17

1183 Words

Kulangkahkan kaki dengan perasaan hancur luluh. Kutinggalkan tenda pernikahan suamiku dengan istri barunya sembari menguatkan batin bahwa, dunia tak berakhir tanpa kehadirannya. Kuusap sisa air mata yang menyuramkan wajahku, lalu kuambil motor, menghidupkan mesin dan bersiap pergi. "Lho, Mbak Aisyah, Mbak gak mau masuk?" Tiba-tiba seseorang menyapa aku dari belakang dia adalah kerabat jauh mas Hamdan yang kebetulan datang untuk menghadiri pesta itu. Wanita cantik itu menghampiri dan menyalamiku dengan senyum ramahnya. "Kok gak masuk?" Dia memperhatikan penampilan ku dari atas ke bawah masih dengan gamis rumahan dan jilbab biasa. "Aku hanya ingin melihat dan memastikan bahwa acaranya berjalan lancar," jawabku sembari menyembunyikan kesedihan dan sisa air mata. "Kamu kuat sekali Mbak,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD