Suasana di dalam mobil itu begitu sunyi. Hanya suara dengkuran halus dari beberapa penghuninya yang kadangkala terdengar saling bersahutan dengan suara penyiar radio. Sang pengemudi memusatkan konsentrasi sepenuhnya pada jalan raya yang mulai terasa lengang sementara 1 orang lagi yang masih terjaga di sampingnya juga ikut memperhatikan jalanan sambil sesekali bola matanya bergerak melirik ke kiri dan kanan.
"Hoam ...." Annisa menutup mulutnya sehingga suaranya tidak terdengar terlalu keras. Kan, Annisa harus jaga image ya di depan Abiyan.
Abiyan yang tengah mengemudi dengan satu tangan sontak menoleh ketika mendengar suara menguap tersebut, "Lo ngantuk, Sa?" tanyanya dengan senyuman tertahan.
Annisa mengangguk beberapa kali, "Capek banget, Biy. Asli." Tangan gadis itu bergerak untuk mengusap bola matanya namun secepat kilat Abiyan menahannya. Membuat Annisa memandangnya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Jangan digosok, Sa. Ntar mata lo iritasi," peringatnya yang membuat Annisa mengerjap beberapa kali. Dengan polosnya Annisa mengangguk, menuruti ucapan Abiyan.
"Semarang masih jauh ya, Biy?" tanya Annisa mengalihkan perhatian. Abiyan tersenyum simpul.
"Mungkin sekitar 30 menit lagi, Sa," jawab Abiyan seraya menunjuk layar navigasi menggunakan dagunya. Saat ini, mobilnya masih berada di ruas jalan tol Batang- Semarang. Dan Abiyan mengemudi dengan sangat tenang dan juga stabil. Sama sekali tidak tergoda untuk melaju lebih cepat meskipun jalan raya tampak lengang.
Bagi Abiyan, keadaan jalanan yang lengang justru membuatnya lebih takut. Ia takut jika memutuskan melaju dengan kencang, malah akan semakin terlena dan menambah kecepatannya lagi. Hal itu tentu akan sangat berbahaya mengingat juga ini sudah tengah malam. Lagipula, tidak ada hal mendesaknya untuk mengemudi lebih laju dari sekarang.
"Masih lumayan juga, ya," jawab Annisa dengan polosnya. "Lo nggak istirahat, Biy?" tanyanya kemudian.
Abiyan menggeleng, "Bentar lagi. Sekalian aja nanti istirahat di rest area."
Annisa hanya mengangguk, kemudian menggerakkan jarinya pada layar navigasi yang ada di depannya untuk mengetahui di mana lokasi rest area terdekat tanpa harus keluar dari lajur tol. Ternyata lokasi rest area tersebut sudah di pin terlebih dahulu oleh Abiyan.
"Biy, dari Semarang ke rest area masih ditambah 25 km lagi lho. Lo yakin?" Annisa memandang Abiyan lekat. Jujur saja ia khawatir sebab Abiyan sudah mengemudi cukup lama. Kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 5 jam.
"Deket, Sa. It's okay. Yang penting lo jangan tidur dulu. Ntar gue nggak ada temennya ngobrol. Itu yang bahaya." Annisa mencibiri jawaban santai Abiyan. Dari awal Abiyan memang sudah menghitung jika ia akan beristirahat di rest area Km 429 ruas tol Semarang - Bawen. Dari yang ia baca, rest area tersebut merupakan yang paling nyaman dan lengkap fasilitasnya dibandingkan yang lainnya, atau bahkan yang sudah terlewati sebelumnya. Gerai makanan bahkan hingga kafe juga banyak tersedia di tempat tersebut.
Meskipun percakapan mereka biasa-biasa saja dan tidak saling berbisik sedikitpun, tetapi nyatanya tidak ada satupun dari ke-empat temannya yang terganggu bahkan sampai terbangun.
Annisa melongokan kepalanya untuk melihat teman-temannya yang sedang asyik membuai mimpi. Gadis itu menggeleng pelan ketika semuanya seolah kompak tidur dengan begitu lelap. Yang pertama kali tidur tentu saja Varell. Ia hanya sempat ikut mengobrol hingga mobil memasuki ruas tol Cikampek. Kemudian berturut-turut Vano dan Clara, saat sudah mencapai setengah dari panjang ruas tol Cipali. Sementara yang paling akhir tertidur adalah Diandra. Baru sekitar 2 jam yang lalu atau lebih tepatnya saat mobil yang dikemudikan Abiyan memasuki wilayah provinsi Jawa Tengah.
"Emang bener-bner ya mereka kalau untuk urusan tidur," celetuk Annisa seraya membuka wadah Tupperware yang berisi potongan buah-buahan. Ada buah pir, apel, strawberry dan juga kiwi. Buah-buahan yang sudah dipersiapkan Annisa sehari sebelumnya karena selama ini Annisa memang tidak bisa menganggurkan mulutnya jika sedang dalam perjalanan jauh. Ia harus membawa buah-buahan yang sudah dipotong sebagai camilannya. Atau terkadang, kentang goreng.
Abiyan hanya tersenyum tipis. Dalam keremangan itu, ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik Annisa meskipun guratan lelah juga terlihat jelas. Abiyan tahu Annisa sama sekali belum memejamkan mata. Berbeda dengan dirinya yang tadi sudah menyempatkan diri untuk tidur sebelum keluar dari rumah.
"Kalau lo ngantuk, tidur aja nggak pa-pa, Sa," ucap Abiyan spontan. Annisa yang hendak menusuk potongan buah itu mengunakan garpu kecil lantas menoleh.
"Katanya lo nggak mau sadar diri sendirian?" balasnya mengingatkan akan ucapan Abiyan beberapa menit yang lalu.
"Nggak pa-pa lah. Orang tinggal dikit lagi juga." Annisa menggeleng. Bahkan sekalipun ia mengantuk berat, Annisa akan berusaha untuk tetap terjaga karena ia tidak mau Abiyan merasa kesepian. Selain itu, memang sangat tidak disarankan untuk meninggalkan seseorang mengemudi sendirian ketika menempuh jarak jauh terlebih saat malam hari.
Annisa mengangsurkan potongan buah pear ke arah mulut Abiyan. Meskipun sempat terkejut, Abiyan akhirnya menerima suapan Annisa. Barulah setelahnya, Annisa menyuapi dirinya sendiri dengan potongan buah strawberry.
"Kok gue nggak tahu ya kalau lo bawa buah, Sa?" Abiyan meraih tangan Annisa yang sedang mengambil potongan buah kiwi kemudian menyuapkan ke dalam mulutnya sendiri. Annisa sempat dibuat tertegun selama beberapa detik atas sikap Abiyan tersebut.
"Tadinya emang mau gue buka, tapi anak-anak lebih milih kentang goreng sama nugget duluan. Ya udah, gue simpen dulu lah," jawabnya sesaat setelah berhasil menormalkan kondisi hatinya.
"Lo nggak lagi diet kan, Sa?" tanya Abiyan iseng. Annisa tersenyum geli mendengarnya.
"Dari dulu emang gue suka sama buah-buahan, Biy. Terutama 4 ini, ditambah anggur." Jawaban Annisa membuat sebuah pertanyaan jahil muncul di kepala Abiyan.
"Lo lebih suka apel atau anggur, Sa?"
"Gue suka keduanya sih, Biy," jawab Annisa cepat. "Kenapa? Lo pasti mau gombalin gue?" sambung Annisa menebak apa yang ada di dalam benak sahabatnya itu. Abiyan yang merasa terkena skakmat hanya tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Emang susah deh gombalin Annisa." Annisa tertawa geli mendengar kepasrahan Abiyan. Tawa yang sejak beberapa tahun belakangan ini sangat disukai oleh laki-laki itu.
Keduanya terus melajutkan obrolan sambil Annisa yang juga terus menyuapi Abiyan. Aktivitas keduanya itu sama sekali luput dari perhatian teman-temannya krena mereka berempat masing-masing terlelap dengan mengenakan penutup mata. Padahal, Abiyan sudah mematikan lampu mobil. Lampu depan pun ia nyalakan dalam mode temaram. Asal tidak terlihat begitu gelap.
Sekitar 45 menit kemudian, Abiyan membelokkan mobilnya memasuki kawasan rest area yang dimaksud. Pertama-tama, tempat yang Abiyan tuju adalah stasiun pengisian bahan bakar karena indikator bahan bakarnya sudah berkedip, menandakan isinya sudah tinggal sedikit.
Sebelum turun dari mobil, Abiyan terlebih dahulu melakukan pembelian bahan bakar melalui aplikasi ponselnya sebab sistem pengisian di tempat tersebut menggunaakn layanan self service untuk kendaraan pribadi. Setelah melakukan pembayaran melalui e-wallet dan struk sudah ditampilkan barulah Abiyan akan memindai barcode pada mesin yang tersedia di samping dispenser bahan bakar tersebut.
"Ini, mereka nggak kita bangunin?" tanya Annisa ketika mobil mereka berhenti.
"Biarin aja dulu. Nanti kalau udah pindah ke depan minimarket baru kita bangunin mereka," sahut Abiyan seraya melepaskan seatbelt dan membuka pintu di samping kanannya.
Annisa kemudian menyusul Abiyan untuk keluar dari mobil seraya membawa slingbag miliknya.
"Biy, gue ke toilet dulu, ya. Kebelet banget," pamit Annisa pada Abiyan yang sedang menarik selang dan memasangkannya pada tangki mobil.
Abiyan mengangguk pelan, "Hati-hati."
Annisa melangkah dengan cepat menuju ke sebuah minimarket yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Toilet minimarket itu terletak di bagian belakang dengan penerangan yang sangat bagus. Seluruh langkah Annisa tidak lepas dari pengamatan Abiyan.
Usai dengan urusan pengisian bahan bakarnya, Abiyan segera kembali ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya menuju ke depan minimarket yang dituju oleh Annisa.
"Woy, bangun lo pada," ucap Abiyan dengan cukup lantang kemudian menyalakan lampu tengah. Yang pertama bersuara adala Diandra, gadis itu menguap sekuat mungkin hingga membuat Abiyan geleng-geleng melihatnya.
"Lo jangan molor lagi, Di. Buruan bangun." Abiyan meraih boneka ulat dan memukulkannya perlahan pada paha Diandra dan juga Clara.
Clara mengeliat pelan seraya menarik penutup matanya, namun dengan cepat ia menutupnya lagi karena sinar terang yang terasa menyilaukan.
"Silau, Abiyan," keluh Clara sambil mengucek matanya.
"Jangan dikucek, Clara," peringat Abiyan tegas.
"Udah lo buruan bangun. Lo bangunin juga noh 2 putra mahkota di belakang." Sekali lagi, Abiyan menepuk paha Clara dan Diandra karena dua orang itu masih bertahan dengan penutup mata masing-masing. Kali ini cukup keras hingga membuat kedua gadis itu akhirnya membuka mata.
"Lo mau ke mana, Biy?" tanya Diandra yang kini mengambil alih boneka yang tadi digunakan Abiyan untuk membangunkannya. Tentu saja akan ia gunakan untuk membangunkan Varell dan Vano.
"Gue mau beli minum. Lo buruan turun," sahut Abiyan seraya meraih dompet dan ponselnya kemudian membuka pintu kemudi.
"Si Nisa di mana? Hoam?" Kini giliran Clara yang bertanya seraya menutupi mulutnya yang menguap.
"Annisa lagi ke toilet." Abiyan segera memasuki minimarket guna membeli apa yang sekiranya mereka butuhkan.
Tak lama berselang, Clara dan Diandra menyusul dengan wajah bantalnya. Sementara Varell dan Vano akhirnya bangun setelah mendengar suara sopran Clara yang cukup memekakkan. Clara terpaksa mengeluarkan suara emasnya itu karena kedua laki-laki itu tak kunjung membuka mata.
Annisa yang sudah selesai dengan urusan panggilan alamnya bermaksud untuk keluar. Tetapi ketika baru saja membuka pintu, ia melihat beberapa orang laki-laki berdiri di depan toilet. Bulu kuduk Annisa bergidik dan ia segera kembali menutup pintu lalu menguncinya. Penampilan mereka yang terlihat acak-acakan dan nakal lah yang membuat Annisa merasa ketakutan. Tepat ketika salah satu dari para orang tersebut menoleh ke arahnya.
Saat Annisa masih berusaha menenangkan diri, pintu toiletnya digedor dengan keras dan cukup membuatnya merasa takut. Annisa mundur satu langkah. Beruntung, pintu itu merupakan pintu kayu dengan kunci ganda. Annisa seketika diliputi rasa panik. Ia takut jika orang-orang yang berpenampilan seperti preman itu memiliki maksud buruk apalagi mereka mulai memanggil-manggil dirinya. Benar, Annisa bisa mendengar lebih dari 1 suara yang tengah memanggilnya untuk keluar dengan nada menggoda. Dengan tangan bergetar, ia merogoh ponselnya untuk menghubungi Abiyan.
"Halo, kenapa, Sa?" Abiyan saat ini berada di meja kasir dan sedang membayar air mineral yang ia beli. Sementara keempat orang yang lain tengah duduk di bangku yang disediakan di depan minimarket tersebut.
"Biy, t-tolong," ucap Annisa dengan lirih. Suara gedoran pada pintunya terdengar semakin keras. Annisa semakin takut, karena jika mereka mengantri untuk ke toilet, sangat tidak masuk akal menurutnya. Sebab, toilet di situ tidah hanya 1 melainkan ada 4.
"Nisa, lo kenapa?" Dahi Abiyan mengeryit. Samar-samar ia bisa mendengar suara gedoran pintu.
"Shit." Abiyan mengumpat cukup keras hingga membuat kasir dan beberapa pembeli merasa terkejut. Secepat mungkin ia membawa 3 botol air mineral berukuran besar itu keluar tanpa mempedulikan uang kembaliannya.
"Ra, ambil kembalian gue di dalem," perintah Abiyan tegas yang membuat semua orang memandangnya heran.
"Lo kenapa, Biy?" Clara segera beranjak dari tempat duduknya. Jika Abiyan sudah mengeluarkan suara seperti itu, pertanda ucapan laki-laki itu harus segera dituruti tanpa ingin dibantah.
"Udah lakuin aja. Varell sama Vano ikut gue," ucap Abiyan seraya melangkah cepat menuju ke arah toilet. Minimarket itu memang berukuran cukup besar sehingga membutuhkan waktu untuk Abiyan menuju ke tempat Annisa saat ini.
Dengan penuh perasaan heran, kedua laki-laki yang Abiyan tahu sudah mencapai sabuk hitam 1 dalam bidang bela diri Ju-jitsu itu mengikuti langkah sang sahabat. Abiyan sendiri sebenarnya juga sudah mencapai sabuk hitam 2 Taekwondo, tetapi ia tetap harus mengajak Varell dan Vano untuk mengantisipasi hal buruk yang bisa saja terjadi. Sementara Clara kembali ke dalam minimarket guna mengambil uang kembalian Abiyan dan Diandra menunggu di kursinya untuk menjaga barang-barang mereka.
Kedatangan 3 orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar itu sontak saja membuat 5 orang laki-laki yang sebelumnya menggedor pintu toilet Annisa merasa ciut nyali. Meskipun mereka tidak tahu apa tujuan ketiga laki-laki itu, tetap saja mampu membuat mereka mengurungkan niat untuk menggoda Annisa.
Varell dan Vano yang berjalan 3 langkah di belakang Abiyan kini mengerti maksud laki-laki itu. Pasti tadi Annisa menelepon Abiyan karena diganggu oleh para preman bertubuh kurus dan lusuh yang sepertinya masih berusia jauh di bawah mereka itu. Dengan isengnya Vano bahkan bertingkah seolah-olah sedang menyiapkan tenaganya untuk menghajar seseorang. Apalagi sejak turun dari mobil, ia sama sekali belum mengeliatkan tubuhnya yang sudah pasti terasa sangat kaku itu.
Para preman itu pergi entah ke mana saat Abiyan mendekati salah satu toilet yang tertutup. Ia yakin di situlah Annisa berada.
Suara ketukan pintu itu membuat Annisa yang tengah memejamkan mata seraya merapalkan doa seketika terkejut. Ia kembali melangkah menjauhi pintu, takut jika para laki-laki yang berpenampilan berandalan tadi masih mengganggunya.
"Sa, buka pintunya. Ini gue." Suara maskulin Abiyan membuat Annisa menghela napas lega. Ia segera membuka pintu dan tanpa sadar menghambur ke dalam pelukan Abiyan.
Abiyan tentu saja terkejut atas apa yang dilakukan Annisa, tetapi secepat mungkin ia berusaha menormalkan kondisinya. Abiyan paham, pasti Annisa merasa sangat ketakutan.
"Biy, gue takut." Abiyan semakin mendekap erat tubuh Annisa saat mendengar isakan gadis itu.
"Gue di sini. Lo nggak usah takut, lo baik-baik aja, 'kan?" sahut Abiyan yang kini mengusap lembut pucuk kepala Annisa.
Di sisi lain, Varell dan Vano hanya bisa saling melemparkan pandangan ketika melihat pemandangan yang kini tersaji di hadapan mereka. Bedanya, Vano sama sekali tidak mengerti apapun dan menganggap hal itu adalah sesuatu yang wajar karena Annisa sedang dalam keadaan takut. Berbeda hal-nya dengan Varell yang serasa ingin tersenyum dalam hati.
Annisa mengangguk pelan dalam pelukan Abiyan. Seolah menyadari sesuatu, kedua anak manusia itu spontan saling melonggarkan pelukannya dan melepaskan diri dalam suasana kikuk.
"Ya udah, lo nggak pa-pa, 'kan? Gue anterin ke depan dulu, ya," ucap Abiyan pada Annisa yang kini menundukkan kepala. Jelas saja gadis itu malu pada sikapnya sendiri meskipun hal itu dilakukannya secara spontan.
***