14. LITTLE MESS

2072 Words
Annisa sedang berada di dalam kamarnya yang sudah sangat ia rindukan bersama dengan Clara dan Diandra. Sementara ketiga teman lelakinya berada di kamar yang lain yang bersisian dengan kamar Arga, masih di lantai yang sama yakni lantai 3. Sebenarnya bu Arini sudah menawarkan kepada Clara dan Diandra untuk menempati kamar lain, tetapi kedua gadis itu secara halus menolaknya. Bukan bermaksud tidak sopan, tetapi karena keduanya merasa segan. “Kalian istirahat aja dulu, pasti nggak enak karena tidur di mobil semaleman,” ucap Annisa kepada kedua sahabatnya yang sedang duduk di sofa menghadap jendela itu. “Dia ngomong gitu seakan-akan tidurnya sendiri enak,” sahut Diandra dengan wajah meledek, membuat Annisa hanya mencebikkan bibir. “Tapi tidurnya Nisa emang enak, sih. Kan ….” Clara menjeda ucapannya karena menyadari sesuatu. “Kan apaan?” tanya Diandra yang penasaran dengan perkataan menggantung Clara. Sementara Annisa sudah melayangkan tatapan horornya kepada gadis itu. “Ya, enak. Tadi kan kelihatan nyenyak banget dia,” jawab Clara diplomatis setelah memaksa otak cerdaasnya untuk berpikir cepat. “Tidur sebentar tapi berkualitas,” tambahnya meyakinkan. “Iya juga, sih.” Diandra menyetujui argumen Clara. Walaupun tidur gue tadi lama, tapi rasanya masih pegel banget,” jelasnya kemudian. Annisa sudah menghela napas lega meskipun tatapan horornya pada Clara masih membekas. Bukannya Annisa bermaksud untuk menutupi perasaannya dari para sahabatnya itu, tetapi sebagai seorang perempuan sangat wajar kalau ia merasa malu. Terlebih, Diandra memiliki kedekatan yang lebih akrab dengan Abiyan. Bukan juga karena Annisa tidak mempercayai Diandra, ia hanya tidak percaya pada dirinya sendiri. Tentu berbeda untuk urusan pekerjaan, Annisa akan menjadi sangat mengejar target. “Yah, tadi kan kurdi lo tegak banget, Di,” sahut Annisa menanggapi perkataan Diandra. “Coba lo miringin kayak Clara, mungkin bakal lebih enak.” “Gue nggak enak kalo ganggu posisinya Vano. Beda sama ni anak. Dia sama Varell kan emang hobi banget berdebat,” balas Diandra seraya menunjuk Clara. Yang ditunjukpun segera memberikan tatapan pongahnya. “Gue bukannya suka berdebat sama Varell, emang dia aja yang caper sama gue,” ucapnya membanggakan diri, membuat Annisa dan Diandra kompak memberikan tatapan jengahnya. “Udah ah gue mau turun dulu, bantuin bikin sarapan. Lo berdua istirahat aja, nanti gue panggil,” kata Annisa setelah melihat jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul setengah 7. Di jam-jam seperti ini memang biasanya sang ibu sedang sibuk di dapur membuat sarapan. “Kita bantuin?” Diandra menawarkan diri yang segera dijawab dengan gelengan kepala oleh Annisa. “Nggak usah, jadilah tamu yang baik dan benar, yah,” tanggap Annisa seraya melangkah keluar dari kamar. “Gue baru tahu si Nisa bisa ngelawak,” ucap Diandra pada Clara yang terkekeh mendengarnya perkataan Annisa tadi. Sebelum melangkah menuruni anak tangga, Annisa teringat akan ketiga teman lelakinya. Maka gadis itu memutuskan untuk mengetuk pintu kamar berwarna putih itu guna melihat kondisi mereka. Serta merta munculah wajah Vano membuka pintu. “Ada apa, Sa?” tanya Vano dengan wajah yang terlihat jauh lebih segar. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. “Kalian lagi istirahat?” Annisa bertanya balik. “Gue baru kelar mandi, Abiyan masih mandi. Dan Varell ….” Vano mundur satu langkah untuk memberikan akses pandangan pada sang empunya rumah. Annisa tertawa geli melihat Varell yang sepertinya sudah kembali terlelap di atas tempat tidur itu. Ia sangat maklum dengan kelelahan yang dialami Varell, mengingat tadi laki-laki itu mengemudi di ruas jalan yang sama sekali baru untuknya. Meskipun keadaan jalan tol dimana-mana sama saja, tetapi tetap saja berbeda atmosfer jika baru pertama kali melintas. “Ya udah kalau gitu. Gue Cuma ngecek doang. Lo kalau butuh apa-apa langsung ke bawah aja ya,” ucap Annisa yang segera diangguki oleh Vano. “Thanks banget, Sa. Kayaknya ntar gue yang paling sering ngerepotin,” sahutnya berkelakar. Annisa hanya menanggapinya dengan kekehan lantas berlalu. “Ngapain lo?” tanya Abiyan yang baru saja membuka pintu kamar mandi. “Nisa,” jawab Vano singkat seraya menunjuk ke arah pintu yang baru sjaa ia tutup. Abiyan hanya mengangguk singkat lantas menyusul Varell ke atas tempat tidur. Vano dibuat tersengih melihat kelakuan kedua teman ajaibnya itu. “Mama,” panggil Annisa seraya memeluk pinggang sang ibu yang sedang menggoreng kerupuk udang ditemani oleh sang bibi. “Hai, udah mandi?” Bu Arini membalas pelukan sang putri menggunakan satu tangannya. “Sudah, dong. Udah harum begini.” Annisa memajukan wajahnya untuk mengecup pipi sang mama. “Temen-temen kamu lagi istirahat?” Gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu. “Tadi sih Nisa minta mereka buat tidur aja, Ma. Siapa tahu masih kecapekan,” tambahnya lantas melepaskan pelukan dan mencomot sepotong kerupuk kesukaannya itu. “Mama masak apa?” Giliran Annisa yang bertanya. “Mama bikin menu Padang,” jawab bu Arini seraya menunjuk ke arah meja makan menggunakan dagu. Sambil mengunyah kerupuknya, Annisa mengikuti arah pandang sang mama. “Wah!” Annisa berseru kagum. “Asyik, nih,” tambahnya tanpa bisa menutupi rasa senangnya. Masakan Padang adalah salah satu makanan kesukaannya, tetapi selama ini sang ibu sangat amat jarang memasak menu tersebut karena menurut bu Arini terlalu rumit. “Temen-temen kamu nggak punya pantangan makanan apapun kan, Mbak?” tanya bu Arini memastikan. “Mereka apa aja masuk, Ma. Pemakan segalanya kok,” jawab Annisa sedikit bergurau, membuat bu Arini dan sang bibi tertawa mendengarnya. “Ayah di mana, Ma?” “Lagi baca koran di bawah, paling ngobrol sama adik kamu.” Bu Arini menjawab seraya memindahkan toples kerupuk ke meja makan. “Mama panggil dulu, ya. Kita sarapan bersama,” sambungnya kemudian. Annisa hanya mengangguki singkat ucapan sang ibu. Sembari menunggu orang tua dan kedua adiknya, Annisa memilih untuk mengupas buah-buahan yang sudah disediakan di meja dapur. “Temen-temen kamu mana, Mbak? Nggak ikutan sarapan?” tanya Airlangga yang paling dulu datang ke ruang makan. “Masih istirahat, biar nanti mereka sarapan sendiri aja. Lagian kursinya mana cukup,” sahut Annisa sembari menunjuk deretan kursi makan menggunakan dagunya. Airlangga hanya manggut-manggut sembari menghempaskan pantatnya ke kursi. “Dek, kamu nanti malem luang, kan?” tanya Annisa setelah meletakkan mangkok berisi buah-buahan yang baru ia potong. “Luang. Kenapa emangnya?” “Luang, lah. Emang mau kencan sama siapa pakai nggak luang,” sahut sebuah suara yang baru saja memasuki ruangan tersebut. “Sstt! Diem, bisa?” peringat Airlangga kepada kakak keduanya yang sedang melayangkan tatapan meledek. “Orang yang lagi patah hati dilarang nyamber,” sambungnya yang seketika membuat sang kakak kedua merubah tatapannya menjadi melotot. “Bener-bener ni anak satu. Ngajakin baku hantam.” Arga menduduki kursi yang berada di samping sang adik. “Kalian kan memang sukanya baku hantam terus,” sahut pak Adijaya yang baru memasuki ruang makan bersama sang istri. Tentu saja baku hantam yang dimaksud bukan dalam makna yang sesungguhnya. “Itu juga karena Mas Arga yang sering mulai,” sanggah Airlangga membela diri. Tidak terima dengan perkataan sang adik, Arga segera melayangkan tatapan protes. “Cermin di kamarmu kurang besar?” tanggap laki-laki itu dengan sinis. “Iya. Beliin, gih! Kamu kan kaya, Mas,” ucap Airlangga dengan tatapan pongahnya. “Aku nanya apa, merembet kemana-mana,” cetus Annisa sebelum Arga kembali mendebat perkataan si bungsu. Meskipun rasanya menyenangkan setiap melihat perdebatan adik-adiknya itu, tetap saja Annisa tidak bisa membiarkannya terlalu jauh. Kedua laki-laki dengan beda usia 3 tahun itu sama-sama terkekeh melihat ekspresi malas sang kakak. Arga sampai menggaruk tengkuknya karena menyadari dirinyalah yang menjadi penyebab sang adik mengabaikan pertanyaan kakak tertua mereka itu. “Aku luang, Mbak. Kenapa?” Airlangga bersuara setelah meredakan tawanya. “Mereka minta ke Bromo. Temenin ya?” pinta Annisa yang Airlangga tahu itu sama sekali bukan suatu permintaan, melainkan perintah. “Mbak Nisa udah ngomong gitu, gimana aku bisa bilang enggak,” sahut Airlangga dengan pasrahnya. Selama masih masuk akal, permintaan dari kedua kakaknya adalah hal yang paling tidak bisa ia abaikan. Terlebih, jika itu Annisa. “Padahal kemarin siang dia baru pulang dari Bromo,” ledek Arga setelah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. “Lah, aku ke Bromo juga bisa-bisa seminggu 4 kali,” jawab Airlangga dengan santai. “Yowis, mau berangkat jam berapa?” tanyanya beralih pada Annisa. “Jam 1 pagi, gimana?” Annisa meminta saran. “Mending sebelum jam 12 deh, Mbak. Weekend, mesti rame pol.” Airlangga memberitahu. Saat akhir pekan memang kepadatan pengunjung di salah satu destinasi andalan Jawa Timur itu akan menggila. “Yowis, nanti aku bilangin mereka.” Annisa manggut-manggut menyetujui perkataan sang adik. Karena baginya Airlangga pasti lebih memahami keadaan. “Kamu mau naik, Mbak?” tanya bu Arini ketika mereka selesai dengan acara sarapannya. Pak Adijaya dengan Arga sedang mengobrol di dekat kolan renang sementara Airlangga sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerjanya. “Mama mau bicara?” Annisa yang mengerti maksud pertanyaan sang mama justru bertanya balik. “Kamu ingat sama Danar?” Bu Arini langsung bertanya dan hal itu tentu saja membuat Annisa merasa kaget. “Ada apa Mama nanyain Danar?” Annisa merasa gagal memahami kenapa sang ibu tiba-tiba membahas seseorang dari masa lalunya itu. “Mama baru tahu, kamu sama Danar dulu pernah pacaran?” “Ah, yah … waktu SMA, Ma. Cuma sebentar kok, beberapa bulan sebelum Nisa lulus,” jawab Annisa dengan sedikit tergagap. Bukannya apa, seumur hidupnya, baru kali ini sang ibu menanyakan perihal pribadinya itu. “Mama kok kenal sama dia?” tanya Annisa cepat sebelum sang mama bertanya dulu. “Dia kan anaknya bu Via, temen arisan Mama.” Beritahu bu Arini yang membuat Annisa manggut-manggut. “Terus, ada apa Mama nanyain dia?” “Beberapa hari yang lalu bu Via bilang, Danar katanya pengen ketemu sama kamu. Mama bilang kalau hari ini kamu pulang. Terus katanya mau ke sini nanti.” Bu Arini tersenyum lembut. “Kok Mama nggak bilang sama Nisa?” buru Annisa yang sedikit terkejut dengan ucapan sang ibu. “Kan kalian pernah pacaran, Mama pikir nggak masalah kalau bilang sekarang,” jawab bu Arini yang mengerti dengan keterkejutan sang putri. “Mestinya Mama bilang sama Nisa. Kan Nisa pulang juga sama orang lain. Dan Mama tahu Nisa nggak suka sama yang mendadak-mendadak gini.” Annisa mengajukan nota keberatan. Dikunjungi orang tanpa janji temu adalah hal yang sangat tidak disukai oleh Annisa. “Maafin Mama, Mbak,” ucap bu Arini menyadari sikapnya. Memang benar jika Danar ingin bertemu dengan Annisa, bukankah seharusnya Annisa tahu terlebih dulu? “Lalu gimana? Mama udah terlanjur mengiyakan.” “Yowis, udah terlanjur,” sahut Annisa sembari berusaha menormalkan suasana hatinya yang mendadak kacau. “Boleh Mama tahu berapa lama kalian dulu pacaran dan kenapa putus?” Meskipun tahu suasana hati sang putri sedang tidak bagus, Bu Arini tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya. “Lupa,” jawab Annisa acuh sambil memejamkan mata. “Kalau nggak 3 ya 4 bulan. Putusnya gara-gara dia keberatan karena Nisa mau kuliah di Jakarta,” sambungnya yang membuat sang ibu manggut-manggut mengerti. Annisa memang sensitif jika membicarakan tentang Danar, karena memang kenangan mereka yang tidak terlalu menyenangkan. Pada mulanya, memang keduanya adalah pasangan yang saling mencintai. Tetapi penyebab Danar memutuskannya dulu, mau tidak mau membuat Annisa merasa malas. Tetapi, bukan karena ia membenci laki-laki itu. “Ya udah, Nisa panggil mereka buat sarapan dulu.” Annisa bangun dari tempat duduknya sembari menunjuk ke arah atas. “Bibi, siapin piring 5, ya.” Gadis itu beralih kepada sang ART yang segera dilaksanakan. Saat hendak melangkah menuju tangga, Annisa melihat seseorang yang sedang berada di pertengahan tangga. Orang itu adalah Abiyan, yang sedang melayangkan tatapan yang sulit diartikan kepadanya. “Perlu sesuatu, Biy?” tanya Annisa seraya melangkah mendekati laki-laki itu. “Gue haus, Sa,” kata Abiyan diplomatis. “Ke ruang makan aja, gih. Udah disiapin sama Bibi,” beritahu Annisa dengan lembut. “Atau mau gue ambilin?” tawarnya bergurau. Tidak, Annisa sama sekali tidak sedang bergurau. “Nggak usah, gue ke dapur aja.” Abiyan terkekeh mendengar penawaran Annisa. “Ya udah, gue mau panggil yang lainnya dulu biar kalian sarapan.” Annisa mulai menapakki anak tangga yang bersamaan dengan Abiyan yang mencapai anak tangga terbawah. “Mudah-mudahan lo nggak susah bangunin Vano.” Abiyan berkelakar, membuat Annisa tertawa geli. “Stok air kamar mandi banyak,” sahut Annisa sekenanya sambil tetap melangkah ke atas. Tanpa ia mengetahui jika pandangan Abiyan sedang mengikuti langkahnya. Saat baru mencapai setengah tangga tadi, Abiyan mendengar semua perkataan Annisa dan bu Arini, tanpa kesengajaan. Dan hal itu membuat perasaannya menjadi tidak menentu. Segalanya terasa berkecamuk, dan nyaris membuat fokusnya kacau. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD