Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Annisa untuk tidur. Yang pasti, ia lngsung mengejap saat sebuah sorot lampu yang begitu terang mengenai matanya. Annisa terdiam sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya. Sambil mengamati keadaan untuk melihat sudah sampai di manakah mereka saat ini.
Seulas senyum terukir di bibir Annisa saat menlihat huruf besar yang terpajang di atas gerbang tol. Hanya tinggal beberapa kilometer lagi untuk sampai di kediaman orang tuanya. Annisa sudah sangat merindukan suasana rumah yang pasti akan sangat berisik oleh Arga dan Airlannga.
Annisa mengamati keadaan di dalam mobil. Meskipun tidak terlalu jelas, akan tetapi ia tahu kalau Diandra dan Vano sedang tertidur. Sementara Clara masih terjaga demi menemani Varell yang sedang fokus di belakang kemudinya. Annisa tersengih saat ia mengingatkan Diandra untuk membangunkannya jika mereka sampai di Waru.
Gadis itu lantas mengalihkan pandangan ke samping kanannya. Dimana Abiyan yang masih terlelap dengan damai. Kasihan sekaligus kagum, itulah yang sedang dirasakan Annisa pada Abiyan. Kasihan, karena ia bisa memastikan kalau Abiyan sangatlah lelah. Serta kagum, karena laki-laki itu bersedia untuk mengantarkan dirinya pulang. Meskipun sejatinya mereka memiliki rencana untuk berlibur.
Wajah Annisa merona saat mengingat bagaimana ia asal memeluk Abiyan saat mereka berada di rest area tadi. Apalagi, ada Varell dan Vano yang melihatnya. Meskipun ia sungguh sangat ketakutan. Tetapi terlepas dari semua itu, Annisa sangat bersyukur karena Abiyan mau datang menolongnya.
Annisa kembali menyandarkan kepalanya untuk memandang Abiyan. Ia tidak perlu khawatir Varell akan tersesat karena maps yang ada di mobil Abiyan sudah sangat jelas. Sekalipun ada kemungkinan mereka terlewat, akan tetapi Varell adalah sosok yang sangat tenang serta tidak mudah panik.
Varell mulai mengurangi kecepatan mobilnya sehingga tidak selaju saat mereka berada di ruas tol Surabaya-Mojokerto tadi. Apalagi, keadaan sudah semakin pagi dan kendaraan sedikit lebih banyak dari pada sebelumnya. Meskipun tidak bisa dikatakan ramai, akan tetapi saat ini jauh lebih baik daripada 2 hingga 3 jam yang lalu.
Terlebih saat ia berkendara di ruas tol Solo-Ngawi. Bukannya takut atau apa, hanya saja rute tersebut sama sekali baru untuknya. Beruntung saja, Vano dan Diandra masih tersadar saat mereka berada di sana.
“Ra,” panggil Varell pada Clara yang sedang sibuk mengunyah.
“Hmm,” sahut Clara dengan mulut yang masih penuh terisi makanan.
“Lo tuh makannya banyak, tapi nggak gendut-gendut. Pada lari ke mana, sih?” tanya Varell yang sekaligus dianggap Clara sebagai ledekan.
“Koleksi cacing gue banyak. Lo mau?” balas Clara sedikit sarkastik. Mendengar hal itu membuat Varell terkekeh.
Awalnya, Varell memang ditemani Vano tetapi saat laki-laki itu mengatakan dirinya mulai mengantuk, Clara meminta Varell untuk menepi sejenak agar mereka bisa bertukar tempat duduk. Padahal di sepanjang perjalanan, keempat orang itu menghabiskan banyak waktu dan kata-kata untuk mengobrol. Akan tetapi, dasanya Vano dan Diandra, tetap saja mereka mudah mengantuk.
“Lo nggak bangunin Nisa?” tanya Varell sembari menamatkan pandangannya pada spion tengah.
“Masih jauh nggak ya dari rumahnya Annisa?” Clara justru bertanya balik sembari melihat pada layar peta.
“Jauh atau deket, lo bangunin aja. Ntar ngomel dia. Tau sendiri Annisa kalau ngamuk kaya apa,” celetuk Varell asal. Dari kaca spion, ia tahu kalau Annisa sudah bangun. Oleh karenanya, Varell mengatakannya dengan begitu jelas.
Clara menyetujui ucapan Varell dan menolehkan kepalanya ke belakang. Gadis itu nyaris berteriak saat netranya bertemu pandang dengan Annisa yang memang sudah memandang Varell sebelumnya. Selepas itu, Clara segera melayangkan tatapan horonya kepada Varell yang terlihat menahan senyum padanya.
“Rese banget sih lo, Rell.” Gadis itu bersungut-sungut dengan lirih. Varell masih bertahan dengan senyumnya sambil mengacungkan dua jarinya pertanda damai.
Annisa hanya terkekeh geli melihat kedua sahabatnya di depan. Saat Annisa bermaksud untuk mengemasi selimutnya, perlahan Abiyan membuka mata. Annisa langsung tahu karena bertepatan dengan saat dirinya memandang laki-laki itu.
“Lo bangun, Biy?” tanya Annisa dengan lembut saat Abiyan masih mengerjapkan mata guna mengumpulkan kesadarannya. Sebelum Abiyan menyadari 1 hal, Annisa buru-buru merapikan selimutnya.
“Thanks ya buat selimutnya. Gue nggak jadi kedinginan,” ucap Abiyan pelan saat melihat wajah gugup Annisa.
“Sama-sama, Biy. Gue yang thanks banget karena kalian mau nganterin gue pulang. Apalagi, tadi lo udah nolongin gue,” balas Annisa tak kalah pelan. Ia tidak ingin percakapannya dengan Abiyan didengar oleh orang lain.
‘Nggak perlu lo berterimakasih untuk sesuatu yang menjadi keharusan gue, Nisa,’ balas Abiyan di dalam hatinya. Andaikan ia berani, Abiyan pasti akan mengatakannya dengan jelas. Namun, ia hanya memilih untuk tersenyum.
“Masih jauh, ya?” tanya Abiyan sejurus kemudian, tepat ketika Annisa selesai melipat selimutnya.
“Enggak sih, paling bentar lagi exit,” jawab Annisa sekenanya. Jujur saja, ia sendiri tidak terlalu hapal dengan kodisi jalan tersebut. Mengingat selama ini, Annisa lebih sering pulang menggunakan kereta api. Dan pastinya, lebih sering melintasi jalanan biasa.
“Bentar lagi kita exit kok,” sahut Varell dari depan. Ia bisa mendengar dengan jelas ketika Abiyan bertanya mengenai jarak tadi.
“Nyamber aja lo,” balas Abiyan acuh tak acuh. Laki-laki itu kemudian menegakkan tubuhnya untuk sedikit mengeliat.
“Enak lo tidur?” tanya Abiyan saat melihat pergerakan Vano. Vano yang duduk di depan Annisa hanya menanggapinya dengan senyum tanpa dosa.
“Gue heran, ni anak tidur mulu tapi pas wisuda sarjana kemarin bisa masuk 10 besar coba,” celetuk Clara dari bangku depan. Gadis itu memang sering berada di kelas yang sama dengan Vano saat masa-masa perjuangan mereka meraih gelar sarjana.
“Gue emang hobi tidur, tapi sekalinya bangun, hidup gue berkualitas,” balas Vano dengan bangganya. Membuat Diandra yang duduk di sampingnya seketika menampilkan ekspresi mual.
“Lo sensi amat sih Di sama gue. Awas ntar jatuh cinta lho,” seloroh Vano yang memancing tawa para sahabatnya. Berbeda dengan Diandra yang segera membolakan mata lebar-lebar menatapnya.
“Awas ada malaikat yang lewat lho,” cetus Annisa saat tawanya sedikit mereda.
“Tapi emang bener, siapa tahu kalau ternyata Vano itu jodoh lo, Di,” sambung Abiyan seraya membuka telapak tangannya di hadapan Annisa. Gadis itu segera mengerti jika Abiyan mengajak high five.
“Ya gue pasrah kalau takdirnya kayak gitu,” sahut Diandra sepasrah mungkin. Memangnya, siapa yang bisa menolak kehendak takdir? Siapa yang tahu jika jodoh seseorang bisa jadi adalah sahabatnya sendiri kelak?
“Tenang aja, kalau itu sampai terjadi, gue janji akan bikin lo jadi wanita yang paling bahagia di seluruh dunia,” ucap Vano sedikit berkelakar. Ucapan Diandra yang terdengar serius di telinganya, mau tidak mau membuatnya menanggapi dengan sedikit candaan.
“Gue nggak salah kasih lo sebutan Buaya,” seloroh Clara dengan pandangan yang tertuju lurus ke depan. Vano seketika menjentikkan jarinya dengan keras di depan wajah gadis itu.
“Sa, rumah lo yang mana?” Varell akhirnya bersuara guna menengahi perdebatan di antara para sahabatnya. Kendaraan beroda 4 itu sudah memasuki komplek perumahan orang tua Annisa.
“Perempatan depan, ambil kanan. Jalan Anyelir,” jawab Annisa setelah melihat-lihat keadaan. Suasana lingkungan itu masih cukup gelap mengingat jarum jam baru menunjukkan pukul 5 pagi.
Varell mengangguk dan mengikuti ucapan Annisa. Begitu memasuki jalan Anyelir, seorang petugas keamanan mendekatinya. Komplek perumahan Annisa memang daerah elit dengan pengamanan yang cukup ketat. Annisa meminta Diandra untuk membuka kaca bersamaan dengan Varell dan menyalakan lampu belakang.
“Saya, Pak Gilang,” ucap Annisa yang membuat security itu sedikit terkejut. Pria paruh baya itu segera menoleh ke arah bangku belakang guna melihat siapa yang baru saja bersuara.
“Oh, Mbak Annisa, toh. Silakan, Mbak, Mas,” ucap pak Gilang dengan ramah. Varell dan Clara balas tersenyum.
“Makasih ya, Pak,” ucap Varell sebelum kembali melajukan mobilnya tanpa menutup kembali kaca jendela.
“Pagar putih sebelah kiri jalan, Varell. Rumah nomor A9,” kata Annisa saat melihat gelagat Varell yang sepertinya akan bertanya lagi. Rumah Annisa tinggal berjarak sekitar 30 meter. Tetapi gadis itu tahu jika semua anggota keluarganya pasti sudah bangun.
Begitu mobil berhenti di depan gerbang, satu persatu penghuni mobil keluar. Pintu gerbang segera terbuka saat orang di dalam rumah menyadari akan kehadiran salah satu anggota keluarga mereka yang sekian lama terdampar di ibukota.
“Mbak Nisa,” panggil seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu gerbang dengan lantang.
“Arga,” sahut Annisa tak kalah lantang. Gadis itu segera menghampiri sang adik yang juga melangkah mendekatinya. Pasangan kakak dan adik itu saling berpelukan untuk mengobati kerinduan mereka karena sudah beberapa bulan tidak bertemu.
“Ternyata dia pulang beneran. Ku pikir hoax,” celetuk suara iseng yang berdiri tidak jauh di belakang Arga. Dia adalah Airlangga, adik bungsu Annisa.
Annisa tersenyum lebar mendengar ceplosan Airlangga. Ia bermaksud untuk melonggarkan pelukannya dengan Arga. Akan tetapi, laki-laki itu masih memeluk sang kakak dengan erat. Annisa sedikit dibuat heran karenanya. Tidak biasanya Arga bersikap seperti ini.
“Gantian, woy. Aku juga adeknya kali.” Airlangga kembali bersuara sambil melayangkan tatapan meledek kepada kakak lelakinya itu.
“Meneng tala, Ngga,” balas Arga acuh yang membuat kakak dan adiknya seketika melongo.
(Diem kamu.)
“Ck, gayamu, Mas,” sahut Airlangga tak kalah ketus dengan bibir mencebik.
“Udah-udah. Jangan berdebat mulu kenapa,” ucap Annisa menengahi perdebatan antara kedua adiknya.
Annisa sudah hapal betul dengan tabiat kedua adiknya itu. Baik Arga maupun Airlangga adalah orang yang sangat suka berbicara. Annisa sering dibuat pusing 7 keliling saat kedua adiknya itu sudah beradu argumen. Baik argumen yang yang berdasarkan ilmiah maupun argumen yang asal-asalan dan tidak jelas.
Perdebatan kedua anak muda itu akan semakin menjadi jika kakak sulung mereka berada di rumah. Karena pada akhirnya, Annisa akan mengomel jika telinganya sudah merasa panas. Namun anehnya, saat Annisa tidak ada di rumah, maka perbedaan argumen itu seolah menghilang dengan sendirinya. Annisa pernah menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.
“Kalau ngomong yang bener, ada temen-temennya Mbak Nisa,” tambahnya lagi dengan intonasi suara yang sarat akan peringatan. Arga dan Airlangga kompak mengangguk.
Arga lantas melepaskan pelukannya dengan sang kakak dan Annisa beralih memeluk Airlangga. Tidak selama Arga, Airlangga hanya memeluk sang kakak tak lebih dari 10 detik waktu berjalan. Sementara Arga beralih untuk menyalami satu persatu teman sang kakak yang ada di depannya.
“Kak, ini temen kamu dokter semua?” tanya Arga saat Annisa dan Airlangga menyudahi acara berpelukan mereka.
“Tanya sama mereka sendiri kenapa,” balas Annisa dengan santai. Ke-lima orang yang datang bersama Annisa terkekeh melihat interaksi di antara kakak beradik itu.
“Annisa.” Panggilan dari pemilik suara lembut itu membuat Annisa tersenyum lebar. Gadis itu segera menghambur ke dalam pelukan sang mama.
“Mama,” seru Annisa saat berada di pelukan bu Arini. Wanita itu mendekap hangat tubuh putri kesayangannya yang sudah sangat ia rindukan tersebut.
“Mama kamu takut anak gadisnya lupa sama rumah,” celetuk pak Adijaya yang berdiri di samping istrinya. Annisa yang mendengarnya hanya tersenyum geli, berbeda dengan sang ibu yang segera melemparkan tatapan horor pada pria yang sudah menikahinya selama 30 tahun itu.
“Padahal Ayah kamu yang tiap hari desak-desak Mama untuk nyuruh kamu pulang,” balas bu Arini tanpa mempedulikan ekspresi suaminya yang sarat akan protes tersebut. Sekali lagi, Annisa hanya tersenyum tanpa berniat membalasnya. Ia paham betul kenapa kedua adiknya sangat hobi berdebat, karena menurun tepat dari kedua orang tuanya.
Setelah menuntaskan rindukan dengan sang ibu, Annisa beralih untuk memeluk sang ayah. Pak Adijaya segera merengkuh tubuh sang putri ke dalam pelukan hangatnya. Ia begitu merindukan Annisa mengingat sudah 3 bulan mereka tidak bertemu secara langsung. Sebulan yang lalu, pak Adijaya dan bu Arini sempat merencanakan untuk menjenguk Annisa di Jakarta.
Tetapi pada saat yang bersamaan, Arga dan Airlangga kompak harus masuk rumah sakit karena terserang demam berdarah, bersamaan juga. Mau tidak mau, rencana itu harus mereka tunda.
“Clara,” seru bu Arini saat matanya bertemu pandang dengan gadis yang ia tahu merupakan teman baik sang putri sejak di bangku kuliah.
“Ini Clara, ‘kan?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan.
“Halo, Tante.” Clara mendekati bu Arini dan menyalaminya dengan santun. Pergerakan Clara segera diikuti oleh teman-temannya yang lain.
“Mama kok baru tahu kamu punya temen cakep-cakep gini, Nak,” seru bu Arini pada Annisa tepat saat beliau bersalaman dengan Abiyan.
“Ma, please jangan bilang mereka cakep apalagi ganteng. Ntar langsung pada gede,” balas Annisa seraya menangkup kedua pipinya sendiri dengan ekspresi yang membuatnya terlihat menyebalkan di mata para sahabatnya.
“Lo bener-bener deh, Sa. Temen sendiri lho ini,” cetus Varell setelah menyalami pak Adijaya.
“Annisa bukannya naikin harga, malah bikin pasaran turun,” tambah Vano yang membuat pak Adijaya tertawa geli melihat interaksi sang putri dengan teman-temannya. Pak Adijaya memang belum pernah sekali pun bertemu dengan ketiga laki-laki itu. Akan tetapi kini, ia senang karena putrinya sangat pintar dalam memilih lingkungan dan pergaulan.
“Ya sudah, ayo kita masuk. Ngobrol di dalem lebih enak,” ajak bu Arini pada para tamunya. Semua orang menganggukkan kepala dan kompak melangkahkan kaki untuk menapaki anak tangga yang akan membawa mereka memasuki rumah. Namun, baru saja akan melangkah, Varell teringat kalau dirinya harus memarkirkan mobil terlebih dahulu.
“Tante, saya parkirin mobilnya dulu,” ucap Varell sebelum semua orang melangkahkan kaki. Tetapi dengan cepat bu Arini mencegahnya.
“Kamu masuk aja, Varell. Mobilnya biar dimasukkan sama Arga,” kata bu Arini sambil mengalihkan pandangan kepada putra keduanya.
“Arga ....”
“Iya, Ma. Udah dibuka, nih,” sahut Arga dengan santai. Ia sudah tahu kalau itu akan menjadi tugasnya untuk memarkirkan mobil yang digunakan sang kakak dan teman-temannya. Maka dari itu, Arga sudah berinisiati untuk membuka pintu gerbang lebih lebar. Mengingat hari ini, security rumahnya memang sedang libur.
Basanya, Airlangga akan dengan jahilnya meledek bahkan mengerjai kakak keduanya itu. Akan tetapi, belum sempat ia melakukannya, secara kebetulan Airlangga beradu pandang dengan Annisa. Daripada mendapatkan ceramah 7 menit dari kakak sulungnya itu, Airlangga memilih untuk membantu Arga. Jadi begitu Arga sudah memasukkan mobil ke halaman, Airlangga segera menutup kembali pintu gerbang tersebut.
Bu Arini mengajak tamunya untuk langsung menuju ke ruang keluarga. Ternyata, di meja sudah disediakan minuman hangat dan beberapa macam camilan.
“Ayo silakan duduk. Tante bikinin teh sama jahe hangat. Kalian kan baru dari perjalanan jauh, pasti enak kalau minum yang hangat-hangat,” ucap bu Arini mempersilakan para tamunya untuk duduk.
“Terima kasih banya, Tante. Kita jadi merepotkan,” ucap Diandra mewakili teman-temannya. Dengan cepat bu Arini menggeleng.
“Eh, jangan bicara seperti itu. Tante sama sekali nggak merasa direpotkan. Justru Tante yang harus berterimakasih karena kalian sudah mengantarkan Annisa jauh-jauh ke sini.”
“Benar kata mamanya Annisa. Malah Om yang heran, Annisa tumben manja banget pulang dianterin banyak orang.” Pak Adijaya menimpali. Annisa yang masih berada di pelukan sang ayah dengan cepat melayangkan tatapan protesnya.
“Dih, padahal mereka juga yang mau liburan,” balas Annisa membela diri. Semua orang kompak tertawa geli karenanya. Kecuali Abiyan, ia hanya tersenyum simpul memperhatikan interaksi gadis yang disukainya bersama keluarganya itu. Terlihat sangat hangat, seperti keluarganya sendiri.
“Biy, lo diem mulu? Sariawan?” todong Clara setelah menikmati jahe hangatnya. Semua pasang mata kompak menoleh ke arah laki-laki itu.
“Panas dalam? Tenggorokan kering? Bibir pecah-pecah?” Abiyan menanggapi pertanyaan Clara dengan slogan dari salah satu sponsor merek minuman kesehatan tersebut. Ia tahu Clara sengaja ingin meledeknya.
“Abiyan masih ngantuk, ya?” tanya Annisa sebelum Clara memberikan jawaban.
“Jam segini kan emang paling enak buat tidur, Sa,” balas Abiyan dengan santai seraya menerima gelas berisi teh hangat pemberian Diandra. Kenapa bukan Annisa yang memberikan? Karena posisi duduk mereka berlawanan.
“Kenapa? Abiyan habis sift sore, ya?” tanya Bu Arini dengan penasaran. Wanita itu baru menyadari jika mata Abiyan terlihat memerah.
Abiyan tersenyum dan menggeleng, “Bukan, Tante. Cuma habis perjalanan, jadi masih sedikit oleng,” jawabnya berkelakar.
“Kalian kalau lelah, langsung istirahat aja. Nanti barang-barangnya biar dibawakan sama Bibi,” ucap pak Adijaya penuh pengertian.
“Nanti saja, Om. Masih jam segini mau tidur juga nggak enak.” Kali ini giliran Varell yang bersuara.
“Ya sudah kalian santai saja, ya. Om mau ke belakang dulu,” ucap pak Adijaya seraya berdiri dari tempat duduknya. Di pekarangan belakang, pria itu memiliki koleksi burung hias yang cukup banyak. Dan biasanya, pagi hari menjadi waktu yang sangat tepat untuk merawat para hewan peliharaannya tersebut.
“Silakan, Om,” sahut mereka secara bersamaan.
“Jangan bilang Ayah nambah koleksi burung lagi?” celetuk Annisa saat sang ayah hendak melangkah. Pria paruh baya itu tidak menjawab, hanya menampilkan senyuman yang sudah sangat dihapal oleh sang putri.
“Anak Ayah emang pinter,” sahutnya seraya mengacungkan ibu jari kanannya, kemudian melangkah menuju pintu samping. Meninggalkan para tamunya yang hanya tersenyum geli saat Annia merotasikan bola matanya dengan jengah.