16

1199 Words

Dua hari berikutnya, Sejak aku mengucapkan izin untuk Mas Hamdan, di hari itulah semua anggota keluarganya bergerak cepat menyiapkan acara. * Tak banyak yang kulakukan pagi ini, Pagi menjelang pernikahan Mas Hamdan dan wanita pujaannya. Hanya menyiapkan sarapan untuk anak, lalu masuk ke kamar, berdiri di sisi jendela, menatap langit desa yang masih setia dengan mendungnya. Tak mau larut, tapi jujur saja, hatiku mulai hampa. Dulu ada ruang tersendiri yang kusimpan untuk Mas Hamdan di hati, tapi sekarang, ruang itu sudah kosong dirampok wanita lain. Air mataku jatuh, bersama dengan titik titik hujan yang masih tersisa sejak semalam. Ira, adik Mas Hamdan terdengar memanggil kedua keponakannnya untuk sarapan dan bersiap ke tempat acara, rumah ibu mertua. Kata anakku, di sana suasana d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD