Setelah menempuh perjalanan yang terasa cukup panjang dan lama, Abiyan akhirnya bisa bernapas lega ketika kakinya menginjak apron bandara Soekarno Hatta. Bisa dibilang, nyaris sejak memasuki SMA, Abiyan hampir tidak pernah lagi menaiki pesawat. Dan selama 1 tahun belakangan ini, justru setiap bulan ia akan mondar mandir di udara menggunakan transportasi burung besi itu.
Abiyan menyalakan ponselnya saat berjalan menuju tempat pengambilan bagasi, dan sedetik setelahnya benda pipih itu langsung berdering, menampilkan nama Varell.
“Halo,” sapa Abiyan saat panggilan terhubung.
“Woy, lo di mana? Udah balik belom? Kasih respon kek di grup? Anak-anak pada nanyain noh,” buru Varell dengan menggebu-gebu. Bagaimana ia tidak berubah cerewet jika Abiyan sama sekali tidak muncul di grup saat teman-temannya menanyakan keberadaannya saat ini? Terlebih, mereka sudah merencanakan akan menggunakan mobil Abiyan.
“Lo bawel banget, sumpah.” Abiyan mengusap telinganya yang entah bagaimana terasa panas mendengar ocehan sahabatnya sejak SMA itu.
“Kan lo udah tahu mengenai gue, kenapa nggak lo yang kasih tahu aja sama mereka?” sambung Abiyan seraya meraih koper hitamnya dari conveyor. Dengan langkah tenang ia menuju pintu keluar di mana sopirnya sudah menunggu.
“Gue bukan ember, Abiyan,” ucap Varell malas seraya merotasikan bola matanya.
“Yang bilang elo peralatan rumah tangga juga siapa, Varell,” balas Abiyan tak kalah acuh. “Ini lo di mana? Masih di rumah sakit?” sambungnya kemudian.
“Menurut lo? Gue bukan anak pemilik rumah sakit yang bisa pulang sebelum jam kerja kaya lo.” Ucapan sensi Varell membuat Abiyan tergelak.
“Sembarangan lo ngomong. Gini-gini, gue nggak pernah pulang sebelum jam kerja selesai, kalau nggak bener-bener urgent.” Abiyan menegaskan kata ‘urgent’.
“Iya, iya, Dokter Abiyan yang sangat disiplin.” Varell manggut-manggut karena memang sejak dulu ia mengenal Abiyan, laki-laki itu memang sangat disiplin.
“Ya udah, tapi lo beneran jadi ikut, ‘kan? Bukannya apa, mobil gue sore ini mau di pake sama Abang gue. Nggak mungkin banget kan kita pakai VW’nya Clara Fm?” Abiyan terkekeh mendengar dumalan Varell.
“Coba aja kalau lo berani.” Spontan, Varell menggeleng.
“Beraninya sih berani, gue Cuma ogah dengerin suara soprannya Clara yang bisa bikin kuping panas.”
“Jangan sembarangan ngatain, kena karma suka ama Clara tahu rasa lo.” Abiyan melangkan menghampiri sang sopir yang sudah terlihat di ujung pandangannya.
“Kok kayak elo, ya,” balas Varell meledek, membuat mata Abiyan membola mendengarnya.
“Suka-suka elo, dah. Dah ah, gue mau on the way ke rumah. Ntar biar gue langsung susul Annisa ke rumahnya.”
“Nah.” Bola mata Varell berbinar mendengarnya. “Gitu dong, Abiyan kan laki. Gentle, Man,” sambungnya menggoda.
“Nggak usah ngomongin kata-kata itu. Lo tahu kalau gue pengecut,” bantah Abiyan sarkastik yang membuat Varell tertawa lepas di sana.
“Langsung pulang, Den?” tanya pak Doni sebelum melajukan mobil silver itu.
“Mampir ke rumah sakit dulu, Pak. Saya mau ambil beberapa kerjaan,” jawab Abiyan seraya melihat arloji di tangannya. Masih jam 2 siang.
Pak Doni mengangguk dan mengemudikan mobil dengan tenang menuju ke arah rumah sakit. Suasana jalanan yang belum terlalu padat mengingat ini masih belum memasuki jam pulang kerja. Tentu bisa dibayangkan sendiri bagaimana kondisi jalanan beberapa jam lagi, terlebih menjelang akhir pekan seperti saat ini.
“Mobil yang Rush udah dibawa perawatan kan, Pak?” tanya Abiyan yang kini memejamkan mata sebab ia merasa sedikit lelah. Padahal di pesawat tadi, ia sudah menghabiskan waktunya nyaris hanya untuk tidur.
Pak Doni mengangguk sekali, “Sudah kemarin, Den. Tadi pagi juga sudah di pakai Pak Edo untuk ngantar Bapak sama Ibu, Den.” Abiyan manggut-manggut mengerti.
“Nanti parkir di pintu samping aja, Pak,” pinta Abiyan yang tentu saja langsung dipatuhi oleh sang sopir. Karena Abiyan hari ini tidak mengenakan pakaian formal, ia tidak mau banyak pegawai menyadari kedatangannya yang hanya sebentar itu. Sebelum keluar dari kantornya tadi, Abiyan sempat mengganti kemejanya dengan kaos polo hitam dan tentu saja tanpa jas.
Begitu sampai di rumah sakit, Abiyan bergegas untuk menuju ke ruangannya dengan melalui tangga darurat. Beberapa dari para pegawai tentu saja menyadari kedatangannya. Tetapi Abiyan tidak mau ambil pusing. Begitu tiba di ruangannya, setumpuk berkas sudah melambaikan tangan padanya untuk segera disentuh.
“Hai, Kak,” sapa Abiyan kepada sang kakak yang berjalan menyusuri koridor.
“Eh?” Alena tampak terkejut karena tidak menyangka sang adik akan kembali secepat ini dari Singapura. “Bikin kaget aja. Kamu kok udah balik?”
“Ya habis mau ngapain? Orang aku di sana juga nggak ada kerjaan yang urgent. Mending aku langsung balik, eh di sini baru ditinggal 2 hari udah segini banyaknya,” sahut Abiyan seraya menunjuk beberapa berkas yang akan ia bawa pulang.
“Selamat menikmati, ya.” Alena terkekeh seraya mengusap lembut pundak sang adik.
Abiyan hanya menampilkan raut wajah datarnya, “Kak Al dari mana?”
“Habis visit pasien VIP tadi. Oh ya, kata Papa kamu mau ke luar kota?” Abiyan mengangguk sekali.
“Mau jalan-jalan, penat. Senin sama Selasa aku cuti, ya,” jawab Abiyan dengan tatapan menggoda.
“O, enak aja kamu. Mau ambil cuti 2 hari?” Abiyan kembali mengangguk dengan semangat penuh.
“No!” sahut Alena tegas yang membuat Abiyan melebarkan bola matanya.
“Ayolah, kan aku nggak pernah ambil cuti buat liburan, s-e-k-a-l-i p-u-n.” Abiyan menekankan dan mengeja kata sekali pun.
“Ya masa langsung 2 hari gitu, Biy?”
“C’mon lah, Kak Al. Please.” Abiyan melayangkan tatapan memohon. Meskipun untuk mengajukan cuti memiliki prosedurnya sendiri tetap saja Abiyan harus meminta izin secara pribadi kepada kakak yang sangat dihormatinya itu.
“Sakarepmu lah, Biy,” sahut Alena sekenanya hingga membuat sang adik terkekeh.
“Thankyou so much, Ibu Direktur. Bye,” ujarnya berkelakar seraya menuruni satu persatu anak tangga. Membuat Alena hanya bisa menghela napasnya perlahan. Wanita itu lantas kembali melanjutkan langkah untuk menuju ke ruangannya.
Abiyan melewatkan waktu di sepanjang perjalanan menuju rumah untuk memeriksa pekerjaannya. Bukannya apa, ia ingin benar-benar tidur dengan nyaman saat di rumah nanti. Ia akan berangkat ke Surabaya sekitar jam 7 malam, itu artinya Abiyan memiliki waktu selama sekitar 3 jam untuk tidur. Apalagi, kemungkinan besar memang ia yang akan mengemudi nantinya. Mungkin hanya akan bergantian dengan Varell mengingat Vano belum pernah mengemudi jauh ke luar kota.
Abiyan melangkah menuju kamarnya untuk segera beristirahat. Sebagian pekerjaannya juga sudah selesai ia periksa selama di perjalanan yang sudah mulai macet tadi. Tanpa berganti pakaian, Abiyan hanya melepaskan sepatunya. Kemudian merebahkan tubuhnya setelah menghabiskan setengah botol air mineral di atas nakas. Tak perlu membutuhkan waktu lama, laki-laki itu akhirnya tertidur dengan lelap.
Mungkin sekitar 2 jam lebih Abiyan tertidur, dan pada saat membuka mata tubuhnya terasa jauh lebih bugar. Usai merelaksasi otot-otot tubuhnya dengan peregangan ringan, Abiyan bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Abiyan keluar dari kamar mandi masih dengan mengenakan kaos polo hitamnya yang tadi. Hanya saja ia ingin berganti menggunakan celana yang lebih santai sebab yang ia kenakan sebelumnya merupakan celana kerja. Beruntung, barang-barang yang akan ia bawa ke Surabaya sudah dipersiapkan bersamaan dengan saat ia akan berangkat ke Singapura. Jadi, Abiyan tidak perlu gugup untuk berbenah.
Abiyan meraih ponselnya yang menyala dan menampilkan notifikasi grup teman-temannya itu. Sambil mengulum senyum ia membaca satu persatu pesan yang kebanyakan sedang memarahi dirinya tersebut.
Dari Clara F.M :
“Guys, ini serius Abiyan di mana? Gue udah di rumah Annisa, kalau sampai dia nggak ada ucapan apapun sama sekali. Fix, gue ogah temenan sama dia lagi.”
Dari Diandra :
“Sumpah demi apa Abiyan belum ngasih kabar apapun? Yang bener aja, woy. Gue 10 menit lagi sampaii rumahnya Annisa ini. Minta dikutuk apa gimana sih itu anak.”
Abiyan tiba-tiba saja bergidik ngeri membayangkan u*****n-u*****n yang dilayangkan teman-temannya itu. Meskipun ia tahu ini semua salahnya, entah kenapa ia justru suka menggoda mereka.
Dua pesan masuk menyusul di bawah pesan grupnya itu. Masing-masing dari Varell dan juga Annisa.
Dari Varell A. :
“Biy, lo jawab kagak pertanyaan anak-anak? Atau gue kirim dukun ke rumah lo.”
Satu lagi pesan yang membuat Abiyan benar-benar ingin tertawa lepas. Namun tawanya terhenti begitu ia mendengar suara ketukan pintu.
“Siapa?” tanya Abiyan lantang.
“Bibi, Den.” Abiyan segera membuka pintu dan tampak bi Dirah berdiri di depan kamarnya.
“Ada apa, Bi?”
“Sudah ditunggu Bapak sama Ibu untuk makan malam, Den Abi,” beritahu bi Dirah yang dijawabi anggukan oleh Abiyan.
“Makasih ya, Bi. Habis ini saya turun.”
“Baik, Den.”
Abiyan kembali meletakkan ponselnya, kemudian keluar dari kamar untuk menikmati makan malam dengan orang tuanya. Kembali mengabaikan pesan bermuatan omelan yang masih terus dikirimkan oleh anggota gengnya itu.
“Malem, Ma, Pa,” sapa Abiyan seraya mencium pipi sang ibu serta memeluk ayahnya.
“Malam, Sayang. Kapan sampai rumah?” dokter Diana membalas pelukan sang putra.
“Nyampai rumahnya sekitar jam 3 lebih tadi. Abiyan mampir rumah sakit juga tadi.” Abiyan mengulurkan piringnya pada sang ibu sambil tersenyum manis.
“Kamu jadi ke Surabaya?’ Abiyan mengangguki pertanyaan sang ayah.
“Kemungkinan Senin sama Selasa Abi ambil cuti, Pa.” Dokter Zafran hanya mengangguk.
“Udah bilang sama Kakak kamu?” Biar bagaimanapun, peraturan mengenai karyawan menjadi tanggung jawab Alena. Oleh karena itu, dokter Zafran tidak akan mengutak-atik apa yang sudah menjadi ketetapan dari putrinya itu.
“Udah tadi. Udah ketemu sama Kak Al juga. Ya kalau yang Selasa sih masih kemungkinan, Pa. Tapi yang hari Senin udah pasti Abi ambil libur.” Mereka bertiga memulai acara makan malamnya.
“Kamu jangan nyetir sendiri full lho, dek. Surabaya itu jauh, apalagi kamu baru selesai pulang perjalanan jauh juga.” Dokter Diana memperingatkan. Abiyan mengangguk patuh.
“Abi pasti gantian nyetirnya nanti, Ma.”
***
“Belum dibales juga sama Abiyan?” tanya Diandra begitu mendaratkan pantatnya di sofa ruang tamu rumah Annisa. Annisa menggeleng cepat.
“Padahal dia udah baca, lho. Tapi Cuma dibaca aja.”
“Bener-bener emang ya tuh anak.” Suara Clara yang baru datang dari dapur terdengar. Tangannya membawa nampan yang berisi beberapa gelas minuman.
“Thanks, Ra.” Diandra menerima uluran tangan Clara yang memberinya minuman itu.
“Apa Abiyan emang nggak ikut, ya?” gumam Annisa yang juga ikut meraih minuman tersebut.
“Kalau Abiyan nggak ikut, ya ... berarti Cuma Varell sama Vano,” sahut Clara sekenanya, karena memang begitu adanya.
Terdengar suara mobil yang berhenti dan membuat ketiga gadis itu saling berpandangan. Kemudian sama-sama melangkah menuju teras untuk melihat siapa yang datang.
“Ternyata lo berdua,” celetuk Clara ketika melihat kedatangan Varell bersama Vano yang menaiki taksi. Sedetik kemudian gadis itu membolakan mata, “Kok lo berdua naik taksi?” tanyanya memburu.
“Lah, gue mah emang nggak ada rencana buat bawa mobil,” sahut Vano dengan tanpa rasa berdosa. Saat di dalam taksi tadi, Varell sudah memberitahukan mengenai keikutsertaan Abiyan. Dan Vano sendiri memang suka melihat wajah kesal teman-teman perempuannya itu.
“Mobil gue mah emang dibawa Abang gue pergi malam ini.” Varell ikut menimpali dengan santainya. Keduanya melangkah menuju teras rumah Annisa sambil membawa tas gunungnya masing-masing.
“Kita cuma mau ke Bromo, bukan mau ke Semeru,” cetus Diandra memperhatikan tas gunung milik kedua sahabat laki-lakinya itu. Sementara Vano dan Varell hanya menyengir asal.
“Sa, kita boleh masuk?” Annisa mengangguk ucapan Varell dengan gamang. Bukan karena kedua laki-laki itu memasuki rumahnya tetapi karena ia memikirkan Abiyan.
“Abiyan udah pulang dari Singapura?” tanya Annisa yang masih berdiri di ambang pintu.
“Gue nggak tahu.” Varell mengendikkan bahunya dengan ekspresi yang sangat meyakinkan. Demikian juga Vano.
“Ngomong-ngomong rumah lo bagus juga penataannya, Sa,” celetuk Vano saat memperhatikan tata ruang tamu rumah Annisa yang minimalis tetapi sangat proporsional.
“Makasih,” jawab Annisa santai.
“Ini bukan waktunya bahas rumahnya Annisa, Vano. Lo gimana sih, kan lo juga yang awalnya minta buat liburan.” Diandra ingin sekali menggetok ubun-ubun Vano tetapi ia sadar jika hal itu akan sangat tidak sopan.
“Ya udah, sih. Orang belum jam 7 juga. Tunggu aja bentar. Mungkin Abiyannya masih di mana atau ngapain yang kita nggak tahu.”
Annisa hanya manggut-manggut sambil masih berdiri bersedekap di ambang pintu. Enggan untuk ikut serta dengan para sahabatnya yang kini mulai memperdebatkan banyak hal. Pikirannya dipenuhi dengan sosok Abiyan yang tak kunjung memberikan kabar.
‘Mudah-mudahan nggak ada apa-apa sama Abiyan,’ monolognya dalam hati. Sedetik setelah itu, Annisa mendongakkan kepala ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya. Gadis itu tersenyum melihat siapa yang keluar dari pintu kemudi.
Abiyan membalas senyuman Annisa dan melangkah memasuki gerbang rumah bernuansa putih dan abu-abu tersebut. Dengan isyaratnya, Annisa memberitahukan keadaan teman-temannya yang sedang menyumpahinya di dalam rumah.
“Jadi berangkat kagak nih?” tanya Abiyan seraya bersandar di pintu. Tentu saja membuat 4 orang yang ada di dalam rumah merasa terkejut.
“Emang bener-bener dah ni anak satu. Bikin naik darah mulu,” geram Clara dengan wajah menahan kesal tetapi Abiyan hanya tersenyum simpul.
Semua orang bergegas keluar dari rumah Annisa seraya membawa barang mereka masing-masing. Sementara Abiyan masih menunggu sang pemilik rumah yang sedang berada di dapur untuk meletakkan gelas minuman teman-temannya. Abiyan sudah membuka pintu bagasi mobilnya sehingga ke-empat temannya itu hanya tinggal memasukkan barang-barang mereka.
“Udah beres?” tanya Abiyan pada Annisa yang hendak mengunci pintu. Gadis itu mengangguk dengan perasaan berdebar sebab tidak menyangka Abiyan akan menunggunya. Sementara barang-barangnya sudah dibawakan oleh Varell dan Vano.
“Gue pikir lo bakal bawa koper, Ra. Ternyata lo punya tas gunung juga.” Abiyan mencandai Clara yang masih bertahan dengan wajah kesalnya.
“Berisik lo.” Jawaban ketus Clara membuat Abiyan membolakan mata. Sementara yang lainnya terkekeh mendengar hal itu.
“Tu anak sensi banget sama gue. Lagi PMS apa gimana sih dia,” celetuk Abiyan yang membuat Annisa mencubit pelan lengannya.
“Aww, Sa. Kok lo nyubit gue sih.” Abiyan berpura-pura merajuk seraya mengusap pelan bekas cubitan Annisa. Padahal jauh di dalam hatinya, ia merasa berbunga-bunga mendapat sentuhan dari gadis itu.
“Lo keterlaluan banget, Biy. Sumpah!” Laki-laki itu terkekeh dan mengusap tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Varell serta Vano kini sudah memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Sementara Clara dan Diandra menempati bangku tengah. Mobil milik Abiyan merupakan seri terbaru yang setiap kursinya memiliki penahan lengan masing-masing. Jadi kapasitasnya benar-benar pas untuk 6 orang.
“Terus menurut lo, gue mesti duduk di depan?” Annisa menahan tangan Diandra yang hendak menutup pintu tengah itu.
“Ya masa gue, Sa? Nggak lucu, dong! Kan kita mau ke rumah lo,” sahut Varell yang kini sudah bersiap mengenakan penutup mata.
Dahi Annisa mengenyit seraya melayangkan tatapan pada Abiyan yang masih berdiri di samping pintu kemudi. Dengan isyarat mata, Abiyan meminta Annisa untuk segera masuk ke mobil karena akan percuma saja mendebat mereka yang ada di belakang.
Jangan ditanya bagaimana perasaan keduanya saat ini. Sudah pasti jantung mereka saling berdegup dengan sangat kencang di posisi itu. Meskipun ini bukan pertama kalinya untuk mereka, tetap saja Abiyan dan Annisa sama-sama merasa gugup.
“Berdoa dulu, woy. Jangan langsung pada molor lo pada,” ucap Abiyan sebelum melajukan mobilnya. Ke-lima orang di dalam mobil itu kompak mengangguk patuh karena saling menyadari jika mereka akan menempuh perjalanan panjang yang jauh. Mereka lantas berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing.
“Varell, lo gue kasih kesempatan buat tidur sampai Semarang.” Abiyan mulai melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan tersebut.
“Itu udah lebih dari cukup.” Cepat-cepat Varell menutup matanya agar bisa segera tertidur. Sementara yang lainnya masih asyik mengobrol. Tentu saja Varell harus tidur terlebih dulu sebelum ia menjalankan tugas nantinya.
***