20; Kehilangan

1624 Words
Emma bisa dibilang sudah terlalu terbiasa sendirian. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, tidak ada lagi yang menunggunya pulang. Jauh sebelum ia bertemu kekasihnya, ia menjadi seorang yang sangat kesepian. Semua yang dilakukannya selalu sendirian. Jadi, Emma sangat terbiasa dengan suasana rumah yang sepi. Bahkan saat dirinya sudah memiliki kekasih pun, kekasihnya itu hanya akan datang sesekali. Teman-temannya? Mereka juga tidak terlalu sering menginap. Seminggu belakangan, Emma merasa bahwa ada seseorang yang senantiasa menunggunya di rumah. Ia senang menyadari bahwa ada seseorang yang menunggunya. Meski Romeo tidak sepenuhnya melakukan hal itu, tetap saja ia senang. Lalu malam ini, saat dirinya membuka pintu, rasanya sangat wajar jika ia terkejut karena tidak menemukan Romeo di sana. Emma mencari di kamar Romeo, bahkan ke toilet juga, tapi tetap tidak menemukan siapa-siapa di sana. Perasaan khawatir mulai melingkupi Emma. Ia tidak memeriksa apakah barang-barang penting di rumahnya hilang, ia khawatir kalau Romeo pergi tanpa sepengetahuannya karena merasa tidak enak tinggal terlalu lama di apartemennya. Tubuh Emma sangat lelah, tapi ia segera pergi ke luar. Mencari Romeo ke sana sini, bertanya kepada petugas keamanan apakah mereka melihat Romeo dengan memberikan ciri-ciri tubuh Romeo, tapi tidak ada yang melihat Romeo. Baru setelah dirinya memeriksa CCTV di lantai dasar perasaan khawatir berubah menjadi perasaan lega. Ia berterima kasih kepada petugas keamanan yang membantunya untuk mencari Romeo di sekitar area taman dan tempat lainnya di lantai dasar. Romeo terakhir kali terlihat di lantai teratas. Dan itu baru sekitar setengah jam lalu. Yang artinya, satu-satunya tempat yang dikunjungi Romeo adalah atap apartemen. Emma sangat senang saat melihat Romeo berdiri di pinggir gedung tepat setelah dirinya membuka pintu. Hampir saja ia melaporkan kehilangan Romeo ke pihak kepolisian jika ia tidak menemukan laki-laki itu. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini?" Emma bertanya cemas sambil menghampiri Romeo. Di posisinya, Romeo terlonjak saat mendengar suara Emma di belakang tubuhnya. Ia berbalik. Mendapati Emma yang bagian rambutnya tertiup angin. Hawa dingin yang sejak tadi dirasakan oleh Romeo kini ikut dirasakan oleh Emma. Udara malam menusuk melewati celah pori-pori nyaris membekukan. Dingin sekali. Waktu menunjukkan sudah hampir tengah malam, tapi Emma Justru harus mendapati Romeo berada di atap apartemen. Ia hanya bisa memeluk dirinya sendiri saat menghampiri Romeo yang terus menatapnya. "Kupikir kamu akan pulang lewat tengah malam. Kenapa sekarang ada di sini?" tanya Romeo. "Aku tidak membiarkanmu berbicara. Aku akan mengeluarkan emosiku terlebih dahulu sebelum mempersilahkanmu berbicara." Romeo diam. Emma berdeham sambil bergerak ke samping Romeo. "Apa kamu tidak tahu seberapa paniknya aku saat tidak mendapati kamu di dalam apartemen? Kupikir kamu kamu memilih pergi diam-diam dari apartemen atau diculik." Emma bernapas lega sebelum kembali menatap Romeo setelah sempat mengalihkan pandangan. "Tapi untunglah kamu tidak pergi ke mana-mana," katanya. "Apa aku sudah boleh berbicara?" Emma menggeleng. "Tidak! Belum," sahutnya cepat. Ia berdeham lagi. "Aku tidak tahu sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan di sini, tapi seharusnya kamu sadar bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berada di atap apartemen. Kamu pasti tahu udaranya akan sangat dingin dan itu tidak baik untuk kesehatanmu. Bukankah kamu belum pulih sepenuhnya? Kalaupun sudah, bukan berarti kamu bisa melakukan hal ini." Emma menatap Romeo dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Romeo hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih dengan bawahan jeans selutut. Kalaupun Romeo memang ingin berada di atas, seharusnya sekalian saja Romeo membawa tenda atau membawa selimut jika tenda tidak diperlukan.  Setidaknya itu akan membantu. Kalau masih tidak mau membawa selimut, Romeo harus memakai pakaian yang sangat rapat sehingga dinginnya udara malam tidak menembus tubuhnya.  "Aku kagum mendapati dirimu tidak menggigil hanya mengenakan pakaian seperti itu." Emma memuji pasrah. Jika Romeo boleh jujur, Emma persis seperti ibunya saat mendapati dirinya hendak mencuri-curi waktu untuk pergi keluar sendirian saat malam hari. Kaburnya gagal, tapi ibunya akan ceramah panjang lebar. Memberitahu bahwa udara malam sangatlah tidak baik, memintanya untuk waspada bahwa orang-orang jahat akan lebih banyak berkeliaran saat malam hari. Kira-kira yang membuat Emma dan ibunya hampir sama adalah sifatnya yang mudah khawatir. "Kenapa kamu tidak menanggapi ucapanku?" tanya Emma setelah beberapa saat hanya hening. Romeo berbicara. Mengaku bahwa alasannya tidak menanggapi ucapan Emma adalah karena Emma melarangnya berbicara. "Ahh, baiklah. Sekarang kamu boleh berbicara." "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ke sini." "Itu saja?" Emma menganga. Tidak menyangka Romeo hanya mengatakan beberapa kata tersebut padahal tadi ia justru ceramah panjang lebar. "Apa kamu tidak tahu waktu? Sekarang itu bukan waktu yang tepat untuk berada di atas atap apartemen. Kalaupun kamu ingin melihat pemandangan, maka kamu harus melakukannya saat senja atau sebelum matahari terbit. Itu akan jauh lebih menakjubkan." "Baiklah, besok aku akan datang saat senja saja, atau sebelum matahari terbit." Emma mengerang frustrasi. "Bukan itu maksudku," sergahnya untuk ke sekian kali. "Lalu apa? Sebenarnya sejak tadi kamu ingin berbicara apa?" Emma ingin memberitahu kepada Romeo bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk menikmati pemandangan malam kota. Ia tidak sedang memberi saran, tapi Romeo seolah menganggapnya seperti itu barusan. Padahal ia khawatir, tapi bisa-bisanya Romeo justru terlihat sangat tenang. "Ahh, sudahlah. Kamu menyebalkan. Sebaiknya kita kembali saja. Di sini dingin sekali."  Emma melepaskan kedua tangannya pada masing-masing sisi lengan tubuhnya. Melepas pelukan pada dirinya sendiri, lantas menarik kaus oblong Romeo. Hanya tarikan kecil, tapi Romeo langsung bergerak mengikutinya menuju pintu yang tak jauh berada di belakangnya. Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Emma hanya menyatukan kedua telapak tangannya dan menutup mulutnya untuk menghalau dingin yang masih dirasakannya. Romeo hanya memperhatikan. Emma salah. Ia pergi ke atap bukan karena ingin menikmati pemandangan kota, tapi ingin menemukan ketenangan yang tidak berhasil ia dapatkan di dalam apartemen. Ia bermimpi tentang ibunya. Wanita itu sedang menyiapkan makanan untuknya di rumah. Perasaan sakit langsung menjalar memenuhi rongga dadanya begitu ia terbangun secara tiba-tiba. Sangat menyakitkan sampai dirinya tidak bisa bernapas dan sampai mengeluarkan air mata. Berusaha keras menahan perasaan rindu yang sudah tidak bisa terbendung lagi. Romeo tidak ingin lari. Romeo tidak ingin terus-terusan seperti ini. Ia ingin bertemu ibunya. Minimal, ia ingin pergi ke makam ibunya kalau memang wanita itu sudah meninggal. Agar ia memiliki tempat pulang saat dirinya sudah sangat lelah dengan keadaan. Tapi sayangnya justru keadaan itu tidak mendukung. Dunia terlalu kejam dalam memperlakukannya. Dan Romeo tidak yakin bahwa dirinya bisa bertahan. Yang mengagumkan adalah saat ia mendengar namanya dipanggil dan menoleh ke belakang kemudian mendapati Emma yang sedang mencarinya, perasaan tenang menyelimuti Romeo. Mengingat hal itu membuat Romeo hanya bisa tersenyum sambil diam-diam mencuri pandang ke arah Emma yang masih berusaha menghangatkan diri. Gadis itu melakukannya bahkan setelah sampai di dalam apartemen. Baru berhenti ketika berada di dapur. Seperti biasa, Romeo memilih menarik kursi sambil menunggu Emma dengan kegiatannya. Emma membuka kulkas, mengambil bahan makanan yang akan digunakannya untuk membuat masakan. Saat menutup pintu, matanya menangkap sebuah kertas kecil di bagian muka pintu. Aku tidak tahu kamu pulang di jam seperti biasa atau tidak, tapi jika lebih awal, aku berada di atap jika kamu tidak menemukanku di sini. Tulisan tangan di kertas tersebut sangat rapi. Jauh lebih rapi dari miliknya. Emma meletakkan telur yang diambilnya di atas konter. Beralih menatap Romeo yang sedang duduk di kursi meja makan. Kebiasaan yang kerap Romeo lakukan saat menunggunya memasak. Emma mengambil kertas tersebut. "Kamu meninggalkan pesan untukku di kulkas?" tanyanya. "Ya." "Kenapa aku tidak mengetahuinya?" "Karena kamu tidak memeriksanya." Romeo benar. Saat mengetahui bahwa Romeo tidak ada di apartemen, yang tersisa dalam diri Emma hanyalah kepanikan. Jangankan memikirkan bahwa mungkin saja Romeo meninggalkan pesan untuknya, ia bahkan sudah tertelan rasa khawatirnya sendiri. "Dari mana kamu mendapatkan kertas dan pulpen ini?" Romeo menunjuk lemari kecil di dekat televisi. Di sana ada alat tulis kantor seadanya. Emma memijit pelipisnya sambil tersenyum menyadari betapa bodoh dirinya. "Apa kamu tahu kalau aku sampai mencarimu ke lantai dasar? Aku bahkan meminta bantuan beberapa petugas untuk turut mencarimu di area taman dan beberapa tempat. Tapi aku baru tahu kamu ada di atap apartemen saat melihat CCTV. Bukankah aku begitu bodoh karena terbawa perasaan panik?" Sekarang Emma tertawa. Merasa lucu dengan kejadian yang dialaminya. "Aku tidak sebodoh itu. Kamu sudah membantuku, jadi sudah pasti aku tidak akan membuatmu khawatir. Kalaupun ingin pergi ke mana-mana aku pasti akan meninggalkan pesan untukmu." "Kamu benar. Aku saja yang mudah panik dan tidak sempat memikirkan hal itu." "Apa kamu takut aku kabur sambil membawa barang-barang berharga dari apartemen ini?" Hebatnya Emma justru tidak mempedulikan hal itu. Tadi, yang ada dipikirannya adalah berada di mana Romeo dan sedang apa? "Kupikir tidak," aku Emma. "Aku lebih mengkhawatirkan dirimu. Aku bahkan tidak sempat mengecek apa pun tadi, aku langsung berlari ke sana ke mari untuk mencarimu. Karena kamu tidak ada di apartemen, aku jadi panik, aku merasa seperti kehilangan sesuatu." "Kenapa kamu berpikiran seperti itu?" "Ya, karena kita sudah satu minggu lebih tinggal bersama, kamu tahu? Aku merasa aneh saat tidak menemukanmu di tempatku. Itu saja." Emma itu … ahh, Romeo cepat-cepat mengalihkan pandangan. Rasanya ingin sekali memasukkkan Emma ke dalam koper dan menculiknya. Sepertinya gadis itu tidak sadar bahwa ucapannya sangatlah menggemaskan. Bagaimana bisa dengan orang asing saja Emma bersikap sebegitu manisnya? Apa kabar dengan orang-orang spesial baginya? Apakah mental mereka sehat? Karena kalau Romeo boleh jujur, dirinya sedang tidak baik-baik saja. Menghadapi Emma membuatnya terluka. Bukan luka yang menyakitinya dalam artian negatif, karena Emma jelas tidak bermaksud melakukan hal itu, tapi jenis luka yang hadir karena ia tidak bisa menahan gejolak aneh dalam dirinya sendiri.  Romeo ingin mengakui. Ini yang pertama, dan menyukai orang lain itu sangatlah menyakitkan. Ia harus menahan, bersikap biasa saja seolah tidak terganggu, dan mencoba tetap normal. Dan yang menambah rasa sakitnya adalah, Emma sudah ada yang memiliki. Ia tidak memiliki kesempatan untuk menemukan celah. Kekasih Emma sempurna. Emma seperti diberikan rumah saat dirinya terlantar. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Ia tetaplah menjadi orang yang menumpang. Jelas sudah kalah sebelum berperang. Karena Emma berhasil memenangkan hatinya, sedangkan ia bukan orang yang dipilih Emma untuk memenangkan hatinya. Itulah bentuk kekalahannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD