Suasana di waktu menjelang siang itu terasa sangat sejuk saat Annisa sampai di taman yang menjadi salah satu tempat kesukaannya semasa SMA itu. Ia baru sampai beberapa menit yang lalu dan saat ini Danar sedang membeli minuman di salah satu gerai kopi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Annisa memandangi sekolahnya yang terletak persis di samping Gedung Negara Grahadi itu. Terlihat sedang banyak pekerja yang membenahi gerbang dan taman depan yang tidak terlalu luas. Annisa tersenyum geli mengingatnya, sejak dulu sekolahnya memang terkenal paling sering melakukan renovasi terutama untuk taman agar semakin terlihat indah. Hal itu menjadi wajar karena letaknya yang memang berada di jalur strategis.
“Kabarnya mau dikasih air terjun mini di depan itu,” celetuk Danar yang tiba-tiba sudah berada di samping Annisa dengan membawa dua gelas minuman dingin di tangannya.
“Bukannya itu udah wacana dari jaman kita lulus, ya,” balas Annisa sambil tersenyum miring. “Thanks,” sambungnya saat Danar mengulurkan segelas minuman kepadanya.
“Dan itu udah hampir 10 tahun yang lalu,” sahut Danar yang dijawabi anggukan ringan oleh Annisa.
“Duduk, Nis.” Danar menawarkan. “Atau mau jalan-jalan ke JPO?” Kini ia beralih menunjuk jembatan penyeberangan yang berada tak jauh dari tempat mereka.
“Duduk sini aja.” Annisa menuju salah satu bangku besi yang berada di samping sebuah pohon besar lantas menghempaskan pantatnya di sana.
“Kamu sibuk apa sekarang, Danar?” tanya Annisa setelah Danar duduk di sampingnya.
“Aku lanjutin bisnis restorannya Mama, sambil itu aku juga buka gerai es krim di deketnya kampus adik kamu.” Danar menjawab dengan perasaan senang. Ia sama sekali tidak berekspektasi Annisa akan menanyakan kesibukannya saat ini.
“Kampusnya Arga?” tanya Annisa asal menebak. Danar mengangguk pasti.
“Kok kamu bisa bener?”
“Asal nebak aja sih,” sahut Annisa dengan santainya. Adik tertuanya itu dulunya menempuh pendidikan sarjana di salah satu kampus negeri yang bergengsi di Surabaya, yang mana terkenal dengan banyaknya kafe, gerai dan kedai makanan di sekitar kampus.
“Restoran Mama kamu, masih di tempat yang sama?” Annisa meluruskan kakinya yang masih terasa pegal. Sebenarnya bukan hanya kaki, melainkan juga semua anggota tubuhnya masih terasa sangat lelah karena perjalanan jauhnya semalam.
“Kamu masih inget, Nis?” tanya Danar balik sebagai tanggapan. “Masih di tempat yang sama. Sama sekarang udah ada 2 cabang baru di daerah Suramadu sama Polda.”
“Wow, sepertinya kamu sangat berbakat jadi pengusaha makanan,” puji Annisa seraya mengacungkan satu ibu jarinya pada Danar.
“Ah, nggak juga, Nis. Masih banyak ini itu yang dibantuin Mama,” elak Danar yang merasa tersanjung sekaligus minder di saat yang bersamaan.
“Kamu sendiri, sekarang kerja di mana, Nis?” tanya Danar lagi setelah keduanya terdiam selama beberapa detik sambil melihat lalu lalang kendaraan yang melintas. Jujur saja, Annisa sebenarnya tidak sesemangat itu juga untuk mengobrol dengan Danar. Tetapi tidak mungkin kan mereka hanya akan diam saja? untuk itulah Annisa mencoba menyingkirkan egonya dengan memulai pembicaraan sejak tadi.
“Aku kerja di rumah sakit Pelita, residen sambil nyelesaiin spesialis.”
“Di bidang apa?” Sejatinya, Danar sudah mengetahui rumah sakit tempat Annisa bekerja, berikut dengan pendidikan yang saat ini ditempuh oleh gadis itu. Tentu saja ia mengetahui semuanya dari sang mama yang memang cukup dekat dengan bu Arini.
“Kardiologi. Aku ambil double degree sama sebuah kampus di Heidelberg.” Jawaban yang diberikan Annisa seketika membuat Danar membulatkan mata.
“Heidelberg? Maksud kamu Heidelberg, Jerman?” tanya Danar memperjelas. Jika ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Danar, itulah yang saat ini terjadi. Karena Annisa memang melarang sang mama untuk mengungkapkan hal itu kepada orang lain, kecuali dirinya sendiri yang mengatakannya.
“Tapi kamu … nggak harus ke Jerman kan, Nis?” tanya Danar lagi, memastikan saat dilihatnya Annisa mengangguk pelan atas pertanyaan pertamanya.
“Ya harus. Harus ke sana untuk satu tahun terakhir. Ijazahku nanti kampus sana yang ngeluarin.” Annisa menjawab dengan tenang.
Annisa tidak tahu, apakah Danar sudah berubah atau belum untuk saat ini. Tetapi melihat dari reaksi keterkejutannya sekarang, ia bisa menebak kalau laki-laki itu masih tidak ada bedanya dengan yang dulu.
“Jauh, Nis ….”
“Enggaklah, naik pesawat Cuma 18 jam,” seloroh Annisa memotong perkataan Danar.
“Terus, apa ayah kamu kasih izin? Apalagi kamu anak perempuan?” Danar melanjutkan pertanyaannya.
Di keluarganya, perempuan yang jauh dari keluarga merupakan hal yang sedikit tabu. Dan Danar tahu, hal itu juga berlaku di keluarga Annisa. Meskipun pada akhirnya, Annisa berani membangkang. Di Surabaya sudah terdapat banyak kampus yang bagus bahkan dari untuk bidang kedokteran. Terlebih, dengan keberadaan kampus milik Arga yang memiliki predikat sebagai salah satu program kedokteran terbaik di Indonesia.
Hal itulah yang dulu membuat Danar merasa keberatan jika Annisa harus berkuliah di Jakarta ketika keduanya masih menjalin kasih. Danar beranggapan, Annisa terlalu berlebihan jika harus pergi ke Jakarta hanya untuk menjadi seorang dokter. Apalagi di sana, Annisa sendirian. Danar memang tidak tahu kalau Annisa memiliki Farhan dan Shalin di Jakarta.
Danar memberikan pilihan pada Annisa untuk memilih dirinya atau Jakarta. Kala itu, ia sudah percaya diri akan perasaan Annisa kepadanya. Tetapi rupanya, cita-cita Annisa terlalu keras untuk ia taklukan. Meskipun sesungguhnya, Danar tidak pernah tahu kalau saat itu Annisa juga merasa berat untuk memilih..
“Ayah nggak mungkin nggak kasih izin. Lagipula aku dapat beasiswa di sana,” jawab Annisa tanpa menatap balik Danar yang sedang intens menatapnya.
“Sebenernya aku penasaran, apa sih yang bikin kamu seneng banget kuliah jauh-jauh?” Danar menanyakan hal yang sejak dulu membuatnya penasaran. Terlebih, Annisa yang memang begitu gigih.
“Kenapa, ya?” Annisa tampak berpikir sejenak. “Nggak ada keinginan spesifik, sih. Apa yang aku inginkan, selama bisa, pasti aku usahain untuk bisa dapetin itu.”
Ungkapan Annisa tidak sepenuhnya jujur, tetapi bukan juga ia sedang berbohong. Bukankah sudah dikatakan jika di dalam keluarganya masih cenderung menitikberatkan sesuatu bahkan semuanya pada anak sulung? Hal itu juga menjadi salah satu alasannya. Ada sesuatu yang terasa begitu berat di pundaknya. Hanya saja, Annisa sama sekali tidak berkeinginan untuk mengatakannya kepada Danar.
“Apa yang kamu inginkan, harus kamu capai?” Danar mengulangi perkataan Annisa, dan membuat gadis itu mengangguk pelan beberapa kali.
“Sama seperti kamu, ‘kan?” Annisa ingat betapa gigihnya Danar dulu saat ingin mendapatkannya, yang menurut pengakuannya sendiri, laki-laki itu sudah menyukainya sejak mereka duduk di kelas 10.
“I-iya … tapi rasanya aku nggak segigih kamu, Nis,” elak Danar yang seakan merasa terpojok atas celetukan Annisa.
Annisa hanya tersenyum tipis, lantas bergerak bangun dari tempat duduknya. Gadis itu melangkah menuju persimpangan jalan yang terletak tidak jauh di sebelah timur taman tersebut. Di situ terdapat Alun-alun Kota Surabaya, yang sekarang menjadi ikon baru Kota Pahlawan.
Selama ini, Annisa sama sekali tidak pernah berjalan-jalan ketika pulang, karena waktunya di rumah tidak pernah lebih dari 3 hari. Oleh karenanya, ia merasa tertinggal dengan perkembangan pembanguna kota kelahirannya itu.
“Annisa … kamu punya pacar?” tanya Danar to the point ketika langkahnya kini sejajar dengan Annisa. Mendapatkan pertanyaan seterbuka itu tentu saja membuat sang gadis segera menghentikan langkahnya.
“Seriously, ada pertanyaan lain?” Annisa bertanya balik seakan mengabaikan keingintahuan Danar.
Danar tersengih tipis, “Ya … kalau kamu punya pacar terus sekarang dia lihat kamu sama aku, kan bahaya, Nis.”
Annisa hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Perihal mengenai kekasih adalah sesuatu yang tidak tersemat dalam benaknya, karena Annisa menyadari ia masih memiliki tanggung jawab akan pendidikannya. Sekalipun dirinya memiliki rasa kepada Abiyan, tapi Annisa sama sekali tidak terobsesi untuk hal semacam itu. Setidaknya, sampai detik ini.
Dering suara ponsel membuat Annisa mengurungkan niat untuk menjawab celetukan Danar. Ternyata, ada sebuah panggilan masuk pada ponsel laki-laki itu.
“Halo, Ma,” ucap Danar saat panggilan itu terhubung. Annisa hanya diam dan sibuk mengedarkan pandangannya ke segala arah.
“…”
“Kok dia nggak bilang, Ma?”
“…”
“Nisa,” panggil Danar saat panggilannya dengan sang mama sudah berakhir.
“Kenapa?” Annisa menoleh dengan tatapan polosnya. Tatapan yang begitu disukai Danar sejak dulu.
“Aku harus jemput Devina ke bandara. Aku anterin kamu pulang, ya,” tawarnya yang segera diangguki oleh Annisa. Tentu saja Annisa akan mengangguk, sebab ia sendiri sudah merasa kehabisan topik pembicaraan dengan Danar.
Keduanya melangkah menuju mobil Danar yang terparkir di area belakang taman tersebut. Nyaris tidak ada percakapan bahkan saat mereka berada di dalam mobil. Hanya sesekali Danar bertanya dan Annisa menjawab, itupun bukan sesuatu yang terlalu penting.
Adakah yang menanyakan di mana keberadaan Arga?
Laki-laki itu tentu saja mengawasi sang kakak dari tempat yang sama sekali aman. Arga duduk di rooftop kafe yang tadi didatangi Danar untuk membeli minumannya dengan Annisa. Dari tempatnya, Arga bisa mendapatkan akses pandangan yang luas untuk memperhatikan sang kakak.
***
“Jadi, selain menjadi dokter, Abiyan juga mengurus perusahaan?” tanya pak Adijaya sambil memandikan beberapa koleksi burung hias yang tadi pagi belum terjamah air.
“Iya, Om,” jawab Abiyan dengan segan sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh ayah dari gadis yang disukainya tersebut.
Keduanya sedang berbincang di area Aviary milik pak Adijaya, sementara Vano justru sibuk berbincang dengan bu Arini mengenai koleksi tanaman hias. Kebetulan, ibu Vano juga memiliki hobi yang sama dan laki-laki itu sering memperhatikan sang mama merawat tanaman hiasnya.
“Perusahaannya di mana? Jakarta?”
“Di Singapura, Om. Sekitar Central Area.”
“Apa nggak berat, menjadi dokter sekaligus CEO?” Sekilas, pak Adijaya memperhatikan wajah Abiyan. Guratan lelah itu masih terlihat, oleh karenanya beliau menanyakan hal itu.
Abiyan tersenyum sekilas mendapat pertanyaan yang entah sudah berapa kali ia dengar tersebut, “Dibilang berat, berat memang, Om. Tapi … tuntutan keadaan. Saya juga masih belum bisa melepas pekerjaan sebagai dokter,” jawabnya dengan yakin.
“Memang kalau di keluarganya dokter semua, seringnya seperti itu, ya.” Pak Adijaya berseloroh, membuat Abiyan kembali hanya tersenyum tipis.
Mau bagaimana lagi, memiliki orang tua yang berprofesi sebagai dokter mau tidak mau juga mempengaruhi cita-cita Abiyan. Meskipun dewasa ini ia mulai menyadari, ada kemungkinan dirinya tidak akan bisa melanjutkan profesi mulia tersebut.
“Mau mencoba?” Pria itu memberikan penawaran kepada Abiyan untuk mencoba memandikan para burung piaraannya. Abiyan yang merasa tersanjung tentu saja mengiyakan.
“Kalau boleh saya tahu, sejak kapan Om mulai memelihara burung hias seperti ini?” Abiyan menirukan apa yang dilakukan pak Adijaya yang sudah ia perhatikan dengan seksama sejak tadi. Apalagi, pria itu juga tak segan memberitahu ilmu dan cara kepadanya.
“Sebenarnya dari muda suka. Tapi dulu sering lupa waktu, sampai mamanya Annisa sering protes. Baru bisa lanjut lagi sekitar 2 tahun ini, sejak Arga mulai bantu-bantu di perusahaan,” jelas pak Adijaya mengenai hobinya yang sempat tertunda itu. Pria itu tersenyum sendiri kala mengingat bagaimana protesnya sang istri dulu.
“Papa dan mamanya Abiyan masih aktif kerjanya?” Sementara Abiyan memandikan burung, pak Adijaya kini sibuk membersihkan wadah makanan hewan-hewan tersebut.
“Masih, Om. Tapi sudah tidak sepadat dan sesibuk dulu. Jadwal praktik di rumah sakit juga mulai berkurang. Sekarang, beliau berdua lagi hobi berlibur.” Abiyan menjawab dengan nada candaan, yang rupanya hal itu membuat pak Adijaya ikut tersenyum geli.
“Namanya juga lelah.” Pria itu menimpali sekenanya. “Oh iya, agenda kalian nanti hanya ke Bromo?”
Abiyan mengangguk pelan, “Rencananya memang hanya ke Bromo, Om. Kemarin sempat ingin ke pantai, tapi Annisa bilang terlalu jauh.”
“Kalau ke pantai yang di Malang, memang jauh. Tapi kalau pantai di Surabaya, nggak seberapa jauh. Kalian bisa keliling-keliling, sambil mengenali kota,” kata pak Adijaya memberikan saran.
“Nanti coba saya tanyakan ke yang lain, Om.” Abiyan kini membantu pria itu untuk memasangkan wadah-wadah makanan dan minuman para burung. Acara memandikannya telah selesai dengan paripurna.
“Tapi usahakan ajak Airlangga, navigasinya Annisa pasti udah sangat kacau,” celetuk pak Adijaya dengan nada candaan, namun ekspresi wajahnya begiitu meyakinkan. Abiyan tentu saja dibuat tertawa geli karenanya.
Membicarakan mengenai Annisa, membuat Abiyan teringat akan kepergian gadis itu sejak beberapa waktu yang lalu. Tidak dapat di pungkiri kalau di dalam hatinya, Abiyan terus memikirkan mengenai Annisa, berikut tamu yang mengunjunginya tadi serta kemana mereka saat ini.
Berbagai hal berkecamuk di dalam benaknya, yang cenderung mengarah ke hal negatif. Terlebih, ia juga mendengar sendiri percakapan Annisa dengan sang mama pagi tadi. Seorang mantan kekasih datang berkunjung ke rumah? Bukankah itu artinya, hubungan mereka begitu dekat dulunya?
Masih dengan pikirannya yang terus tertuju kepada Annisa, kedua tangan Abiyan tetap cekatan membantu pak Adijaya di dalam Aviary tersebut. Telinga dan mulutnya juga tetap fokus dalam memperhatikan dan berinteraksi dengan pria itu. Abiyan sama sekali tidak menyadari, gadis yang memenuhi pikirannya itu kini sedang berada di balik pintu dan merasa terheran-heran melihat kedekatannya dengan sang ayah.
“Lihatin apa, Mbak?” tanya Arga yang membuntutinya di belakang. Arga memang abru saja masuk rumah setelah mobil Danar berlalu. Tentu saja agar semuanya tidak terlalu kentara kalau ia mengikuti kedua orang itu.
“Sejak kapan Ayah bisa akrab gitu sama orang baru?” Annisa bertanya dengan pandangan yang tertuju penuh ke arah Aviary sang ayah, tanpa melihat sang adik.
“Kayaknya kamu yang kurang merhatiin Ayah deh, Mbak,” sanggah Arga seraya melangkah ke arah tangga.
Annisa hanya menyengir tanpa ingin mendebat perkataan sang adik. Sejak ia berkuliah di Jakarta, Annisa sendiri merasa dirinya sedikit jauh dari sang ayah. Meskipun tidak terlalu signifikan, tetapi seisi rumah tentu bisa merasakannya. Kini, gadis itu merasa sedikit bersalah karena dulu sudah terlalu keras mendebat sang ayah. Mau bagaimana lagi, cita-citanya adalah menjadi dokter. Bukan pengusaha.
***