Suasana di taman rupanya tidak seburuk yang Romeo bayangkan. Mungkin karena sebelumnya Romeo berada di atap gedung, sehingga angin yang bertiup jauh lebih terasa. Tapi di taman, memang dingin, tapi tidak sedingin udara di atap apartemen.
Emma berjalan di depannya dengan langkah pelan. Menguntungkan Romeo yang memang tidak bisa berjalan cepat. Tidak ada satu pun orang di sana. Hanya ada mereka berdua yang berjalan di atas rerumputan yang sedikit basah. Di dekat ayunan yang ada di tengah taman, Emma menghentikan langkah dan memilih untuk menaiki ayunan tersebut. Ada dua ayunan di sana, dan Emma meminta Romeo untuk duduk di ayunan lainnya. Yang dituruti Romeo tanpa banyak protes.
Sebenarnya itu adalah ayunan yang disediakan untuk anak-anak, tapi masih bisa dipakai oleh mereka berdua. Dan tentu tidak akan roboh dengan mudahnya hanya karena tubuh mereka yang jauh lebih besar dari anak-anak.
Sebelumnya belum pernah Romeo menghabiskan malam di luar rumah seperti sekarang. Dulu ia sering makan malam bersama ibunya, dan hanya sebatas itu. Meski rumahnya memiliki area taman yang cukup luas, Romeo tidak pernah berpikiran untuk menghabiskan malam berkeliling taman. Baru sekarang Romeo mengerti bahwa ternyata menyenangkan juga menikmati malam di luar.
Emma yang sedang menggerakan ayunannya dengan lembut, menoleh ke arah Romeo. Menatap Romeo yang sedang menatap lurus ke arah langit.
“Kamu tahu kenapa waktu itu aku mau membantu kamu dan mau memberi kamu tumpangan?”
Seketika tatapan Romeo teralihkan. Iris coklat gelap itu menembus netranya. Romeo mengerjap lantas bertanya, “Kenapa?” Pada Emma.
“Aku pernah bercerita kepada kamu kalau aku itu dulunya hanya tinggal di kontrakan kecil. Dan itu bukan hanya kontrakan kecil saja. Ada bocor di mana-mana saat turun hujan, dindingnya rapuh, dan pintunya bahkan tidak memiliki kunci. Hanya ada satu kamar di sana. Kamar itu dipakai olehku, sedangkan ayahku tidur di dekat pintu. Memberi penjagaan padaku secara tidak langsung.”
Romeo melihat Emma tersenyum, tapi bukan senyum yang biasa ia dapati di bibir tipis itu, melainkan senyum sedih yang terukir nyata di sana. Sebuah senyum penutup luka.
“Kami hidup serba kekurangan. Tidak jarang juga kami makan hanya satu kali dalam sehari. Pernah satu kali kami sudah tidak memiliki beras untuk dimasak lagi. Ayahku pergi ke warung untuk berhutang, tapi pemilik warung menolak. Kami tidak makan hari itu.”
“Lalu apa hubungannya dengan kamu yang menerimaku menumpang di apartemenmu?”
"Waktu itu aku hanya bisa minum air putih untuk menahan rasa lapar. Kami banyak bercerita untuk melupakan rasa lapar tersebut. Ayahku berkata kalau aku tidak boleh membiarkan ada orang lain yang mengalami nasib yang sama seperti kami. Jika aku melihat orang seperti itu di dekatku, maka aku harus membantunya.”
Itu mungkin nasihat paling dalam yang pernah diterima oleh Emma. Dalam hidupnya ia tidak diajarkan untuk membenci. Ada banyak orang yang menolaknya mentah-mentah. Meski tahu bahwa dirinya sangat kesusahan, mereka tidak pernah membantu.
Itulah sudut dunia yang lain yang tidak terjamah oleh orang-orang baik. Emma selalu percaya bahwa ada banyak orang berhati mulia di dunia ini, tapi kebetulan dirinya tumbuh di lingkungan orang-orang yang tidak pernah memperdulikan penderitaan orang lain.
Ayahnya mengajarkan bahwa setelah banyaknya penderitaan yang dilaluinya, ia harus sadar bahwa itu sangatlah menyakitkan. Meski demikian bukan berarti hati kita boleh mengeras karena hal itu. Tidak sedikit orang mengalami hal yang sama dengannya. Karena itulah penderitaan yang dialaminya harus menjadi pembelajaran, harus menjadi dorongan agar membuatnya menjadi orang yang bisa melihat penderitaan orang lain dan tidak menutup mata.
Ada banyak orang yang pura-pura buta, ada banyak orang yang pura-pura tuli, tapi Emma diberitahu bahwa dirinya tidak boleh menjadi salah satu dari golongan tersebut. Membantu orang lain itu tidak akan merugikan, justru akan membuat hati kita lebih lapang. Setidaknya dari berbagi kita diajarkan untuk tidak serakah atas apa yang kita miliki di dunia. Karena semuanya hanya bersifat sementara.
“Saat melihatmu tidak jadi membeli air mineral, aku sadar bahwa waktu itu kamu tidak memiliki uang. Kebetulan waktu itu aku yang menyadari hal itu.” Senyuman Emma kini berubah menjadi senyuman tulus, “terima kasih karena sudah datang kepadaku hari itu, terima kasih karena sudah membuatku melihatmu, terima kasih juga karena sudah membantu mengingatkanku pada nasihat ayahku.”
Romeo kebingungan. Seharusnya dirinyalah yang berterima kasih atas bantuan yang diberikan Emma, tapi kenapa yang terjadi justru sebaliknya? Ia yang ditolong, tapi justru Emma yang merasa tertolong.
“Jujur saja sejak hidup di apartemen, dan menjalani kehidupan yang bisa dibilang cukup mewah, aku jarang sekali menemui pengamen kecil, atau tunawisma yang dulu sering aku temui saat berjalan pulang menuju rumah lamaku. Mungkin bukan karena mereka sepenuhnya tidak ada, tapi aku yang perlahan mulai buta karena sudah lupa cara berhemat.” Emma tertawa. Mengingat bagaimana kehidupannya berubah total setelah dirinya bertemu dengan kekasihnya.
“Dulu aku selalu memberi perincian pada keuanganku setiap bulan. Sepuluh persen dari gajiku akan aku berikan kepada tunawisma, pengamen jalanan, atau para paruh baya yang masih berjualan sambil terseok-seok. Tidak banyak, tapi aku rutin melakukan hal itu. Setelah memiliki seseorang yang memperhatikanku, aku sedikit lupa dengan mereka karena terlalu sibuk menjalani kehidupan baruku.”
Ahh, Romeo paham. Jadi itulah yang menjadi alasan kenapa Emma berterima kasih padanya. Karena ia secara tidak langsung membuat Emma mengingat kembali nasihat ayahnya, dan mengembalikan Emma pada jati diri lamanya. Yang tidak pernah mengabaikan orang lain yang lebih susah darinya.
Sejak pertama kali bertemu, Romeo tahu bahwa Emma adalah gadis yang luar biasa. Terpancar kebaikan hanya dengan satu kali melihatnya. Pramuniaga yang lain memang kerap memberikan senyuman serupa, hal itu merupakan keharusan yang mereka lakukan saat menerima pelanggan. Emma berbeda. Senyumnya seolah mengatakan, apa ada yang bisa saya bantu? Bukan karena gadis itu seorang pramuniaga, tapi karena ketulusannya saat sedang bekerja.
Lalu, baru saja Romeo diberitahu bahwa apa yang dilihatnya kemarin tidaklah cukup. Nyatanya Emma jauh lebih luar biasa dari apa yang pernah dibayangkannya.
Romeo berkata, “Aku selalu penasaran. Kamu mengatakan bahwa ibumu meninggal saat kamu masih kecil, dan ayahmu menyusul setelah kelulusan SMA. Jika Hidupmu memang sesulit itu, bagaimana kamu bisa bersekolah dengan lancar?” Diselingi pertanyaan di akhir kalimatnya.
“Emm, mungkin karena aku beruntung.”
“Beruntung dalam hal apa?”
Emma berdiri. Melangkah ke kanan dan berhenti tepat di depan Romeo. Menutup sorot lampu taman yang berada tak jauh dari posisinya. Di tengah gelapnya malam, pendar lampu taman bersinar di sekeliling tubuh Emma.
“Aku mungkin tidak seberuntung orang lain di luar sana yang hidup berkecukupan, atau bergelimang harta, tapi baiknya aku diberkahi kecerdasan. Sejak sekolah dasar aku tidak pernah membayar uang sekolah, mereka menyebutnya sebagai beasiswa. Aku sangat mensyukuri berkah itu.”
Gadis itu bersinar di depan Romeo. Dan perkataannya barusan membuat Romeo sadar bahwa Emma adalah salah satu perempuan hebat yang berhasil mensyukuri apa yang dimilikinya di tengah segala kekurangan yang memeluknya.
Bersyukur itu bukanlah hal yang mudah, terlebih lagi jika terlalu banyak cobaan yang menggelayuti dirimu. Meski ada satu kelebihan penting dalam dirimu, kelebihan itu terkadang tenggelam oleh banyaknya cobaan yang kamu terima. Tapi sampai hari ini Emma berhasil membuktikan, bahwa seberapa sulit pun cobaan yang dikirimkan Tuhan, sebanyak apa pun beban yang nyaris merobohkan pundakmu, selalu ada kelebihan dalam dirimu yang membuatmu harus menampung semua beban itu.
“Dan buat kamu. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi sekarang. Dan tidak akan memaksamu untuk bercerita jika memang belum siap. Kamu mungkin sedang bersembunyi sekarang, kamu mungkin sedang kesulitan sekarang, tapi aku yakin kamu cukup tangguh untuk menerima semuanya. Kalau sudah siap, jangan lupa hadapi, ya!”
Romeo tidak menjawab, dan sepertinya Emma pun tidak menuntut jawaban dari Romeo. Apa yang dikatakannya semata-mata untuk membuat Romeo ingat mengenai permasalahannya. Tidak perlu dihadapi sekarang, setidaknya Emma hanya mengingatkan bahwa apa yang Romeo kubur, nantinya akan tetap muncul ke permukaan. Meminta diselesaikan.
“Kita harus masuk. Udaranya sudah mulai dingin. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu yang membuatmu harus kembali masuk ke rumah sakit padahal tagihan yang kemarin saja sepertinya belum dibayar.” Emma terkekeh geli. Lupa bahwa dirinya lah yang menyeret Romeo untuk pergi ke taman. Ia mengulurkan tangan. Romeo ragu-ragu menyambutnya dan segera mengikuti langkah pelan Emma.
“Jangan terlalu serius dengan ucapanku. Kita mungkin hanya dua orang asing yang dipertemukan secara tidak sengaja, tapi aku percaya kalau itu takdir. Lagi pula, aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Jika kamu memang tidak ingin bercerita, kamu bisa meminjam bahuku saat benar-benar lelah dengan situasinya.”
Sejak tadi hanya Emma lah yang mendominasi pembicaraan. Tidak terlalu lama duduk di ayunan yang berada di taman, tapi Emma sudah bercerita cukup banyak. Jujur saja Romeo menikmatinya.
“Kamu harus langsung tidur setelah ini. Besok aku akan membeli lebih banyak sayur-sayuran agar pemulihanmu bisa lebih cepat.”
Ahh, gadis itu berbicara lagi.
Baru satu minggu Romeo hidup bersama Emma, baru satu minggu Romeo mengenal Emma. Tidak banyak yang ia ketahui tentang gadis itu, ia pun tidak pernah bercerita apa-apa mengenai dirinya sendiri. Jelas masih terlalu cepat, tapi Romeo tidak ingin bungkam. Setelah mendengar kisah Emma, dan bagaimana gadis itu berusaha berjuang untuk tetap hidup, bagaimana ia tidak jatuh cinta dengan segala tentang Emma yang begitu menyilaukan?