11

1268 Words
Setelah percakapan semalam keesokan harinya suamiku menggigil demam. Entah apa yang telah terjadi padanya tapi dia jatuh sakit wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Ketika ku bangunkan dia tidak menjawabku hanya rintihan pelan yang terucap dari bibirnya bahwa dia kesakitan. Aku heran padahal kemarin akulah yang berjibaku dengan hujan lebat, beberapa saat menunggui Putri dengan baju basah, tapi tidak terjadi apa-apa. Tapi kenapa dengannya. "Kamu kenapa?" tanyaku Yang penasaran dengan keadaannya. "A-aku sakit, dingin, a-ambilkan selimut," pintanya merintih. Aku hanya mendengkus mendengarnya, kesal sekaligus iba, bagaimana pun dia suamiku, tapi aku kecewa padanya. Kuraih selimut bulu dari dalam lemari lalu meletakkan benda itu menutupi tubuhnya. "Di saat seperti ini, istrilah yang paling berguna, kamu tidak bisa pergi ke tempat kekasihmu dan meminta dia memelukmu," rutukku dengan kesal. "Ma-maaf, Aisyah." "Hah, maaf lagi," gumamku sambil menjauh. " ... jangan sekeluarga sakit, aku sudah repot dengan putri, kini tambah repot denganmu juga," imbuhku sembari menutup pintu kamar. Kulanjutkan pekerjaaan rumah, mengantar Raihan ke depan pintu untuk dibawa Karman ke sekolah, lalu melanjutkan ke dapur, menyiapkan sarapan untuk putri. Selagi membawa nampan berisi bubur, tiba-tibw pintu diketuk, aku penasaran siapa yang datang, jadi aku tak sempat meletakkan lagi nampan. Ketika daun pintu bergerak seorang gadis cantik dengan kerudung berwarna peach yang menutupi rambut indahnya, berdiri sambil tersenyum tipis, dia terlihat membawa rantang kecil sambil mengucapkan salam. "Lancang sekali kau kemari, Maura." "Mas Hamdan meminta saya," jawabnya. "Hanya karena dia meminta mau jadi kau mengabaikan keberadaanku yang masih menjadi istri sah dan nyonya di rumah ini?" "Saya menghargai keberadaan Mbak Aisyah, karenanya ... saya minta izin mengantarkan bubur ini," balasnya sambil menyodorkan rantang. Melihatnya yang begitu cantik dengan anting-anting yang menjuntai indah, membuatku makin cemburu, aku juga begitu tercengang dengan keberanian pelakor muda ini, dia benar-benar tegar dalam menghadapiku, artinya dia sungguh nekat dan berani mati demi cintanya. "Aku juga bikin bubur, jadi aku tak membutuhkan itu," jawabku membalikkan badan. "Mbak ... Mas Hamdan yang meminta saya untuk mengirimkan bubur," ujarnya sambil menahan lenganku. Sekali lagi, aku terperangah dengan kenekatan wanita di depanku ini, dia menarik lenganku dengan tatapan penuh harap, penuh keberanian dan tidak tergambarkan ragu. "Apa harapanmu, apa kau berharap aku akan membiarkan kamu bertemu dengan suamiku?" Kurampad bubur dari tangannya lalu melemparnya ke arah gadis itu, dia terkejut, sedikit panik, bubur tumpah ke wajah dan lehernya, ditambah itu panas, dia kesakitan tapi tegar menahannya. "Saya sungguh minta maaf, tapi sakitnya Mas Hamdan, itu karena saya," ungkapnya mencicit takut. Mendengarnya yang begitu percaya diri dan lancar langsung kehilangan kesabaran, kuletakkan dengan kasar nampanku harus segera kuhampiri dirinya. "Pergi kau dari sini, jika kau datang sekali lagi, aku akan melaporkan kepada polisi," ujarku sambil mendorongnya. "Saya rela, tapi biarkan saya bertemu ...." Plak! "Beraninya kau meminta seorang suami dari istrinya, dasar wanita gatal yang tidak tahu diri!" teriakku emosi. Gadis itu menangis sambil memegangi pipinya. Kututup pintu gerbang dengan kencang, sambil berusaha menetralisir perasaan yang menggemuruh di dalam dadaku. Aku sungguh ingin memukuli orang jika terus begini. "Astaghfirullah ... dasar murahan," sungutku. "Saya tidak akan pergi, sampai Mbak Aisyah membiarkan saya," ucapnya menangis. "Silakan, jika kau suka semua orang memperhatikanmu!" jawabku lantang. Mas Hamdan yang mendengar keributan tertatih-tatih keluar dari kamar, dia sangat pucat, tapi berusaha bangun, seolah diberikan tenaga dan semangat baru. Bruk! Dia terjatuh, menabrak bufet dan menjatuhkan ornamen yang ada di atasnya, benda benda keramik itu pecah berkeping-keping, sementara suamiku terlihat sakit dan terhuyung-huyung. "Kamu mau ke mana?" tanyaku sambil membantunya. "Aku dengar suara ...." Tiba tiba suamiku tercekat. "Suara gadis itu? Kau bangun karena mendengarnya?" tanyaku terbelalak. "Kau bertengkar?" Dia menatapku dengan tatapan redup yah sedih. "Iya." Tiba-tiba suamiku yang dulu sangat tangguh dan tak mudah dipatahkan, pingsan. Dia tak sadarkan diri, sementara dari kedua ceruk bola matanya lelehan panas mengalir. Ya Allah, dia sungguh mencintai wanita itu aku harus bagaimana. Kupanggil dokter, kutelpon mereka, berikut juga mertua dan orang tuaku, aku sungguh panik dan khawatir dengan keadaan Mas Hamdan yang terlihat sangat lemah. Mungkinkah itu puncak karena sudah berhari hari ia kurang makan dan tidur? Di satu sisi dia tersiksa karena cinta, tapi di sisi lain, kami keluarga tersiksa karena perhatiannya yang teralihkan. Keluarga ayah mertua dan orang tuaku sudah datang, mereka berkumpul di ruang tamu. Lalu tak lama kemudian, dokter yang memberikannya perawatan dirumah menghampiri kami. "Tensinya sangat rendah, Bu. Hanya delapan puluh, pantas Pak Hamdan merasa oleng dan pingsan. Tolong berikan dia makanan yang bergizi dan vitamin ya, jangan lupa perhatian jadwal tidurnya ya, Bu." "Setiap hari saya selalu menyiapkan makanan yang baik, Pak. Tapi suami saya tidak berminat makan. Pun tidur, dia akhir akhir ini kurang tidur." "Mungkin juga karena stress, pak Hamdan tadi tidak memperhatikan kesehatan sehingga asam lambungnya naik, maag akut telah menggerus lambung dan membuat Pak Hamdan sering muntah dan mencret darah, ini tidak bisa dibiarkan, Bu." "Saya harus bagaimana Pak?" tanyaku pada dokter yang harus "Tolong lakukan apapun, Nyonya, jika ada hal yang membebani pikiran beliau ada baiknya diselesaikan. Karena rata-rata penyakit itu bukan berasal dari makanan saja Bu, tapi juga dari pikiran," jawab Dokter itu. "Baik Dok, terima kasih." Setelah dokter pergi aku kembali bergabung duduk dengan ibu mertua dan keluargaku. Masing-masing dari mereka menyiratkan pertanyaan yang sama mengapa Suamiku sampai menderita sakit yang begitu parah, ini pertama kalinya. "Sebenarnya dia kenapa, Nak?" "Aku tak tahu harus mulai dari mana, Bu, tapi suamiku belakangan menaksir seorang gadis cantik. Aku menentangnya jadi suamiku ... seperti itu." "Jadi, apa hal yang dia inginkan?" "Dia ingin poligami, Bu," jawabku dengan suara tertahan di tenggorokan, ibu dan ayah mertua tertegun, mereka mengernyit nampak tak habis pikir. "Kamu tidak setuju?" tanya ibuku. "Tentu saja, di dunia ini siapa yang bercita-cita dipoligami. Aku tidak pernah ingin membagi cinta dan kasih sayang Mas Hamdan. Bukan egois, tapi dari sekian tahun pengabdian sebagai istri, aku juga ingin mendapatkan balasan yang sama. Aku hanya butuh kesetiaannya dan kurasa aku layak mendapatkan itu." Saat itu ini air mataku kembali merebak, aku tak kuasa menahan sakit hati ini. "Apa yang menurut Hamdan kurang darimu Aisyah?" tanya ibu dengan lembut. "Aku tidak tahu, Bu," jawabku menggeleng sedih. " ... mungkin faktor usia, kecantikan, juga kepuasan. Aku mungkin sudah tidak seindah dulu di matanya." "Jadi kamu tak rela, jika dia bahagia dengan wanita lain? Bukankah tugas seorang istri membahagiakan suaminya?" "Iya, itu benar, tapi tidak dengan poligami juga, Bu ...." Aku kembali menangis di depan mertua dan orang tuaku. "Berarti sakit yang diderita adalah sakit karena kerinduannya?" tanya ibu, aku membungkam. "Aku akan bicara pada Hamdan," ujar ayah mertua yang nampak kehilangan kesabaran. Jelas saja beliau tidak setuju dengan keinginan suamiku untuk menikah lagi. "Tidak ayah, dia sedang sakit," cegahku. "Jangan jadikan sakitnya alasan!" "Hamdan berhak menikah lagi, dia lali-laki, agama tidak menentang poligami selama dilakukan sesuai syariat dan si pria bisa menjamin nafkah dan keadilannya," ujar Ibu dengan tegas. Mertuaku tertahan mendengar Ibu, pun ayah, baliau terkesiap. "Ibu...?" Rasanya aku tidak percaya dengan pendapat orang tua kandungku tetapi beliau juga terlihat mulai menangis. Melihat bola mata Ibuku, aku kemudian paham bahwa beliau juga terpaksa. "Wanita tidak berhak menentang, terlebih jika si pria punya kepribadian yang baik dan fondasi agama yang kuat, jika kamu yakin bahwa Hamdan mencintaimu, biarkan dia mencoba dngan gadis itu, dia akan membandingkannya." "Aku tidak bisa, Bu, aku tak bisa... Ya Allah, adakah solusi lain ...." Aku tersungkur di hadapan kaki ibu, meraih lutut wanita yang telah melahirkanku, aku tersedu-sedu di atas pangkuannya, sementara tangan lembut itu membelai pucuk kepalaku. "Wanita ditakdirkan untuk mengalah dan meluaskan sabar mereka, keputusan ada padamu Anakku, mengizinkan suamimu menikah lagi, atau membiarkan dia meregang nyawa dalam sakit parah!" Tentu kedua pilihan itu adalah pilihan buruk. "Mas Hamdan, aku sangat kecewa padamu ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD