21; Kunjungan

2062 Words
Hari itu hari kedua Emma libur bekerja. Ia dan Romeo memilih menghabiskan waktu di luar saat sore hari. Awalnya ia hanya berniat pergi ke makan kedua orang tuanya sendirian, tapi Romeo memaksa ikut. Emma sempat bertanya apakah tidak masalah? Karena kaki Romeo belum pulih sepenuhnya. Dan Romeo tidak mempermasalahkan hal itu. Ia mengakui bahwa kakinya sudah jauh lebih baik sejak pertama kali bertemu Emma dan sepertinya hampir pulih. Tempat pertama yang dikunjungi keduanya adalah minimarket di mana Emma bekerja. Itupun secara tidak sengaja. Emma berhenti di depan minimarket tersebut karena menjadi di minimarket yang dilihatnya pertama kali dalam perjalanan menuju makam orang tuanya. Minimarket itu yang menjadi tempat pertemuan Romeo dan Emma hari itu. Saat Romeo membutuhkan bantuan dan Emma tidak sungkan untuk mengulurkan tangan. Begitu turun dari taksi tepat di depan minimarket di mana Emma bekerja, dua orang yang sedang menurunkan barang dari sebuah truk menyadari kehadiran Emma. Laki-laki dengan potongan rambut cepak, beralis tebal, dengan kulit putih bersih menyapa Emma pertama kali. "Ehh, kamu bukannya libur hari ini?" tanya laki-laki itu. Raffa namanya, laki-laki berusia dua tiga yang tingginya berada di bawah Emma. "Iya, cuma mau mampir aja." Emma berjalan santai ke dalam minimarket. Antrian panjang memaksanya dan Romeo untuk menepi. Keduanya berkeliling melewati lorong makanan ringan. Berhenti di sana. Emma mengatakan kepada Romeo bahwa Romeo bisa mengambil apa pun yang diinginkannya, tapi Romeo menolak dan mengatakan bahwa dirinya tidak menginginkan apa-apa yang ada di sana. Sepertinya beberapa dari kalian sudah menduga bahwa Emma adalah orang yang pengertian. Ia mengambil beberapa makanan ringan tanpa persetujuan Romeo meskipun makanan itu ia beli khusus untuk Romeo. Tak lupa pula membeli air mineral untuknya dan Romeo. Barulah setelah itu, ia ikut mengantri di depan kasir. Dua orang yang tadi sedang menurunkan barang, kini telah selesai. Sepertinya tadi memang sudah habis. Keduanya menghampiri Emma yang sedang mengantri. Memandang Romeo dengan tatapan yang sanggup membuat Romeo risih. Itu adalah tatapan yang ia dapatkan saat Manda pertama kali melihatnya malam itu. Dan kini, ia mendapatkan tatapan yang sama dari teman Emma yang lain. "Ma, Emma, aku mau minta penjelasan dari kamu sekarang juga." Laki-laki yang sebelumnya bertanya pada Emma kembali memulai pembicaraan. Emma hanya memandangnya sekilas, kemudian kembali menatap ke depan. Di sisi lain tubuh Emma, ada seorang perempuan yang rambutnya dikucir kuda. Matanya sipit, dan seperti Raffa, perempuan itu memiliki kulit yang bersih, tapi agak kemerahan. Perempuan itu mencolek pelan lengan Emma. "Ma, Emma, aku juga mau minta penjelasan dari kamu." Perempuan itu ikut-ikutan. Kalau yang ini namanya Sasha. Romeo yang berdiri di belakang Emma bergerak tidak nyaman. Dari tatapan dua teman Emma tersebut ia sebenarnya sudah tahu apa yang ingin mereka tanyakan dan penjelasan seperti apa yang mereka butuhkan. Hal itulah yang membuatnya amat risih. Karena ia tahu mereka pasti ingin bertanya mengenai dirinya. Lagi-lagi Emma mengabaikan perkataan dari Sasha seperti ia mengabaikan perkataan dari Raffa. Antrian habis. Emma maju dan menjatuhkan barang-barang yang ada di pelukannya ke atas meja kasir. Seorang laki-laki menyambutnya dengan senyuman di balik meja kasir. Semua barang-barang milik Emma dihitung. Emma meminta kantung belanjaan karena ia tidak membawa miliknya dari rumah. Setelah selesai melakukan pembayaran, Emma ditatap oleh tiga orang yang ada di sekelilingnya. Bukan jenis tatapan membunuh, tapi sanggup membuatnya menghela napas. "Kalau aku tidak salah ingat, sepertinya kamu sudah memiliki kekasih. Apa sekarang artinya kamu sedang berselingkuh?" Laki-laki yang berdiri di belakang meja kasir bertanya terus terang. Ikut menatap Romeo penasaran. Diikuti tatapan menyusul dari Raffa dan Sasha. Emma melotot. Mana mungkin ia berani melakukan hal menjijikan seperti itu. Kekasihnya sangat baik dan sangat peduli padanya. Ia sangat menyayangi kekasihnya. Jangankan untuk melakukan perselingkuhan, hal seperti itu bahkan tidak pernah muncul di kepalanya. "Kalian itu kenapa sih? Apa kalian tidak sadar kalau pertanyaan dan tatapan kalian membuat orang yang berada di belakangku risih?" Romeo mengalihkan pandangan saat ketiga teman Emma lagi-lagi serempak memandangnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Apa yang dialaminya sekarang bukanlah kejadian pertama di mana dirinya dikerubungi oleh tatapan yang menusuk. Bukan pertama kalinya pula ia merasakan perasaan tidak nyaman karena tatapan itu. Ya, itu adalah salah satu kutukan yang harus ia terima karena wajahnya. "Kalau memang kamu tidak berselingkuh, lantas siapa yang sedang bersamamu ini? Ayolah, Em, aku tahu kamu tidak sepopuler itu sampai bisa mendapatkan laki-laki setampan dia. Ceritakan padaku ada apa sebenarnya." Lagi-lagi laki-laki di balik meja kasir berbicara. Cara bicaranya yang berani membuat Romeo mau tak mau menatapnya. Entah kenapa ia tidak suka saat laki-laki itu mengatakan seolah-olah Emma tidak pantas mendapatkan laki-laki yang tampan dan rupawan. Apa kalian penasaran siapa laki-laki tersebut? Namanya adalah Julian. Seusia dengan Emma dan memiliki paras yang lumayan. Jika kalian yang menganggap bahwa Romeo memiliki mulut yang kotor, maka Julian memiliki mulut yang jauh lebih kotor dari Romeo. "Aku sebenarnya tidak ingin menjelaskan apa pun pada kalian. Lagi pula aku datang ke sini bukan untuk mengobrol dengan kalian, tapi murni untuk berbelanja. Aku lupa kalau kalian pasti akan mengintrogasiku saat melihat aku membawa seorang pangeran. Dan, ya, seharusnya aku mencari minimarket lain saja untuk berbelanja." "Ahh, ayolah. Jangan seperti itu. Kami bertiga hanya penasaran saja." Raffa berbicara.  Sasha mengangguk membenarkan. "Salah kamu juga karena membawa orang lain yang tidak kami kenal ke sini. Kekasihmu memang baru satu kali datang ke sini, tapi aku yakin aku hafal dengan wajahnya, dan bukan ini orangnya," tambahnya. "Kalian ini terlalu ikut campur urusanku. Tidak usah berbicara seolah-olah kalian sedang menuduhku berselingkuh." "Kami tidak berbicara seperti itu!" sangkal ketiganya. Dan hebatnya mereka mengatakan hal itu bersamaan. Julian mendekatkan tubuhnya ke meja kasir. Menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas meja kasir. Ia memandang Romeo yang berdiri di belakang Emma. "Kenapa kamu tidak berbicara sejak tadi? Apa kamu tidak sadar bahwa kami berempat di sini sedang membicarakanmu?" Tahu bahwa kalimat Julian ditujukan untuknya, Romeo lantas balas menatap Julian. Ia berkata, "Aku tidak suka berbicara dengan orang asing. Tapi karena kamu secara langsung bertanya kepadaku, aku akan bukan suara." Matanya beralih menatap ketiga teman Emma secara bergantian. "Kalian itu lucu. Kalian pikir hidup Emma hanya dipenuhi oleh kalian saja? Kalian pikir hidup Emma hanya dipenuhi oleh kekasihnya saja? Jangan berbicara seolah-olah Emma tidak berhak memiliki orang lain di dalam hidupnya." Jurus andalan Romeo keluar. Raffa dan Sasha melongo. Sementara Julian menegakkan tubuh sambil memasang senyum lebar. Ia tertawa mendengar jawaban dari Romeo. Sejak tadi tidak berbicara, sekalinya berbicara perkataannya pedas, dan mampu membuat siapa pun yang mendengarnya mengatupkan mulut. "Aku suka cara bicaramu. Sepertinya kita bisa jadi teman dekat," kata Julian. Romeo menggeleng. "Aku sama sekali tidak menginginkan teman sepertimu," sahutnya tajam. Sekali lagi mengundang gelak tawa Julian. Emma mengangkat tangannya. Meminta perhatian dari Romeo dan ketiga temannya. "Kalian ini jangan terus menggoda dan menuduhku yang tidak-tidak. Dan kamu, Julian!" Emma menunjuk Julian. Posisinya yang berada terlalu dekat dengan meja kasir nyaris membuat telunjuknya menusuk bola mata Julian, "aku tidak akan membiarkan laki-laki sepertimu berteman dengannya. Sifatmu itu terlalu mengerikan." Dalam satu tarikan, Emma mengulurkan tangannya ke belakang dan menarik tangan Romeo agar maju dan berdiri di sampingnya. "Laki-laki yang kalian lihat ini adalah sepupu jauhku. Dia sedang menginap di tempatku. Itu saja," jelasnya. Persis seperti saat ia menjelaskan kepada Manda waktu itu. Tepat setelah itu, pintu minimarket terbuka. Mengundang tatapan semua orang yang ada di dalamnya. Mereka yang sedang berkumpul di meja kasir mengira bahwa yang sedang membuka pintu minimarket adalah pelanggan, tapi ternyata bukan. Manda muncul dengan tentengan plastik berwarna putih berisi penuh gorengan. Bola matanya membesar, dan Manda segera berlari untuk bergabung dengan teman-temannya. Orang yang pertama dilihatnya adalah Romeo. "Hai, Romeo. Kamu sedang apa di sini? Apa Emma mengajakmu ke sini untuk berkenalan dengan semua teman-temannya?" tanya Manda tanpa basa-basi. Sudah pasti setiap kata yang keluar dari mulutnya mengundang rasa penasaran dari tiga temannya yang lain. Mereka bertanya-tanya bagaimana bisa Manda mengenal laki-laki yang diajak oleh Emma padahal baru melihat laki-laki itu? "Aku hanya mengantar Emma." Dan hebatnya laki-laki yang bernama Romeo itu menjawab pertanyaan Manda seolah pernah mengenalnya. Itulah yang mengganggu pikiran Raffa, Sasha dan Julian. Emma menjelaskan. Mengatakan kepada ketiganya bahwa Manda pernah menginap di rumahnya sekali sejak kedatangan Romeo dan kenal dengan Romeo pada malam itu. Sasha yang sejak bekerja di minimarket tidak pernah menginap di rumah Emma meskipun Emma mengajaknya, menyesal saat mendengar pernyataan Emma. Ia dengan jujur mengatakan bahwa dirinya tidak terima bahwa Manda yang mengenal Romeo lebih dulu. Tidak lupa Emma juga memperkenalkan Romeo dengan ketiga temannya yang belum dikenal Romeo. Menyebut nama mereka dan bagaimana sifat mereka. Romeo hanya mengangguk. Tidak ada senyuman, tidak ada pula jabat tangan. Hanya tarikan tipis yang tidak bisa disebut sebuah senyuman. “Kebetulan saat ini Romeo sedang mencari pekerjaan di kota ini. Aku memberinya tumpangan karena ia tidak punya tempat tinggal dan tidak mengenal orang lain di kota ini. Jadi aku mohon jangan berbicara seolah-olah aku berselingkuh dengan sepupuku sendiri. Itu candaan yang sangat tidak lucu,” tambah Emma sedikit jengkel. Sasha dengan semangat menimpali perkataan Emma. “Bagaimana kalau Romeo bekerja di sini saja? Bukankah akan lebih nyaman? Kamu bisa bekerja di satu tempat yang sama dengan sepupumu.” “Jangan bodoh. Itu jelas sangat tidak mungkin.” Emma menggeleng pelan. Siapa pun yang pernah bekerja di minimarket atau supermarket pasti tahu bahwa setiap pegawai tidak bisa memilih tempat bekerjanya sendiri. Karena biasanya perusahaan ritel yang memiliki banyak cabang hanya akan menempatkan pegawainya di salah satu cabang perusahaan terdekat dari domisili pegawainya tersebut, atau bisa juga ditempatkan di cabang yang sedang membutuhkan pegawai. Jadi, sekalipun Romeo melamar di perusahaan yang sama, bukan berarti Romeo akan ditempatkan di cabang perusahaan yang sama pula. Mungkin lain cerita jika memiliki koneksi penting di perusahaan. “Ya, itu memang sangat tidak mungkin. Kenapa kamu tidak mengaku saja kalau kamu ingin bekerja di tempat yang sama dengan Romeo?” sindir Julian melirik Sasha. Gadis itu cemberut dan tidak berbicara lagi. “Benar. Kita pun berkumpul di sini bukan karena sesuatu yang disengaja. Kita tidak memilih ingin ditempatkan di minimarket ini, itu adalah keputusan langsung dari perusahaan. Jadi rasanya sangat tidak mungkin kalau Romeo bisa ditempatkan di tempat yang sama. Apalagi posisi di minimarket ini sudah penuh.” Raffa menanggapi dengan cara yang lebih cerdas. Sadar akan sesuatu, Emma menatap Raffa dan Sasha. “Bukankah shift kalian sudah habis? Seharusnya tadi yang menurunkan barang Julian dan Manda, bukan?” tanyanya. Raffa mengangguk mengiyakan. Mengatakan bahwa dirinya melakukan hal itu karena tadi Manda pergi keluar untuk membeli makanan dan ia terlalu malas untuk menjaga kasir, jadi hal itu dilakukan oleh Julian. “Baiklah, kalau begitu aku akan langsung pergi. Ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Emma mengambil kantong belanjaannya yang masih berada di atas meja kasir. Romeo mengambil alih kantong belanjaan tersebut dari tangan Emma. Hal kecil yang berhasil membuat Manda dan Sasha memekik kegirangan. Keduanya lantas segera pergi setelah sekali lagi berpamitan. Berjalan santai ke tepi jalan dan menghentikan sebuah taksi. Sesuai rencana, sekarang mereka akan menuju makam orang tua Emma. “Apa semua temanmu seusia denganmu?” Di tengah perjalanan Romeo menanyakan hal itu. “Tidak. Aku, Manda dan Julian sama-sama berusia dua enam. Tapi Raffa dan Sasha tidak. Sasha yang paling muda. Usianya dua-dua, sedangkan Raffa dua tiga.” Romeo cukup terkejut mendengar hal itu. Karena ia kira Emma dan teman-temannya seusia. Mereka terlihat sangat akrab. Raffa dan Sasha yang paling muda pun tidak menggunakan embel-embel ‘kakak’ untuk memanggil Emma. “Jadi hanya kamu, Manda dan Julian yang sudah bekerja paling lama di minimarket itu?” “Tidak juga. Aku yang bertahan paling lama di sana. Aku sudah bekerja di sana sekitar empat tahun. Sebelumnya aku juga bekerja di minimarket, hanya saja di tempat yang berbeda.” “Lalu bagaimana dengan teman-temanmu? "Julian sudah bersama denganku tiga tahun, Manda dua tahun, sementara Raffa dan Sasha baru masuk sekitar satu tahunan ini. Sebelum itu selalu saja ada orang-orang yang keluar masuk karena tidak tahan. Pasalnya, bekerja di minimarket itu memang tidak seenak yang orang lain bayangkan.” Romeo tidak tahu ada berapa banyak kesulitan yang sudah dialami Emma selama ini. Tapi mendengar helaan napas yang keluar dari mulut Emma membuatnya berpikir bahwa mungkin memang tidak semudah itu bekerja di minimarket. Ia yang selama ini belum pernah bekerja tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya. Rasanya memang tidak terlalu berlebihan bukan jika Romeo menganggap bahwa Emma adalah gadis yang sangat tangguh? Mandiri, tidak mudah mengambil keputusan hanya karena tidak nyaman dengan suasana pekerjaan, dan sepertinya Emma sadar bahwa dirinya memang hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD