18. SEGALA KEINDAHAN

2407 Words
“Lo emang terbaik sih, Biy,” ucap Diandra sambil tersenyum dengan sangat manis. Tidak hanya Diandra, yang lain pun ikut memberikan senyuman manisnya. Alasannya? Tentu tidak lain dan tidak bukan ialah karena Abiyan sudah membayar seluruh akomodasi keperluan mereka memasuki kawasan Wisata Gunung Bromo itu. Tadinya, Annisa sudah bertanya pada sang adik sejak mereka masih berada di rumah, tetapi Airlangga terus mengelak dan mengatakan nanti saja. Hal yang tidak diketahui ialah, sejak sore Abiyan sudah melakukan pembayaran itu pada Airlangga. Abiyan juga melarang Airlangga untuk mengatakan appaun pada semua orang, agar mereka mengetahui dengan sendirinya nanti. Dan tentu saja, urusan mengenai pembiayaan akan segera terbuka ketika mereka tiba di lokasi wisata. “Ntar perusahaan lo makin gede, yah. Biar lo makin kaya,” tambah Clara yang kini menampilkan wajah puppy eyes-nya. Suhu udara sangat dingin, hingga membuat uap air keluar dari mulutnya saat berbicara. “Semua doa yang baik, gue terima. Tapi … cukup sampai di sini,” ujar Abiyan sambil mengangkat kedua tangannya ke depan. “Kalau lo pada mau doain gue, ntar aja pas lagi ibadah,” sambungnya yang membuat semua orang mencibir tipis. “Emang, Bromo selalu sedingin ini, yah?” tanya Vano pada Airlangga. Laki-laki itu bersedekap sangat erat karena cuaca dini hari itu memang sangat dingin. “Kalau pertengahan musim kemarau emang gini, Mas. Kalau jam-jam segini, pasti dingin banget. Malah kadang bisa sampai turun salju karena terlalu dingin,” jawab Airlangga seraya menyerahkan sarung tangan tebal kepada Vano. Untungnya ia memiliki 2 pasang sarung tangan cadangan. Sementara yang lain sudah mengenakan sarung tangan masing-masing yang mereka bawa dari rumah. “Udah dibilangin, panggil Vano aja. Nggak usah paki embel-embel mas.” Vano mengingatkan sambil mulai mengenakan sarung tangannya. Sudah sejak tadi ia memprotes panggilan Airlangga kepada dirinya dan kedua orang teman lelakinya. Vano merasa telinganya geli mendapatkan panggilan itu. Dan tentu saja, ia merasa tua. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua setengah jam via jalan tol, rombongan itu akhirnya sampai di salah satu destinasi paling populer yang menjadi andalan Jawa Timur tersebut. Abiyan mengemudi dengan tenang, mengimbangi Airlangga yang berjarak 200 meter darinya. Tadinya saat berangkat dan masih berada di dalam mobil, semua orang masih mengenakan pakaian santai. Tetapi kini mereka sudah lengkap mengenakan jaket tebalnya karena suhu di sana memang terasa sangat dingin. Bahkan baru 2 hari yang lalu Airlangga berkunjung, tetapi ia sendiri merasa sangat kedinginan. “Ya nggak bisa, Mas,” ucap Airlangga datar dengan mengarahkan lirikannya kearah sang kakak. “Jangan kaku-kaku banget, Sa.” Vano beralih memandang Annisa yang seketika menggeleng cepat. “Nggak bisa, Van. Itu udah aturan tidak tertulis di keluarga gue,” jawab Annisa dengan tegas. Ia sendiri sangat tidak suka saat ada orang yang bersikap seenaknya, oleh karena itu untuk urusan tata krama, Annisa akan sangat tegas kepada kedua adiknya. “Ya udah sih, terima aja kalau emang lo udah tua,” ledek Diandra menengahi perbedaan pendapat itu. Apa yang diucapkannya sontak saja membuat Vano membulatkan mata selebar mungkin, berbeda dengan lainnya yang hanya tertawa. “Kalau ke sini, wajib naik jeep, yah?” tanya Clara penasaran, tatapannya tertuju penuh pada Airlangga. “Kalau berangkatnya naik mobil, emang wajib ganti ke mobil jeep, Mbak. Kalau motor, bebas. Jalan ke tempat lihat Sunrise nggak cocok pakai mobil biasa, apalagi waktu di kaldera. Kalau selip kan susah jadinya. Ntar deh, Mbak Clara coba lihat,” jelas Airlangga dengan panjang lebar. “Yah, anggep aja ala-ala Lava Tour-nya Merapi lah, Ra.” Diandra menimpali. “Nah, persis.” Arilangga mengangguk setuju dengan ucapan gadis asal Solo itu. “Kita naik?” tawar Airlangga saat mobil jeep yang akan membawa mereka sudah siap. Pun dengan Rafa yang sudah menyewa motor dual sport lengkap. “Oke.” Varell menjadi orang yang terlebih dulu mengangguk dan naik ke mobil dengan atap terbuka itu. Airlangga sengaja menyewa mobil model itu karena bisa menampung lebih banyak orang daripada mobil yang tertutup. Setelah semua orang naik, mobil wajib untuk berkeliling kawasan Bromo Tengger Semeru itupun melaju menuju destinasi pertama yang selalu menjadi favorit para wisatawan. Rafa melaju terlebih dahulu dengan motor sport beberapa meter di depan mobil. Saat ini, jarum jam menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Dari tempat pemberhentian membutuhkan waktu sekitar 30 sampai 45 menit untuk sampai di tempat wajib pertama. Dan karena ini adalah akhir pekan, bisa dipastikan keadaan akan sedikit lebih ramai, waktu tempuh perjalananpun akan lebih lama. “Agak rame kayaknya, jadi sabar aja kalau lama,” kata Airlangga mengingatkan, dan semua orang mengangguki ucapannya. “Airlangga, ini kita boleh berdiri, ‘kan?” tanya Diandra dengan antusias saat dirinya sudah menaiki mobil. “Boleh. Tapi pegangan, Mbak.” “Kayaknya kalau gue ikutan sewa motor, bakal keren juga,” celetuk Varell saat memperhatikan Rafa beberapa saat setelah kendaraan mereka melaju. Keadaan masih sangat gelap, tetapi karena sinar lampu dari mobil jeep mereka sangat terang, maka semua orang bisa melihat pergerakan Rafa. “Nggak usah macem-macen, Rell. Ntar lo ilang yang ada,” sahut Clara dengan sarkastik, membuat Varell segera melayangkan tatapan sebalnya. “Ilang sih mungkin enggak, tapi ini malem. Jalannya nggak selurus itu.” Airlangga yang duduk di samping sang sopir memberikan tanggapan. “Tuh, dengerin dari ahlinya.” Diandra menimpali. “Biy, lo jangan diem aja. Kesambet ntar,” seloroh Vano yang sejak tadi memperhatikan diamnya Abiyan. Mendengar kalimat itu, Abiyan yang berdiri di belakang Annisa sontak melayangkan tatapan lebarnya. Pun demikian dengan Annisa. “Ati-ati tu mulut,” peringat Annisa dengan sedikit galak. Bukankah sudah dikatakan kalau Annisa sangat menjaga tata krama? Pun dengan ketika berkunjungke tempat asing. Apalagi, semua teman-temannya itu baru pertama kali datang berkunjung. “M-maaf. Ampun,” ucap Vano dengan penuh sesal saat menyadari kata-katanya. Abiyan hanya tersenyum miring tanpa ingin menambahkan kalimat apapun. “Rasain lo, diomelin Annisa.” Varell menimpali, dan membuat semua orang yang ada di mobil tertawa mendengarnya. Suasana di atas mobil itu masih tetap riuh oleh candaan, dan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh masing-masing, terutama kepada Airlangga dan sang pengemudi mobil. Annisa yang memang sudah sering berkunjung ke tempat itu sejak kecil hanya tersenyum geli melihat antusiasme teman-temannya yang seperti orang kekurangan liburan. Kenyataannya sih, memang begitu. Sementara Abiyan yang berdiri di belakang gadis itu hanya menimpali sekadarnya. Beberapa pertanyaan yang sempat terlintas di dalam benaknya sudah terwakili oleh yang lain. Laki-laki itu memilih untuk memperhatikan gadis di depannya. Karena tinggi Annisa yang hanya sebatas hidungnya, Abiyan bisa menghirup aroma harum dari rambut sang gadis. Dan hal itu membuatnya seakan tersihir. Hingga pada suatu titik, kendaran itu harus melewati belokan yang langsung disambut oleh tanjakan. Posisi tubuhnya yang sedang tidak seimbang membuat Annisa sedikit oleng ke belakang. Spontan saja, Abiyan segera menangkap pinggang gadis itu menggunakan lengan kanannya. Sementara tangan kirinya berpegangan semakin erat pada mobil. Dekapan erat yang diberikan Abiyan membuat Annisa begitu terkejut hingga menahan napas. Terlebih dengan posisi tubuh mereka yang hampir menempel. Jantungnya berdegub sangat kencang karena 2 hal yang begitu mengejutkannya. “A-abiyan,” lirih Annisa dengan terbata. Dengan pelan sekali, gadis itu menoleh ke arah belakangnya. “Lo nggak pa-pa?” tanya Abiyan dengan lirih tepat di depan telinga Annisa. Masih dengan rasa keterkejutannya yang belum hilang, Annisa mengangguk lemah. “Nggak pa-pa. Makasih, Biy,” balasnya dengan tak kalah lirih. Abiyan tersenyum tipis dan segera melepaskan lengannya begitu memastikan Annisa baik-baik saja. Bolehkah Abiyan merasa sedikit senang? Karena hal itu membuatnya bisa sedemikian dekat dengan Annisa, yang entah kenapa sejak tadi terasa begitu dingin dan acuh kepadanya. Abiyan tahu udara saat ini memang dingin, tetapi dinginnya Annisa terasa berbeda. Sejatinya, diamnya Abiyan tadi karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri atas sikap Annisa. Abiyan mencari-cari, apakah ada yang salah dengan sikapnya kepada gadis itu? Mengingat Annisa sepertinya hanya diam kepadanya, meskipun tidak sepenuhnya diam. Tetapi kepada yang lain, gadis itu tetap seperti biasanya, tanpa ada perubahan. “Lo masih yakin mau naik motor sendiri dengan jalanan kaya gitu?” tanya Clara dengan menantang seraya melepaskan pegangannya pada Varell. Jika dilihat, bukan hanya Abiyan yang memegang Annisa. Tetapi Clara dan Varell, pun dengan Diandra dan Vano. Hanya saja mereka lebih tepat disebut berpegangan, karena sejak awal memang Clara terus berpegangan pada Varell. Varell hanya bisa mengulum senyum sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal menanggapi pertanyaan Clara. Bukannya apa, tidak hanya sekali Varell mengatakan ingin mengendarai motor. Tetapi menyadari keadaan jalanan tentu saja membuatnya seketika ciut nyali. “Lagian, orang biasa naik mobil, mau sok-sokan naik motor. Mana naik mobilnya selalu di dalam kota,” tanggap Vano yang kini bergerak untuk duduk. Ia melakukan itu guna mengantisipasi kalau-kalau mereka harus melintasi jalan seperti tadi. “Bisa karena terbiasa,” sahut Varell yang mengikuti pergerakan Vano. Tidak hanya Varell, tetapi yang lain juga. “Lo pindah aja ke sini sekalian, jadi dokter di sini,” suruh Clara yang membuat Varell segera mencubit hidung mungilnya. “Lo perhatian banget sih ama gue. Ntar kalau gue beneran baper sama lo, jangan ditolak, ya,” balasnya jahil menanggapi perintah Clara. “Varell ….” Clara segera meloto ke arah laki-laki yang sedang tersenyum jahil itu. “Yang ada Clara kali yang baper sama lo.” Abiyan memberikan tanggapan, membuat tawa renyah semua orang terlolos. “Ya nggak pa-pa. nggak akan gue tolak juga,” kata Varell sembari menyandarkan kepalanya di bahu Clara. Tindakannya sontak membuat sang gadis bergidik. “Varell, gue geli. Sumpah!” Clara sedikit menjauhkan tubuhnya dari Varell. “Jangan sembarangan lo,” tandasnya yang kini beralih pada Abiyan. Setelah menempuh perjalanan yang cukup membuat jantung berdebar kencang selama lebih dari 30 menit, rombongan itu akhirnya sampai di kawasan Seruni Point. Sebuah titik yang menjadi favorit para wisatawan untuk melihat pemandangan matahari terbit. Untuk melihat pemandangan matahari terbit, terdapat 2 spot yang menjadi jujukan utama para pewisata. Seruni Point, bisa dituju apabila kita datang melalui Kabupaten Probolinggo. Sementara yang satunya adalah Penanjakan, yang bisa diakses dari Kabupaten Pasuruan. Selain kedua tempat itu, ada banyak lagi titik yang bisa digunakan untuk melihat indahnya pemandangan matahari terbit, tetapi 2 tempat itu merupakan titik yang paling digemari. Setelah turun dari kendaraan, Airlangga memandu untuk melangkah menuju puncak titik tersebut. selain mereka, tentu ada banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung. Prediksi Airlangga nampaknya sedikit meleset, karena pagi ini keadaan tidaklah terlihat ramai untuk ukuran akhir pekan. “Mau mampir ngopi dulu?” tawar Airlangga ketika dilihatnya Abiyan dan Vano memperhatikan para pedagang asongan yang ada di tempat itu. “Boleh beli dulu nggak? Nanti dibawa ke atas?” tanya Abiyan yang dijawabi anggukan oleh Airlangga. Laki-laki itu lantas mendekati kerumunan beberapa pedangang untuk mengantar tamunya membeli minuman sesuai keinginan masing-masing. “Kamu mau apa, Mbak?” tanyanya kepada sang kakak yang sibuk meniup telapak tangannya sendiri dengan napasnya yang beruap. “Cappucino aja.” Setelah mendapatkan minuman masing-masing, mereka segera melangkah untuk menapaki anak tangga yang terlihat cukup banyak. Karena titik pengamatan itu memang terletak di atas bukit. “Berapa banyak anak tangganya itu?” celetuk Varell dengan pandangan lebarnya, seakan begitu terkejut. “Nggak banyak kok, Mas. Cuma sekitar 256 anak tangga,” jawab Airlangga dengan nada jahilnya. “256 kamu bilang cuma?” sahut Diandra dengan tatapan melotot. “Lah, ntar kalau naik gunung juga sama. Ada 250 anak tangga kalau mau sampai di puncak Bromo-nya,” kata Airlangga lagi dengan santainya. Annisa tersenyum geli saat bersitatap dengan sang adik. Untuk mencapai puncak Gunung Bromo, memang kita harus menaiki 250 anak tangga. Tetapi sebelum mencapai itu, ada medan terjal yang harus dilewati terlebih dulu. Dan untuk itu, Annisa tidak akan mengatakannya sekarang. “Looks like a magic. It’s amazing,” cetus Clara saat indera penglihatannya mengamati keindahan Milky Way yang masih menghiasi gelapnya langit. Tanpa mempedulikan perdebatan teman-temannya mengenai jumlah anak tangga, gadis itu melangkah dengan santai menapaki satu-persatu anak tangga di hadapannya. Annisa menyusul langkah Clara kemudian. Di belakangnya, Abiyan dan Vano juga melangkah dengan santai. Pada akhirnya, Diandra dan Vanopun mengikuti langkah mereka, diiringi dengan senyuman jahil dari sang pemandu tour. Sejatinya, perjalanan menuju puncak bukit itu tidaklah lama. Tetapi karena ini adalah liburan, maka wajib hukumnya bagi mereka untuk sesekali berhenti dan mengambil foto. Airlangga bahkan tidak bisa meredakan tawanya karena melihat sikap para tamu yang terlihat benar-benar kurang asupan liburan. Suasana di puncak pelataran yang lazim juga disebut Penanjakan 2 itu tidak jauh berbeda dengan suasana di tempat parkir. Meskipun ada cukup banyak orang, tetapi tidak bisa disebut ramai selayaknya hari libur. “Tumben nggak serame biasanya ya, Dek? Padahal kan ini weekend,” kata Annisa sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Selain weekend, jangan lupakan kalau sekarang akhir bulan. Dompet menipis, sih.” Airlangga memberikan tanggapan dengan nada candaan. Para wisatawan mulai berdiri dengan tertib di tepi pagar pembatas untuk menikmati pemandangan indah yang tentunya akan menjadi pengalaman berharga. Semburat merah mulai terlihat di ufuk timur, seakan menggeser keberadaan titik-titik bintang yang sebelumnya menghiasi langit gelap itu. Gradasi dari warna kuning, merah, jingga dan biru gelap seolah menjadi sihir yang mampu membius setiap pasang mata untuk tak henti terkagum. Kabut tebalpun masih tampak meliputi seluruh area tersebut, semuanya seakan menjadi perpaduan yang sangat tepat. Pelan tapi pasti, siluet dari gunung suci itu mulai terlihat samar-samar. Menit demi menit berlalu, cahaya terang perlahan menerangi seantero mayapada. Sedikit demi sedikit mengikis lapisan kabut yang kini terlihat seperti helaian kapas terbang. Di kejauhan, puncak para dewa ikut menyambut datangnya pagi dengan kepulan asapnya yang terlihat tebal. Puncak yang menjadi titik tertinggi Pulau Jawa itu turut menampilkan sihirnya. “It’s a magic, Guys,” seru Diandra yang tengah dalam keadaan mulut ternganga melihat pemandangan indah tersebut. “Ini pemandangan yang biasa kita lihat di foto?” tanggap Clara seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. “Gue nggak tahu harus terkagum seperti apa lagi,” gumam Abiyan dengan lirih. Annisa yang tepat berada di sampingnya menoleh, lantas tersenyum manis. “Makanya, sering-sering liburan,” tanggapnya yang membuat Abiyan ikut tersenyum. Sesi berfoto kembali dilanjutkan untuk mengabadikan momen berharga tersebut. Abiyan bahkan tidak segan meminta Annisa untuk berfoto berdua dengannya. Dengan tatapan jahilnya yang sangat berisik, Varell mengabadikan gambar keduanya dalam beberapa pose dan jepretan. Sementara Clara tengah asyik merekam video, sama sekali melewatkan hal itu. “Nisa, gue suka sama lo,” gumam Abiyan dengan lirih, ketika dilihatnya Annisa sedang tersenyum mengamati hasil foto mereka. Pemandangan yang begitu indah di mata Abiyan, segala keindahan pagi itu terasa lengkap oleh senyuman Annisa. “Lo bilang apa, Biy?” Annisa tertegun selama beberapa detik sebelum menoleh ke arah kanannya, di mana Abiyan sedang menatapnya dengan intens. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD