“Jadi sebenarnya kenapa kamu kabur dari rumah sakit? Aku tidak pernah mengetahui hal itu. Atau lebih tepatnya kamu tidak pernah menceritakan yang sebenarnya kepadaku.”
Emma bertanya saat dirinya dan Romeo sedang makan siang bersama di apartemen. Kejadian yang tadi dialaminya bersama Romeo di mall sangat mengejutkan dan membuatnya penasaran. Ia tidak melihat perawat yang kata Romeo sedang mengejar Romeo sampai ke dalam mall, tapi wajah cemas Romeo sudah menjawab bahwa Romeo memang sedang dikejar.
Tidak ada jawaban. Emma mengambilkan potongan ayam goreng tepung untuk Romeo. “Aku sama sekali tidak pernah mencurigaimu. Sejak pertama kali melihatmu di luar minimarket tempatku bekerja, aku tahu bahwa kamu bukan orang jahat yang harus aku waspadai. Setidaknya beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku tidak bisa memberitahumu,” sahut Romeo.
Emma duduk di kursinya. Saat mengangkat wajah untuk menatap Romeo, rupanya Romeo juga sedang menatapnya. Masih dengan tatapan sepolos biasanya. Itu adalah tatapan yang Emma dapati saat pertama kali bertemu dengan Romeo. Polos, tidak tahu apa-apa, tapi terlihat sangat memukau di waktu bersamaan. Untuknya, Romeo hanya terlihat seperti laki-laki polos. Ada sisi dalam dirinya yang pembuat Romeo terlihat misterius, tapi di saat bersamaan juga tidak terlihat mengerikan. Mungkin sisi misterius Romeo muncul karena selama ini Romeo tidak terlalu banyak berbicara.
Romeo lebih sering menanggapi, daripada memulai pembicaraan. Romeo lebih sering mengamati, daripada menceritakan kisah tentangnya sendiri. Dan daripada berbicara terlalu banyak, Romeo lebih sering memilih diam. Ada banyak kisah di novel-novel yang mengatakan bahwa seseorang seperti Romeo selalu terlihat menarik. Begitu pun dengan Romeo yang sekarang Emma kenal.
Emma tidak tahu apa yang yang sedang Romeo alami sampai memilih kabur dari rumah sakit. Tapi sekali lihat saja ia tahu bahwa Romeo bukan orang sembarangan. Wajahnya terlihat seperti anak dari seseorang yang menikah beda negara. Orang-orang menyebutnya blasteran. Entah apa Romeo memiliki keturunan luar negeri atau tidak, tapi wajahnya terlalu tampan di mata Emma. Bukan berarti Emma menyukainya, ia hanya menjelaskan apa yang dilihat oleh matanya saja. Yang pada intinya membuatnya bertanya-tanya tentang satu hal, tentang siapa sebenarnya sosok Romeo?
“Lalu bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Emma lagi. Dan sepertinya itu merupakan pertanyaan yang sangat rentan untuk Romeo. Terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba berubah sendu.
“Aku juga tidak ingin membahas hal itu. Maaf kalau aku tidak bisa terlalu terbuka kepadamu. Aku hanya tidak ingin menceritakan apa-apa.” Romeo berbicara dengan wajah tertunduk.
Emma berkata bahwa itu tidak masalah. Lagi pula ia sepertinya tahu bahwa Romeo pastilah berasal dari keluarga kaya raya dengan segala permasalahannya. Wajah Romeo yang memberitahu hal itu.
Tentu saja, semuanya terlihat sangat jelas sejak pertama kali melihat Romeo. Wajah Romeo terlalu tidak biasa untuk berasal dari kalangan biasa saja. Kulitnya terlihat sangat mulus dan sepertinya dirawat dengan sangat baik. Dan yang lebih penting lagi, satu-satunya barang bawaan Romeo yang membuat Emma tercengang adalah sandal yang dipakai Romeo saat pertama kali datang, dan menjadi barang yang masih dimiliki Romeo sampai sekarang. Itu memang hanya sandal, tapi saking penasarannya Emma bahkan sampai mencari tahu berapa harga sandal yang dicucinya keesokan hari setelah ia membawa Romeo tinggal di apartemennya. Harganya sangat fantastis. Dan kalau Romeo memang bukan berasal dari kalangan atas, bagaimana laki-laki itu bisa mendapatkan sandal jepit yang harganya sangat mahal?
Tidak, tentu saja tidak hanya itu. Emma ingat saat dirinya meminta Romeo untuk memakai pakaian dari kekasihnya, esok paginya ia menemukan seragam rumah sakit yang dikenakan Romeo di tempat sampah. Ada gelang berwarna biru yang biasanya dipakaikan pada pasien. Di sana terdapat beberapa informasi tentang pasien.
Romeo Aldrin Ontario. Itulah nama lengkap Romeo. Dan, wow! Bukankah nama tersebut terlalu fantastis untuk orang biasa? Bahkan hanya membacanya saja Emma merasa asing waktu itu. Selain nama ada juga tanggal lahir Romeo dan nomor rekam medis yang menjadi informasi penting di gelang identitas tersebut. Dan yang paling penting adalah informasi mengenai nama rumah sakit yang berada di bagian teratas. Rumah sakit tersebut berada tidak terlalu jauh dari lokasi minimarket tempatnya bekerja, mungkin hanya sekitar beberapa kilometer saja, dan Emma sangat tahu bahwa Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit mewah. Sekali lagi, jika memang Romeo berasal dari kalangan biasa, rasanya agak mustahil jika Romeo dirawat di rumah sakit tersebut.
Permasalahan orang kaya itu memang selalu jauh lebih rumit dari permasalahan orang biasa. Emma tidak akan bertanya apa yang sedang dialami Romeo karena ia pun tidak yakin bisa memahaminya. Yang jelas, kalau sampai Romeo harus kabur dari rumah sakit meski tahu kondisinya sangat tidak memungkinkan, pasti ada sesuatu yang cukup serius, dan Emma tidak ingin membayangkan apa itu.
Memilih mengabaikan hal itu, satu hal terlintas di kepala Emma. “Lalu bagaimana dengan kekasihmu?” Ya, pertanyaan itu terlontar begitu saja.
Romeo yang sedang mengunyah makanannya sampai terbatuk, mungkin karena terlalu terkejut mendengar Emma menanyakan hal pribadi seperti itu. Emma mendorong gelas berisi air putih miliknya ke arah Romeo, padahal tepat di samping piring Romeo terdapat di gelas milik Romeo sendiri. Dan Romeo, seolah gelas miliknya tidak terlihat, ia malah mengambil gelas milik Emma dan meneguknya serakah. Detik selanjutnya ia sadar bahwa ia memiliki gelas sendiri, dan mendorong gelas yang belum disentuhnya itu ke arah Emma. Menukarnya.
“Aku sama sekali tidak memiliki kekasih.” Romeo menjawab setelah beberapa saat.
“Hah?!” Emma melotot. “Apa kamu yakin? Wajah setampan itu tapi tidak memiliki kekasih sama sekali?”
“Sama sekali?” Romeo bertanya karena tidak mengerti apa maksud dari kata ‘sama sekali’ yang dikatakan oleh Emma. Pasalnya Emma seolah mengatakan bahwa dirinya berhak memiliki banyak perempuan di sampingnya.
“Maksudku, kalau aku adalah dirimu maka aku tidak akan sungkan untuk memanfaatkan ketampanan wajahku. Kamu bisa memiliki dua atau tiga perempuan sekaligus. Atau bahkan lebih.”
Melihat reaksi Romeo yang membulatkan mata membuat Emma tertawa terbahak-bahak.
“Maaf, aku hanya bercanda. Aku tahu kamu tidak seperti itu.” Emma meneguk air miliknya yang sebelumnya adalah milik Romeo. Tersenyum di balik gelas. Dan mungkin karena senyumannya terlalu lebar, Romeo bisa melihatnya dan menggelengkan kepala.
Emma lucu, tapi terkadang terlalu banyak bicara. Romeo tidak tahu bagaimana akhirnya ia dan Emma bisa tinggal di satu atap yang sama. Andainya waktu itu ia tidak memilih minimarket di mana Emma bekerja, Mungkin ia tidak akan pernah bertemu dengan iris coklat gelap milik Emma yang berhasil menyihirnya di pandangan pertama. Andainya waktu itu ia tidak memilih untuk berdiam diri terlebih dahulu di depan minimarket, mungkin pertemuannya dengan Emma hanya sebatas pelanggan dan pramuniaga saja.
Benar-benar skenario yang lucu. Tapi karena skenario tersebut Romeo merasa sangat terselamatkan. Martin memintanya untuk kabur dari rumah sakit untuk menyelamatkan hidupnya—entah itu benar atau tidak karena memang masih penuh dengan tanda tanya, tapi kalau benar Romeo tidak akan berterima kasih kepada Martin. Mengatakan bahwa dirinya harus kabur jika ingin hidup, Martin sama sekali tidak memberikan sesuatu untuknya agar bisa bertahan hidup. Ponsel? Memangnya ponsel bisa dimakan? Kalaupun dijual, lantas bagaimana ia bisa berkabar dengan Martin? Yang lebih penting lagi Martin bahkan tidak memberikan sebuah alamat atau tempat yang bisa didatanginya. Pada akhirnya entah itu rumah sakit atau di luar rumah sakit tetaplah menjadi tempat yang membahayakan untuknya sebelum bertemu dengan Emma.
Andainya Emma tidak ada. Ahh, tidak. Andainya Emma bukan merupakan perempuan yang berhati malaikat, Romeo tidak tahu akan berakhir bagaimana dirinya.
“Apakah aku sudah berterima kasih kepadamu?” tanya Romeo.
Emma yang sedang mengunyah kembali meneguk air miliknya. “Berterima kasih untuk apa?” Ia balik bertanya karena tidak mengerti.
“Atas semua yang kamu lakukan. Sejak hari pertama kita bertemu dan sampai hari ini.”
“Aku tidak tahu, tapi sepertinya sudah.” Emma tersenyum menyadari bahwa Romeo terlihat sangat bersyukur. Ucapan terima kasihnya terdengar sangat tulus.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa membalasnya atau tidak, tapi aku benar-benar berterima kasih. Suatu saat nanti, entah kapan, aku akan memastikan bahwa aku pasti akan membalas semua kebaikanmu kepadaku.”
Sekarang Emma tertawa. Untuknya yang selalu diajarkan untuk berbuat baik kepada orang lain oleh kedua orang tuanya, ia merasa bahwa Romeo terlalu berlebihan. Ia tidak memerlukan balasan apa pun dari Romeo. Karena selama Romeo sudah merasa terbantu, dan selama dirinya tidak mengagungkan kebaikannya sendiri dengan meminta imbalan, maka sudah cukup.
“Kamu tidak perlu mengatakan hal itu. Aku itu banyak bicara orangnya, hanya suka film kartun, dan terkadang butuh orang untuk menjadi teman berbincang. Kamu hanya perlu baik-baik saja, dan jika tidak keberatan, kamu hanya perlu menemaniku saja. Jika itu yang disebut balasan, maka kamu boleh memberikannya.”
“Untunglah aku juga menyukai film kartun. Soal kamu yang banyak berbicara dan terkadang butuh orang untuk teman berbincang, aku tidak masalah dengan hal itu.”
“Benarkah? Mungkin ada satu waktu di mana kamu mengatakan ‘ahh, perempuan ini terlalu berisik’, tapi aku tidak akan menerima perkataan seperti itu.”
“Maka aku tidak akan melakukannya.”
Emma tertawa lagi. Melihat raut wajah serius Romeo benar-benar membuatnya sangat terhibur. Sepertinya Romeo tidak bisa membedakan mana candaan dan mana ucapan yang berisi keseriusan.
“Baiklah, aku kira sejak tadi kita berdua terlalu banyak berbicara. Gerakan tanganmu dan jangan biarkan makananmu dingin terlalu lama.” Emma mengambil potongan ayam yang lain dan meletakkannya di piring Romeo.
Hari itu. Setelah makan siang, Romeo dan Emma menghabiskan waktu siang sampai sore dengan duduk di sofa sambil menonton film kartun. Emma yang memilih judul filmnya dan Romeo hanya mengiyakan. Tidak ingin memberi saran dan ikut menonton saja.
Baik Romeo maupun Emma sama-sama seperti baru menemukan orang yang menurut mereka sangat menyenangkan. Romeo mungkin tidak banyak bicara, tapi Emma senang karena Romeo tidak pernah mengeluh saat dirinya mengomentari film yang ditonton. Untuk Romeo, Emma mungkin terlalu ceria, tapi ia senang karena berhasil bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya merasa bahwa bersantai dengan seorang perempuan tanpa pengawal adalah hal yang luar biasa.
Selama bersama dengan Emma, Romeo merasa bahwa dirinya bukanlah seorang ‘tuan muda’. Tidak ada pengawal, tidak ada orang yang mengawasi, dan tidak ada aturan yang mengekangnya. Ia tidak perlu memerintah dan tidak perlu diperlakukan seperti seorang anak raja. Boleh dibilang ini adalah pertama kalinya Romeo merasa sangat bebas.