Emma tertawa saat melihat isi kulkasnya sudah penuh dengan berbagai macam sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Awalnya ia khawatir menyerahkan tugas berbelanja kepada Romeo. Meski lokasinya dekat sekali, Romeo belum pernah pergi ke sana. Terlebih lagi ia pun tidak tahu apakah Romeo sebelumnya pernah berbelanja atau tidak, tapi hasilnya jelas tidak mengecewakan.
Di atas kulkas terdapat dua lembar uang seratus ribuan, beberapa pecahan lainnya yang tidak sampai lima puluh ribu, dan struk belanjaan. Emma mengambilnya dan menyimpannya di saku celana.
"Apakah kamu sama sekali tidak membeli sesuatu untuk dimakan?" Emma bertanya dari dapur.
"Tidak." Romeo yang sedang duduk di meja makan menggeleng.
Kali ini Romeo tidak ketiduran. Ia sengaja menunggu Emma, dan hebatnya tetap membuka mata sampai tengah malam. Padahal sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal itu. Kata ibunya begadang itu tidak baik untuk kesehatan. Itu alasan pertama. Alasan kedua memang karena Romeo tidak tahu juga alasan apa yang mengharuskannya untuk begadang, sehingga ia tidak pernah melakukan hal itu.
"Padahal aku sengaja memberi uang lebih agar kamu bisa makan sebelum aku pulang. Bukankah melelahkan jika harus menunggu sampai aku pulang? Apa kamu tidak lapar sama sekali?"
"Tidak. Kamu menyiapkan dua kotak puding buah untukku kalau memang kamu lupa. Dan itu jelas sangat cukup untuk mengganjal perutku."
Tersadar akan hal itu, Emma kembali membuka kulkas dan mencari-cari dua kotak makan yang diletakkannya di sana siang tadi. Rupa-rupanya dua-duanya sudah tidak ada. Tempat di mana dua kota kecil berada kini sudah diisi dengan sayur-sayuran.
"Apa kamu memakannya semua?" tanya Emma.
Tiba-tiba Romeo panik. "Ya, kenapa? Apa sebenarnya itu satu untukmu dan satu untukku? Kalau memang benar begitu, aku sangat minta maaf karena sudah memakan semuanya."
"Tentu saja tidak. Memang semuanya untukmu. Aku hanya ingin bertanya bagaimana rasanya?"
"Emm, lumayan." Romeo berkata malu-malu.
"Lumayan?" tanya Emma memastikan.
Romeo mendengkus. "Ahh, baiklah. Enak. Tidak terlalu manis, dan aku menyukainya."
Emma diam-diam tertawa menyadari betapa menggemaskan Romeo saat memuji makanan buatannya. Di pintu kulkas yang masih terbuka, Emma mengambil ayam. Kebetulan ada jamur yang masih tersisa, dan bagusnya Romeo memilih ayam. Setelah memotong ayam menjadi kecil-kecil, Emma mencucinya dan melumurinya dengan saus teriyaki. Nasi sudah dimasak lebih dulu sejak tadi sebelum dirinya membuka kulkas, dan mungkin akan matang bersamaan dengan ayamnya.
Sebelum mengabsen apa saja yang berada di dalam kulkas, Emma sempat melihat melihat beberapa barang di atas konter. Barang yang sebenarnya ada di rumah.
"Padahal aku masih memiliki sisa kecap dan saus di rumah. Apalagi garam bahan gula. Kamu sebenarnya tidak perlu membeli barang-barang itu, tapi kalau minyak kebetulan memang sudah tinggal sedikit."
"Benarkah? Aku tidak tahu. Lagi pula kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku bisa membeli apa pun yang menurutku bisa dimakan."
"Ya, aku yang salah karena tidak memberi daftar belanjaan."
"Aku sempat mengambil ikan, tapi tidak jadi kubeli."
Emma bertanya, "Kenapa?"
"Karena aku tidak menyukainya. Dan maaf karena aku tidak jadi membeli hanya karena aku tidak menyukainya."
Emma fokus memulai kegiatan memasaknya sambil mendengarkan Romeo. Menyiapkan bahan lainnya seperti cabai rawit, cabai merah, bawang bombay, paprika, dan bahan lainnya.
"Tidak masalah. Aku juga jarang sekali makan ikan."
Romeo sudah sering memakan ayam teriyaki sampai ia hafal baunya saat matang. Begitu masakan Emma matang, perutnya berbunyi. Untunglah posisinya dan Emma tidak terlalu dekat, sehingga Emma tidak mendengar suara itu.
Mungkin aneh, tidak ada orang lain yang akan memasak nasi dan lauk dini hari, tapi Emma melakukannya.
"Romeo, bisakah kamu membantuku?"
Romeo langsung datang ke konter. "Ya, apa yang bisa kubantu?" tanyanya terlalu cepat.
Di depannya, Emma memegang piring berukuran besar yang diisi dengan ayam teriyaki. Asap menguar dari sana. Biji wijen, warna merah dan hijau dari paprika mempercantik hasil masakan Emma.
"Bisakah kamu membawanya ke meja makan? Aku akan menyajikan nasi dan air minum."
Romeo mengambil alih piring tersebut dan membawanya ke meja makan. Ia kembali lagi, mengambil dua gelas dan mengisinya dengan air kemudian turut dibawa ke meja makan. Emma menyusul tak lama kemudian. Membawa dua piring yang di atasnya sudah terdapat sendok dan garpu, sementara di tangan lainnya membawa nasi yang masih hangat.
Ahh, Romeo sangat lapar. Belum pernah sekalipun Romeo makan pada jam yang begitu larut. Emma membuat malam-malam kemarin menjadi yang pertama dalam hidupnya. Katanya tidak baik makan tengah malam. Makan pada waktu larut malam akan membuat organ tubuh bekerja lebih untuk mencerna karena pada waktu itu tubuh sudah harus beristirahat. Selain itu makan di waktu malam juga bisa meningkatkan kadar gula darah dan kolesterol. Hal itu bisa memicu penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke.
Romeo tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi yang pasti saat masakan Emma mendarat di mulutnya, perasaannya langsung tenang. Perutnya menjadi hangat. Menakjubkan saat mengetahui bahwa dirinya mulai menyukai masakan Emma.
"Apa kamu selalu seperti ini saat pulang tengah malam?" tanya Romeo di tengah kunyahan.
Emma menggeleng. "Aku tidak makan pada waktu malam hari. Biasanya aku selalu makan di jam istirahat dan tidak pernah makan makanan lain saat pulang bekerja. Ini baru aku lakukan sejak kemarin," jelasnya.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu? Kalau memang kamu tidak terbiasa makan saat malam hari seharusnya tetap begitu saja."
"Tentu tidak bisa. Ada orang lain di rumahku dan secara tidak langsung aku harus mengurusnya. Tenang saja, sejak kemarin aku hanya makan camilan saat beristirahat sehingga saat saat pulang aku memang lapar. Tidak sepenuhnya kulakukan untukmu. Dan ternyata menyenangkan juga bisa menemanimu makan."
"Pasti melelahkan mengurus orang lain selain dirimu sendiri. Aku yakin sebelum-sebelumnya kamu pasti langsung tertidur setiap kali pulang bekerja saat malam. Tapi kali ini kamu harus masak terlebih dahulu."
Emma tertawa. "Ayolah, tidak perlu berlebihan seperti itu. Jujur saja, belakangan aku merasa senang karena ada orang lain di rumahku. Aku jadi tidak kesepian. Dan jika kamu bertanya apakah aku lelah atau tidak, jawabannya tentu aku sangat lelah, tapi aku juga tidak keberatan."
"Kamu itu terlalu baik. Aku membencinya."
Perkataan itu berhasil membuat Emma yang sedang mengunyah makanan sampai tersedak. Romeo dengan sigap mendorong air milik Emma. Membiarkannya Emma meminumnya sampai rasa perih ditenggorokannya hilang.
"Kenapa kamu tidak menyukai hal itu?"
"Karena kebaikanmu bisa saja dimanfaatkan oleh orang lain. Kamu dengan mudahnya memberikan aku tumpangan padahal kamu sendiri tidak tahu apakah aku orang jahat atau bukan."
Yang lebih parahnya lagi, Romeo khawatir nantinya apartemen Emma akan menjadi panti asuhan jika gadis itu membawa orang lain yang membutuhkan bantuan sepertinya. Ia bukan orang jahat, tapi bagaimana jika nanti Emma bertemu orang lain di luar sana yang haus akan kebaikannya? Bisa saja gadis itu berada dalam bahaya.
Walaupun bisa dibilang sekarang pun Emma sedang dalam bahaya karena terlibat dengan orang seperti dirinya.
"Kenapa kamu membenci hal itu? Maksudku bukankah bagus jika aku baik kepada orang lain? Aneh rasanya saat kamu justru mengatakan hal itu."
Romeo memasukkan potongan ayam paling besar yang ada di piringnya. Mengunyahnya perlahan. Memuji hasil masakan Emma di dalam hati. Tidak berniat menyebutkannya setelah terang-terangan mengatakan bahwa dirinya membenci kebaikan Emma.
"Maksudku, kamu tidak tahu siapa aku. Aku bahkan belum menceritakan apa pun tentang diriku. Tapi anehnya kamu justru tidak waspada dan terlihat biasa saja. Itu yang membuatku kesal. Seharusnya kamu memiliki sedikit perasaan itu. Karena tidak semua orang yang ada di dunia ini merupakan orang baik."
"Ya, aku jelas tidak sebodoh itu. Aku tahu tidak semua orang itu merupakan orang baik. Tapi alasan kenapa aku mau menerimamu karena aku yakin kalau kamu bukan orang jahat. Aku tidak tahu tentangmu, tapi tidak masalah. Kita bisa saling bercerita jika perlu. Yang terpenting, kamu tidak terlantar di luar sana. Aku akan sangat membenci diriku sendiri jika membiarkan hal itu padahal aku sadar bahwa aku bisa membantu."
"Tidakkah kamu berpikir bahwa akan ada orang lain yang membantuku?"
"Kalau ada. Kalau tidak bagaimana? Mungkin sekarang kamu akan berada di tong sampah sambil mencari-cari sisa makanan."
Menjijikan membayangkan hal itu, tapi Emma benar. Bahkan Romeo sekalipun tidak yakin bahwa hari itu ia bisa ditolong oleh Martin. Karena Martin baru menghubunginya keesokan harinya. Yang lebih parah lagi ada terlalu banyak orang di luar sana yang tidak peduli penderitaan orang lain.
"Sudahlah, kamu itu berpikir terlalu jauh. Sudah kubilang tidak perlu sungkan. Aku tahu kamu bukan orang jahat. Satu-satunya bagian jahat dari dirimu hanya mulutmu saja yang terkadang lepas kendali."
Romeo mengernyitkan dahi. Bertanya, "Apa maksudmu?" Dengan nada sarkas.
"Terkadang kamu punya mulut yang kotor. Aku masih tidak keberatan dengan hal itu karena aku pun sadar kalau aku tidak bermulut manis."
Romeo tidak sadar bahwa lauk di piringnya sudah habis. Hanya tersisa nasi dengan bercak saus teriyaki. Emma menggerakan tangan mengambilkan ayam untuk orang Romeo.
"Ahh, ya. Aku baru ingat. Bagaimana dengan perkembangan kesehatanmu?" Emma bertanya saat Romeo hanya diam sambil menatap piringnya.
"Apa?"
"Kakimu. Apa perlu melakukan terapi? Aku bisa mengantarmu ke rumah sakit jika kamu perlu melakukan hal itu."
"Bukankah sudah kubilang pihak rumah sakit masih mengejarku?"
"Kita bisa mencari rumah sakit lain, bukan?"
Romeo menggelengkan kepalanya kuat. Emma benar-benar menyebalkan. Menyebalkan karena terus bersikap sebaik itu padanya. Tidakkah gadis itu tahu efek apa yang muncul karena kebaikannya itu?
"Tidak. Tidak perlu. Aku hanya perlu berlatih berjalan. Itu sebenernya bisa kulakukan sendiri."
"Bagaimana jika ada sesuatu?"
"Tentu saja tidak. Otot-ototku hanya tertidur. Itu saja."
"Baiklah, katakan padaku jika kamu membutuhkan terapi. Kita akan pergi ke rumah sakit."
Terlalu mudah Emma mengatakan sesuatu yang membuat Romeo mudah merona pula. Romeo tahu Emma tidak bermaksud melakukan hal itu, tapi tetap saja ia terus dibuat terpana. Bagaimana Emma berbicara, bagaimana Emma memperhatikannya, caranya bersikap dan melakukan sesuatu menjadi candu tersendiri untuk Romeo.
Bukankah sudah Romeo bilang bahwa semuanya terlalu cepat? Tapi Emma tidak membiarkannya bernapas dan menghalau segala bentuk perhatiannya. Emma selalu begitu. Bersikap manis dan terus menghujani Romeo dengan sikapnya yang memukau. Sementara Romeo terus dibiarkan, dipaksa untuk menerimanya saja.