15. TAMU PAGI

2201 Words
Ada hal yang teraasa berbeda di ruang makan itu. Suasananya sangat ramai dan berisik, penuh canda tawa dan sedikit adu argumen yang terkadang akan membuat telinga panas. Kendatipun begitu, sang tuan dan nyonya rumah sama sekali tidak merasa terganggu dan justru sesekali ikut tertawa melihatnya. Annisa menyadari satu hal, bahwa teman-temannya itu memang tidak akan bisa diam barang sejenak saja saat berkumpul. Padahal saat baru sampai pagi tadi, semuanya terlihat sangat kalem dan tenang. Sesuatu yang sebenarnya membuat dirinya merasa sangsi. Dan di meja makan pagi ini, segala kesangsiannya seketika musnah. Beruntungnya, sang mama dan sang ayah sama sekali tidak merasa keberatan. Sesekali kedua pasangan orang tua yang sedang duduk santai di balkon samping dapur itu ikut menanggapi. Sepertinya, pak Adijaya dan bu Arini sudah terbiasa dengan berisiknya ketiga anak mereka sejak dulu. “Mama kok baru tahu Nisa bisa melawak juga, Yah,” celetuk bu Arini kepada sang suami yang duduk di hadapannya. Sang putri baru saja menceritakan beberapa hal yang lucu mengenai pasiennya, berikut tanggapannya sebagai seorang dokter. Pak Adijaya hanya tersenyum geli mendengar celetukan sang istri. Keheranan itu sebenarnya sangat wajar, mengingat selama ini Annisa memang sosok yang cenderung serius dan hanya bisa sesekali bercanda dengan adik-adiknya. Pria itu tentu memahami bagaimana perasaan sang putri. Selain berstatus sebagai anak sulung di keluarga kecilnya, Annisa juga merupakan cucu tertua secara status dari kedua pasang kakek neneknya. Meskipun secara umur, ada 2 orang yang lebih tua darinya. Hal itu tentu saja sangat mempengaruhi Annisa, terlebih di keluarga besarnya yang memang masih cenderung menitikberatkan semuanya pada saudara sulung. “Kalau Ayah lihat sih sepertinya mereka-mereka malah lebih ngemong sama Nisa, Ma. Apa mungkin Annisa yang paling bungsu di antara semuanya?” Pak Adijaya balik bertanya. “Kalau dibanding Clara sama Diandra, memang Nisa yang paling muda, Yah. Mama nggak tahu kalau yang laki-laki.” “Lo pada kenapa, sih? Nggak di cafe, nggak di rumah orang, berisik banget. Malu woy ama yang punya rumah,” cetus Vano menengahi keramaian yang dibuat oleh teman-temannya. Vano dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat serius, karena itulah ia mudah merasa segan. “Udah santai aja. Lo kaya lagi ama siapa aja, Van,” sahut Annisa memaklumi kehebohan pagi itu. “Sebagai manusia, lo terlalu pengertian, Sa,” tanggap Vano cepat yang membuat Annisa tersenyum geli. “Ngomong-ngomong, adek-adek lo pada kemana, Sa?” tanya Diandra yang merasa heran karena tidak mendapati keberadaan kedua adik sahabatnya itu. “Kenapa lo cariin, Di? Kangen?” ucap Varell dengan tatapan yang sarat akan ledekan. Diandra hanya menanggapinya dengan sengihan acuh. “Arga lagi di kamarnya, nggak tahu ngapain. Kalau Airlangga udah berangkat ke tempat kerjanya ….” “Sabtu-sabtu gini?” Clara memotong perkataan Annisa dengan terburu, membuatnya nyaris saja mendapat lemparan cabai potong dari Abiyan. “Lo kebiasaan motong ucapan orang,” tegurnya yang dibalas senyuman tanpa dosa oleh Clara. “Lo pikir usaha travel agent ngenal yang namanya Sabtu-Minggu?” Annisa balik bertanya untuk menjawab pertanyaan Clara. “Eh tapi ngomong-ngomong, ke Bromo kan bayar ya?” tanya Abiyan setelah teringat akan sesuatu. “Eh, iya.” Clara membenarkan. “Berarti kita iuran,” sambungnya kemudian sambil bergantian memandang semua orang satu-persatu. “Bukannya lo mau traktir kita ya, Biy?” Annisa bertanya dengan nada jahil, tanpa menatap wajah Abiyan yang seketika melotot kepadanya. “Eh, serius nih?” Diandra yang paling cepat merespon. Jangan lupakan raut wajahnya yang seketika antusias. Tentu saja tidak hanya Diandra, melainkan yang lainnya. “Lo jangan kasih mereka ide kenapa sih, Sa,” balas Abiyan dengan bersungut-sungut tanpa mempedulikan ekspresi mengesalkan para sahabatnya. Sejatinya, Abiyan memang sudah memiliki rencana itu. Anggap saja sebagai rasa syukur karena beberapa waktu yang lalu perusahaannya baru saja memenangkan sebuah tender. Tetapi ia sama sekali tidak berencana untuk memberitahu semua orang. Siapa sangka justru Annisa bisa menebaknya dengan sangat gamblang. Meskipun Abiyan yakin, maksud gadis itu sebenarnya adalah murni bercanda. “Gue bercanda, Biy. Maaf, deh,” ucap Annisa dengan raut wajah penuh penyesalan. “Gue bercanda, Guys,” beritahunya kepada yang lain. Sontak saja semua orang tersenyum geli melihat ekspresi penuh sesal di wajah Annisa. Siapapun tahu, Annisa memang hanya bergurau. “Maaf, Neng Annisa. Di luar ada tamu,” beritahu bi Ida, menginterupsi acara canda tawa ke-enam sahabat itu. “Tamu?” Annisa membeo dan ucapan bi Ida membuat semua orang seketika diam seribu bahasa. “Tamu siapa, Bi?” tanya Annisa saat melihat bi Ida mengangguk. “Namanya Mas Danar, Neng,” kata bi Ida yang membuat kedua alis Annisa bertaut. Sebelum Annisa bersuara, sekonyong-konyong bu Arini mendekat. “Ada apa, Bi?” Bu Arini bertanya. “Itu Bu, ada Mas Danar, bilangnya mau bertemu Neng Nisa.” Bi Ida kembali mengulang ucapannya. Andai saja tadi selepas sarapan mereka tidak terlibat pembicaraan berdua, mungkin sekarang bu Arini akan meminta saja Annisa untuk segera menemui Danar. Akan tetapi semuanya tentu saja berbeda dan wanita itu hanya bisa menatap sang putri. “Ya udah, suruh tunggu sebentar ya, Bi,” kata Annisa beberapa detik kemudian. Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya dengan berpikir positif terhadap Danar. “Gue tinggal sebentar, ya,” pamit Annisa seraya beranjak dari tempat duduknya, tepat setelah bi Ida mengangguki ucapannya. Abiyan, Clara, Diandra, Vano dan Varell yang sejak tadi terdiam hanya mengangguk beberapa kali. “Danar siapa, ya? Kenapa mukanya Nisa langsung aneh gitu?” Varell yang merasa penasaran menjadi orang yang pertama kali bersuara. Abiyan yang masih berusaha menormalkan suasana hatinya dalam diam lantas tersengih mendengar perkataan laki-laki itu. “Kepo amat lo ama hidup orang,” selorohnya yang membuat Varell mencibir. Sementara bu Arini sudah berlalu menuju kamarnya. “Nisa nggak pernah cerita, jadi … jangan tanya sama gue,” kata Clara saat semua orang melayangkan tatapan penuh tanya kepadanya. Gadis itu bahkan sampai mengangkat tangan dengan meyakinkan. *** “Annisa,” sapa Danar yang langsung berdiri dari tempat duduknya begitu melihat sang empunya rumah datang. “Apa kabar?” Laki-laki itu mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Annisa. “Baik. Kabar aku baik.” Annisa menjabat tangan Danar dengan hangat dan lembut. Akan tetapi tidak terlalu lama. “Pagi-pagi banget udah ke sini?” tanya Annisa sambil mengisyaratkan tangannya untuk mempersilakan Danar duduk kembali. “Apa aku kepagian?” Danar balik bertanya seraya melihat arlojinya. “Belum jam 9 ini. Rajin amat kaya BPR mau nagih utang,” balas Annisa dengan santai. Sekalipun kedatangan Danar bukanlah sesuatu yang ia harapkan, tetapi Annisa tetap berusaha untuk bersikap seramah mungkin. Ingat, Danar adalah tamu. Perkataan spontan Annisa jelas saja membuat Danar tertawa geli. Ia sama sekali tidak menyangka Annisa bisa melontarkan candaan seperti itu. Yang Danar ingat di masa SMA, Annisa tidak pernah sereceh ini. “Atau jangan-jangan, kamu emang punya utang sama aku, Nis.” Danar mencoba membalas candaan Annisa. “Enggak, ah,” sanggah Annisa setelah berpikir sejenak. “Hutang aku di SMA udah lunas semua,” sambungnya kemudian, yang membuat tawa Danar kembali terlolos. “Nisa-nisa, ayahnya pengusaha padahal. Nanti kalau beliau denger ….” “Hust … jangan kenceng-kenceng,” peringat Annisa dengan tatapan lebarnya. Saat duduk di kelas 3 SMA, Annisa memang pernah berhutang pada Koperasi Siswa karena dirinya salah memilih dasi. Bertepatan pada hari itu, dompetnyapun tertinggal. Dan tentu saja Danar mengetahuinya karena pada saat itu status mereka memang sedang menjalin kasih. “Ngomong-ngomong, di belakang sepertinya rame, Nis?” tanya Danar setelah berhasil meredakan tawanya. Ia mendengar suara berisik yang berasal dari dalam rumah. Annisa mengangguk singkat, “Temen-temenku, lagi pada sarapan.” “Temen-temen?” Danar membeo guna memastikan. Sekali lagi, Annisa mengangguk singkat. “Mereka temen-temenku sejak kuliah.” “Jadi kamu pulang … sama temen-temen kamu?” Aneh. Itulah yang sedang dirasakan oleh Danar. Sebab saat SMA dulu, Annisa termasuk orang yang tidak terlalu suka dikunjungi bahkan jika itu oleh teman-temannya. Kecuali, yang memang sangat dekat dan akrab. Sangat ditekankan. “Iya, mereka sekalian mau jalan-jalan,” jawab Annisa dengan tenang. “C-ewek semua?” tanya Danar ragu-ragu. Ia juga mendengar ada suara laki-laki dari dalam sana, dan entah kenapa Danar yakin kalau itu bukanlah suara kedua adik Annisa. “Cewek-cowok. Semalem aku pulang naik mobil.” “Jauh, Nisa.” Danar seakan tidak percaya dengan ucapan Annisa. Mengendarai kendaraan pribadi sejauh Jakarta-Surabaya menurutnya adalah hal yang gila. Karena ada pilihan transportasi lain yang lebih aman menurutnya. “Yang bilang deket siapa.” Annisa berseloroh santai, membuat Danar hanya mampu menggeleng pelan. “Berarti kamu sibuk?” tanya Danar menyimpulkan. Annisa tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. “Nggak seberapa sibuk juga. Orang nggak ngapa-ngapain.” “Kamu luang kan, Nis? Kita jalan keluar gimana? Bisa?” tanya Danar lagi dengan tatapan penuh harap yang terlihat jelas di mata Annisa. Danar ingin berbicara berdua dengan Annisa, tetapi ia merasa segan jika harus berduaan di rumah gadis itu. “Jalan ke mana?” Pertanyaan balik Annisa membuat hati Danar membesar. Bukankah itu artinya, Annisa menerima ajakannya? “Taman depan SMA kita, gimana?” Annisa mengangguk pelan setelah berpikir sebentar. Ia rasa tidak ada salahnya mengikuti ajakan Danar. Apalagi, taman yang dimaksud Danar merupakan tempat favoritnya semasa SMA dulu. Mengingat, dirinya juga sudah sangat lama tidak mengunjungi tempat tersebut. “Boleh. Ya udah, aku siap-siap dulu.” Annisa beranjak bangkit dari tempat duduknya. “Nisa.” Danar memegang pergelangan tangan Annisa, membuat gadis itu tentu saja sedikit terkejut. “A-apa nggak ganggu temen-temen kamu?” tanyanya setelah melepaskan tangan gadis itu. Danar tahu, sejak dulu Annisa paling tidak suka disentuh sembarangan oleh laki-laki. Sekalipun, saat mereka berpacaran. Mungkin Annisa ingin jual mahal? Ada benarnya. Tetapi selain itu, siswa yang berpacaran merupakan hal yang tabu di SMA mereka dulu. Untuk itulah Annisa selalu berusaha menjaga nama baiknya yang sudah penuh prestasi agar tidak tercoreng. “Nggak pa-pa. Paling juga mereka mau istirahat sekarang.” Annisa segera melangkah ke dalam, akan tetapi ia tidak menemui keberadaan para manusia yang sudah menciptakan kehebohan di rumah orang tuanya. “Pada kemana?” tanya Annisa pada bi Ida yang sedang mengemasi peralatan makan. “Temen Neng yang perempuan tadi pada naik. Kalau yang cowok ada yang itu bapak ke bawah, Neng.” Jawaban yang diberikan bi Ida membuat Annisa mengernyitkan dahi. “Yang ikut Ayah, yang siapa, Bi?” “Mas-mas yang pakai kaos hitam, Neng.” “Ngapain Abiyan sama Vano ngikutin Ayah?” Annisa bergumam seraya melangkah ke arah pintu samping yang merupakan akses tangga untuk menuju ke lantai bawah. “Tadi bapak ikut ngobrol di meja makan sebentar, Neng. Terus sepertinya ada yang nyambung sama bapak ngobrolin perusahaan. Tapi malah diajak lihat-lihat koleksi burung sama bapak.” Bi Ida memberikan penjelasan. Annisa patut merasa heran mendengar penjelasan sang bibi, karena ia tahu ayahnya bukan orang yang mudah berakrab-akrab ria dengan orang yang sama sekali baru. Secara sifat, bisa dibilang Annisa adalah yang paling mirip dengan pak Adijaya dibanding Arga dan Airlangga. “Ya udah, Nisa ke atas dulu, Bi,” pamit Annisa seraya melangkah menuju tangga. Bi Ida mengangguk singkat. Sebelum memasuki kamarnya untuk mengambil tas dan ponsel, Annisa terlebih dahulu mengecek keberadaan Arga di kamarnya. “Kenapa, Mbak?” tanya Arga langsung saat melihat keberadaan sang kakak. “Kamu sibuk nggak? Temenin aku.” Annisa mengatakan maksudnya. “Kemana? Ngapain?” Dahi Arga mengerut atas permintaan Annisa. “Di bawah ada Danar, dia ngajak aku ke Apsari. Kamu ikutin, yah?” pinta Annisa yang sebenarnya Arga tahu itu bukanlah permintaan sama sekali, melainkan perintah tersirat. Sama seperti Airlangga, sesibuk apapun dirinya, Arga tidak pernah bisa menolak permintaan kakak tersayangnya itu. “Kamu kalau nggak mau diajak jalan tinggal tolak aja, Mbak.” Arga memberikan saran dengan ekspresi malasnya. “Udah, deh. Nggak ada alesan untuk nolak. Kamu mau nemenin nggak?” Annisa sendiri tidak mengerti kenapa ia mengiyakan ajakan Danar. Akan tetapi, dirinya juga tidak memiliki alasan kuat untuk menolaknya. Annisa memang akan selalu meminta salah satu dari kedua adiknya untuk menemani dirinya kemanapun. Ia merasa lebih nyaman seperti itu daripada diantar oleh sopir keluarga mereka. Pengecualian, jika memang keadaannya sangat tidak memungkinkan. “Iya. Aku ikutin.” Arga mengangguk beberapa kali dengan pasrah. Bukannya Arga merasa keberatan, tetapi sebenarnya ia sedang merasa malas beraktivitas di luar saat akhir pekan seperti ini. Tetapi ia tidak mungkin menolak, atau Annisa akan mendiamkannya. Setelah mendapatkan kepastian dari sang adik, Annisa melangkah menuju kamarnya, di mana hanya ada Clara yang sedang duduk di sofa dan menonton kanal siaran. Dari dalam kamar mandi erdengar suara gemercik air, yang sudah jelas itu adalah Diandra. “Lo mau ke mana?” tanya Clara dengan dahi berkerut saat melihat Annisa mengambil ponsel dan memasukkannya ke dalam slingbag. “Gue mau keluar sebentar,” jawab Annisa seraya bercermin dan merapikan rambutnya. Beruntung setelah mandi tadi, Annisa sudah mengenakan pakaian rapi sehingga dirinya tidak perlu berganti busana. “Nggak pa-pa ya gue tinggal? Nggak lama, kok. Nanti kalau butuh apa-apa, minta sama Bibi,” sambungnya tanpa melihat Clara yang sekarang sudah diliputi perasaan heran. “Oke.” Clara manggut-manggut beberapa kali. “Janji ya nggak lama?” Gadis itu menodongkan ibu jari kanannya, membuat Annisa tersenyum geli. “Nggak akan lama. Tenang aja. Gue tahu lo pasti kepo dan pengen interogasiin gue,” ucap Annisa dengan tatapan pongahnya yang membuat Clara tersenyum tanpa dosa. “Lo emang sangat pengertian.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD