Sorenya.
Emma mengulas senyum tipis saat melihat Romeo sedang menonton televisi. Acara kartun yang juga sering ditonton olehnya. Saat dirinya sampai di dekat sofa, Romeo menolehkan kepala, nampak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Ahh, maaf, aku tidak meminta izin padamu saat ingin menonton televisi.”
Sontak saja Emma tertawa pelan. Terutama saat melihat Romeo berdiri dengan tergesa. Serupa asisten rumah tangga yang terkejut saat dipergoki sedang bersantai oleh majikannya.
“Tidak perlu meminta maaf. Bukankah tadi pagi aku yang memberikan akses keluar-masuk apartemenku? Itu artinya sebenarnya kamu bebas melakukan apa pun di sini. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Tidak perlu meminta izin apalagi untuk sekadar menonton televisi.”
Romeo kembali duduk. Segera setelah itu Emma turut duduk di sampingnya. Romeo yang awalnya nampak bersenang-senang sebelum kehadiran Emma, bisa bebas tertawa saat menonton kartun, kini hanya bisa diam. Merasakan kecanggungan karena tidak tahu harus berkata apa.
Untuk Romeo yang setiap harinya lebih sering berada di rumah, dan jarang sekali pergi keluar untuk sekadar bersantai, situasinya saat ini benar-benar di luar kendalinya. Ia yang jarang memiliki teman sekarang tiba-tiba harus tinggal bersama seorang perempuan yang tidak dikenalnya.
Biasanya, Romeo hanya akan bangun di pagi hari untuk menikmati sarapan ibunya, pergi sekolah dengan diantar oleh sopir pribadinya, belajar kemudian pulang, terus kembali menikmati masakan ibunya di rumah. Selalu begitu. Tentu, ia juga memiliki beberapa teman laki-laki yang terkadang mengajaknya bermain, tapi tetap saja berbeda. Rasanya aneh saat dirinya harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang baru. Seperti apa yang dikatakan Martin sebelumnya, ia tidak bisa mempercayai orang begitu saja. Alasan kenapa ia mau menerima kebaikan Emma adalah karena dia tidak ada pilihan lain. Di samping itu, Emma juga tidak terlihat seperti orang jahat.
Ya, tapi tetap saja Emma itu orang asing.
“Bukankah ini masih sore?”
Romeo menoleh ke sampingnya, kemudian melihat ke arah jendela yang terbuka gordennya. Masih cukup terang. Yang Romeo herankan adalah kenapa Emma harus bertanya? Padahal ia yakin pasti Emma tahu bahwa dirinya shift pagi dan pasti akan pulang sore. Apalagi yang habis dari luar adalah Emma sendiri. Sudah pasti Emma yang lebih banyak melihat keadaan di luar.
“Ya,” sahut Romeo singkat.
Emma bangkit dari posisi duduknya. Tas selempang yang masih tersampir di bahu kirinya dilepaskan. Ia menghembuskan napas kemudian mengulurkan tangan kepada Romeo. Hal yang membuat Romeo bingung hingga menaikkan sebelah alisnya.
“Apa? Kenapa kamu mengulurkan tangan seperti itu?” tanyanya. Beranggapan bahwa Emma sedang meminta sesuatu darinya.
“Hari ini aku pulang lebih awal.”
“Lalu?” Romeo semakin bingung.
“Dan sebenarnya sejak dulu aku selalu ingin pulang sebelum jam lima sore.”
Kerutan di dahi Romeo bertambah satu. Emma terlalu berbelit-belit saat berbicara. Sebagai laki-laki ia lebih suka orang yang berbicara to the point, mudah dipahami dan tidak berputar ke sana ke mari sehingga membuat lawan bicara kebingungan.
“Di bagian atap apartemen itu ini itu sangat indah. Aku baru saja mengatakan kepadamu bahwa aku ingin mengajak kamu pergi ke sana.”
What? Di mana letak ajakannya? Romeo berdesis dalam hati.
Sejak tadi Emma hanya berbicara tidak jelas. Gadis itu bertanya apakah waktu masih sore atau tidak, tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya, kemudian mengulurkan tangan. Dari semua itu di mana kalimat yang mengatakan bahwa Emma baru saja mengajaknya pergi ke atap apartemen?
Emma menggerakkan jemarinya. Meminta agar Romeo segera menyambutnya. Tapi Romeo malah menggeleng dan menjauhkan diri.
“Kenapa aku harus ikut ke atap? Kalau memang kamu ingin pergi ke sana, kamu bisa pergi sendiri. Aku ingin di sini saja.”
“Justru karena kamu ada di sini aku jadi ingin pergi ke sana. Pasti membosankan sekali kalau pergi ke atas sendirian. Lain cerita kalau kita pergi berdua. Aku jadi punya teman ngobrol. Setidaknya kita harus di sana sampai matahari terbenam. Oke?”
Bukankah itu sebuah paksaan? Setidaknya kita harus di sana sampai matahari terbenam. Romeo mendengkus halus. Kata ‘harus’ yang digunakan oleh Emma secara tidak langsung membuatnya juga harus pergi ke sana.
“Ayolah! Ini pertama kalinya aku pergi ke atap apartemen. Dan kamu jadi orang pertama yang menemani aku pergi ke sana.”
Tidak ada pilihan lain, Romeo memilih untuk berdiri. “Setidaknya tolong biarkan Aku berjalan sendiri. Aku agak risih melihat tanganmu sejak hari mengambang di udara seolah meminta sesuatu padaku." Ia lantas berlalu lebih dulu. Meninggalkan Emma yang menatap tangannya sendiri.
Keduanya pergi menuju atap apartemen. Emma harus ekstra sabar saat menunggu Romeo yang berjalan sangat lambat, tapi Untunglah jarak antara pintu apartemen dan lift tidak terlalu jauh sehingga Romeo bisa bernapas lega setelah memasuki lift. Setelah Emma menekan tombol, lift segara membawa mereka menuju lantai teratas. Di sanalah perjuangan Romeo baru dimulai.
Karena lift hanya berhenti sampai di lantai teratas, keduanya jadi harus berjalan kembali menaiki anak tangga menuju sebuah pintu untuk sampai di atap. Belum tempat kaki Romeo menginjak tangga, sudah lebih dulu lolos dengkusan dari mulutnya.
“Apa kali ini kamu perlu bantuan dariku?” tanya Emma.
Romeo menggeleng. Saat Emma sudah berjalan lebih dulu, ia mengandalkan pegangan tangga agar tidak terjungkal ke belakang. Butuh waktu untuknya menyusul Emma yang sudah menikmati angin sepoi-sepoi di atap. Gadis itu terlihat menikmati udara di atas atap, sementara dirinya terengah-engah karena baru menaiki anak tangga.
“Bagaimana? Apa kamu lelah?” Emma bertanya lagi.
Romeo malah menatap kedua kakinya sendiri. Mengumpat berulang kali di dalam hati. Kecelakaan itu membuatnya harus koma selama beberapa bulan dan setelah sadar ia jadi kesulitan berjalan. Kaki sialan ini jadi terlihat seperti penghambat untuknya. Benar-benar menyebalkan. Ia sudah seperti kakek-kakek yang membutuhkan tongkat untuk membantu berjalan.
Namun, keuntungan yang didapat Romeo cukup sepadan. Pasalnya pemandangan yang dilihatnya sekarang cukup menyejukkan mata. Pemandangan kota yang dilihat dari atap gedung selalu memberi kesan menakjubkan. Gedung-gedung bertebaran disana-sini, mobil yang berlalu-lalang terlihat sangat kecil, dan beberapa orang yang sedang berjalan kaki menambah lengkapnya kesan artistik.
“Sebenarnya aku selalu ingin pergi ke atap, tapi tidak pernah kesampaian. Bukan karena setiap hari aku selalu pulang terlambat, tapi karena aku tidak punya teman untuk pergi ke sini.” Emma kembali menjadi orang yang pertama buka suara.
Keduanya berdiri bersisian di ujung gedung. Menikmati pemandangan dari sana.
Romeo menyahut, “Bukankah kamu punya seseorang yang bisa diajak ke sini? Kenapa tidak mengajak dia?” Dengan sebuah pertanyaan.
“Kekasihku maksudmu?”
Romeo mengangguk. Ia tidak pernah memiliki seorang kekasih, tapinya cukup berpengalaman melihat banyak orang yang berseliweran dengan kekasihnya di depan matanya. Dan dari pengalaman yang dilihatnya, perempuan selalu menjadi orang yang meminta atau memerintah kekasihnya. Aku mau beli ini aku mau beli itu, aku mau pergi ke sini aku mau pergi ke situ, aku mau makan ini aku mau makan itu, dan sebagainya. Entah karena terlalu sayang atau karena suka kekasihnya bersifat manja dan mengandalkannya, laki-laki selalu menuruti kemauan mereka.
Bukankah seharusnya Emma bisa merasakan hal yang sama juga?
“Kupikir kekasihmu itu adalah orang yang luar biasa. Dia bahkan bisa membelikanmu sebuah apartemen, jadi seharusnya tidak masalah kalau hanya sekedar menemanimu untuk bersantai di atap apartemen ini?”
“Aku suka,” kata Emma.
Romeo tidak mengerti. Ia bertanya, “Suka apa? Pada kekasihmu? Tentu saja kamu menyukainya, karena dia itu kekasihmu. Rasanya aneh mendengar perkataan seperti itu.” Ia menggelengkan kepala semakin tidak mengerti, apa sebenarnya yang dimaksud oleh Emma?
Di luar dugaan, Emma justru tertawa. “Bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya suka dengan pemikiranmu yang logis itu,” ujarnya kemudian.
Romeo tidak beranggapan bahwa itu adalah sebuah pujian. Ia memilih mengalihkan pandangan dari Emma dan kembali menikmati pemandangan kota. Perempuan itu memang merepotkan, hanya pemikiran logis aja bisa disukai olehnya.
Pembicaraan itu tidak berlanjut. Cukup lama, sampai keduanya lelah berdiri dan memilih untuk duduk di tepi gedung. Yang awalnya menikmati pemandangan kota, kini berubah menjadi di menikmati pemandangan matahari terbenam.
Dari posisi mereka sekarang, mereka bisa melihat dengan jelas awan yang semulanya sangat cerah kini berubah menjadi kemerahan. Mewarnai langit bagian barat dengan d******i warna jingga. Sebuah lingkaran besar berwarna kuning kemerahan menjadi pusat dari perubahan warna tersebut. Lingkaran tersebut yang memicu semua keindahan yang ada di langit. Seolah semua mata diminta untuk tertuju padanya.
Senja itu memiliki kekuatan yang amat besar untuk mengalihkan pandangan setiap orang. Hanya dengan melihatnya saja, perasaan akan ikut tenang bersamaan dengan mentari yang mulai pulang ke peraduan. Dalam waktu yang sempit itu, semua masalah seolah terenggut. Berlalu bersama lukisan jingga yang memberi kesan lembut dan hangat di waktu bersamaan.
Mereka yang menikmati suasana senja, seolah diminta untuk beristirahat. Matahari mengajarkan untuk duduk sebentar menikmati langit yang begitu menakjubkan, dan saat semuanya berubah menjadi gelap, manusia diminta untuk berhenti dari kesibukannya hari ini, kemudian pulang ke rumah untuk beristirahat sehingga bisa melanjutkan hari esok.
“Perkataanmu benar, tapi juga salah di waktu bersamaan.”
Hah? Apa?
Karena sudah saling diam setengah jam lebih, Romeo bahkan sampai lupa bahwa ada orang lain di sampingnya. Ia baru ingat saat Emma berbicara.
“Persis seperti yang kamu katakan, kekasihku memang orang yang luar biasa. Dia bisa memberikan banyak hal mewah padaku, termasuk apartemen yang sekarang aku tempati. Itu adalah bagian benarnya. Tapi dia merupakan orang yang sangat sibuk, dan jarang sekali ada waktu untukku. Kami hanya bertemu dua kali dalam sebulan. Kalau sudah bertemu seperti itu tentu kami akan banyak menghabiskan waktu di luar seperti makan bersama atau sekadar nonton di bioskop. Tapi tidak jarang kami juga hanya menghabiskan waktu di apartemen.”
Mendengar pernyataan dari Emma, Romeo baru sadar bahwa itu adalah jawaban dari pertanyaan yang tadi. Dan poin akhir yang Emma katakan pastilah menjadi bagian salahnya. Emma mengatakan bahwa orang yang bisa memberikan apa pun belum tentu memiliki banyak waktu, apalagi untuk sekadar melakukan hal remeh seperti menikmati waktu senja di atap apartemen.
“Ahh, begitu,” sahut Romeo singkat.
“Lalu, bukankah di atas ini menyenangkan? Mungkin jauh lebih menyenangkan, daripada hanya berdiam diri di dalam apartemen?”
“Maksudmu?”
Emma yang tadinya fokus menghadap ke arah kota, kini memutar tubuhnya agar bisa melihat Romeo dengan lebih jelas. Hal itu membuat Romeo menolehkan kepala ke arah Emma.
“Sepertinya kamu mengalami hari yang cukup buruk sebelum bertemu denganku. Kita bertemu saat kamu mengenakan pakaian rumah sakit, dan cara berjalanmu jelas terlihat seperti orang yang baru mengalami kecelakaan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku yakin suasana hatimu buruk karena hal itu.”
“Lalu?” Romeo bertanya lagi.
“Aku hanya ingin memberikan pengobatan sederhana padamu. Melihat pemandangan seperti ini bisa membuat perasaan kita tenang dan sejenak melupakan masalah yang terjadi. Mungkin itu tidak bisa mengobati luka fisikmu, tapi aku berharap semoga bisa sedikit memberi ketenangan.”
Barulah bola mata Romeo membesar. Rupanya alasan kenapa Emma sangat bersikeras mengajaknya untuk pergi ke atap, bukan hanya karena Emma membutuhkan teman ngobrol, tapi karena Emma cukup peduli padanya.
“Sebenarnya tidak masalah juga kalau kamu diam di apartemen. Itu membuatmu beristirahat lebih banyak, karena bagaimanapun kamu baru keluar dari rumah sakit dan membutuhkan istirahat yang cukup. Tapi aku yakin hal semacam ini bisa membuatmu lebih rileks. Apa lain kali kita harus pergi ke atap lagi kalau aku pulang lebih awal?”
Ahh, Emma ini terlalu baik. Bagaimana bisa gadis itu bersikap sangat peduli pada orang yang baru dikenalnya? Terlebih lagi orang itu adalah laki-laki. Emma memberi perhatian yang terlalu banyak kepada Romeo. Sampai Romeo dibuat bertanya-tanya, apa di luar sana ada lagi orang seperti Emma? Karena ia percaya bahwa orang seperti Emma hanyalah Emma seorang.
“Boleh,” sahut Romeo setelah beberapa saat.
Langit perlahan sudah mulai gelap saat keduanya saling tatap kemudian tersenyum. Emma yang pertama bangkit. Mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Romeo berdiri, tapi lagi-lagi mendapatkan penolakan yang sama dari Romeo. Katanya ia bisa bangun dan berjalan sendiri tanpa harus dibantu.