Lima Keturunan

1641 Words
“A-apa aku salah?!” tanya Vitto setelah terdiam beberapa sekon. Mendadak dibuat getir oleh pasangan muda yang kini menatapnya datar namun juga begitu tajam. Seolah ia menjadi terdakwa sekarang. Detik terus berlalu, akan tetapi Tristan dan Caterina masih kompak menutup rapat birai dengan tatapan yang sudah teralihkan dari Vitto sepenuhnya. Lelaki bergigi kelinci itu bisa merasakan sedikit kelegaan. Hanya beberapa detik, karena setelahnya perkataan Tristan membuat ia melenguh pasrah tanpa jeda. “Tolong buatkan teh hijau hangat, Vitto,” pinta Tristan tenang. Sedikit menarik sudut birai saat Caterina di seberangnya terkekeh lanjut mengelengkan kepala pelan. Di mata Tristan itu manis sekali. “Astaga. Siapa ibu rumah tangganya kalau begini?” Vitto menghembuskan napas lelah sebelum mendengar penuturan Caterina selanjutnya. “Biar aku saja, Vitto.” Caterina terkekeh dan segera bangkit dari duduknya. Namun sebuah selusur hangat menahannya. Berakhir mengernyit menatap pelakunya. “Kenapa?” tanya Caterina tidak mengerti. Pasalnya Tristan hanya menatapnya datar dalam diam. “Temani aku ke meja makan. Biar Vitto yang menyiapkannya.” Tristan kini sudah ikut bangkit dari duduknya lantas menarik kembali pergelangan tangan Caterina yang semakin berdebar karena ulahnya. “Mereka ... astaga, mereka benar-benar membuatku frustrasi.” Vitto menghela napas berat, namun tidak menunggu lama untuk mengerjakan semua perintah Tristan. Vitto selalu tahu jika bos mafia itu tidak pernah suka dibantah dan memang suka semaunya. Akan tetapi tidak pernah menjadi masalah untuknya. Karena jauh sebelum ini, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdikan sepanjang hidupnya kepada lelaki pemilik nama asli Donathan Moreno tersebut. Sahabatnya itu sudah mengangkatnya dari lubang keterpurukan, di masa lalunya yang pahit. *** “Kenapa Vitto tidak ikut makan bersama kita, Tristan?” tanya Caterina setelah meletakkan sendok dan garpunya di atas piring makan keramik yang berada tepat di depannya. Cukup lama Caterina menunggu jawaban dari tunangannya itu. Ia dibuat menahan napas menatap lelaki dalam balutan white T-shirt ketat yang memperlihatkan otot-otot gagah di dalam sana. Tristan itu indah dilihat dari segala sisi mana pun. Caterina merasa pusing dengan ketampanan bak dua dimensi lelaki itu. “I hate my mind,” batin Caterina akhirnya setelah menarik napas dalam. “Jangan terpesona begitu. Habiskan makananmu dulu,” ucap Tristan santai seraya melirik kecil ke arah gadis di depannya. Ia menyeringai begitu menyadari Caterina menatapnya terang-terangan sejak tadi. Merasa menang tentu saja. Caterina tidak pernah tahu jika Tristan tengah menyiapkan rencana besar untuk mengendalikannya. Membuat gadis itu bertekuk lutut dan rela melakukan apa pun untuknya. Seperti .... “Kamu bisa mencuci pakaian?” tanyanya dengan kedua siku yang sudah menumpu di atas meja. “Huh?” Caterina jelas terperanjat sekarang. “Aku bertanya, kamu bisa mencuci pakaian atau tidak? Pernah melakukannya?” sentak Tristan lagi. “Aku ...” Caterina mendadak tersedak saliva. Ia sepertinya harus mengakui pada Tristan jika ia hanyalah seorang gadis yang begitu dimanjakan sang ayah. Jangankan mencuci pakaian, mencuci piring saja Caterina tidak pernah. Seumur hidupnya, Henry menfasilitasinya dengan segala kemewahan. Termasuk beberapa Housemaid yang bisa melakukan apa pun untuknya. Namun, karena itu juga ia memanfaatkan semuanya dengan kegiatan belajar yang menghabiskan waktu 16 jam. Tidak ada yang tahu jika gadis itu baru saja merampungkan sebuah penemuan besar. Tepat di dalam perpustakaan induk kampus di mana ia dibuat terpesona dengan Tristan Selvagio untuk pertama kalinya. Misi Caterina tersebut diperuntukkan untuk menemukan seseorang yang sudah belasan tahun terpisah dengannya. “Sudah aku katakan, cukup dulu terpesonanya. Sekarang jawab pertanyaanku,” sergah Tristan lagi. Lelaki itu mendadak menggebu. Sebenarnya selalu begitu. Ia bukanlah sosok penyabar selama dua tahun terakhir ini. Jika di depannya sekarang bukanlah seorang gadis yang merupakan calon istri yang sudah diamanahkan sang ibu untuk ia jaga sepenuh hati dan ia memang berniat akan bertanggung jawab atas perjanjian yang dibuatnya bersama Henry itu, mungkin Tristan sudah menarik pelatuk revolver-nya dan menyeringai puas. Persis seperti yang ia lakukan pada musuhnya selama ini. Bahkan beberapa anak buah yang menjadi pengkhianat berakhir meregang nyawa dalam kepalan tangannya. Tristan memang kejam jika sudah berhubungan dengan sebuah pengkhianatan. Ia sangat membenci hal itu. Termasuk bagaimana dulu ia sempat menaruh kekecewaan besar pada pernikahan Amadhea dan Gustav Patrizio. Menganggap sang ibu sudah mengkhianati mendiang ayahnya. Hanya beberapa waktu memang, sampai Amadhea membuktikan kepada Tristan jika ayah tirinya itu tidak pernah menyakiti sang ibu. Terlihat penuh perhatian, yang membuat Tristan mengurungkan niatnya untuk menghabisi lelaki paru baya tersebut sampai detik ini. Entah kenapa, Tristan masih mencurigai Gustav. Berpikir jika pria yang masih gagah di usia setengah abad itu tengah melakukan intrik di depannya. Demi apa pun, hati Tristan terketuk rasa curiga akan kematian sang ayah, Caesar Moreno. Merasa ada hubungannya dengan pimpinan klan sekutunya itu. Ia dan Vitto tidak pernah berhenti menyelidiki nya sampai sekarang. Hal itu pula yang awalnya mendasari Tristan untuk menyamar menjadi seorang dosen di kampus ternama pulau Sisilia tersebut. Vitto berhasil meretas transaksi terakhir pengiriman senjata illegal klan Palazzo tepat di hari kematian ayahnya. Persis berada di lokasi yang sama. Ia tidak punya cukup bukti untuk menjerat Gustav. Jadi ... ikut memainkan intrik di depan Gustav dengan mengandalkan keberadaan ibunya di istana pria itu, agar ia bisa terus memata-matai, dirasa adalah jalan yang terbaik. Tristan perlu mengulur waktu untuk menyelesaikan misinya menemukan kode transaksi terakhir Gustav bersama salah satu pegawai rahasia kampus. Okay, setelah ini ia harus meminta maaf pada Amadhea karena sudah menjadikannya umpan dalam misi putranya. “Sekarang siapa yang terpesona, hmm? Akui saja, jika sebenarnya kamu yang terpesona, Tristan.” Perkataan Caterina barusan membuat lamunan Tristan buyar. Ia pun segera mengerjap cepat lanjut menelan saliva dengan kesusahan. Bagaimana sekarang Caterina tengah menyibak surai panjang yang sejak tadi menutupi kening putih mulusnya, kemudian menyelipkan sebagiannya ke belakang telinga hingga tiga kancing teratas kemeja putih yang terbuka tiga itu terekspos sempurna. Tristan sukses meremang. “Apa kamu melakukan ini juga tadi di depan Vitto?” tanyanya tiba-tiba. Sungguh sebuah respon yang sangat tidak harapkan Caterina untuk sekarang. Ia berdecih tidak suka. “Kenapa kamu mengganti topik pembicaraan kita?” gerutu Caterina. “Okay, sekarang kita bahas tentang masa depan kita saja,” tawar Tristan. “Hmm?” Caterina mengernyit dalam. “Kamu tidak lupa kan jika pernikahan kita satu minggu lagi dari sekarang?” sambung Tristan. “Ya ... untungnya ingatanku masih bagus. Kenapa memangnya? Ada apa dengan pernikahan kita? Kamu ingin membatalkan perjanjiannya? Berniat kabur? Atau ingin mengajakku kabur?” tutur Caterina dengan rentetan pertanyaan yang menjadikan Tristan menghela napas berat karenanya. “Dengar, Cate. Kamu itu ... astaga. Aku bahkan sedang memikirkan jika kita memiliki lima keturunan nantinya,” jelas Tristan, santai. “A-apa? Ka-kamu ...?” Caterina mendelik tak percaya mendengar perkataan lelaki yang kini kembali menyesap teh hijau yang Carterina tahu sudah tidak lagi hangat. “Iya, anak kita. Lima saja. Aku rasa itu sudah cukup.” Tristan meletakkan kembali cangkir tersebut yang kini tersisa dua tegukan lagi isi di dalamnya. “T-Tristan ... itu bukan cukup lagi, itu ... terlalu banyak. Lagipula, aku masih kuliah. Dan semester ini aku baru akan mengajukan proposal skripsi.” Caterina meringis. Ia tidak percaya jika sekarang malah ikut meladeni kegilaan lelaki di seberangnya tersebut. “Itu bisa dibicarakan nanti. Banyak anak banyak rezeki. Apa kamu tidak pernah mendengarnya?” Tristan berucap kelewat pelan seraya bangkit dari kursi yang mengitari meja makan mewah dengan ukiran khas mediterania di depannya itu. “Tidak. Yang pernah aku dengar hanya ... banyak suami banyak rezeki.” Caterina ikut bangkit untuk membereskan meja makan. Tangannya bergerak perlahan. Begitu khawatir jika ia melakukan kesalahan fatal di depan calon suaminya yang kini tengah menguar tatapan tajam seakan ingin melahapnya tanpa sisa. “Mau kamu bawa ke mana piring dan gelas itu?” Tristan tengah menahan diri untuk tidak membungkam birai mungil Caterina yang baru saja membuatnya geram, dengan birainya. Mendadak tidak mengerti dengan hatinya sendiri. Kenapa juga bisa memanas hanya karena perkataan Caterina yang ia rasa sebatas gurauan semata. Mungkin. Tetapi yang ia lihat sekarang, wajah Caterina terus memendar keseriusan. “Aku mau membawanya ke wastafel dapur. Kenapa?” Caterina sudah menggerakkan tungkainya menjauh dari meja makan. “Tidak ada apa-apa. Baguslah, kamu mau mencuci piringnya. Belajar jadi istri yang baik,” sahut Tristan cepat. “Maaf, tapi ... aku tidak bisa mencuci piring. Aku tidak pernah melakukannya." Caterina pun berlalu meninggalkan Tristan yang kini melebarkan netra tidak percaya. Baru kali ini ia tahu, jika ada wanita yang tidak bisa melakukan tugas rumah tangga. "Aku bisa saja membayar sepuluh housemaid untuk kita, Cate. Tapi, ingin rasanya melihat istri sendiri yang memanjakanku. Seperti ... yang Madre lakukan untuk mendiang padreku." *** "Oh, Vitto. Kamu masih di sini? Kenapa tidak ikut sarapan bersama kami?" tanya Caterina begitu sampai di dapur berukuran luas tersebut dan mendapati sosok lelaki tampan nan kekar tengah sibuk menggerakkan spatula di dalam wajan. Caterina langsung tergoda harum masakan Vitto yang begitu menggoyang lidahnya. "Hai, Cate. Aku sedang menyiapkan kalian makan siang dan juga makan malam. Nanti tinggal kamu hangatkan lagi dengan microwave ketika mau dimakan. Aku tidak mau Tristan menggangguku lagi seperti tadi. Ada yang harus aku bereskan. Ah ya, di mana Tristan? Tadi madrenya menelepon ke handphone-ku. Dia benar-benar mematikan selulernya sejak semalam," terang Vitto masih memunggungi Caterina. Raut wajahnya begitu serius menatap masakan yang ia olah sejak beberapa belas menit yang lalu. Demi Tristan, Vitto akan melakukan apa saja. "Maaf, Vitto. Seharusnya itu tugasku," gumam Caterina pelan. Terlihat menyesal tidak bisa melakukan tugas rumah apa pun. "Tidak masalah. Aku akan mengajarimu nanti. Santai saja." Vitto kini berpaling menatap Cate sembari menguar senyuman manisnya. Satu sosok yang tengah memperhatikan interaksi keduanya sejak tadi mulai berdecak. Lagi-lagi ia dibuat kesal. "Aku akan mendaftarkan Cate kursus memasak nanti. Jangan repot-repot, Vitto," Tahu-tahu Tristan sudah mendekat dan langsung meraih pinggang ramping Caterina. Gadis itu sukses tercekat di tempatnya. "T-Tristan?" "Apa tadi aku mendengar kalau Madre menelepon? Apa yang dikatakannya?" Tristan langsung mengalihkan pembicaraan. Menatap Vitto dengan raut serius yang terukir nyata. "Amadhea mengatakan ... Henry dan Luca tengah melacak keberadaan kalian." *** To be continued ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD