13; Langit Kosong

1665 Words
Malam itu malam minggu. Malamnya para pasangan. Biasanya mereka menggunakan malam Minggu untuk bertemu. Entah untuk sekadar ngobrol-ngobrol, atau memilih berkencan. Tapi ada juga yang berkumpul bersama teman-temannya karena menjadi di hari libur mereka. Rasanya sangat wajar saat Romeo melihat Emma jauh lebih rapi, daripada malam-malam sebelumnya. Sudah hampir satu minggu Romeo menumpang di apartemen Emma. Malam ini gadis itu terlihat berbeda. Wajahnya dipoles make up tipis. Pakaiannya terlihat jauh lebih feminin, daripada pakaian yang biasa dipakai. Selepas makan malam, Romeo dan Emma duduk di sofa sambil menonton televisi. Seperti biasa, keduanya hanya menonton film kartun. Romeo memberanikan diri untuk bertanya, “Apa malam ini kamu berencana pergi dengan kekasihmu?” Masih dengan tatapan yang fokus ke televisi. Emma memang tidak menjawab , tapi anggukan kepalanya mengartikan bahwa jawabannya adalah ‘ya’. Sekarang Romeo tidak tahu harus berbuat bagaimana. Ia tidak tahu apakah Emma akan pergi keluar bersama kekasihnya, atau mereka justru kerap berdiam diri dan bermesraan di apartemen untuk menghabiskan malam Minggu mereka. Sebagai orang yang hanya menumpang, Romeo tahu bahwa dirinya akan mengganggu, tapi ia juga tidak tahu harus pergi ke mana selama kekasih Emma mungkin memilih untuk menghabiskan waktu di apartemen. Di lobi akan terasa sangat membosankan. Apalagi ia tidak tahu seberapa lama kekasih Emma akan berada di apartemen. Kalau sampai pagi, itu artinya ia membutuhkan tempat yang bisa membuatnya terlelap. “Apa aku harus pergi ke luar selama kalian bersama?” Romeo bertanya. Berharap Emma akan mengatakan bahwa dirinya bersama kekasihnya akan menghabiskan waktu di luar. “Sebenarnya aku juga tidak tahu kami akan menghabiskan waktu di dalam apartemen atau pergi ke luar. Biasanya kami hanya mengobrol di apartemen, dia akan menginap, dan itu artinya sampai pagi dia berada di sini. Tapi tidak jarang kami juga pergi ke luar. Kamu bisa tetap di sini, karena aku tidak memiliki saran tempat yang bisa kamu datangi.” Kamu bisa tetap di sini. Serius? Kalau memang Romeo melakukan hal itu, maka ia akan mengalami malam paling buruk dalam hidupnya. Berada di antara dua orang yang berpacaran bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ia  sudah sering mengalaminya sejak masa SMA sampai kuliah. Malam paling buruk itu akan menjadi yang terburuk jika Emma dan kekasihnya melakukan sesuatu yang lebih dari apa yang semestinya dilakukan orang berpacaran. Ia sering melihat orang berpacaran hanya akan bermesraan, saling menyuapi atau bercengkrama dengan mesranya. Tapi sepertinya hubungan Emma dan kekasihnya sudah lebih jauh dari itu. Bukan tidak mungkin jika kekasih Emma sering menginap, itu artinya mereka sering pula melakukan hal ‘itu’. “Aku akan menunggu di lobi. Kalaupun kalian memang akan menginap, di sana ada sofa yang bisa aku pakai untuk tidur.” Romeo menahan rasa malas saat mengucapkan hal itu. Tidur di sofa tidaklah nyaman. Emma tertawa. “Tidak perlu sampai segitunya. Kamu tenang saja, kami tidak akan berisik, kami juga tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman.” Eh? Apa Emma tahu apa yang ada dipikirannya? Romeo ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa dirinya tetap akan pergi dan menunggu di lobi saja. Karena meskipun mereka tidak akan melakukan hal itu, tetap saja rasanya tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka. Tapi mulut Romeo yang awalnya sudah terbuka kembali tertutup saat mendengar suara dering ponsel milik Emma yang tergeletak di antara tubuhnya dan Emma yang duduk bersisian. Emma mengambil ponselnya dan segera menempelkan ponsel tersebut ke telinga. Romeo hanya mendengar Emma yang menyahut beberapa kali. Seperti iya, tidak masalah, aku sama sekali ke tidak keberatan, sampai jumpa juga, dan yang terakhir adalah hati-hati. Setelah ponsel kembali diletakkan di sofa, Emma menatapnya. Memiringkan kepala kemudian tersenyum seolah sedang menahan tawa. “Ada apa?” tanya Romeo. Emma mengembuskan napas sambil mengendikkan bahu. “Sepertinya kamu tidak perlu turun ke lobi. Bukankah tidur di sana tidak nyaman?” “Ya, lalu?” “Kamu bisa tetap tidur di sini.” “Dan bagaimana dengan kekasihmu?” Emma kembali menatap televisi menyala yang sempat diabaikan. Ia lagi-lagi mengendikkan bahu. “Dia tidak jadi datang. Sebenarnya kami sudah janjian tadi siang, katanya dia akan datang malam ini. Tapi ternyata tiba-tiba dia harus pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis. Aku tidak tahu kenapa harus tiba-tiba, tapi tentu saja aku tidak bisa mencegahnya juga,” ujarnya terdengar biasa-biasa saja. Seolah hal itu adalah sesuatu yang biasa terjadi. Romeo pun tidak tahu apakah dirinya harus senang atau justru ikut prihatin melihat situasinya. Di satu sisi ia senang karena dirinya tidak jadi tidur di sofa yang ada di lobi, tapi di sisi lain dia juga menyayangkan penampilan Emma yang sudah terlanjur api, tapi gadis itu justru tidak bisa bertemu dengan kekasihnya. “Mungkin dia akan datang saat kembali,” kata Romeo mencoba menghibur Emma yang meskipun tidak memperlihatkannya tapi ia yakin bahwa gadis itu sedikit kecewa. “Katanya perjalanan bisnisnya kali ini cukup lama. Kami tidak akan bertemu satu bulan lamanya.” Mulut Romeo terkatup rapat. Gagal sudah usahanya untuk mencoba menghibur Emma. Pada dasarnya ia memang tidak tahu bagaimana caranya menghibur. Ia tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun dan tidak pernah mendengarkan cerita orang lain mengenai masalah percintaannya. Romeo memaklumi jika upayanya untuk menghibur Emma tidak membuahkan hasil apa-apa. “Bukankah film kartun ini jadi membosankan?” Romeo menatap Emma. Ya, awalnya jelas menyenangkan. Tapi karena cerita Emma yang mengatakan bahwa kekasihnya tidak jadi datang membuat suasananya seketika berubah menjadi suram. Itulah penyebab kenapa film kartun yang Bahkan baru ditonton oleh mereka berdua kini terasa membosankan. “Apa kita harus mencari film lain?” saran Romeo. Lagi-lagi gagal saat Emma menjawab, “Sepertinya film apa pun akan terasa membosankan malam ini.” Saran Romeo ditolak mentah-mentah oleh Emma. Kehabisan akal, Romeo akhirnya memutar otak terlebih dahulu. Keheningan itu membisukan keduanya cukup lama. Mencekik Romeo lebih parah. Di sampingnya ada seorang perempuan, tapi Romeo tidak tahu apa yang harus dikatakan ia untuk memperpanjang obrolan. “Bagaimana kalau—” “Ahh, bagaimana kalau kita berdua pergi ke atap?” potong Emma. Sepertinya itu bukan saran yang bagus, tapi Emma sudah berdiri dengan semangatnya. Romeo mendongak menatap tubuh yang menjulang di depannya. Padahal ia ingin menyarankan agar Emma beristirahat saja. Hari sudah malam, sepertinya bukan rencana yang bagus memilih menghabiskan waktu di atap gedung. Tapi sumpah demi apa pun Romeo tidak tahu bagaimana Harus menolak ajakan Emma yang sekarang ia ketahui sedang kecewa karena tidak jadi bertemu dengan kekasihnya. “Y-ya, sepertinya itu saran yang bagus.” Tapi mulut Romeo justru mengatakan hal yang sebaliknya dari apa yang ia rasakan. Ia tidak bisa menghibur Emma dengan perkataannya, dan nampaknya Emma akan senang jika ia mau menemaninya. Jadilah keduanya pergi ke atap apartemen. Itu adalah kedua kalinya mereka pergi ke sana. Seperti yang Romeo duga, cuaca sedang tidak cukup bagus malam itu. Angin bertiup lembut menyusuri setiap lekuk tubuhnya. Sudah pasti memberikan sensasi dingin yang tidak menyenangkan. Sekarang Romeo ingin mengakui bahwa tidur di sofa yang ada di lobi mungkin lebih baik dari apa yang dilakukannya sekarang. Emma dengan tenangnya duduk di tepi gedung. Mengajak Romeo untuk duduk di sampingnya dengan menepuk lantai beton tersebut. Romeo tidak ada pilihan lain selain menurutinya. Pemandangan malam memang sedang tidak baik. Tidak ada rembulan, tidak ada pula bintang-bintang yang bertebaran. Yang ada hanya langit kelabu dengan gumpalan gumpalan awan menghitam. Poin plus-nya, saat menatap ke bawah, mereka menemukan lampu-lampu yang menyala. Berasal dari bangunan-bangunan lain yang ada di sana. Pemandangan itu menggantikan kelabunya langit malam di atas sana. “Bukankah di sini menyenangkan?” tanya Emma menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung. Romeo hanya mengangguk, padahal posisi Emma yang sedang menatap ke bawah tidak mungkin melihat reaksinya itu. “Aku tidak jadi bertemu dengan kekasihku, tapi untungnya aku memiliki kamu yang sudah tinggal bersama denganku sejak beberapa hari lalu. Karenanya aku jadi tidak merasa terlalu kesepian. Kekasihku mungkin tidak datang, tapi ada kamu bersamaku.” Sepertinya Emma tidak sadar bahwa perkataannya bisa saja membuat orang lain salah paham. Emma mengatakannya dengan entengnya, tapi berhasil membuat Romeo mengalihkan pandangan dari Emma karena tidak tahu harus menjawab apa. “Sebenarnya ini bukan pertama kalinya dia membatalkan janji. Dia orang sibuk. Memiliki jabatan tinggi di kantornya. Jadi sudah pasti waktunya bersamaku jadi kerap tercuri karena urusan kantor.” Untunglah Emma tidak menghentikan bicaranya. Sehingga Romeo yang awalnya tidak tahu harus menjawab apa, kini fokus mendengarkan cerita dari Emma. Tatapan Emma yang sedang tertuju pada gedung-gedung di depannya kini beralih ke bagian bawah gedung apartemen. Entah kenapa Romeo merasa bahwa gadis itu akan memberikan saran yang menyebalkan lagi. Dan itu terbukti. “Mungkin menyenangkan kalau kita pergi ke taman.” Ada tiga gedung apartemen yang berada di wilayah tersebut. Apartemen yang ditinggali oleh Emma merupakan gedung kedua. Ada dua gedung lainnya di sisi kanan dan kiri dengan jarak yang tidak sejajar. Di antara tiga gedung tersebut, ada taman yang cukup luas. Biasanya digunakan oleh penghuni apartemen untuk bersantai, atau mengajak anak mereka bermain di sana. Perlu diketahui bahwa taman tersebut berada di bagian depan gedung. Yang artinya jika ingin ke sana Romeo dan Emma harus turun ke lantai terbawah. Tidak masalah karena ada lift yang bisa mereka gunakan. Yang menjadi masalahnya adalah saat pergi ke taman tersebut. Romeo tidak ingin kelelahan,  dan cuaca juga memang sedang tidak bersahabat. Untuk itulah Romeo memberanikan diri untuk bertanya. “Kenapa kita harus pergi ke sana? Bukankah tadi katamu menyenangkan berada di sini?” “Ya, awalnya begitu. Tapi sepertinya jauh lebih menyenangkan jika kita bercerita sambil berjalan santai.” Demi Tuhan, Romeo sedang tidak ingin bercerita sama sekali, apalagi ditambah dengan gerakan lainnya seperti berjalan santai mengelilingi taman. “Kenapa kita tidak kembali ke kamar saja? Rasanya jauh lebih menyenangkan jika kita menonton film kartun.” Emma menatap Romeo memelas. “Ayolah! Kamu juga tidak pernah pergi ke taman. Sekarang sudah malam, kamu tidak perlu menghawatirkan perawat yang akan mencarimu. Setidaknya kita bisa tenang mengenai hal itu.” Sayangnya bukan itu yang Romeo khawatirkan, dan sayangnya ia tidak sampai hati untuk menolak keinginan Emma. Perempuan yang habis dikecewakan memang sedikit menyebalkan. Meski begitu Romeo memilih berdiri dan berjalan lebih dulu menuju pintu. Disambut seruan semangat dari Emma yang menyusul di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD