Romeo berjalan di belakang Emma. Mengikuti Gadis itu yang sedang berjalan di tengah pemakaman. Di tangannya, terdapat dua tangkai bunga mawar putih yang tadi sempat dibelinya di perjalanan. Pemakaman tersebut bukanlah pemakaman mewah yang sering Romeo lihat saat mengunjungi makam kakek-neneknya yang sudah meninggal. Itu hanyalah pemakaman biasa yang berada di daerah pemukiman. Tidak ada gedung-gedung tinggi di daerah tersebut. Hanya pemukiman warga. Itu pun berada cukup jauh dari pemakaman.
Dua gundukan tanah membuat Emma menghentikan langkah. Emma berjongkok di sisi salah satu makam. Diikuti Romeo yang ikut berjongkok di samping Emma. Nisan dua makam tersebut terlihat masih cukup baru. Sepertinya Emma baru menggantinya belum lama. Nama Eliana dan Hans terpampang jelas di nisan tersebut. Dua nama yang indah sekali menurut Romeo. Seindah nama Emma.
Bagian atas makam tertutupi dedaunan kering yang dengan cepat dibersihkan oleh Emma. Romeo ikut membantu membersihkan makam satunya lagi sehingga kegiatan itu berlangsung lebih cepat.
Suasana makam memang selalu memberi kesan kelam. Itu pula yang tengah Romeo rasakan. Emma memang tidak menangis, tapi dari sorot matanya memancarkan kesedihan yang membuat Romeo tidak berani angkat suara. Dua tangkai mawar putih yang dibawakan Emma diletakkan di atas masing-masing makam tersebut.
Kesedihan yang dirasakan Emma sekarang mungkin merupakan kesedihan yang nantinya akan Romeo rasakan saat melihat makam ibunya. Kesedihan itu menular pada Romeo. Berada di tengah makam orang tua Emma membuatnya membayangkan akan bagaimana kondisinya nanti jika mengunjungi makam ibunya. Pasti sangat berat, dan Romeo tidak yakin bahwa dirinya bisa menghadapi hal itu.
“Kamu tahu?”
Romeo yang terkejut mendengar Emma yang tiba-tiba berbicara segera memandang gadis itu. “Ahh, ya. Apa?” Romeo balik bertanya.
“Mengikhlaskan kepergian kedua orang tuaku bukanlah sesuatu yang bisa aku lakukan bahkan hingga saat ini. Saat kepergian ibuku, aku hampir menangis setiap malam karena terlalu merindukan beliau. Ayahku memang bisa memasak, kebiasaan itu ayahku lakukan semenjak ibuku meninggal. Tapi tetap saja masakannya tidak sebaik hasil dari masakan ibuku. Setiap kali memakan masakan ayahku, kerinduanku terhadap ibuku malah bertambah besar.”
Satu tangan Emma mengusap batu nisan milik ibunya. Romeo sama sekali tidak menyahut karena ia tahu bahwa Emma belum selesai dengan ceritanya. Emma hanya sedang menjeda kalimatnya untuk mengumpulkan keberanian menceritakan keseluruhan kisahnya.
Keheningan berlangsung cukup lama. Suasana area pemakaman yang sepi membuat Romeo merasa seakan dirinya tengah ditelan oleh sisi kelam makam. Untunglah mulut Emma kembali terbuka. Memecah keheningan yang dimulainya.
“Awalnya aku cukup baik-baik saja. Toh, aku masih memiliki seorang ayah meskipun rasanya tetap saja tidak lengkap tanpa seorang ibu. Hal itu bertambah parah saat ayahku menyusul ibuku. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia. Bahkan untuk bertahan hidup pun aku harus mengandalkan diriku sendiri. Susah payah aku merangkak agar bisa mencari makan tanpa harus mengeluarkan tangan untuk meminta bantuan orang lain. Dan kuakui bahwa aku berhasil melewati masa-masa sulit itu, tapi sampai sekarang aku belum menemukan makna dari kata ikhlas itu sebenarnya bagaimana.”
Tatap keduanya bertemu. Romeo tidak tahu harus menjawab apa karena ia pun sebenarnya mengalami hal yang hampir sama dengan Emma. Hanya saja ayah kandungnya masih hidup. Emma jelas salah jika mencari makna kata ikhlas dengan bertanya padanya, karena ia pun masih berharap bahwa ibunya masih hidup.
Martin hanya mengatakan bahwa ibunya sudah meninggal saat ia baru bangun dari koma. Laki-laki itu tidak menjelaskan Di mana ibunya dimakamkan apalagi mengantar dirinya untuk pergi ke sana. Sebenarnya Romeo pun tahu bahwa Martin tidak mungkin berbohong. Apa yang dijelaskannya adalah soal kematian. Rasanya keterlaluan jika bermain-main dengan hal itu. Tapi tetap saja karena ia belum melihat makam ibunya, ia tidak akan percaya sepenuhnya bahwa ibunya sudah meninggal sekalipun memang itulah kebenarannya.
“Aku pun sebenarnya tidak tahu apa itu arti dari kata ikhlas. Mungkin akan sulit mengetahui arti sebenarnya dari kata tersebut. Keadaanmu memang buruk, tapi keadaanku juga tidak jauh lebih baik. Kamu yang masih bertahan sampai saat ini, berusaha mencari nafkah sendirian dan tetap berdiri di atas kakimu sendiri, tetap tersenyum dan tidak sungkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, sepertinya itu sudah cukup untuk menjelaskan bahwa kamu jauh lebih tangguh dariku. Mungkin akan sulit, Tapi ke depannya kamu harus jauh lebih bahagia dari sekarang. Aku yakin orang tuamu pun pasti menginginkan hal yang sama.”
“Kamu tahu?” tanya Emma sekali lagi. Mengulas senyum tipis untuk Romeo.
Romeo bertanya, “Apa?” Untuk kedua kalinya.
“Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah aku dengar dari mulutmu.”
“Hah?” Romeo tidak mengerti perkataan Emma.
“Ya, selama tinggal denganku kamu tidak terlalu banyak berbicara. Selalu aku yang mendominasi percakapan, selalu aku yang memulai berbicara lebih dulu, kamu hanya menanggapi dan menemani ceritaku. Tapi barusan, ya, itu memang tetap saja tanggapan atas perkataanku, tapi aku salut kamu bisa berbicara sepanjang itu.”
“Apakah selama ini perkataanku selalu membuatmu terganggu?” Gantian Romeo yang bertanya.
Emma menggeleng mantap. “Tentu saja tidak. Aku sama sekali tidak merasa terganggu. Barusan reaksi kecilku karena panjangnya tanggapanmu, itu saja.”
“Apa itu hal yang baik?”
“Ya, kurasa tidak buruk juga jika kamu lebih banyak berbicara. Sesekali cobalah memulai pembicaraan. Jangan hanya menanggapi ceritaku saja. Kamu juga boleh bercerita jika memang menginginkannya.”
Romeo hanya mengangguk ragu-ragu sebagai tanggapannya. Belum siap dan tidak tahu juga apakah hal itu bisa ia lakukan. Bisa jadi Emma malah akan berubah waspada setelah mendengar ceritanya. Bagaimanapun, kisahnya bukanlah kisah biasa. Ia seperti seorang pangeran yang selama hidupnya hanya dikurung di sebuah rumah mewah. Satu kecelakaan berhasil membuatnya keluar cukup lama dari rumah mewah itu, tapi sebagai gantinya ia mengalami banyak kemalangan yang cukup mengerikan.
Belum tentu orang lain menyukai kisahnya. Mereka mungkin akan simpati, merasa kasihan, dan tidak tega. Apalagi jika ditambah dengan cerita dugaan mengenai ayahnya yang menjadi tokoh antagonis dalam kisah tersebut. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan lebih tertarik untuk tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, hanya sebatas tertarik, tidak benar-benar peduli.
Kebanyakan manusia di luar sana selalu seperti itu. Mereka hanya tertarik pada kisah orang lain, terutama jika itu merupakan kisah kelam yang membuat si tokoh utama mengalami banyak penderitaan. Mereka hanya akan bersimpati, beberapa lainnya akan memberi semangat, beberapa lainnya lagi akan mengatakan bahwa ada banyak orang lain yang mengalami hal yang jauh lebih mengerikan– yang sebenarnya kata-kata seperti itu sangat tidak diperlukan.
Romeo hanya takut. Takut bahwa Emma akan menjadi salah satu dari kelompok ketiga. Ketakutan lainnya adalah Romeo tidak ingin Emma dalam masalah lebih jauh dari apa yang sedang dialaminya sekarang.
Setelah selesai berdoa, Emma berdiri. Sekali lagi mengusap nisan orang tuanya. Keduanya pergi dari sana. Melewati gundukan-gundukan lain yang sebelumnya sudah mereka lewati. Melangkah perlahan menikmati embusan angin yang menyapu kulit mereka.
Romeo bertanya, "Apakah rasanya seperti hidup, tapi kamu merasa mati?"
"Maksudmu?"
"Hidup tanpa kedua orang tuamu. Kamu bilang kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Itu artinya kamu sendirian. Orang lain tidak mungkin memahami dirimu sebaik orang tuamu dalam memahamimu. Aku bertanya, apa rasanya seperti mati rasa? Kamu hidup, tapi seperti mati."
Emma tertawa hambar. "Awalnya seperti itu. Sangat sulit berada dengan keadaan. Seperti apa yang pernah kamu katakan saat pertama kali aku akan shift malam, dunia luar itu sangat kejam. Saat awal-awal aku seperti anak kecil yang hilang di tengah keramaian. Aku ketakutan, aku tidak tahu harus ke mana, tidak ada tempat pulang dan aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Itu adalah penderitaan yang tidak pernah bisa aku taklukan bahkan hingga sekarang." Sesaat, Emma menatap Romeo yang juga tengah menatapnya. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, tapi tetap dengan langkah kaki yang pelan namun pasti.
"Kamu benar dalam beberapa hal. Aku hidup, tapi seperti mati. Ya, aku pernah merasakan hal itu. Dan memang, sedekat apa pun kita dengan orang lain di dunia ini, mereka tetaplah orang lain. Tidak dengan semua teman-temanku, tidak juga dengan kekasihku. Mereka tidak benar-benar memahamiku. Sebanyak apa pun aku bercerita, mereka hanya mendengarkan. Tapi tidak apa, bisa dibilang aku sudah sangat terbiasa hidup sendirian."
"Ya, kukira kita memang hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Lagi pula kita hidup untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain."
Emma mengangguk membenarkan.
"Tapi aku benar-benar bersyukur karena di dunia ini masih ada orang yang sangat peduli pada orang lain. Aku bersyukur karena aku ditolong olehmu."
Emma mengerjapkan mata. Tidak menjawab dan hanya meneruskan langkah yang mulai tidak tenang. Sejak tadi Romeo terus memujinya, dan itu membuatnya tidak enak.
"Apa kita akan langsung pulang?" Pertama kali Romeo bertanya. Jenis pertanyaan yang membutuhkan kepastian. Ia tidak diam seperti biasanya. Yang di mana dirinya hanya selalu mengikuti Emma ke mana pun gadis itu pergi.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari pertanyaannya. Karena pada akhirnya ia tetap memilih mengikuti Emma. Gadis itu mengatakan bahwa dirinya akan mampir ke suatu tempat, dan Romeo langsung tahu setelah sampai di tempat itu.
Sebuah rumah sederhana di tengah pemukiman. Ada barisan rumah yang hampir sama di sisi kanan dan kiri, hanya saja jauh lebih baik. Sekali lihat saja Romeo langsung tahu bahwa rumah sederhana tersebut adalah rumah lama Emma. Emma bercerita, bahwa sejak dirinya memilih tinggal di sebuah apartemen yang diberikan oleh kekasihnya, ia tetap membayar sewa kontrakan rumah lamanya. Bahkan setelah beberapa bulan ia berhasil membeli rumah yang nyaris roboh tersebut. Terlalu banyak kenangan di sana yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja oleh Emma. Sehingga ia memilih untuk tetap memiliki rumah tersebut meskipun dirinya sudah tidak tinggal di sana lagi.
Bagian dalamnya tidak jauh lebih baik dari tampilan luarnya. Cat-cat sudah mengelupas, kayu yang menopang di beberapa sisi sudah dimakan rayap. Tidak ada yang tersisa di sana. Hanya ada sofa dengan busa menyembul di sana sini. Emma mengatakan bahwa sofa tersebut dibawa ayahnya dari tempat pembuangan. Tidak ada televisi, Emma mengaku bahwa dirinya tidak memiliki itu sejak kecil. Tidak ada kamar tidur, hanya ada kasur kapuk yang digulung di dekat sofa. Kata Emma, kamar mandi ada di belakang. Gadis itu tidak menunjukannya, tapi pastilah tidak jauh berbeda dari keadaan rumahnya.
Sudut hati Romeo tercubit hanya dengan mengingat seberapa sulitnya kehidupan Emma di masa lalu. Selalu saja orang-orang baik yang mengalami kesulitan. Ia yang sejak kecil dilingkupi kehidupan mewah terenyuh mendengar kisah Emma saat menceritakan setiap sudut rumahnya. Satu janji terucap di hatinya, apa pun yang terjadi ke depannya. Mau Emma putus dengan kekasihnya atau bahkan meneruskan ke jenjang pernikahan, ia akan terus mengawasi Emma setelah keadaan berubah menjadi baik-baik saja. Memastikan bahwa gadis itu akan selalu bahagia.