Kelopak mata itu perlahan bergerak terbuka. Berulang kali berkedip untuk menyesuaikan cahaya di sekitarnya. Warna netra kelabu segera terlihat jelas setelah Romeo benar-benar bangun dari tidurnya.
Rasanya nyaman. Romeo menggeliat ke sana-sini. Mencium dalam-dalam aroma pewangi yang menguar jelas dari seprai dan selimut. Kasur yang ditempatinya begitu empuk, tidak jauh beda dengan kasur miliknya yang ada di rumah. Hanya saja kasur miliknya jauh lebih besar dan lebih lembut.
Memilih bangun, Romeo menyibak selimut. Pelan-pelan beringsut turun dari ranjang dan meregangkan otot-ototnya yang kaku. Tidak ada jam di kamarnya. Ia segera mengambil ponsel pemberian Martin yang tergeletak di dekat bantal. Membelalakan mata saat menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Sadar bahwa dirinya sedang berada di rumah orang lain, Romeo segera berjalan ke arah pintu. Membuka pintu tersebut dengan cepat. Matanya menyapu pandang. Melihat bagian luar kamar yang sepi. Lampu sudah dimatikan. Tirai jendela yang dibiarkan terbuka membuat sinar matahari menjadi pencahayaan di ruangan tersebut.
Langsung saja Romeo berjalan ke luar kamar. Kakinya melangkah pelan menyusuri bagian apartemen milik Emma. Pintu kamar Emma tertutup, dan tentu Romeo tidak berani untuk mendekat ke sana. Ia berjalan ke arah sofa, tidak menemukan siapa pun. Kembali melangkah, Romeo memutuskan untuk berjalan ke arah meja makan.
Di sana, terdapat sebuah piring dengan sandwich di atasnya. Ada juga air putih di dekat piring. Dan di bagian bawah gelas, terdapat sesuatu yang tipis menyerupai kartu. Romeo langsung tahu bahwa itu adalah kartu akses untuk masuk ke apartemen. Yang lebih lucu lagi, ada selembar kertas yang nyaris menempel pada piring. Kertas tersebut ditekuk menjadi dua sehingga bisa berdiri dengan masing-masing sisi yang menginjak meja.
Romeo langsung mengambil selembar kertas tersebut setelah meletakkan ponsel miliknya di atas meja. Memperbaiki bagian yang ditekuk agar bisa dilebarkan. Tulisan demi tulisan terukir rapi di sana. Menggunakan tinta hitam yang sepertinya sudah hampir habis. Kentara dari bagian akhir tulisan yang terlihat lebih pudar.
Selamat pagi, Romeo.
Romeo mengulas senyum tipis membaca kalimat awal di kertas tersebut. Sebuah sapaan kecil yang dilakukan orang lain untuknya.
Maaf karena tidak membangunkanmu. Aku hanya ingin agar kamu beristirahat lebih lama. Itu akan membuat tubuhmu cepat pulih.
Untuk sarapan aku membuatkanmu sandwich. Maaf jika tampilannya berantakan, karena kebetulan tadi aku bangun kesiangan dan terburu-buru saat membuat sarapan. Tapi semoga saja rasanya enak.
Isiannya hanya telur ceplok, tomat, daun selada dan sedikit keju. Kamu bisa menyingkirkan kejunya jika memang tidak suka. Kalau memang kamu tidak suka sandwich sama sekali, aku sudah memanaskan nasi dan sisa sup yang semalam kita makan. Rasanya mungkin tidak seenak saat pertama kali matang, tapi tentu masih bisa dimakan. Walaupun aku tidak tahu apa saat kamu membaca ini supnya masih hangat atau tidak. Kalau memang sudah dingin kamu bisa menghangatkannya kembali.
Romeo memuji tulisan tangan Emma yang begitu rapi dan tertata, tapi yang lebih membuatnya terkagum-kagum adalah peletakan tanda baca yang begitu diperhatikan. Padahal surat yang dibuat Emma hanya untuknya, tapi Emma seolah sedang menulis novel untuk dibaca semua orang yang ada di dunia.
Padahal saat sekolah dulu, Romeo bahkan tidak terlalu memperhatikan tanda baca jika sedang menulis apa yang didikte oleh gurunya. Menurutnya itu tidak terlalu penting, meski pada dasarnya pernyataan tanda baca ditujukan untuk kerapian tulisan. Sehingga siapa pun yang membacanya akan lebih mudah dan tahu tempo saat membaca.
Lalu, sekarang Emma memberitahu Romeo fungsi dari tanda baca yang dulu sering diabaikan olehnya. Surat yang diberikan oleh Emma menjadi lebih mudah dimengerti dan enak saat dibaca. Itu mengagumkan. Selain karena Romeo tidak pernah mendapatkan surat dari seseorang sebelumnya, apa yang diberikan oleh Emma seolah menjadi selembar kertas yang bukan hanya untuk dibaca, tapi juga dinikmati.
Aku aku hari ini shift pagi. Akan pulang sore hari di jam yang sama seperti kemarin aku menemukanmu di depan minimarket. Karena aku hanya membuatkan sarapan, kamu bisa membuat makanan sendiri untuk makan siang. Di kulkas ada banyak sekali bahan makanan yang bisa kamu pakai. Kalau kamu tidak bisa memasak, sepertinya kamu memang tidak ada pilihan lain selain memakan sandwich buatanku atau menghangatkan kembali sup yang sepertinya sudah dingin.
Kamu bisa mandi. Gunakan baju yang sudah aku sediakan di atas sofa untukmu.
Romeo langsung melirik ke arah sofa. Karena tadi ia tidak begitu memperhatikan, ia tidak menyadari bahwa ada tumpukan setelan di sana. Dan sepertinya itulah yang dimaksud Emma.
Aku akan langsung pulang jika shift-ku sudah habis. Mungkin ada beberapa keperluan yang harus diselesaikan sebelum benar-benar pulang, tapi semoga saja kamu tidak kelaparan sebelum aku pulang.
Romeo menahan tawa. Tidak menyangka bahwa Emma berpikiran bahwa dirinya akan kelaparan hanya karena ditinggal olehnya.
Dugaan Emma benar. Ia tidak bisa memasak. Jangankan memasak, ia bahkan tidak tahu nama bumbu-bumbu dapur. Kalaupun ada sesuatu yang bisa dimasak, sudah pasti hanya memasak mie instan saja. Masakan yang pastinya bisa dibuat oleh seribu umat. Mudah, praktis, dan cepat. Apalagi kalau mie yang digunakan adalah jenis mie dalam cup. Semakin mudah saja prosesnya.
Melupakan hal itu, Emma kembali membaca surat dari Emma. hanya tersisa beberapa baris dan ia langsung tahu apa yang akan dijelaskan Emma sebelum membacanya.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di dalam apartemen kalau kamu bosan. Menonton televisi, tidur, menonton televisi lagi, atau tidur.
Dan, waw! Ternyata Emma memiliki selera humor yang tinggi.
Tepat di bawah gelas air minum yang aku sajikan untukmu, ada kartu akses yang bisa digunakan untuk keluar masuk apartemenku. Kamu bisa memakainya jika memang terlalu bosan bosan di dalam apartemen dan ingin jalan-jalan ke luar, atau sudah memiliki tujuan untuk pergi. Bukan berarti aku mengusirmu, tolong jangan salah paham Romeo. Itu hanya perkiraan saja.
Aku membawa kartu akses yang lain, jadi untuk yang satu itu bisa kamu gunakan. Aku tahu kamu anak baik, aku percaya padamu.
Emma.
Itulah akhir dari surat yang ditulis oleh Emma. Romeo meletakkan surat itu di atas meja. Emma mau memberikan kartu akses miliknya dengan begitu mudahnya. Seolah tahu bahwa Romeo bukanlah seseorang yang akan menggunakan kartu tersebut dengan seenak jidatnya.
Emma benar-benar perempuan yang baik. Dia percaya pada orang asing yang baru ditemuinya begitu saja. Romeo tidak tahu apa yang akan terjadi jika orang yang ditemui Emma adalah orang jahat yang senang mencari keuntungan sendiri. Mungkin saja Emma akan dirugikan dan terluka nantinya.
Romeo tidak bisa membayangkan hal itu mengingat betapa baiknya sosok Emma. Ia memang bukan orang yang sempurna, tapi ia tahu cara berterima kasih dan tidak akan mengecewakan orang yang sudah membantunya.
Langsung saja Romeo menarik piring sandwich yang sudah disediakan Emma. Ia melihat tampilan sandwich tersebut. Memang tidak terlalu rapi, tapi cukup menarik karena dibuat oleh seseorang yang katanya sedang terburu-buru.
Tangan kanan Romeo menyentuh bagian roti yang berada di atas. Mengambilnya untuk melihat isian sandwich dengan lebih jelas. Benar seperti penjelasan Emma. Di bagian terbawah ada satu lapis roti. Di atas roti tersebut ada ada satu lembar daun selada, kemudian telur ceplok, potongan tomat, selembar keju berbentuk kotak, baru setelahnya daun selada lagi.
Romeo kembali meletakkan roti yang sempat disentuhnya. Lupa bahwa dirinya belum mencuci tangan. Tidak mau membuang waktu, langsung pelajaran ia bergegas ke dapur untuk mencuci tangan. Kembali dengan kondisi tangan yang sudah bersih bahkan sudah dikeringkan pula.
Sarapan sederhana itu Romeo nikmati. Ia meneguk air putih terlebih dahulu sebelum m gigitan pertama. Karena hanya sandwich biasa, tidak ada rasa yang spesial di dalamnya. Siapa pun bisa dengan mudah memasaknya jika tahu bahan-bahannya dan dasar-dasar penting memasak.
Setelah habis, Romeo ke dapur untuk membersihkan piring dan gelas yang dipakainya. Karena tidak ada niat sedikit pun untuk pergi, Romeo memilih untuk bersantai di depan televisi. Membiarkan kartu akses yang diberikan oleh Emma tergeletak di atas meja.
Baru saja Romeo ingin menyalakan televisi saat ponselnya berdering. Nomor yang sama saat pertama kali menghubunginya tertera di sana. Tentu saja Martin. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut menempelkan ponsel di telinga.
Romeo sengaja tidak berbicara lebih dulu hanya untuk mendengar apa yang akan dikatakan Martin pertama kali setelah mengusirnya dari rumah sakit dan membiarkannya kesusahan. Kalau saja dirinya tidak bertemu dengan Emma, ia yakin akan sangat kelaparan sekarang, dan mungkin memutuskan untuk tidur di depan toko-toko yang sudah tutup layaknya gembel.
"Tuan Muda!"
Itulah yang pertama Martin katakan, dan Romeo tidak menjawabnya.
"Tuan Muda, apa Anda baik-baik saja? Tolong jawab saya, Tuan Muda."
"Apa?" Romeo bertanya galak.
Terdengar hela napas lega di seberang sana. Itu justru malah membuat Romeo mendengkus sebal.
"Syukurlah kalau Anda baik-baik saja. Awalnya saya benar-benar khawatir dengan kondisi Anda. Saya takut terjadi sesuatu pada Anda di luar sana."
"Ya, memang terjadi sesuatu. Aku hampir mati kalau kamu mau tahu. Aku tidur di pinggir jalan seperti gembel, dan aku belum makan dari kemarin. Aku kelaparan, Martin. Dan itu semua karena kesalahanmu."
Romeo berbohong. Ingin tahu reaksi Martin akan seperti apa jika mengetahui dirinya sedang kesulitan.
"Tuan Muda, saya minta maaf karena baru bisa menghubungi Anda. Anak buah Pak Ryan sejak kemarin sudah mulai mencari Anda, dan saya benar-benar tidak bisa jauh dari Pak Ryan atau nanti beliau akan curiga. Sekali lagi saya minta maaf, Tuan Muda. Sekarang Anda bisa memberitahu saya lokasi Anda di mana, biar saya bisa mengirim orang untuk memberi Anda uang."
"Kenapa tidak langsung kamu saja yang menemuiku? Aku tidak membutuhkan orang lain, aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Kenapa, Tuan Muda?"
"Karena aku sangat ingin menghajar wajahmu itu, Martin. Setidaknya biarkan aku menggores sedikit wajahmu setelah apa yang kamu lakukan padaku. Bawahan mana lagi yang tega membiarkan majikannya menderita di jalanan? Hanya kamu seorang, Martin."
"Tuan Muda—"
"Aku punya nama! Panggil aku Romeo!" sela Romeo cepat.
"Tuan Muda, tolong dengarkan saya."
Romeo mendengkus sebal. Martin itu selalu saja keras kepala. Tidak pernah sekalipun berbicara biasa saja padanya. Padahal Ia ingin sekali kali mengobrol santai bersama Martin. Laki-laki itu sudah dianggap lebih dari sekedar pelindung untuknya, tapi juga saudara terhebat yang tidak pernah ia punya.
Di depan orang tuanya, wajar saja jika Martin memanggilnya tuan muda atau apa pun yang menunjukkan rasa hormat dan kesopanan. Tapi di luar dari itu, Romeo ingin Martin menganggapnya sebagai adik atau setidaknya teman. Tapi tidak pernah. Cara bicara Martin selalu saja kaku dan datar. Tidak peduli di situasi apa pun.
"Saya benar-benar khawatir dengan keadaan Anda. Tolong beritahu saya di mana lokasi anda sekarang. Akan saya kirim orang untuk mengirimi Anda uang agar Anda bisa menyewa tempat layak dan makan teratur teratur. Saya tidak ingin Anda kenapa-napa, Tuan Muda."
"Kenapa kamu selalu seberisik itu, Martin?" Romeo bertanya jengah.
Namun, meskipun berkata demikian, Romeo sebenarnya sangat memahami Martin. Laki-laki itu selalu berusaha menjaganya sebaik mungkin. Bisa dibilang, selama ini Martin sangat berbakti pada ibunya. Sebagai orang kepercayaan, Martin tidak pernah mengecewakan dan selalu bisa diandalkan. Saat ini pun ia yakin, meski cara bicara Martin terdengar kaku dan datar, sebenarnya Martin memang benar-benar mengkhawatirkan keadaannya.
"Saya sangat berharap bahwa Anda baik-baik saja. Maafkan kelalaian saya karena tidak memberikan apa pun pada anda kemarin sehingga Anda sampai kelaparan."
"Tidak perlu meminta maaf, aku baik-baik saja," aku Romeo akhirnya.
Hening sejenak. Nampaknya Martin masih berusaha mencerna apa yang Romeo katakan. Karena tadi sempat dibuat sangat khawatir dengan Romeo yang mengaku kelaparan dan sampai tidur di jalanan, mungkin saja Martin bingung karena tiba-tiba Romeo mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Apa maksud Anda, Tuan Muda?"
Romeo mengendikkan bahunya acuh. Reaksi bodoh yang dilakukannya. Karena seheboh apa pun reaksinya, Martin tidak akan bisa melihatnya.
"Ya, aku baik-baik saja. Ada orang baik yang menolongku dan mau memberiku tempat tinggal."
Romeo kira Martin akan lega mendengar hal itu, tapi siapa sangka yang Romeo dengar kemudian justru nada tegas dari Martin.
"Tuan Muda, Kenapa bisa-bisanya Anda mempercayai orang asing begitu saja?"
Romeo dibuat mengerjapkan mata karena hal itu.
"Saat ini Anda tidak bisa mempercayai siapa pun, bahkan saya. Semua orang yang anda temui bisa saja anak buah Pak Ryan. Anda tidak boleh percaya apalagi mengandalkan orang lain saat ini. Anda benar-benar harus mengandalkan diri Anda sendiri, Tuan Muda."
"Kamu berlebihan, Martin!"
"Cepat beritahu saya di mana Anda sekarang! Saya akan pergi ke sana."
"Kenapa tiba-tiba jadi kamu sendiri yang ingin turun tangan?"
"Tuan Muda!" tegur Martin tegas.
Romeo memutar bola mata. "Aku baik-baik saja. Percayalah. Sebaiknya kamu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan serius, atau aku akan dengan senang hati menghukummu jika yang kau lakukan padaku kemarin tidak menghasilkan apa-apa."
"Tapi Tuan Muda—"
"Kamu bisa menemuiku saat semuanya sudah jelas. Untuk sekarang aku benar-benar baik-baik saja dan tidak membutuhkan bantuanmu. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Lagi-lagi Romeo menyela perkataan Martin.
"Apa saya bisa mempercayai perkataan Anda?"
"Tentu saja." Romeo mengangguk mantap, "aku bukan pembohong yang handal."
"Baiklah. Saya akan mencari semua bukti dan memberitahukan kebenarannya pada Anda nanti. Tolong bersabarlah sampai semuanya aman. Untuk sekarang saya benar-benar tidak bisa menemui Anda, karena saya harus berada dekat dengan Pak Ryan. Beliau akan curiga jika saya pergi di saat dirinya tahu bahwa Anda hilang."
"Baiklah," sahut Romeo singkat.
Tidak ingin menjadi membiarkan Martin menutup telepon, Romeo melakukannya lebih dulu. Menunjukkan sifatnya yang kekanakan. Bahwa itu adalah balas dendam kecil Romeo karena kemarin Martin mematikan panggilan begitu saja.