selama hidupnya, sehingga ia tidak terlalu mengenal bagaimana sifat perempuan kebanyakan. Tapi, ahh … entahlah. Romeo hanya merasa bahwa Emma berbeda. Meski ada banyak perempuan yang lebih baik, rasanya Emma sudah terlalu banyak mengambil ruang di hidupnya sehingga hanya gadis itu yang menurutnya paling mengagumkan.  "Karena hari ini aku shift malam, aku berencana untuk membersihkan rumah. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku membersihkannya secara keseluruhan. Sepertinya debu sudah mencapai lima centi, dan aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi sampai nanti tertimbun debu." Romeo terkekeh. Berlebihan sekali. Padahal setiap hari ia selalu melihat Emma menyapu. "Aku akan mulai dengan menyapu, menyedot debu di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sapu, mengepel, membersihkan kaca, menata ulang ruangan, mengganti seprai kamarku dan kamarmu. Mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Kamu bisa pergi ke lobi terlebih dahulu sampai semuanya selesai." "Hah? Bagaimana?" Romeo mengerutkan dahi mendengar kalimat terakhir dari Emma.  Gadis itu mengangguk dengan mulut penuh. Terdiam beberapa saat sampai menelan makanan di mulutnya. "Tidak akan menyenangkan melihatku bersih-bersih. Kamu akan bosan. Jadi sebaiknya kamu menunggu di lobi," sahutnya kemudian. "Kenapa tidak memintaku untuk membantu?" Emma tertawa. Menutup mulut saat sadar bahwa bisa saja ada makanan yang masih tersisa dan bisa tersembur dari mulutnya. "Mana mungkin aku meminta tamu melakukan hal itu?" "Ya, bagaimanapun aku menumpang di sini. Biarkan aku membantu agar aku bisa sedikit membalas budi. Tidak perlu menyuruhku pergi." Tidak mungkin Emma tidak tersenyum mendengar rengekan Romeo yang nyaris terdengar seperti sedang memohon. Ia akhirnya memilih mengangguk. Memasukkan Romeo ke dalam daftar kegiatannya. Tentu saja. Itulah bagaimana dimulainya hari heboh mereka. Romeo memang membantu, tapi tidak jarang hanya diam karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Memakan waktu berjam-jam sampai semuanya selesai. Beberapa barang di ruang tamu dan kamar Emma ditata ulang sesuai keinginan Emma. Romeo hanya membantu memindahkan. Emma yang menjadi mandornya, sedangkan Romeo menggeser barang ke sana ke sini sampai pinggangnya nyaris lepas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD