Hari-hari berlalu dengan ritme yang makin terasa seperti roda yang berputar tanpa henti: pagi hari seragam rapi, papan tulis, dan tawa teman-teman yang polos; malam hari gaun tipis, lampu berwarna-warni, suara musik, dan tatapan asing yang menelanjangi. Namun sejak sore itu di mal, ada satu hal yang berubah bagi Rosalina: ia tidak lagi menjalani dua dunia itu sendirian. Kehadiran Salma, yang sudah bertahun-tahun menari di ujung pisau yang sama, menjadi penopang tak terlihat yang membuat beban di bahunya terasa sedikit lebih ringan.
Pagi itu, langit Surabaya tampak mendung kelabu, seolah menahan hujan yang siap tumpah kapan saja. Rosalina berangkat lebih pagi dari biasanya, berjalan menyusuri jalan berlubang dekat kontrakan dengan tas ransel yang berisi buku pelajaran dan ganti pakaian malam yang tersembunyi rapi di bagian bawah. Di dalam saku seragamnya tergenggam uang saku sisa hasil belanja kemarin sore—uang yang sebenarnya cukup sedikit, karena sebagian besar gajinya langsung diserahkan pada ibu Anggun untuk membayar hutang serta membeli obat-obatan yang makin mahal harganya. Sesampainya di gerbang sekolah, ia melihat Salma sudah berdiri di sana, bersandar pada tiang pagar sambil menunduk menatap ujung sepatunya yang sudah pernah diperbaiki dua kali.
Begitu menyadari kehadiran Rosalina, Salma mengangkat wajah dan memberi isyarat kecil berupa kedipan mata samar—kode rahasia mereka agar tak ada yang curiga. Di dalam kelas, mereka kembali berperan sebagai dua siswi pendiam yang jarang bersapa, duduk terpisah, dan sibuk dengan buku masing-masing. Namun di balik diamnya, tiap kali mata mereka bertemu sekilas, ada pesan tak terucap: hati-hati, tetap tenang, kita lewati ini bersama.
Pelajaran berjalan seperti biasa, hingga saat jam istirahat kedua berlangsung. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang mereka habiskan di teras belakang yang sepi, kali ini langit menurunkan rintik hujan deras, memaksa seluruh siswa berteduh di dalam kelas atau koridor tertutup. Rosalina duduk di bangkunya sambil memandangi kaca jendela yang berembun, pikirannya melayang ke kedai—membayangkan malam nanti, apakah akan ramai, apakah tamu yang datang akan sopan atau kasar, apakah ia sanggup menahan rasa jijik dan lelah seperti malam-malam sebelumnya.
Tiba-tiba suara gaduh dari meja paling belakang memecah lamunannya. Ada sekelompok siswa laki-laki yang terkenal suka menggoda dan bertingkah sembarangan, sedang membicarakan sesuatu dengan nada keras dan tawa yang menyakitkan.
“Hei, dengar-dengar ya, ada yang bilang kalau di kedai pinggir jalan dekat pasar baru ada gadis muda yang mirip anak SMA kita,” ujar salah satu dari mereka, suara seraknya terdengar jelas menembus suara hujan. “Katanya cantik, pendiam, tapi malamnya bisa manis sekali.”
Hati Rosalina seketika berhenti berdetak. Tubuhnya menegang hebat, jari-jarinya mencengkeram ujung meja hingga buku jarinya memutih. Ia berani bersumpah napasnya tertahan di kerongkongan. Di sebelahnya, ia bisa merasakan gerakan kecil dari arah Salma—gadis itu duduk membeku, punggungnya makin membungkuk, wajah pucat tertunduk dalam seolah berharap bisa menyatu dengan lantai.
“Ah, masa sih?” sahut temannya sambil tertawa jahat. “Kalau benar, berarti ada yang pandai menyembunyikan rahasia ya. Coba saja ketahuan guru atau orang tua, pasti langsung hancur nama baiknya. Malu sekali, masih sekolah sudah jual diri.”
Di sudut mata, Rosalina menangkap Salma yang perlahan mengangkat kepala sedikit. Pandangan mereka bertemu, dan sekali lagi komunikasi batin itu terjadi: tahan, jangan bereaksi, ini ujian, kita harus tetap tenang.
Percakapan itu akhirnya teralihkan saat guru piket lewat di depan pintu kelas dan menegur mereka agar tidak berisik. Namun jejak kata-kata itu tetap tertinggal, merambat seperti racun halus di udara di antara meja-meja pelajaran. Sepanjang sisa jam sekolah, rasa takut yang sempat sedikit berkurang hari-hari lalu kembali menyusup dan berkembang biak. Bagaimana jika benar-benar ada orang yang mengenali mereka? Bagaimana jika tamu yang datang malam ini ternyata seseorang dari sekolah? Atau lebih buruk lagi—bagaimana jika orang-orang berbicara itu bukan sekadar mengarang cerita, melainkan sudah melihat sesuatu yang seharusnya tetap tersembunyi?
Bel pulang akhirnya berbunyi, nyaring dan memecah ketegangan yang menyesakkan d**a. Berbeda dengan biasanya, Rosalina tidak langsung bergegas pulang. Ia menunggu sampai hampir seluruh teman sekelas pergi, hanya menyisakan dirinya dan Salma yang berpura-pura sibuk membereskan buku catatan. Begitu pintu kelas tertutup rapat dan koridor sepi, keduanya segera berjalan cepat menuju teras belakang yang teduh, tempat persembunyian aman mereka. Begitu sampai di bawah pohon beringin tua, Salma langsung bersandar pada batang pohon besar itu, napasnya terengah seolah baru saja berlari kencang.
“Kau dengar itu kan?” desis Salma pelan, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus ketakutan. “Mereka mulai bicara, Rosalina. Bukan sekadar omong kosong biasa, tapi persis menggambarkan tempat kita bekerja dan usia kita.”
“Aku dengar,” jawab Rosalina, tangannya gemetar saat menyeka keringat dingin di pelipis. “Jantungku rasanya mau copot saat itu. Kalau saja aku tidak ingat pesanmu untuk tetap diam, mungkin aku sudah melakukan kesalahan fatal.”
Salma mengangguk berat, matanya menatap rintik hujan yang masih turun membasahi halaman sekolah. “Ini risiko terbesar kita, dan aku sudah mengingatnya setiap detik sejak pertama kali melangkah masuk ke dunia malam. Semakin lama kita bertahan, semakin besar kemungkinan ada yang mulai curiga. Terutama sekarang—kita mulai berani keluar, berbelanja, berjalan-jalan, bukan lagi terkunci rapat di rumah dan kedai saja. Langkah kecil ke mal kemarin terasa menyenangkan, tapi juga membuka celah bahaya.”
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang makin serius dan dewasa, jauh melampaui usianya yang baru tujuh belas tahun. “Ada hal lain yang belum sempat aku ceritakan padamu. Selama aku bekerja, Madam Ara pernah berpesan berulang kali: di kota ini, ada orang-orang yang tidak sekadar datang untuk minum dan mengobrol. Ada yang datang untuk mencari kelemahan, untuk mengumpulkan aib, lalu memeras atau menjual rahasia itu demi keuntungan sendiri. Kita anak sekolah, itu nilai jual yang sangat mahal bagi orang-orang jahat semacam itu.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Salma?” tanyanya lirih. “Apakah kita harus berhenti berjumpa? Berhenti bicara? Kembali menjadi orang asing seperti dulu?”
Salma menoleh, menatap tajam namun penuh kasih sayang ke arah gadis di sampingnya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jari Rosalina yang dingin. “Tidak. Justru saat bahaya makin dekat, kita tidak boleh berpisah. Sendirian kita mudah jatuh, tapi bersama kita lebih sulit dikalahkan. Kita tidak mengubah isi hati atau keberadaan kita, tapi kita harus mengubah cara kita bergerak dan bersikap.”
Mereka pun duduk berdua di bangku semen basah itu, menyusun rencana kecil namun teliti. Mulai besok, di sekolah mereka akan kembali menjaga jarak lebih jauh lagi—tidak pernah terlihat berjalan beriringan, tidak duduk berdekatan saat istirahat, dan tidak berbicara kecuali benar-benar terpaksa serta di tempat yang aman dan tersembunyi. Keakraban mereka harus sepenuhnya tersembunyi dari pandangan siapa pun. Selain itu, di kedai nanti malam, mereka harus lebih berhati-hati dalam berpakaian, berbicara, dan bersikap—memastikan perbedaan penampilan, suara, dan gerak tubuh antara sosok sekolah dan sosok pekerja malam menjadi sangat mencolok, seolah-olah benar-benar dua orang wanita yang berbeda usia dan latar belakang.
“Dan ingat satu hal lagi,” tambah Salma sebelum mereka berpisah pulang, “mulai sekarang, setiap kali ada tamu yang terlihat terlalu penasaran, bertanya soal asal-usul, sekolah, atau tempat tinggal, jawablah sekenanya saja. Berikan informasi palsu, kaburkan jejak, dan segera alihkan pembicaraan. Madam Ara akan kita ajak bicara nanti malam juga minta bantuannya untuk lebih waspada menyeleksi tamu dan melindungi area kerja kita.”
Sore berubah menjadi senja, senja berubah menjadi malam. Seperti biasa, Rosalina mengganti seragam sekolahnya dengan gaun kerja yang disediakan kedai, merias wajah lebih tebal dari biasanya, dan mengubah gaya rambut agar bentuk wajahnya terlihat agak berbeda. Saat ia melangkah masuk ke Kedai Anggrek, udara hangat bercampur bau parfum, asap rokok, dan minuman keras langsung menyambutnya. Musik berdentum pelan namun berirama, lampu berkelip remang, dan suara gelas beradu terdengar di mana-mana. Di sudut dekat panggung kecil, Madam Ara berdiri mengawasi, wajahnya yang tegas namun ramah tampak makin waspada malam itu.
“Kau terlihat masih sangat muda, Rose,” ujarnya sambil menyeruput minuman berwarna cokelat pekat. “Masih sekolah kah? Atau baru lulus?”
Jantung Rosalina berdegup kencang, namun ia buru-buru menertawakan pertanyaan itu—tawa yang sudah ia latih agar terdengar santai dan sedikit menggoda. “Ah, Bapak ini suka bercanda. Kalau masih sekolah, mana mungkin saya ada di sini malam-malam begini? Sudah lama lulus, sudah lama bekerja.”
“Benarkah?” Pria itu tersenyum miring, tangannya bergerak hendak menyentuh lengan Rosalina, namun gadis itu dengan sigap sedikit menggeser kursi dan menuangkan minuman lagi ke gelasnya, memutus gerakan tersebut. “Tapi wajahmu terlihat sangat polos, persis seperti anak SMA yang baru pulang pelajaran.
Tanpa mengurangi senyumnya, ia memberi kode isyarat halus pada pelayan lain untuk segera memanggil Madam Ara.
Tak lama kemudian, Madam Ara berjalan mendekat dengan langkah tenang namun berwibawa, tersenyum lebar menyapa tamu tersebut seolah tak terjadi apa-apa, lalu perlahan namun pasti mengalihkan perhatiannya dan mengajak pria itu berpindah ke meja lain yang lebih jauh dari posisi Rosalina.
Setelah bahaya segera berlalu, Rosalina menyelinap ke ruang istirahat belakang untuk menenangkan diri. Napasnya tersengal, keringat dingin kembali membasahi punggungnya. Tak lama, Salma menyusul masuk.
“Lihat kan?” bisik Salma sambil bersandar di dinding, wajahnya terlihat lelah namun penuh kewaspadaan. “Seperti yang aku katakan. Bahaya itu nyata, Rosalina. Orang-orang seperti dia tidak akan berhenti sebelum mereka yakin benar atau salah dugaan mereka.”
Madam Ara juga ikut masuk sebentar, wajahnya yang biasanya teduh kini tampak serius. Ia duduk di kursi kayu tua, menatap kedua gadis muda itu bergantian. “Aku sudah dengar sebagian. Percakapan di sekolah, tamu yang menyelidik—semuanya saling berkaitan. Selama aku mengelola tempat ini, aku selalu berusaha menjaga kalian sebaik mungkin. Tapi aku tidak bisa melindungi kalian sepenuhnya jika kalian sendiri lengah.”
Wanita tua itu melanjutkan dengan nada rendah namun tegas, “Mulai malam ini, aturan baru berlaku. Kalian berdua—dan semua gadis yang masih bersekolah—tidak boleh lagi pulang sendirian. Akan ada supir atau petugas keamanan yang mengantar sampai dekat rumah, cukup jauh namun aman agar tidak terlihat mencurigakan tetangga. Kalian juga harus lebih sering berganti gaya riasan, warna gaun, dan cara bicara. Jangan biarkan ada ciri khas yang mudah diingat orang. Ingat, rahasia kita adalah nyawa kita.”
Rosalina bekerja dengan lebih waspada, matanya selalu mengawasi sekeliling, telinga menangkap setiap percakapan yang bisa ditangkap. Ia menyadari betapa berat dan rumitnya kehidupan yang mereka jalani—di satu sisi harus tetap bersekolah demi masa depan.
Saat jam menunjukkan pukul tiga pagi dan kedai mulai sepi, Rosalina dan Salma berjalan keluar ditemani seorang petugas keamanan bertubuh tegap yang berjalan agak di belakang mereka, cukup jauh agar tak terlihat seperti pengawal namun cukup dekat untuk memberi perlindungan. Udara pagi yang masih dingin menyapa kulit mereka, membuat napas tampak berembun di udara. Jalanan kota sepi, hanya sesekali dilewati kendaraan bermotor yang melaju cepat.
Di persimpangan jalan tempat mereka biasanya berpisah, Salma berhenti sejenak. Cahaya lampu jalan yang remang menyinari wajah cantiknya yang tampak pucat dan lelah namun tetap tegar.
“Kau baik-baik saja kan, Rosalina?” tanyanya pelan.
Rosalina mengangguk, menyusupkan kedua tangannya ke saku jaket tipis. “Aman. Meski jantungku masih berdebar kencang dari kejadian tadi malam. Terima kasih, Salma. Kalau tidak ada kau dan Madam Ara, aku tidak tahu harus bagaimana.”
Salma tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tenang dan penuh keyakinan. “Kita sudah lewat hari-hari yang sulit, dan ini baru satu tantangan lagi. Ingat apa yang kita bicarakan di bawah pohon beringin? Kita tidak sendirian. Bahaya makin dekat, persahabatan kita makin diuji. Selama kita saling jaga, saling ingatkan, dan tidak lengah, kita akan selamat sampai hari di mana kita bisa berhenti bekerja dan hidup dengan tenang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, hampir berbisik, “Aku tahu aku dulu minder, merasa tidak pantas berteman bahkan denganmu. Tapi kejadian hari ini membuktikan satu hal: persahabatan ini bukan sekadar keinginan gadis biasa yang ingin jalan-jalan ke mal atau makan kue bersama. Ini persahabatan yang menyelamatkan nyawa dan masa depan kita.”
Hati Rosalina terasa hangat mendengarnya. Ia mengangguk mantap, matanya berkaca namun bukan karena sedih atau takut, melainkan karena rasa haru dan kekuatan baru yang mengalir di dalam d**a. Mereka berpelukan sekilas, cepat dan hati-hati agar tak ada yang melihat, lalu berpisah ke arah kontrakan masing-masing.