Sampai di kantor, Samir mendengarkan semua jadwal yang sedang dibacakan oleh Radit. Tatapan kosong dan kening mengkerut, seolah sedang memikirkan hal serius, membuat Radit bertanya kepada sahabat sekaligus bosnya itu. "Kau mendengarku?" tanya Radit dengan menatap serius ke arah Samir. Samir menaikkan pandangan hingga bersitatap dengan asistennya. "Kau kira aku tuli?" "Tidak, bukan begitu. Aku melihat kau melamun dan tak berkonsentrasi," jelas Radit. "Duduklah!" titah Samir serius sambil mengisyaratkan dagunya agar Radit menurut. Radit duduk menunggu Samir bicara. Ada hal yang berbeda yang terlihat serius. Ia juga penasaran dengan hal yang akan dibicarakan oleh bosnya. "Ada yang aneh dengan sikap Safiya," ucap Samir sambil menghela nafas panjang. "Mengenai apa?" tanya Radit. Samir m

