10; Satu Langkah ke Luar

1675 Words
Sebagai anak konglomerat, Romeo tahu bahwa dirinya sebenarnya tidak terlalu dikekang oleh keluarganya. Meskipun kerap mendapatkan penjagaan ketat saat berada di luar rumah, penjaga-penjaga tersebut berada di daerah yang di luar jangkauannya. Dalam artian cukup jauh sampai ia pun tidak tahu di mana mereka berada. Meskipun, ya, tetap saja ia merasa diawasi. Ibunya selalu memberikan izin ke mana pun Romeo ingin pergi. Entah bersama teman, kekasih—yang sama sekali tidak pernah ia miliki, atau siapa pun. Selama Romeo meminta izin dan tidak menimbulkan kecemasan. Lain cerita kalau Romeo sudah pergi tanpa izin, kabur diam-diam membodohi penjaganya, Martin dan ibunya akan menceramahinya panjang lebar sampai ia merasa muak. Alasan ceramah tersebut adalah karena Martin dan ibunya merasa khawatir. Ibunya kerap mengatakan bahwa pesaing bisnisnya selalu ada di mana-mana dan ingin menghancurkan dirinya. Karena itulah memberi penjagaan ketat kepada putra semata wayangnya adalah cara agar ibunya merasa aman dan tenang. Singkat cerita, sebenarnya baru kali ini Romeo yang merasa bahwa dirinya seperti anak konglomerat yang akan diburu banyak orang. Mau keluar rumah saja ia harus memikirkan pakaian seperti apa harus dikenakannya sehingga ia tidak akan ditemukan oleh bawahan ayahnya. Pakaian yang dimilikinya hanya satu dan itu pun merupakan pakaian yang dipinjamkan oleh Emma. Satu pakaian lainnya merupakan seragam rumah sakit yang tentunya tidak akan dipakai jika ingin pergi keluar rumah. Itu pun sudah ia buang ke tong sampah. Entah masih ada atau tidak di sana. Memakai pakaian yang sekarang dikenakannya terlihat terlalu biasa. Orang-orang ayahnya pastinya akan mudah menemukan dirinya jika ia pergi dengan wajah yang terbuka. Karena itulah Romeo bertanya kepada Emma apakah gadis itu memiliki topi. “Punya, tapi untuk apa? Memangnya udara di luar panas, ya, sampai kamu membutuhkan topi?” Gadis itu malah balik bertanya. “Bukan begitu. Aku tidak bisa menceritakan detailnya, aku hanya memerlukan topi tersebut.” Emma yang awalnya sudah bersiap untuk pergi ke luar kembali masuk ke kamarnya. Gadis itu datang dengan topi berwarna coklat. Untunglah meskipun Emma perempuan, Emma tidak membeli topi yang terlalu mencolok. Topi yang kemudian diserahkan kepada Romeo itu berwarna coklat polos tanpa pola apa pun. Romeo segera memakainya. Emma sudah berada di dekat pintu. Tapi kemudian Romeo bertanya lagi. “Apa kamu memiliki masker?” Pertanyaannya kembali membuat Emma mengerutkan dahi karena bingung. “Tadi kamu mau minta topi, dan sekarang kamu minta masker. Jangan-jangan kamu ini teroris, ya?” “Bukan begitu. Aku hanya—” “Ahh, baiklah-baiklah,” potong Emma tahu apa yang dikatakan oleh Romeo. “Kamu pasti ingin mengatakan bahwa kamu hanya memerlukan masker tersebut. Oke, tidak masalah, tapi jujur saja aku memang tidak memiliki masker. Untuk apa pula aku memiliki barang-barang seperti itu? Aku ‘kan bukan artis terkenal atau seseorang dengan pengaruh besar di negeri ini. Wajahku tidak perlu ditutupi agar orang lain tidak mengenaliku.” Entah kenapa Romeo merasa tersindir dengan kalimat Emma. Gadis itu seolah sedang mengatakan bahwa hanya orang-orang yang terdapat di dalam daftar tersebut yang boleh menggunakan masker agar tidak dikenali oleh orang lain. Orang biasa tidak perlu menggunakan masker karena tidak ada pula orang yang akan meminta tanda tangan atau meminta foto. Padahal penggunaan masker tidak sepenuhnya untuk menutupi jati diri, tapi juga untuk melindungi area wajah dari debu dan polusi. Meskipun, ya, kebanyakan orang memang tidak terlalu mempedulikan hal itu. Terlebih lagi jika berkendara menggunakan mobil yang tertutup. Tentu saja masker tidak terlalu diperlukan. “Kalau begitu kita tidak jadi pergi saja. Aku tidak ingin keluar tanpa menggunakan masker.” Emma menyipitkan mata. Tidak sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya perlu ditakutkan oleh Romeo. Padahal saat pertemuan pertama saja, Romeo sama sekali tidak menggunakan masker. Atau…. Ahh, Emma tahu. “Jangan-jangan kamu takut sedang dicari oleh pihak rumah sakit, ya? Kamu pasti takut bahwa pihak rumah sakit sedang menyebarkan beberapa orang untuk mencari kamu yang merupakan pasien kabur. Benarkah?” Emma menyentuh dagunya. Memikirkan kemungkinan yang ada di kepalanya, “tapi kalaupun mereka memang menyebarkan beberapa orang hanya untuk meminta bayaran, seharusnya mereka melakukannya sejak kemarin. Kalau sekarang mungkin waktunya sudah kedaluarsa.” Hah? Kedaluarsa? Romeo sebenarnya tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Emma, tapi ia justru memanfaatkan hal itu. “Ya,” katanya menjentikkan jari, “aku hanya takut bahwa pihak rumah sakit masih mencariku. Mereka pasti akan menyeretku ke kantor polisi karena tidak mau membayar biaya rumah sakit setelah dirawat cukup lama di sana.” Emma berdehem pelan. Sedang memikirkan solusi apa yang tepat yang seharusnya ia ambil untuk bisa membantu permasalahan Romeo. “Ya, benar juga.” Nihil. Emma tidak menemukan apa pun untuk membantu Romeo, “biaya rumah sakit pasti sangat mahal, apalagi jika kamu dirawat cukup lama di sana. Gajiku satu bulan sepertinya tidak akan cukup untuk melunasi utangmu itu. Aku tidak bisa membantu, untuk yang satu itu biar kamu urus aja sendiri.” Emma menggelengkan kepala. Angkat tangan atas apa yang menimpa Romeo, meski tidak tahu bahwa bukan itu yang sebenarnya terjadi. Romeo hampir meledakkan tawa melihat reaksi Emma yang sangat serius, tapi ditahan olehnya. “Kalau begitu nanti kita akan membeli masker di jalan,” putus Emma akhirnya. Segera membuka pintu dan membiarkannya terbuka agar Romeo bisa keluar terlebih dahulu. Keduanya berjalan bersisian menuju lift. Emma mengimbangi langkah Romeo yang patah-patah dan lambat sekali. Tidak keberatan, tidak pula menawarkan bantuan karena ia tahu bahwa Romeo yang akan menolaknya. Di dalam lift. Setelah menekan angka menuju lantai terbawah, Emma berbicara. “Aku juga tidak mau masuk penjara karena menyembunyikan pasien yang kabur dari rumah sakit. Jadi mungkin nanti kita tidak akan terlalu lama di luar. Kita hanya akan membeli beberapa pakaian kemudian pulang,” katanya tenang. Romeo menatapnya lewat ekor mata. Bertanya, “Kalau memang kamu tidak ingin terlibat masalah, kenapa kamu malah menampungku di apartemenmu?” Romeo bertanya karena ia tidak mengerti dengan cara berpikir Emma. Di satu sisi Emma baru saja mengakui bahwa dirinya tidak ingin terlibat masalah, tapi di sisi lain Emma mengatakannya dengan amat tenang. Seolah tidak mempermasalahkan bahwa orang yang saat ini ditampung olehnya adalah orang yang sedang berada dalam masalah besar. “Karena aku tidak mungkin membiarkanmu tidur di jalanan. Kamu bisa saja mati kelaparan, dan mungkin bisa juga ada orang lain yang membantumu. Tapi untuk opsi kedua, aku tidak bisa menjamin hal itu. Karenanya aku sendiri yang mengambil opsi tersebut. Aku akan merasa sangat berdosa jika membiarkanmu berkeliaran di luar sana saat aku tahu bahwa kamu tidak memiliki tempat pulang.” Membosankan sekali. Romeo tahu bahwa Emma pastilah akan menjawab pertanyaannya seperti itu. Dengan jawaban yang menurutnya menakjubkan. Ia sudah tahu, tapi tetap saja bertanya karena ingin mendengar jawabannya secara langsung dari mulut Emma. “Lagi pula bukankah hidupku akan sejahtera jika aku menolong orang yang sedang dalam kesusahan?” Emma bertanya sambil menolehkan kepala ke arah Romeo. Menemukan iris kelabu milik Romeo yang nampak terkejut saat mendengar pertanyaannya. “Ya,” sahut Romeo singkat. Mengulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Berjanji dalam hati bahwa ia akan mengabulkan pertanyaan Emma. Jika ke depannya Emma tidak hidup sejahtera, maka ia yang akan menjaminnya setelah semua permasalahannya selesai. *** Romeo merasa sangat bodoh saat berada di lantai satu sebuah mall. Di sampingnya, Emma hanya menunggui Romeo yang belum berjalan. Melihat lalu-lalang orang, luasnya area mall, dan barisan eskalator menuju lantai atas membuat Romeo sudah kelelahan lebih dulu bahkan sebelum bergerak. Seharusnya ia tidak mengikuti saran Emma yang mengajaknya pergi berbelanja, seharusnya ia memilih diam di rumah saja dan kalaupun Emma memaksa untuk membeli baju, maka gadis itu harus membelinya sendiri, atau seharusnya kemarin ia mendengarkan perkataan Martin yang akan membelikannya beberapa pakaian. Kalau sudah begini, Romeo tidak yakin bahwa dirinya akan bertahan. Fakta bahwa kakinya belum pulih sepenuhnya membuatnya sadar bahwa ia akan kesulitan berkeliling mall untuk sekadar mencari pakaian. Kalaupun ia bisa mempertahankan dirinya untuk mencari pakaian, bukan tidak mungkin ia akan berakhir merangkak di lantai mall karena tidak sanggup meneruskan langkah lagi. “Sepertinya terlalu sulit untukku,” kata Romeo menatap Emma yang berdiri di sampingnya. “Kenapa?” “Belum berjalan saja rasanya aku sudah lelah sekali. Kamu tahu 'kan kakiku belum pulih, aku akan kesulitan berkeliling mall hanya untuk mencari pakaian.” Seketika Emma merasa berdosa karena tidak mempertimbangkan hal itu sebelumnya. “Ahh, aku lupa. Maafkan aku,” ujarnya. Padahal tadi ia sempat menunggui Romeo  saat berjalan keluar apartemen, tapi ia lupa bahwa area mall jauh lebih luas berkali lipat. “Seharusnya….” Emma balas menatap Romeo, “seharusnya aku membawakanmu kursi roda sebelum pergi ke sini.” What?!  Romeo tidak tahan untuk tidak mengumpat dalam hati. Untunglah semua umpatan itu tidak dikeluarkan lewat mulut. Ia kira Emma akan mengatakan hal yang lagi-lagi membuatnya takjub. Seperti…. Seharusnya aku membiarkanmu berdiam diri dirumah sementara aku pergi mencari pakaian. Seharusnya aku tidak membuatmu pergi sendiri ke sini. Seharusnya kita memesan secara online saja agar kamu tidak perlu berjalan.  Yang semacam itu. Ternyata Emma memang memiliki sisi yang tidak terduga. “Terlalu berlebihan,” ujar Romeo menanggapi perkataan Emma. “Jadi apa kita harus kembali saja dan datang lagi kalau kakimu sudah sembuh sepenuhnya? Atau kita bisa membeli secara online saja?” Ahh, itu. Perkataan itu yang Romeo tunggu, tapi sayangnya sudah terlambat. “Tidak masalah. Karena kita sudah ada di sini, akan sia-sia kalau kita kembali tanpa membawa apa-apa. Aku baik-baik saja. Kita bisa melanjutkan.” “Kalau memang itu yang kamu mau,” kata Emma tersenyum. Keduanya memulai berkeliling. Emma yang memimpin jalan. Mencari toko tidak terlalu ramai dan bisa membuat Romeo lebih leluasa saat memilih. Emma juga mencari toko yang dekat dengan eskalator agar Romeo tidak perlu berjalan terlalu jauh. Mereka hanya pergi ke lantai dua. Mengambil beberapa kaos dengan model yang sama, tapi dengan warna yang berbeda. Juga beberapa celana. Saat Emma bertanya apalagi yang dibutuhkan oleh Romeo, Romeo menggeleng. Tapi Emma justru mengambil kan satu hoodie berwarna putih untuk Romeo. “Kamu harus membeli sesuatu selain kaos. Setidaknya ini bisa dipakai saat kamu pergi keluar. Kamu pasti terlihat sangat tampan saat memakai ini, dan mungkin ada beberapa gadis muda yang nantinya akan tertarik padamu.” Emma terkekeh geli saat melihat Romeo justru mendengkus mendengar perkataannya. Mungkin malu, mungkin juga malah jengah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD