Romeo terlonjak sampai tak sadar langsung terduduk. Ia tidak menyangka bahwa dirinyalah yang akan ketiduran. Tadi, ia sebenarnya sedang bersama Emma selepas makan siang. Gadis itu mengatakan akan mengepel ruangan sebelum berangkat bekerja. Ia ingin membantu, tapi Emma mengatakan bahwa itu tidak perlu. Jadilah dirinya pergi ke kamar untuk beristirahat. Tapi siapa sangka pada akhirnya malah ketiduran.
Beringsut turun dari ranjang, Romeo pergi ke luar. Jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore saat ia melihatnya. Tidak ada siapa-siapa di sana. Sepertinya Emma memang sudah pergi bekerja. Ia berjalan ke arah meja makan. Tidak menemukan apa pun di sana. Dalam artian makanan. Tapi ada selembar kertas yang ditindih menggunakan gelas kosong.
Romeo jadi ingat dengan kejadian pagi pertama yang ia alami di apartemen Emma. Saat itu, ia mendapatkan surat yang sama seperti apa yang ia alami sekarang. Senyumnya terbit melihat hal itu. Meski hanya orang asing, Emma bisa dibilang terlalu memperhatikannya.
Sobekan selembar kertas itu diambil oleh Romeo. Ia membuka lipatannya. Tulisan tangan yang rapi membuatnya melebarkan senyum.
Romeo, mungkin malam ini akan seperti kemarin. Aku akan pulang mungkin sekitar tengah malam atau bisa juga lebih. Jangan menungguku seperti kemarin, kamu bisa pergi ke kamar jika memang sudah mengantuk. Kebetulan aku sudah membuatkan kamu puding buah. Aku sudah menyimpannya. Coba kamu pergi ke arah kulkas.
Tanpa sadar Romeo menggerakkan kakinya berjalan menuju kulkas sebelum melanjutkan membaca surat dari Emma. Ia membuka kulkas dan melihat hasil buatan tangan Emma terpampang di sana. Di sebuah kotak makan persegi. Ada dua. Di atasnya terdapat buah-buahan yang terlihat menyegarkan. Seperti kiwi, jeruk, dan strawberry. Ditata dengan rapi sehingga Romeo enggan untuk mengotak-atik tatanan buah tersebut.
Matanya kembali membaca kertas di tangannya. Menelusuri kata demi kata untuk menemukan baris terakhir yang dibacanya.
Aku sebenarnya tadi ingin bertanya padamu mengenai buah apa yang kamu sukai, tapi karena kamu tertidur aku jadi tidak tega untuk membangunkanmu hanya untuk menanyakan hal remeh seperti itu. Dan kebetulan di kulkasku memang hanya tersisa tiga macam buah yang sekarang kamu lihat.
Romeo terkekeh pelan. Emma seolah tahu bahwa dirinya akan pergi melihat kulkas untuk mencari-cari puding yang disebutkan Emma di dalam surat tersebut.
Aku harap kamu menyukainya, meskipun aku sendiri tidak yakin apakah rasanya akan sama atau justru lebih buruk dari puding-puding yang pernah kamu makan semasa hidupmu. Aku membuatnya agar kamu memiliki sesuatu untuk dimakan sebelum aku pulang bekerja. Tapi kalaupun memang kamu terlalu lapar, kamu bisa mengecek bagian atas kulkas.
Sekarang Romeo mencari-cari ada apa sebenarnya di bagian atas kulkas. Betapa terkejutnya dirinya saat mendapati lima lembar uang seratus ribuan ada di sana. Ditindih gelas kosong sama seperti kertas yang ia temui di meja.
Ini lucu. Kita seperti sedang memainkan sebuah permainan.
Romeo tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Sepertinya Emma memang tahu bahwa dirinya akan mengikuti setiap kata yang ditulis di dalam surat sambil bergerak. Sehingga Emma sengaja meletakkan uang dan kertas di dua tempat yang berbeda karena tahu bahwa ia akan mendatangi tempat tersebut.
Hei, jangan salah!
Romeo membayangkan Emma sedang berteriak jika mengatakan hal itu lewat mulut bukan lewat surat.
Uang tersebut tidak sepenuhnya untuk kamu. Kamu bisa memakai dua lembar untuk membeli makanan jika memang sudah sangat lapar dan tidak bisa menungguku. Dan untuk sisanya…
Romeo meneguk air liur. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.
Bisakah aku meminta tolong padamu? Untuk kali ini saja. Kebetulan sudah tidak ada bahan makanan di dapur. Aku belum pergi ke supermarket semenjak kamu datang ke rumahku sejak hari pertama. Hanya ada beras, tapi rasanya tidak mungkin hanya memasak itu saja. Bisakah kamu pergi ke supermarket yang ada di bawah? Beli apa pun yang menurutmu bisa dimasak. Aku tidak sempat menulis daftar karena sudah terlambat.
Terima kasih, Romeo.
Surat berakhir di situ.
Tidak! Tidak! Tidak! Romeo tidak mau. Ia tidak pernah berbelanja dan tidak akan pernah mau berbelanja. Membayangkan dirinya berkeliling supermarket untuk mencari bahan-bahan masakan membuatnya pusing.
Supermarket itu sangat luas. Terlebih jika dirinya tidak mengetahui ada di mana barang-barang yang harus dibeli. Akan terlalu melelahkan jika terus berkeliling untuk mencari, malas juga jika bertanya kepada pramuniaga. Tapi Emma sudah memberikan uang. Yang lebih penting lagi Emma pun sudah mempercayakan hal itu padanya. Rasanya keterlaluan jika ia tidak pergi hanya karena enggan.
Berusaha melawan keengganannya, Romeo meletakkan surat dari Emma di atas kulkas. Beralih mengambil uang yang ada di sana. Ia segera bergegas ke kamar. Melapisi kaos oblongnya dengan hoodie yang dibelikan Emma. Sebelum keluar lagi, Romeo melirik ponselnya yang ada di atas ranjang. Nama Martin terpampang di sana. Baru saja Romeo ingin mengangkat telepon dari Martin, telepon tersebut sudah dimatikan. Untungnya kembali bergetar tak lama kemudian.
Sungguh kesempatan yang sangat tepat. Ini adalah pertama kalinya Martin kembali menghubunginya sejak terakhir kali sekitar satu minggu lalu. Entah apa yang ingin dikatakan Martin, Romeo akan memanggil Martin lebih dulu.
"Tuan Muda."
"Martin."
Romeo mendengkus karena ia dan Martin saling memanggil secara bersamaan.
"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Martin di seberang sana. Mempersilakan agar Romeo mengatakan maksudnya terlebih dahulu.
"Bisakah aku memanfaatkan dirimu?"
"Ada apa, Tuan Muda? Apakah saya perlu melakukan sesuatu atau apakah Anda memerlukan sesuatu?"
Martin itu merupakan orang kepercayaan ibunya, sekaligus merupakan orang yang selalu menjaganya sejak lama. Martin akan melakukan apa pun yang ia minta, akan mencobanya meski itu mustahil. Bahkan bila disuruh untuk menggali sumur sekalipun pasti Martin akan melakukannya dengan sukarela.
Jadi … sudah pasti kalau sekedar berbelanja ke supermarket tidak akan membuat Martin keberatan.
"Begini, sebenarnya orang yang memberiku tumpangan di apartemennya menyuruhku berbelanja kebutuhan. Tapi aku terlalu malas dan tidak ingin pergi ke supermarket. Apalagi kamu tahu sendiri aku belum pernah pergi berbelanja. Apakah kamu mau melakukan hal itu untukku?"
"Maaf, apakah Anda bisa mengulanginya?"
"Apa kamu tuli?" Romeo bertanya kesal.
"Bukan. Saya hanya ingin memastikan apa saya diminta untuk berbelanja?"
"Ya, kenapa?"
Hening sejenak.
"Maaf, Tuan Muda. Tapi saya tidak bisa."
Cepat-cepat Romeo bertanya, "Kenapa kamu tidak bisa melakukan itu untukku? Apa kamu juga belum pernah berbelanja?"
"Bukan. Tapi karena saya sedang mengurus sesuatu bersama Pak Ryan. Saya tidak bisa pergi begitu saja, Tuan Muda. Lagi pula alasan saya menelepon Anda adalah untuk memberitahu bahwa saya tidak bisa menemui Anda dalam waktu dekat ini. Bersabarlah sampai saya menyelesaikannya semuanya."
"Dasar tidak berguna!" sungut Romeo mendengkus sebal.
Di seberang sana. Martin menghela napas. "Cara bicara Anda, Tuan Muda. Itu kasar sekali. Ibu Anda tidak akan suka jika mendengarnya." Ia memperingati.
"Baiklah-baiklah. Sebaiknya kumatikan saja teleponnya jika kamu memang tidak bisa membantuku sama sekali."
"Apa tidak ada yang bisa saya lakukan?"
"Kamu tidak bisa melakukan apa yang baru saja kuperintahkan. Kalaupun ada yang aku inginkan, sepertinya kamu hanya perlu mengisi pulsa yang banyak untukku. Agar aku tidak bosan memegang handphone yang tidak ada apa-apanya sama sekali."
"Tidak bisa, Tuan Muda."
Romeo merapatkan giginya. Bisa ia bayangkan bahwa di seberang sana mungkin saja Martin sedang menggeleng menolak permintaannya.
"Kalau Anda sampai mengakses sesuatu, atau bermain sosial media, atau menghubungi seseorang yang tidak perlu, itu bisa jadi masalah, Tuan Muda. Sebaiknya handphone itu memang Anda pegang hanya untuk berhubungan dengan saya saja."
Hampir saja Romeo membanting ponselnya sendiri karena terlalu kesal dengan jawaban dari Martin, tapi kalau ia lakukan semuanya akan berantakan dan Martin akan kesulitan mencari tahu tentangnya.
"Kamu ini benar-benar menyebalkan. Sudahlah, aku jadi sangat tidak menyukaimu."
"Tapi, Tuan Muda—"
Belum sempat Martin menyelesaikan ucapannya, Romeo sudah mematikan panggilan secara sepihak. Lucunya, meski Romeo sendiri, yang mematikan panggilan tersebut, ia justru sempat-sempatnya melihat layar ponselnya sendiri. Karena mungkin saja Martin akan menghubunginya lagi untuk menyelesaikan ucapannya.
Romeo tahu bahwa dirinya tidak memiliki pilihan lain selain pergi ke supermarket sendiri. Jaraknya tidak terlalu jauh padahal. Supermarket itu berada di gedung lain apartemen. Hanya perlu berjalan kaki untuk sampai di sana, Tapi tetap saja rasanya malas sekali.
Tudung hoodie yang tadinya berada di belakang tubuh, Romeo angkat hingga menutupi kepalanya. Ia mengambil kartu akses apartemen yang selalu diletakkan di atas nakas. Memasukkan kartu tersebut ke dalam saku hoodie-nya.
Begitu keluar dari apartemen Romeo langsung berlari ke atas lift yang hendak tertutup. Ada seorang perempuan yang berada di sana. Untunglah ia sempat masuk sebelum lift tertutup.
"Apakah kamu penghuni baru di apartemen ini?" Perempuan itu bertanya setelah Romeo masuk dan lift bergerak.
"Ya, aku penghuni baru." Romeo mengaku tanpa menatap perempuan tersebut sama sekali. Sengaja berbohong agar perempuan itu tidak kembali bertanya. Dan sayangnya harapannya sirna.
"Pantas saja aku baru melihatmu. Kamu terlihat asing, dan ternyata benar kamu memang penghuni baru di sini. Jadi rasanya wajar saja jika aku merasa asing."
"Ya," sahut Romeo singkat.
"Kamarmu ada di mana? Nomor berapa?"
Romeo mulai gerah. Sepertinya perempuan itu terlihat tertarik padanya. Kini, kutukan dari ketampanannya kembali Romeo rasakan saat perempuan itu bertanya mengenai hal-hal yang pribadi seperti itu.
"Maaf, aku tidak memberitahukan hal itu kepada orang asing."
"Tapi kita tetangga."
Oh, Tuhan. Romeo menyesal karena tadi mengejar lift tersebut. Seharusnya ia biarkan saja lift itu tertutup, dan ia akan menunggu sehingga tidak perlu bertemu dengan perempuan cerewet yang kini berada di sampingnya.
"Tapi aku tidak menganggapmu sebagai tetanggaku. Bisakah kamu berhenti mengajakku berbicara? Aku merasa tidak nyaman."
Jurus andalan Romeo dikeluarkan. Mulut pedasnya berhasil membuat perempuan tersebut berhenti berbicara dan berhenti menatapnya.
Lift terbuka di lantai dasar. Romeo segera melesat keluar untuk menghindari perempuan itu. Ia pergi ke supermarket untuk memulai belanja pertamanya. Mendorong troli dengan malas dan mengabaikan beberapa orang yang terang-terangan menatapnya.
Sekilas, Romeo merasa seperti alien yang baru saja turun ke muka Bumi dan dianggap akan menginvasi Bumi. Beberapa orang terus memandanginya bahkan saat dirinya melewati lorong-lorong di supermarket. Jika saja kekuatan mengabaikannya tidak berjalan lancar, mungkin Romeo akan mengeluarkan jurus andalannya.
Kegiatan berbelanja itu terasa menyebalkan. Karena Romeo sendirian. Tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol, atau dimintai saran mengenai barang apa yang harus dibelinya. Ia hanya mengambil kebutuhan yang menurutnya diperlukan. Kebutuhan familier yang sering dilihatnya dan mudah dijumpai.
Tidak butuh waktu lama sampai keranjang Romeo terisi. Ada telur, ayam, udang, roti, s**u, sayuran yang asal ia ambil karena tidak tahu namanya, dan beberapa macam buah-buahan. Tidak ada daging karena Romeo ingat bahwa dirinya dan Emma sama-sama tidak menyukai daging. Sisanya merupakan barang di dapur yang sering Romeo lihat. Seperti kecap, saus, minyak, gula, garam. Itu saja. Bumbu lainnya tidak Romeo beli karena tidak tahu apa namanya.
Kegiatan belanja itu selesai dengan cepat. Romeo segera membawanya ke kasir dan ikut mengantri. Bergerak tidak nyaman karena ada antrian yang membuatnya harus menunggu. Beberapa kasir tidak beroperasi. Katanya, sedang ada masalah sehingga hanya dua kasir yang beroperasi. Begitu tiba bagiannya, Romeo mengambil barangnya satu persatu dengan cepat. Pihak kasir sempat menatapnya terkesima, tapi ia memilih membuang muka.
Pembayaran selesai. Romeo mengucapkan terima kasih dan pergi dari sana. Memasang senyum lebar saat membayangkan bahwa dirinya akan memakan puding buatan Emma yang sengaja disiapkan untuknya.