11; Pelarian Kedua

1593 Words
“Kamu tunggu di sini. Aku akan mencari taksi dulu. Nanti aku akan menjemputmu jika sudah menemukan taksi. Pokoknya jangan ke mana-mana. Oke?” Kalau Romeo tidak salah tangkap, apa yang diucapkan oleh Emma adalah sesuatu yang seharusnya membutuhkan persetujuan darinya, tapi Emma bahkan tidak membutuhkan hal itu. Gadis itu langsung melesat meninggalkannya sambil membawa barang belanjaan yang tadi dibawa olehnya. Romeo hanya berdiri di bagian depan mall sambil celingukan seperti anak hilang. Bukan karena dirinya takut diperhatikan oleh pengunjung lainnya, tapi karena takut kalau tiba-tiba ada anak buah ayahnya yang berkeliaran di dekat mall. Nampaknya, hari itu bukanlah hari keberuntungan Romeo. Emma belum kembali, tak lama, matanya menangkap sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari posisinya. Dua orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut. Satu dari bagian belakang, satu lainnya dari pintu depan. Ada satu orang lagi yang duduk di balik kemudi, orang itu membiarkan dua temannya turun sementara dirinya kembali menjalankan mobil menuju basement mall tersebut. “Sial-sial-sial!” Romeo berseru kesal. Satu tangannya menurunkan topi yang dikenakannya, satu lainnya membetulkan posisi masker agar lebih naik. Romeo menyingkir ke sisi kiri, dan dua orang itu berjalan menaiki anak tangga yang berada di area depan dan hampir sampai di dekat Romeo. Langkah Romeo yang awalnya tenang sedikit dipercepat dengan susah payah. Matanya menangkap sebuah pilar tak jauh dari posisinya, ia segera menuju pilar tersebut dan bersembunyi di baliknya. Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana bisa Romeo mengetahui bahwa orang-orang berpakaian serba hitam itu adalah anak buah ayahnya? Jawabannya sederhana, satu wajah yang keluar dari mobil merupakan satu di antara dua orang yang kerap menjaganya di rumah sakit. Ia bisa mengenali orang itu hanya dengan sekali lihat karena terlalu sering melihatnya. Dua orang yang pertama kali keluar mobil berdiam diri di depan pintu mall. Tak lama satu orang lagi menuju ke arah mereka. Itu adalah orang yang tadi menyetir mobil, dan orang itu adalah satu orang lainnya yang kerap mengawasinya saat di rumah sakit. Samar-samar, Romeo bisa mendengar pembicaraan mereka. Dan benar ternyata mereka sedang membicarakan dirinya. “Tuan Muda baru pergi tiga hari lalu. Beliau pasti membutuhkan pakaian selama bersembunyi. Pada hari pertama dan kedua, beliau tidak mungkin keluar dari tempat persembunyian karena tahu bahwa kita mencarinya di setiap area yang ada di daerah sini. Kalau tidak hari ini, dia mungkin akan pergi esok hari, atau setidaknya satu minggu ke depan. Menunggu kita mulai lengah dan memanfaatkan hal itu.” Pria yang sebelumnya tidak pernah ditemui oleh Romeo berbicara. “Bagaimana kalau ternyata Tuan Muda baru pergi setelah satu atau dua minggu? Beliau pasti menunggu sampai seluruh anak buah ayahnya sudah lelah mencari, baru berani keluar.” Romeo sedikit mengintip. Melihat pria yang pertama berbicara memukul pria lainnya yang barusan menyahut. “Dasar bodoh!” serunya tajam. “Bagaimana Tuan Muda bisa bertahan hanya dengan satu pakaian dalam waktu lebih dari satu minggu? Itu tidak mungkin. Mengingat bagaimana caranya dibesarkan kita akan langsung tahu bahwa Tuan Muda adalah orang yang menjaga kebersihan. Tidak mengganti pakaian satu atau dua hari pasti akan langsung membuatnya jengah.” Romeo memuji pria itu di dalam hati. Pria itu cermat dan sangat berhati-hati. Pemikirannya tajam dan penuh dengan dugaan yang pasti. Bukan sembarang dugaan karena apa yang dikatakannya adalah kebenaran. “Pokoknya kita harus menyusuri setiap pusat perbelanjaan yang ada di daerah ini. Aku sudah mengerahkan beberapa orang lainnya untuk mencari di supermarket dan minimarket yang tersebar di daerah sini. Kalau memang tuan muda bisa bertahan dengan pakaian kotor, setidaknya beliau tidak akan tahan dengan perut kosong selama lebih dari dua hari. Dia pasti akan menunjukkan batang hidungnya cepat atau lambat.” Seharusnya Romeo bertepuk tangan. Anak buah ayahnya benar-benar cerdas dan memiliki pemikiran yang logis. Jika saja ia tidak dibantu oleh orang lain, yaitu Emma, asumsi yang diberikan pria itu pastilah benar seratus persen. Ia akan muncul setidaknya dua atau tiga hari setelah kabur karena tidak bisa menahan lapar. “Cepat susuri seluruh area pusat perbelanjaan ini. Kita berpencar. Aku akan menyusuri lantai satu dan dua. Kamu lantai tiga dan empat, dan kamu lantai lima dan enam. Kita akan kembali bertemu di sini setelah selesai. Oke?” Pria itu memerintah dengan memberikan kode lewat dagu saat membagi tugas. Kemudian mereka memasuki area mall secara bersamaan dengan langkah lebar. Romeo menghela nafas lega karena mall orang itu sama sekali tidak berkeliling area luar mall terlebih dahulu untuk mencarinya. Karena kalau mereka melakukan hal itu, tamatlah sudah riwayatnya. Dengan kondisinya sekarang ia bahkan tidak bisa berlari untuk kabur. Mereka bisa menangkapnya dengan mudah hanya dengan langkah lebar mereka. Tentu saja seharusnya Romeo bernapas lega. Sebelum sebuah suara berhasil membuat bola matanya melebar. “Romeo! Romeo!” Emma celingak-celinguk tepat di posisi tiga orang yang tadi dilihat olehnya. Gadis itu melihat ke kanan dan kiri, melongokan kepalanya ke bagian dalam mall dan kembali menyebut nama Romeo dua kali. Sebelum Emma kembali berteriak, Romeo keluar dari persembunyiannya. Berjalan ke arah Emma dan membekap mulut gadis itu yang hampir saja kembali memasuki bagian dalam mall. Emma sempat berontak. Tangannya berulang kali mencakar tangan Romeo meminta untuk dilepaskan dengan suara yang tertahan, tapi tindakan itu tidak berhasil. “Tenang saja. Ini aku.” Romeo menyeret Emma menuruni anak tangga dan segera pergi dari sana dengan langkah hati-hati. Setelah cukup jauh dari pintu depan mall, Romeo melepaskan bekapan. Emma melotot dengan napas terengah. “Kenapa kamu membekap mulutku?” tanya Emma kesal. Tangannya mengusap-usap bagian mulutnya yang habis dibekap oleh Romeo. Bukan karena tangan Romeo memiliki aroma yang tidak sedap, tapi karena keringat di telapak tangan Romeo membuat bagian mulut dan hidungnya sedikit basah. Romeo meletakkan telunjuknya di depan bibir. Berdesis sebagai isyarat agar Emma tidak berbicara dengan nada keras. “Kenapa aku harus diam? Jawab dulu pertanyaanku, apa alasan kamu membekap mulutku?” Meski tidak terima dengan isyarat yang diberikan oleh Romeo, Emma tanpa sadar mengecilkan suaranya saat bertanya. Romeo melihat bagian pintu mall sebelum menjawab. Bersyukur karena anak buah ayahnya tidak keluar karena mendengar nama yang mirip dengan nama majikannya dipanggil beberapa kali. “Ada beberapa perawat rumah sakit di sini,” jawab Romeo berbohong. “Hah?” Emma bertanya dengan mulut terbuka lebar.    “Bagaimana bisa perawat sampai mencarimu ke pusat perbelanjaan? Kamu mungkin salah paham. Itu mungkin hanya perawat yang ingin berbelanja.” Emma sebenarnya sadar bahwa perkataannya sangat tidak masuk akal, tapi ia tetap heran dengan jawaban Romeo dan hanya berupaya menerka-nerka. Masalahnya bagaimana mungkin perawat bisa berbelanja dengan pakaian dinas mereka? Romeo pun tidak mungkin mengenali bahwa orang yang dilihatnya adalah seorang perawat jika mereka tidak mengenakan pakaian khas rumah sakit. “Lalu bagaimana taksinya? Apa sudah dapat?” tanya Romeo masih memperhatikan pintu mall. Emma mengangguk. Menunjuk sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Langsung saja Romeo menarik tangan Emma agar menuju mobil tersebut. Pelarian itu berjalan lancar. Romeo tidak menemukan tiga orang yang tadi dilihatnya bahkan saat dirinya sudah memasuki mobil. Sepertinya mereka memang sudah pergi cukup jauh saat Emma memanggil namanya beberapa kali. “Tadi itu hampir aja aku gigit tangan kamu waktu kamu bekap mulutku. Kenapa harus sampai melakukan hal itu padahal kamu bisa bicara baik-baik denganku?” Rameo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Meminta maaf atas tindakannya tersebut karena memang refleks ia lakukan saat mendengar Emma memanggil namanya begitu keras. Ia hanya takut karena suara Emma, anak buah ayahnya langsung keluar dan ia tidak bisa kabur karena mereka bisa langsung menangkapnya dengan mudah. “Aku merasa seperti sedang dikejar-kejar orang jahat saat kamu membekap mulutku tadi. Ternyata itu hanya seorang perawat.” Emma menghela napas menyadari bahwa apa yang dialaminya barusan tidak seperti apa yang sering dilihatnya di film-film. Di sisi lain, Romeo hanya bisa tutup mulut. Tidak mungkin ia menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada Emma. Semuanya pasti akan berubah drastis. Bukan lagi tentang perburuan antara perawat dan seorang pasien rumah sakit yang kabur, melainkan tentang putra dari seorang konglomerat yang tengah dikejar-kejar puluhan anak buah ayahnya. Saat mengetahui hal itu, Emma mungkin akan langsung memilih angkat tangan. Tidak ingin terlibat lebih jauh lagi, atau ancamannya ia bisa saja ikut masuk ke dalam permasalahan rumit keluarga Romeo. Membayangkannya saja sudah membuat Romeo pusing. Ia bukannya tidak bisa mencari tempat lain selain tempat tinggal Emma, hanya saja semuanya sudah lebih mudah sekarang. Kalau ia pergi atau diusir dari apartemen Emma, maka ia harus mengurus dirinya sendiri. Satu atau dua kali pasti ia akan pergi ke luar rumah untuk membeli berbagai macam keperluan. Karena tidak mungkin memesan semuanya secara online terus menerus. “Pak, tolong langsung ke alamat yang tadi saya sebutkan saja, ya.” Romeo menoleh ke sampingnya. Melihat Emma yang baru saja meletakkan ponsel yang ke dalam tas miliknya. Astaga, karena terlalu disibukkan dengan isi kepalanya, ia bahkan tidak sadar bahwa mobil yang sejak tadi ditumpanginya belum berjalan. “Baik, Mbak.” Sopir taksi itu menyahut kemudian segera menjalankan mobil. Emma bertanya pada Romeo, “Karena kita sudah pergi ke luar, apa ada sesuatu yang ingin kamu beli? Atau mungkin kita bisa pergi makan di restoran?” Romeo menggeleng cepat. “Tidak perlu. Aku tidak membutuhkan apa pun lagi, dan sedang tidak menginginkan apa pun juga.” Karena yang sebenarnya diinginkan oleh Romeo adalah cepat sampai ke apartemen Emma, agar dirinya tidak perlu khawatir tentang tiga orang yang ditemuinya di mall. Bisa saja sebenarnya mereka menyadari kehadirannya dan diam-diam menyembunyikan hal itu karena tidak ingin meringkus secara paksa. “Kalau begitu kita akan langsuung pulang. Kita bisa makan siang bersama di rumah saja. Bukankah sejak kedatanganmu kita belum pernah makan siang bersama?” Romeo mendapati senyum Emma saat ingin menyahut. Ia memilih mengatupkan bibirnya. Menolak mengeluarkan banyak kata dan hanya memilih mengangguk saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD