“Abiyan, lo nggak tidur?” tanya Annisa kepada Abiyan yang tengah duduk santai di kursi balkon tengah. Secangkir kopi tanpa gula menjadi temannya, selain pikirannya sendiri.
“Nggak tahu kenapa nggak ngantuk,” jawab Abiyan yang sedikit merasa terkejut. Ia sama sekali tidak mendengar langkah siapapun sampai Annisa melongokkan kepalanya ke arah pintu balkon.
“Mending lo coba tidur deh, Biy. Kan nanti lo yang nyetir.” Annisa memberikan saran seraya mengambil posisi duduk di samping Abiyan. Melihat pergerakan Annisa membuat Abiyan sedikit menggeser posisi duduknya.
“Yah … kalau gue ngantuk, biar Varell aja.” Abiyan meraih cangkir berwarna putih itu dan menyesap isinya perlahan.
“Dia di mana? Udah molor lagi?” tanya Annisa penasaran, karena biasanya Varell akan betah untuk berbincang dengan Abiyan jika memang keduanya sedang luang.
Pertanyaan yang diajukan Annisa membuat Abiyan tersenyum meledek, “Bukan, tadi sih pamitnya ada telepon dari nyokapnya. Tau dah pamit apa kagak tu bocah kemarin,” sahutnya asal yang membuat Annisa mencebik.
“Emang kebiasaan temen lo satu itu. Mentang-mentang di rumahnya bebas, main pergi gitu aja.” Annisa menggeleng pelan setiap mengingat tingkah laku Varell yang memang cenderung paling bebas di antara mereka ber-enam. Meskipun tentu saja, Varell tidak pernah berbuat macam-macam. Setidaknya, itulah yang ia ketahui sampai saat ini, sejauh dirinya mengenal laki-laki berwajah bule tersebut.
“Giliran yang jelen-jelek lo kasih gue,” celetuk Abiyan dengan ekspresi malasnya.
“Dih, Abiyan kok gitu.” Annisa merajuk dan menampilkan wajah manjanya yang khas. Apalagi kalau bukan bibir manyun dengan pipi mengembang.
“Bercanda, Biy,” sambungnya saat Abiyan hanya memberikan respon berupa lirikan datar.
“Santai aja.” Abiyan menjentikkan jarinya di depan wajah Annisa, yang seketika membuat gadis itu kembali tersenyum cerah. “Lo sendiri nggak tidur?” tanyanya kemudian.
“Pengen, sih.” Annisa menghela napas panjang. “Tapi kayaknya bakal nanggung banget kalau nanti jam 11 mesti bangun lagi,” ungkapnya yang membuat Abiyan mengangguk setuju. Saat ini, jarum jam tepat menunjukkan pukul 8 malam dan gadis itu baru saja naik ke lantai 3 setelah menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan anggota keluarga besarnya.
Sejatinya, bukan hanya perkara tanggung itu saja yang membuat Annisa merasa akan kesulitan untuk tidur. Tetapi juga kegusaran hatinya atas percakapan yang baru saja dilaluinya sejak tadi bersama keluarga besarnya.
Keluarga besar?
Benar.
Tadi sore, tiba-tiba saja rumahnya kedatangan beberapa orang tamu, yang tentu saja itu bukanlah orang lain. Ada sang nenek dari pihak ayahnya, lalu tante dan omnya lengkap dengan 2 sepupu perempuannya yang seumuran dengan Arga. Suasana di ruang tengah itu seketika berubah menjadi jauh lebih ramai dari sebelumnya dan hal itu pula yang membuat teman-teman Annisa memilih untuk segera naik ke kamar.
Awalnya, Annisa menyambut dengan senang dan semringah atas kedatangan keluarga besar yang sangat amat jarang ditemuinya itu, kecuali saat hari perayaan besar. Suasana di awal pertemuan itu memang berlangsung sangat menyenangkan. Semuanya saling bertukar kabar dan cerita mengenai kehidupan masing-masing.
Tetapi kesenangan itu tidak bertahan lama, manakala pembahasan mulai mengarah pada hal yang membuat Annisa merasa ingin segera menghilang ke kamar secepat kilat. Kalau perlu, tanpa ada satu orangpun yang menyadarinya. Tetapi ia menyadari kalau dirinya tidak memiliki kemampuan seajaib itu.
Oke, ini intermezzo!
Pembahasan itu tidak lain dan tidak bukan ialah mengenai pasangan hidup. Annisa sempat menyangka kalau sang nenek tidak akan mengingat hal-hal semacam itu, untuk kali ini ia mendapatkan nol besar. Sialnya, salah satu adik sepupunya yang merupakan anak pertama dari tantenya itu memang baru saja melangsungkan acara lamaran sekitar 1 bulan yang lalu.
“Umur kamu sekarang berapa, Nis?” tanya sang nenek yang bernama Ambar tersebut.
“26 mau 27. Ada apa Nenek tiba-tiba nanyain umur Nisa?” jawab dan tanya balik Annisa berurutan, lengkap dengan wajah polosnya yang lugu.
“Kamu itu wis cukup umur. Mbok ya ndang cari pasangan. Jangan kelamaan, Nduk. Pamali kalau kata orang Jawa,” nasehat nenek Ambar yang detik itu juga membuat Annisa menghela napas pelan.
“Hm, Nenek. Nisa pikir ada apa,” sahutnya asal seraya menyomot puding jeli buatan sang mama.
“Lho, kok nyantai banget to kamu itu. Livia saja sudah mau menikah. Masa diduluin sama adekmu,” kata nenek Ambar yang merasa tercengang dengan jawaban santai cucu sulungnya itu.
“Ya … mau gimana lagi.” Annisa mengangkat kedua tangannya dengan acuh. “Nisa kan masih sekolah. Nah, Livia kan ndak mau sekolah lagi setelah SMA. Terlalu bucin, sih.”
Skakmat yang diberikan Annisa membuat siapapun yang ada di ruang tengah itu cukup terkejut. Pasalnya selama ini, Annisa sangat amat jarang sekali menyangkal. Biasanya, ia akan lebih memilih untuk tersenyum dan mengiyakan saja dengan asal.
Sementara Livia langsung membulatkan mata ke arah kakak sepupunya itu, tetapi ia tidak bisa menyangkal ataupun marah karena memang demikian adanya. Apalagi, Annisa merupakan orang yang sangat dia hormati, mengingat sejak kecil mereka memang sudah sangat dekat.
“Awas balik ke kamu, Mbak.” Livia mengeluarkan kalimat andalannya. Kalimat yang selalu dikatakan oleh Annisa karena memang dirinya yang terlalu mencintai kekasihnya dulu.
Sejak SMA, Livia sudah berpacaran dengan teman seangkatannya yang kini berprofesi menjadi aparat negara. Laki-laki itu meminta Livia menunggu dirinya selama menyelesaikan pendidikan, tetapi entah kenapa ia tidak mau Livia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Buruknya, Livia yang terlalu cinta menuruti saja hal itu.
Setelah 3 tahun menunggu kepastian, Livia dihadapkan pada kenyataan kalau laki-laki itu dijodohkan dengan putri dari sang atasan di kesatuannya. Sang lelaki tentu saja tidak bisa menolak, dan Livia harus terluka sendirian. Hal itu sempat membuatnya menjadi sangat pendiam selama beberapa bulan, sampai akhirnya ia bisa bangkit dan memilih untuk bersekolah lagi.
Di kampusnya itulah ia bertemu dengan seorang dosen muda yang seumuran dengan Annisa yang langsung melamarnya setelah 3 bulan mereka berkenalan. Jadi sebenarnya, saat ini Livia sedang berkuliah dan duduk di semester 2.
“Sekarang Livianya juga sekolah.” Nenek Ambar membalas skakmat dari Annisa. Sementara yang lain tidak berani memberikan tanggapan, terlebih Arga dan Airlangga. Keduanya bisa melihat ada kekesalan yang coba disembunyikan oleh sang kakak.
“Yo wis, sama saja. Nisa telat dapet jodoh, Via telat sekolah. Sama telatnya,” putus Annisa seakan tidak ingin dibantah lagi. Ekspektasi yang terlalu tinggi di awal perbincangan mereka tadi pada akhirnya membuat kekecewaannya ikut menggunung.
“Ya sudahlah, Bu. Nanti siapa tahu pas Annisa pulang dari Jerman langsung ketemu jodohnya,” kata tante Lovi menengahi perdebatan ibu dan keponakannya itu. Siapapun pasti tahu dan bisa merasakan kalau Annisa sudah mulai mendidih.
“Nah, setuju sama Tante Vi. Belum lagi habis ini Nisa juga bakal ke Jerman. Ntar aja wis, Nisa tak cari bule di sana.” Annisa menimpali perkataan sang tante yang langsung tersenyum kepadanya.
“Yo wis, Nisa naik dulu. Mau tidur. Nanti malem mau ke Bromo.” Annisa bergerak bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju tangga.
“Mbarepmu keras banget, Di,” kata nenek Ambar kepada sang putra, pak Adijaya.
“Kalau Nisa nggak keras gitu, mana sampai dia bantah Adi buat kuliah dokter ke Jakarta, Bu,” tanggap pak Adijaya dengan ekspresi pasrah yang membuat semua orang tersenyum geli mendengarnya. Tentu saja semuanya setuju dengan argumen itu.
“Nggak pa-pa, Mas. Toh Nisa anaknya pinter. Biar cari ilmu yang banyak,” sahut tante Lovi menanggapi perkataan sang kakak.
“Emang lo udah di buru nikah sama keluarga lo?” tanya Abiyan setelah mendengar cerita runut dari Annisa.
“Kalau Mama sama Ayah sih enggak, Biy. Tapi Nenek, tuh. Nggak tahu kenapa, suka banget ngomongin nikah lah, umur gadis lah, apapun itu yang berkaitan dengan perempuan di atas 25 tahun kok belum punya pasangan,” jelas Annisa panjang lebar mengenai kekesalannya pada sang nenek.
“Ya kalau lo diburu nikah, suruh cariin aja kenapa.” Abiyan memberikan saran diplomatis. Sejenak Annisa menahan napas sambil mengerjap beberapa kali mendengar perkataan laki-laki itu. Hatinya serasa tercelos karena di telinganya, ucapan Abiyan terdengar begitu meyakinkan.
“Hm, nggak ah. Mending gue cari sendiri,” jawab Annisa setelah terdiam selama beberapa detik guna menormalkan suasana hatinya yang mendadak sentimental karena ucapan Abiyan.
“Ya udah, gue mau masuk dulu, Biy. Mau tidur bentar,” pamitnya kemudian seraya beranjak bangun dari tempat duduk. Tanpa berniat menunggu tanggapan dari Abiyan yang kini berganti terkejut, Annisa melangkah begitu saja menuju kamarnya. Meninggalkan Abiyan yang hanya bisa memandangnya sambil menghela napas.
“Argh!” Abiyan mengusap rambutnya dengan gusar saat dilihatnya pintu kamar Annisa sudah tertutup. Inilah tidak enaknya terjebak perasaan kepada sahabat sendiri. Sedikit saja perubahan dalam bersikap, rasanya akan sangat tidak nyaman.
Abiyan merasa sepertinya ada yang salah dengan kedatangannya ke rumah Annisa saat ini. meskipun saat di perjalanan tidak ada hal yang macam-macam dan bahkan cenderung banyak peluang yang membuatnya bisa semakin dekat dengan Annisa, tetapi hal itu tidak berlaku saat sudah tiba di tempat tujuan.
Sebut saja tadi pagi, ketika ia tidak sengaja mendengar percakapan Annisa dengan sang mama yang membicarakan mengenai Danar, yang berlanjut dengan kedatangan tamu laki-laki itu. Siangnya ketika mereka selesai makan siang, Abiyan kembali tidak sengaja mendengar percakapan Annisa dan bu Arini yang membicarakan gelagat Danar yang sepertinya ingin kembali menjalin kisah dengan gadis itu.
Sialnya, pada malam harinya Abiyan juga harus mendengar lagi sesuatu yang membuat perasaannya ikut terusik. Saat itu, ia hendak meminta bibi untuk membuatkannya kopi di dapur. Sedikitpun Abiyan sama sekali tidak bermaksud untuk menguping. Semuanya terjadi secara kebetulan, di luar batas keinginannya.
“Orang mau sepinter apapun kalau kena urusan cinta, kelar dah.” Celetukan jahil yang terdengar dari arah pintu balkon itu membuat Abiyan menoleh dengan tatapan menghunusnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Varell.
“Berisik lo.” Abiyan bersungut-sungut lantas meneguk habis kopinya. Mengabaikan Varell yang tersenyum meledek kepadanya.
“Ungkapin. Kalau lo nggak mau kehilangan dia,” kata Varell memberikan saran.
“Lo pikir semudah itu,” balas Abiyan, masih dengan nada sewotnya.
“Yo wis, nggak usah ngeluh. Tapi ntar kalau bener-bener kehilangan dia, nggak usah pakai galau.” Varell memilih untuk bersandar di pintu dengan tangan bersedekap. Semua kalimat yang meluncur dari bibirnya, ia ucapkan dalam intonasi suara yang rendah guna meminimalisir kemungkinan didengar oleh orang lain.
Abiyan menghela napas panjang mendengar perkataan Varell yang memang benar adanya itu. Apa yang dirasakannya saat ini hanya memberikan 2 pilihan kepadanya, yang tentu saja semuanya memiliki resiko tersendiri.
“Kenapa juga gue harus dengerin omongan dia malam itu.” Abiyan berseloroh gusar sambil bangkit dari tempat duduknya. Tak lupa membawa cangkir kopinya untuk diletakkan di meja dalam.
“Dih, dia yang labil, pakai nyalahin takdir,” cibir Varell yang berjalan selangkah di depan Abiyan. Jika saja tidak teringat mereka adalah tamu di rumah itu, ingin rasanya Abiyan menjitak kuat-kuat dahi lebar Varell.
***
“Siapa yang nemenin Abiyan di depan?” tanya Clara sambil menguap lebar, membuat Diandra segera menutupkan bantalnya pada wajah gadis itu.
“Di ….” Clara bersungut-sungut dan segera menjauhkan bantal leher kesayangan sahabatnya itu.
“Lo yang anggun dikit kek jadi cewek.” Diandra menggeleng pelan melihat sikap Clara yang benar-benar terlewat asal. Bagi Diandra, meskipun dirinya berteman baik dengan ketiga orang laki-laki yang berdiri di depan mereka saat ini, tetap penting baginya untuk menjaga sikap seperti layaknya seorang perempuan.
“Sorry, kelepasan,” sahut Clara dengan asal dan kini ia justru tersenyum tanpa dosa. “Gue masih ngantuk banget.” Ia kembali menguap namun kali ini gadis itu ingat untuk menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Selain karena menghindari amukan Diandra, ada seekor nyamuk yang terbang di depan wajahnya.
“Varell,” panggil Annisa yang sedang menuruni tangga sambil membawa boneka panda kesayangannya sejak SMP. Suara Annisa membuat semua orang segera menoleh kepadanya dengan kompak.
“Kenapa, Sa?”
“Lo temenin Abiyan di depan, ya. Navigasi gue udah kacau,” kata Annisa sesampainya ia di samping Diandra. “Lo tadi sempet tidur, Biy?” sambungnya bertanya pada Abiyan yang segera berusaha menormalkan raut wajahnya.
“Tidur, kok. Nggak lama, tapi udah oke banget.” Abiyan mengacungkan ibu jari kanannya. Entah kenapa ia merasa pagi ini sikap Annisa sedikit dingin kepadanya.
Atau mungkin, karena udara malam ini memang sangat dingin?
Entahlah.
“Adek lo gimana? Sama siapa?” Abiyan balik bertanya.
“Kamu jadinya sama siapa, Dek?” Annisa justru balik bertanya pada sang adik yang bersandar pada kap mobil.
“Sama Rafa. Ntar jemput dulu di rumahnya. Lewat tengah aja, ntar naik dari Porong,” jawab Airlangga sambil mengacungkan ibu jari kanannya. Rafa adalah sepupu jauhnya yang kebetulan beberapa kali sekelas dengannya saat di kampus. Sementara Arga tidak ikut serta karena sudah merasa sedikit bosan berkunjung ke Bromo.
“Ya udah.” Annisa mengangguki perkataan sang adik. “Ntar ikutin mobilnya dia aja,” sarannya pada Abiyan. Setelah sang pengemudi siap, mereka segera memasuki mobil untuk berangkat ke tempat tujuan utamanya kali ini. Abiyan ditemani Varell di depan, Annisa bersama Diandra berada di bangku tengah dan Vano bersama Clara duduk di bangku paling belakang.
***