17; Romeo dan Mulut Kotornya

1610 Words
Pagi di apartemen Emma menjadi lebih ramai meskipun hanya bertambah satu orang saja. Emma yang pertama bangun untuk menyiapkan sarapan, disusul Romeo, kemudian Manda. Awalnya tentu biasa saja. Romeo bertanya Emma menyiapkan apa, Emma menjawab bahwa dirinya akan membuat roti bakar saja. Sarapan yang simpel, tapi tetap enak menurutnya. Tidak ada yang berbicara lagi setelah itu. Emma meneruskan kegiatannya, dan Romeo hanya memperhatikan di meja makan. Menikmati aroma gosong dari roti buatan Emma yang menyeruak masuk melewati hidungnya. Aromanya khas rumahan sekali. Nyaman dan membuat betah. Lalu, Manda datang dari kamar Emma. Masih dengan wajah kusutnya setelah bangun tidur. Gadis itu menguap sepanjang perjalanan menuju meja makan. Ia menarik kursi di samping Romeo dan langsung menopang dagu sambil menatap Romeo. "Rasanya indah banget kalau setiap pagi aku disuguhi pemandangan seperti ini." Manda meregangkan otot-otot tangannya ke atas sambil menguap lagi. Masih dengan wajah menghadap Romeo. Ia kemudian menoleh ke arah dapur di mana Emma sedang membuat s**u di sana. "Emma, apa kamu tidak keberatan seperti ini setiap hari?" "Keberatan apanya?" Emma bertanya tanpa menatap Manda. "Ini." Manda menunjuk Romeo, tapi Emma tidak melihatnya, "maksudku, apa kamu tidak masalah dengan pemandangan indah ini setiap hari? Kamu sarapan bersama orang setampan Romeo. Apa kamu tidak mimisan?" Itu adalah reaksi berlebihan yang biasanya ada di film anime atau komik jepang. Biasanya saat ada orang yang kelewat tampan atau cantik, mereka yang melihatnya akan mimisan karena tidak bisa menampung ketampanan atau kecantikan tersebut. Mereka terlalu kagum, terlalu terperangah, merasa terangsang, sampai tidak sadar bereaksi seperti itu. Tapi Romeo tahu bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan reaksi tersebut dari orang lain. Manda terlalu melebih-lebihkan. Dan menurutnya terlalu lebay pula. "Apa kamu tahu kalau melihat orang yang berwajah tampan atau cantik itu memiliki keuntungan tersendiri untuk yang melihatnya?" Tentu, pertanyaan itu lagi-lagi di tujukan untuk Emma. "Keuntungan apa?" "Katanya penelitian menunjukkan bahwa melihat wajah tampan atau cantik itu baik untuk kesehatan otak. Itu bisa membuat orang termotivasi untuk bekerja lebih keras dan lebih baik dalam ingatan." "Ya, aku juga pernah membaca itu." Manda secara refleks memutar tubuhnya agar bisa melihat Emma yang berada di dapur. Rupanya Emma sedang berjalan ke arah meja. Membawa piring berisi penuh roti bakar bersama segelas s**u untuk Manda, kembali ke dapur, kemudian datang lagi membawa dua gelas s**u putih. Satu gelas diberikan kepada Romeo sementara gelas lainnya untuk dirinya sendiri. "Dan Romeo." Manda beralih menatap Romeo, "apa kamu tidak bermasalah memiliki wajah setampan itu? Tidak ada niat kah untuk sedikit membagi ketampananmu pada orang yang membutuhkan?" "Memangnya hal seperti itu bisa dibagikan?" tanya Romeo mendengkus. "Tentu saja tidak, itu 'kan hanya ucapanku saja." Di film-film, biasanya orang-orang yang tampan juga memiliki kesulitannya tersendiri. Seperti selalu dikejar-kejar oleh orang yang menganggapnya sebagai idola, dan mungkin bisa dimusuhi oleh teman laki-lakinya karena bisa saja kekasih mereka tergoda oleh si tampan. Karena penasaran, Manda bertanya."Apa selama ini semangat bekerjamu karena selalu melihat orang-orang tampan?" Emma tertawa. "Mana mungkin? Tentu saja tidak." Manda menopang dagu. Mengambil potongan roti bakar yang sudah ditumpuk dua dengan selai strawberry di antaranya. Ia memakan tanpa permisi. "Padahal aku sangat yakin kalau aku pasti sudah sangat beruntung jika berada di posisimu. Sudah memiliki pacar yang tampan, kamu juga memiliki sepupu yang jauh lebih tampan. Sepertinya hidupnya memang dikelilingi oleh orang-orang tampan. Kapan kira-kira aku berada di posisi itu?" Ada satu hal yang tidak disadari oleh Manda. Sejak tadi Romeo hanya memperhatikannya tanpa berkedip. Menyipitkan mata dengan tatapan risih. Ia datang lebih dulu daripada Manda, tapi ia jelas sudah cuci muka dan sudah menyikat gigi. Rutinitas yang wajib dilakukan sebelum melakukan kegiatan pagi. Tapi Manda bahkan tidak melakukan hal itu dan sepertinya tidak peduli meski dirinya belum melakukan hal itu. Manda terlihat santai saja mengobrol sejak tadi. Sedangkan kalau itu Romeo, ia sudah pasti merasa tidak nyaman bisa memakan sesuatu padahal belum menyikat gigi. "Kenapa kamu bisa melakukan itu?" tanya Romeo. Emma dan Manda langsung menatapnya. Tidak tahu pertanyaan itu ditujukan untuk siapa, tapi tatapan Romeo yang mengarah pada Manda menjelaskan semuanya. "Memangnya apa yang aku lakukan?" Romeo mengendikkan dagunya ke arah roti yang masih tersisa sedikit di tangan Manda. "Bagaimana kamu bisa makan padahal belum menyikat gigi?" tanyanya. "Untung saja kamu masih menggunakan tangan kanan untuk makan, kalau saja menggunakan tangan kiri, lengkap sudah sisi burukmu itu." Dua gadis itu melongo. Emma yang paling tidak menyangka bahwa Romeo bisa mengatakan hal sefrontal itu. Selama tinggal dengannya Romeo memang cenderung blak-blakan dan berbicara semaunya, tapi tentu tidak sampai sekejam itu. "Apa yang kamu katakan?" Emma bertanya cemas. Takut bahwa Manda akan tersinggung dengan perkataan Romeo. "Aku hanya mengingatkan. Tidak baik bangun tidur langsung makan seperti itu, setidaknya kamu harus sikat gigi terlebih dahulu. Ini mengenai kebersihan dan merupakan hal dasar kehidupan." "Tapi kamu tidak perlu mengatakannya sampai sejelas itu," kata Emma berbisik pada Romeo, tapi sudah pasti Manda bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Yang membuat Emma kagum adalah Manda sama sekali tidak terlihat seperti orang yang tersinggung saat ia menatapnya. Dengan tenangnya Manda melahap potongan roti terakhir dan memandang Romeo masih dengan tatapan lapar. "Sepertinya hidupku akan terasa sempurna sekali jika memiliki seorang suami sepertimu. Romeo, ayo menikah denganku!" Rupanya Manda menganggap perkataan Romeo tadi sebagai sesuatu yang positif. Ia menjadikan itu sebagai peringatan dan bahan pembelajaran untuknya yang kerap tidak terlalu mempedulikan hal kecil seperti itu. Romeo mengajarkan hal yang penting kepada Manda. Bahwa semalas apa pun diri kita, seenggan apa pun kita, menjaga kebersihan itu harus. Itu seperti sesuatu yang sebenarnya ditujukan untuk diri kita sendiri. Kalau bersih, tentu kita akan sehat. "Aku tidak mau menikah dengan perempuan jorok seperti kamu. Lagi pula kita baru bertemu, bagaimana bisa kamu mengajak orang yang baru sekali kamu temui untuk menikah?" Manda tertawa, sedangkan Emma hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kamu ini polos dan ceplas-ceplos sekali. Apa kamu tahu hal itu sangat menggemaskan di mata perempuan?" "Aku tidak tahu," sahut Romeo cepat. "Kaum kami bisa cenderung menjadi penasaran, dan ingin berusaha menaklukan orang orang-orang seperti kamu. Bicaramu agak pedas, tapi menurutku justru itulah daya tarik tersendiri dalam dirimu." Romeo bergidik ngeri. Tidak bisa membayangkan bagaimana nasib dirinya jika Manda serius dengan perkataannya. Manda terlihat menyeramkan di matanya. Orang-orang seperti Manda, yang mudah tertarik dengan sesuatu yang menurutnya berbeda, yang bisa dengan mengatakan apa pun yang ada dipikirannya, adalah tipikal orang-orang yang selalu dihindarinya sejak dulu. Orang seperti Manda tentu tidak hanya satu di muka bumi ini. Ada banyak sekali. Untuk Romeo tipikal seperti Manda adalah kaum yang paling mengerikan. Biasanya mereka justru akan merasa tertantang saat ditolak, tidak pernah menganggap serius perkataan pedas darinya, dan langkahnya lebar sekali–dalam artian selalu ingin mencaritahu. "Aku akan mengatakannya sejak sekarang. Aku tidak pernah tertarik dengan orang-orang seperti kamu. Jangan berusaha akrab denganku apalagi mengajak aku menikah seperti tadi. Apa kamu tidak tahu bahwa itu terlihat sangat mengerikan di mataku?" Manda cemberut. Di seberangnya, Emma menahan tawa dengan memandang ke bawah. Tidak ingin memandang Manda atau ia nantinya akan menyemburkan tawa. Romeo itu memang tampan sekali, tapi tentu setiap orang memiliki kekurangannya tersendiri. Seperti Romeo. Meski wajahnya dilimpahi ketampanan yang di atas rata-rata, mulutnya cenderung ceplas-ceplos dan terkadang ia juga tidak sadar apa yang dikatakannya. Kepolosannya terkadang membuat orang merasa kagum, dan bisa menjadi salah satu sisi menarik selain dari wajahnya, tapi juga bisa berbalik menjadi bumerang untuknya sendiri. Ada orang-orang yang mudah geram di luar sana, dan terkadang, mereka mungkin tidak bisa menoleransi kepolosan Romeo dan justru bisa dibuat kesal karenanya. "Kamu ini sepertinya terkadang tidak sadar bahwa perkataanmu itu bisa terdengar sangat manis di telinga orang lain, tapi juga bisa terdengar sangat mengerikan di waktu yang berbeda." Manda ingin mengambil potongan roti lagi, tapi diurungkan, ia memilih segera berlari ke kamar mandi rumah Emma dan melakukan kegiatan paginya seperti apa yang tadi dibicarakan Romeo. Sepeninggal Manda, Romeo dan Emma baru memulai sarapan mereka. Romeo meminta maaf kepada Emma atas perkataannya yang cenderung berlebihan dan tidak bisa terkontrol dengan baik. Emma memaklumi, ia tersenyum menanggapi hal itu. "Manda memang begitu orangnya. Dia tidak terlalu memperhatikan hal-hal kecil seperti yang tadi kamu sebutkan. Di tempat kerja pun begitu. Bukan berarti Manda tidak peduli kebersihan, hanya saja tingkat dalam menjaga kebersihan dirinya tidak sebaik dirimu." "Apa menurutmu aku berlebihan? Aku bisa minta maaf jika memang Manda tersinggung ataupun kamu merasa tidak nyaman dengan kelakuanku." "Tidak perlu berlebihan." Emma menggeleng, "aku paham mungkin kamu hanya merasa tidak nyaman saja tadi. Dan sepertinya itu malah dianggap sebagai hal yang positif oleh Manda. Tidak masalah." "Benarkah?" Romeo memastikan. "Ya." Emma mengangguk mantap, "Wajahmu menjadi penolongmu kali ini. Kalau saja kamu tidak memiliki paras yang menawan seperti itu, aku sangat yakin Manda pasti akan melemparkan gelas susunya ke wajahmu." Romeo meringis membayangkan hal itu. Pasti sangat lengket dan menjijikan sekali. Namun apa yang dikatakan Emma benar. Anggap saja itu merupakan kebiasaan yang buruk. Ada banyak orang di luar sana tidak hanya Manda, yang bisa menerima perkataan pedas atau kelakuan yang sedikit keterlaluan selama orang yang mengatakannya memiliki wajah yang rupawan.  Katanya, itu salah satu kekuatan dari kaum 'good looking'. Bukan berarti itu merupakan sesuatu yang bisa ditoleransi. Sebenarnya itu adalah kebiasaan buruk yang seharusnya tidak dipelihara. Tampan atau tidaknya seseorang, jika kelakuannya buruk dan perkataannya pedas, sudah pasti itu bukan hal yang baik. Mereka tetap harus diberitahu di mana letak kesalahannya. Tapi tidak jarang, yang mendapatkan peringatan hanyalah mereka yang punya wajah biasa saja. Sedangkan orang seperti Romeo terselamatkan. Emma sebenarnya bersyukur. Setidaknya wajah Romeo menyelamatkan dirinya dari perang. Manda tidak marah, dan hal baik lainnya Manda justru menjadikan itu pelajaran. Sarapan itu berjalan lancar. Manda kembali setelah mencuci muka dan menyikat gigi. Gadis itu pulang setelah sarapan, lagi-lagi membuat Romeo geram karena Manda tidak mandi terlebih dahulu. Tapi, ya, Romeo tidak mengatakannya, takut bahwa perkataannya lebih kejam dari yang tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD