Pagi itu udara Surabaya terasa lebih sejuk dari biasanya. Sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah yang memenuhi halaman sekolah. Beberapa siswa berlarian kecil menuju kelas karena bel masuk tinggal beberapa menit lagi, sementara yang lain masih sempat membeli gorengan di kantin.
Rosalina dan Salma tiba hampir bersamaan dengan rombongan siswa lainnya.
"Untung tidak terlambat," gumam Salma sambil mengusap napasnya.
Rosalina tertawa kecil.
"Padahal tadi yang paling lama pilih pita rambut siapa?"
Salma langsung memonyongkan bibir.
"Perempuan itu harus tetap cantik."
"Walaupun cuma ke sekolah?"
"Justru ke sekolah."
Mereka tertawa bersama.
Sejak beberapa minggu terakhir, tawa seperti itu semakin sering terdengar di antara keduanya. Luka-luka lama memang belum sepenuhnya hilang, tetapi perlahan tertutup oleh kebiasaan-kebiasaan sederhana yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Begitu memasuki kelas, Nisa langsung melambaikan tangan.
"Rosalina! Sini cepat!"
"Ada apa?"
"Aku sudah baca naskah pidatomu."
Rosalina meletakkan tasnya.
"Bagaimana?"
Nisa mengacungkan jempol.
"Bagus. Tapi menurutku pembukaannya kurang kuat."
Rosalina langsung membuka buku catatannya.
"Bagian mana?"
Salma hanya tersenyum melihat keduanya langsung sibuk berdiskusi.
Dulu Rosalina selalu duduk diam di pojok kelas. Kini ia mulai aktif bertanya, berdiskusi, bahkan menerima kritik dengan senang hati.
Perubahan itu disadari hampir semua guru.
---
Jam pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia.
Pak Budi masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.
"Hari ini kita latihan berbicara di depan kelas."
Keluhan kecil langsung terdengar dari berbagai sudut ruangan.
"Aduh..."
"Pak, jangan hari ini."
Pak Budi hanya tertawa.
"Kalau kalian takut berbicara sekarang, nanti bagaimana saat melamar pekerjaan?"
Seluruh kelas langsung terdiam.
"Rosalina."
"Iya, Pak."
"Coba maju."
Rosalina menarik napas panjang.
Ia berdiri di depan kelas sambil membawa naskah pidatonya.
Jantungnya memang masih berdegup cepat.
Namun kali ini ia tidak lagi merasa ingin kabur.
Ia memandang teman-temannya satu per satu.
Lalu mulai berbicara.
"Selamat pagi..."
Suaranya memang belum lantang.
Tetapi cukup jelas.
Pak Budi mengangguk pelan, memberi isyarat agar ia melanjutkan.
Sedikit demi sedikit, rasa gugup mulai menghilang.
Rosalina bahkan sempat melepaskan pandangannya dari naskah dan berbicara langsung kepada teman-temannya.
Ketika selesai, tepuk tangan memenuhi kelas.
Salma tersenyum bangga.
"Itu baru Rosalina."
Pak Budi mendekatinya.
"Kamu berkembang sangat cepat."
Rosalina tersenyum malu.
"Masih banyak yang harus saya pelajari, Pak."
"Semua orang belajar."
Pak Budi menepuk pelan bahunya.
"Yang penting kamu berani mencoba."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Rosalina hingga jam pelajaran selesai.
---
Saat istirahat, Rosalina dan Salma duduk di bawah pohon ketapang dekat lapangan.
Mereka membeli dua gelas es teh dan sepiring tahu isi.
Salma menggigit tahu itu sambil menghela napas puas.
"Enak."
Rosalina tertawa.
"Kamu kalau makan selalu kelihatan bahagia."
"Soalnya memang bahagia."
Rosalina ikut mengambil satu.
"Mmm... memang enak."
Beberapa teman sekelas menghampiri mereka.
"Lin, nanti sore latihan lagi ya?"
"Iya."
"Kita temani."
Rosalina tersenyum.
"Terima kasih."
Setelah teman-temannya pergi, Salma memandang wajah sahabatnya.
"Kamu sadar tidak?"
"Sadar apa?"
"Kamu sekarang punya banyak teman."
Rosalina terdiam.
Benar juga.
Dulu ia selalu menjaga jarak dari siapa pun.
Bukan karena sombong.
Melainkan takut.
Takut rahasianya terbongkar.
Takut dihakimi.
Takut ditinggalkan.
Kini ia mulai percaya bahwa tidak semua orang akan memandangnya rendah.
Ada orang-orang yang benar-benar tulus berteman dengannya.
---
Sepulang sekolah, mereka tidak langsung menuju klub.
Hari itu Anggun harus kontrol ke puskesmas.
Rosalina menemani ibu angkatnya sambil membawa map berisi hasil pemeriksaan sebelumnya.
Dokter memeriksa kondisi Anggun dengan teliti.
"Bagaimana, Dok?" tanya Rosalina.
Dokter tersenyum.
"Kondisinya jauh lebih baik."
Rosalina langsung mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
"Tetapi obat tetap harus diminum sampai habis."
"Iya, Dok."
Keluar dari ruang pemeriksaan, Anggun menggenggam tangan Rosalina.
"Ibu sudah merepotkanmu."
Rosalina langsung menggeleng.
"Jangan bilang begitu."
"Kalau bukan karena kamu..."
Rosalina memeluk lengan Anggun.
"Aku bekerja memang untuk Ibu."
Mata Anggun mulai berkaca-kaca.
"Lin."
"Aku tidak pernah menyesal."
Mereka berjalan pelan keluar dari puskesmas.
Di depan gerbang, Rosalina membeli beberapa jenis obat sesuai resep dokter.
Sisa uang di dompetnya memang berkurang cukup banyak.
Namun melihat Anggun tersenyum sehat membuat semua itu terasa tidak berarti.
Dalam perjalanan pulang, Anggun tiba-tiba berkata pelan.
"Mulai minggu depan, Ibu ingin menerima jahitan lagi."
Rosalina langsung menoleh.
"Tidak usah."
"Ibu tidak mau hanya bergantung padamu."
"Tapi kesehatan Ibu..."
"Ibu tahu batas kemampuan Ibu."
Rosalina terdiam cukup lama.
Ia mengenal Anggun.
Kalau perempuan itu sudah mengambil keputusan, sangat sulit mengubah pikirannya.
Akhirnya ia tersenyum kecil.
"Asal jangan terlalu memaksakan diri."
Anggun mengangguk.
"Janji."
Di dalam hati, Rosalina merasa beban yang selama ini dipikul sendirian perlahan mulai terasa lebih ringan.
Bukan karena hidup mereka sudah berkecukupan.
Melainkan karena mereka kini saling menguatkan, saling menjaga, dan sama-sama berjuang demi masa depan yang lebih baik.
Sore menjelang ketika Rosalina dan Anggun tiba di rumah. Salma sudah lebih dulu datang setelah berpamitan dari puskesmas karena ingin mengambil beberapa buku pelajaran di rumah bibinya.
Anggun meletakkan kantong obat di atas meja, lalu duduk perlahan di kursi kayu ruang tamu. Wajahnya memang masih tampak lelah setelah pemeriksaan, tetapi senyumnya tidak pernah lepas.
Rosalina menuangkan segelas air putih.
"Minum obatnya dulu, Bu."
Anggun menurut tanpa membantah. Setelah menelan obat, ia mengembuskan napas panjang.
"Dokter bilang tekanan darah Ibu sudah lebih stabil."
Rosalina tersenyum lega.
"Itu kabar baik."
"Iya. Berarti perjuanganmu selama ini tidak sia-sia."
Rosalina hanya menggeleng pelan.
"Jangan bilang begitu. Aku melakukannya karena Ibu adalah keluargaku."
Mata Anggun kembali berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Rosalina erat.
"Kalau suatu hari nanti kamu sudah punya kehidupan sendiri, jangan pernah merasa harus terus memikirkan Ibu."
Rosalina langsung memotong ucapan itu.
"Aku tidak akan meninggalkan Ibu."
"Tapi nanti kamu pasti menikah."
Rosalina tertawa kecil.
"Itu masih lama."
"Lama atau tidak, seorang ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia."
Suasana hening beberapa saat. Rosalina tidak menjawab. Ia hanya memeluk Anggun dengan hangat.
---
Menjelang pukul enam sore, mobil jemputan dari klub berhenti di depan rumah.
Seperti biasa, Rosalina dan Salma berganti pakaian di ruang ganti belakang klub. Seragam sekolah dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam tas, berganti dengan gaun kerja yang anggun namun tetap sopan.
Madam Ara berdiri di depan cermin besar sambil memperhatikan satu per satu anak buahnya.
"Hari ini wajah kalian terlihat cerah."
Maya tertawa.
"Soalnya baru gajian, Madam."
Semua ikut tertawa.
Madam Ara menggeleng sambil tersenyum.
"Kalau begitu semoga bulan depan masih bisa tersenyum."
Rosalina membantu Salma merapikan sanggul rambutnya.
"Kamu makin mahir."
Salma memperhatikan pantulan dirinya di cermin.
"Belajar dari siapa lagi kalau bukan darimu?"
Rosalina tersenyum kecil.
Hubungan mereka bukan lagi sekadar teman kerja atau teman sekolah. Mereka sudah seperti saudara yang saling menjaga.
---
Malam itu jumlah tamu tidak terlalu ramai.
Sebagian besar adalah pelanggan tetap yang datang untuk bernyanyi setelah pulang bekerja.
Rosalina menghampiri salah satu meja.
"Selamat malam, Pak."
"Selamat malam, Rose."
Pria paruh baya itu tersenyum ramah.
"Seperti biasa, teh hangat tanpa gula."
Rosalina mengangguk.
"Baik."
Saat kembali membawa pesanan, pria itu berkata pelan.
"Kamu kelihatan capek."
Rosalina tersenyum sopan.
"Sedikit."
"Masih sekolah, ya?"
Rosalina mengangguk singkat.
"Iya."
Pria itu tersenyum bangga.
"Bagus. Jangan berhenti sekolah."
Ucapan sederhana itu membuat Rosalina sedikit terkejut.
Ia mengira pelanggan hanya datang untuk bersenang-senang.
Ternyata ada juga yang benar-benar peduli.
"Terima kasih, Pak."
"Semoga kamu berhasil mencapai cita-citamu."
Rosalina membungkukkan badan sedikit sebagai tanda hormat.
"Amin."
---
Di meja lain, Salma sedang menemani sekelompok tamu yang gemar bernyanyi lagu-lagu lawas.
Salah seorang di antara mereka bernyanyi dengan suara yang fals.
Semua orang di meja itu justru tertawa bersama.
Salma ikut bertepuk tangan.
"Pak, nadanya tadi hampir sampai Malaysia."
Seketika semua orang tertawa terbahak-bahak, termasuk pria yang sedang bernyanyi.
"Ternyata saya memang tidak berbakat."
"Yang penting berani."
"Benar juga."
Suasana klub malam itu terasa hangat.
Tidak semua malam dipenuhi konflik.
Sering kali, yang tersisa hanyalah tawa dan cerita dari orang-orang yang datang untuk melepas penat.
---
Sekitar pukul sepuluh malam, Madam Ara memanggil Rosalina ke ruang kerjanya.
"Masuk."
Rosalina menutup pintu perlahan.
"Ada apa, Madam?"
Madam Ara menyerahkan sebuah buku kecil.
"Apa ini?"
"Buku tabungan."
Rosalina memandangnya bingung.
"Aku sudah membuka rekening atas namamu."
Rosalina terkejut.
"Madam..."
"Mulai bulan depan, sebagian gajimu langsung masuk ke rekening itu."
Rosalina masih terdiam.
"Kalau uang selalu ada di tangan, kadang kita tergoda menggunakannya."
Madam Ara tersenyum lembut.
"Aku ingin kamu punya tabungan untuk kuliah."
Rosalina menahan napas.
"Kuliah?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku belum pernah berani memikirkan sejauh itu."
Madam Ara memandangnya dengan penuh keyakinan.
"Kenapa tidak?"
Rosalina menundukkan kepala.
"Biayanya pasti mahal."
"Kalau mulai menabung dari sekarang, bukan tidak mungkin."
Rosalina menggenggam buku tabungan itu erat.
Untuk pertama kalinya, ia membayangkan dirinya mengenakan jaket almamater sebuah universitas.
Bayangan yang dulu terasa mustahil kini perlahan tampak mungkin.
Air matanya hampir jatuh.
"Terima kasih..."
Madam Ara menggeleng.
"Jangan berterima kasih."
"Gunakan kesempatan yang kamu punya."
"Itu sudah cukup membuatku bahagia."
---
Menjelang pukul satu dini hari, klub mulai sepi.
Para pekerja membereskan meja dan kursi seperti biasa.
Maya menghampiri Rosalina.
"Apa yang diberikan Madam?"
Rosalina memperlihatkan buku tabungan itu.
Mata Maya langsung membesar.
"Wah."
Salma yang baru datang ikut melihat.
"Selamat."
Rosalina tersenyum.
"Aku jadi semakin semangat."
"Harus."
Salma menggenggam bahu sahabatnya.
"Nanti kita kuliah sama-sama."
Rosalina tertawa.
"Kalau benar begitu, kita pasti jadi mahasiswa paling mengantuk."
"Karena kerja malam."
"Tapi kita pasti lulus."
"Iya."
Mereka saling berpandangan, lalu tertawa bersama.
Di luar jendela, langit malam mulai berganti warna. Fajar perlahan muncul di ufuk timur, membawa harapan baru.
Rosalina menyadari sesuatu malam itu.
Dulu ia hanya hidup untuk bertahan.
Hari ini, ia mulai hidup untuk mengejar impian.
Dan baginya, perubahan kecil itu adalah langkah terbesar yang pernah ia ambil.