“Kenapa selalu begini, Tristan? Kenapa memanggilku sesuka hati? Kau tahu kan kalau di jam sekarang biasanya aku sedang workout? Astaga, merusak mood-ku saja pagi-pagi.”
Seorang laki-laki gagah dengan otot-otot yang terpeta indah dalam balutan tanktop hitam ketat itu masih sibuk menggerutu bersamaan dengan tangan yang juga sibuk membolak-balik ayam cincang di atas panggangan kemudian mencampurnya dengan nasi untuk dijadikan nasi goreng pattaya.
Dialah Vitto Dominico, sahabat Tristan yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Berteman dekat selama bertahun-tahun membuat hubungan mereka tanpa dibatasi rahasia.
Jika kalian ingin mengetahui semua rahasia Tristan, maka larilah ke Vitto untuk mengonfirmasi semuanya. Tapi jangan sampai menyesal jika kalian akan habis di tangannya. Loyalitas lelaki yang hingga dua tahun ini begitu betah bersemayam di lantai tujuh gedung apartemen milik Tristan itu, tidak perlu diragukan lagi. Tidak heran jika Tristan begitu mempercayainya untuk semua hal. Termasuk urusan dapur seperti sekarang.
“Sudahlah, Vitto. Jangan terus mengomel seperti ibu rumah tangga. Aku hanya memintamu untuk membuatkanku sarapan. Kenapa jadi tidak ikhlas begitu? Lagi pula, kau memangnya tega melihat calon istriku kelaparan, hah?!”
Tristan yang tengah duduk santai di kursi meja bar dapur itu ikut menggerutu sekarang. Suaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya sekarang dipenuhi potongan buah apel hijau yang belum selesai dikunyahnya.
Jawaban Tristan sontak membuat Vitto berdecih. Mendadak geram. Bukan sekali dua kali bos mafia itu berlaku seperti itu padanya. Sudah setiap harinya ketika berkunjung ke salah satu tempat persembunyian mereka di Giardini Naxos tersebut. Vitto pasti diminta untuk memasak sedangkan Tristan menunggu dengan santai di meja bar.
“Masalahnya, kau menyuruhku memasak nasi goreng pattaya, Tristan. Oh, God. Apa kau mengidam? Atau malah tunanganmu itu yang sedang me—“
“Hei! Aku bahkan belum menyentuhnya seujung kuku pun. Jangan berbicara yang tidak-tidak. Kau kenal aku dengan baik, kan? Aku tidak akan menyentuh wanita yang belum sah menjadi istriku.”
Tristan menerawang kemudian, mengingat bagaimana sentuhan terakhirnya pada pinggang ramping sang tunangan saat melawan anak buah Gustav semalam. Membuat ia menggigit birai seketika. Caterina-nya tampil sangat berbeda semalam. Berbanding jauh dengan penampilan kutu buku berkacamata saat mengikuti kelasnya.
“Aku tanya kenapa harus nasi goreng pattaya? Bukan menyuruhmu menerawang bagaimana seksinya tunanganmu itu semalam,” celetuk Vitto tiba-tiba yang meruntuhkan semua lamunan Tristan. Ia menghela napas kasar sekarang.
“Sial. Aku lupa kalau Vitto selalu tahu apa yang aku pikirkan.” Tristan membatin lanjut melengos kemudian. Baru kali ini pikirannya mendadak liar karena seorang wanita bernama Caterina Valerio yang satu minggu ke depan akan resmi dipersuntingnya sebagai istri.
“Ini semua karena Paballo. Kalau saja gudang senjatanya saat itu tidak ada di Kuala Lumpur. Aku tentu tidak akan ke sana, Vitto. Sampai akhirnya aku terjerat pesona nasi goreng pattaya begini. Dengar, aku ingin membuat Caterina juga menyukai apa yang aku suka. Jadi ... setelah menikah nanti dia tahu cara menyenangkan suaminya,” ucap Tristan mantap.
“Jangan mengambinghitamkan Paballo atau pun Caterina. Kau itu memang sengaja. Ya sudah, tidak masalah. Tapi jangan menyesal jika akhirnya Caterina jatuh cinta padaku. Wanita selalu suka laki-laki yang pintar memasak dan pandai mengurus rumah. Suami idaman memang.”
Vitto kini berbalik dengan dua piring makan keramik putih bentuk persegi berisi nasi goreng pattaya di kedua tangan kekarnya. Ia menggerakkan tungkai ke arah Tristan yang kini mengunci tatapan bersama jakun yang naik turun ke arah piring makan tersebut. Benar-benar kelaparan.
“Aku ini ... suami idaman bukan? Tunggu sampai Caterina datang dan melihatku. Cinta itu pun akan datang.” Vitto masih belum berhenti menggoda. Sepertinya ia lupa jika sahabatnya itu seorang bos mafia haus darah.
Perkataan Vitto memang berhasil membuat Tristan mendengus kesal. Bagaimana sekarang ia memicing tajam ke arah Vitto yang dengan santai mengambil tempat di sebelahnya. Ia merogoh saku celananya dalam satu gerakan cepat dan mengeluarkan sebuah benda hitam berkaliber 22 yang mematikan lanjut mengarahkan ke kepala Vitto detik itu juga.
“Katakan sekali lagi ... jika kau ingin mati!” Tristan bersiap membidik.
“Wow ... sensitif sekali calon pengantin kita.” Vitto bukannya gentar, ia masih saja melempar godaan.
“Sudah, Tristan. Cepat simpan revolver-mu itu. Jangan sampai Caterina melihatmu begini dan langsung kabur setelahnya,” sarkas Vitto lagi.
“Ekhem.”
Suara deheman yang memendar singkat itu langsung mencuri atensi Tristan dan Vitto. Bagaimana kini keduanya terbelalak kaget menatap presensi seorang wanita cantik dalam balutan kemeja putih longgar pun kebesaran. Itu Caterina. Sosok yang sudah sejak beberapa menit yang lalu menguping pembicaraan mereka berdua di belakang tembok pembatas dapur lantai tiga tersebut.
Tristan memaku. Netranya tak mampu mengerjap menatap presensi sang tunangan yang pagi itu terlihat mempesona dengan tampilan bare face ditambah outfit yang lagi-lagi sangat mengganggu penglihatannya.
“Tristan ... Tristan! Hei!” Vitto yang sebenarnya masih tegang karena Tristan belum juga menurunkan revolver hitam itu dari sisi kepalanya, kini berusaha mendelik—memberi kode, dengan tangan menepuk paha Tristan keras.
Tristan mengerjap cepat merasakan denyutan perih di paha kanannya. Ia beralih menatap Vitto dengan geram. “Kenapa kau memukulku?” sentak Tristan.
“Aku kali ini benar-benar takut jika revolver-mu itu akan melepaskan pelurunya dengan sengaja. Cepat turunkan benda mematikan itu, Tristan. Apa kau tidak takut dengan calon istrimu?” Vitto kembali melirik Caterina dengan ekor matanya.
Perkataan Vitto langsung mengarahkan Tristan untuk menurunkan senjatanya. Ia kembali menyimpan benda hitam tersebut ke dalam saku celana, lantas kini beralih lagi menatap Caterina yang tengah berjalan provokatif ke arahnya.
“Wah, sarapannya sudah siap ya? Kenapa dibungkus begini? Isi di dalamnya apa?” Caterina langsung mendudukkan torsonya dengan santai di seberang Tristan dan Vitto yang tengah menatapnya terang-terangan. Netranya berbinar seketika saat mengendus semerbak harum makanan ‘aneh’—menurut Caterina—yang terhidang di depannya.
“Sudah kuduga memang. Pasangan ini tidak ada yang mengerti tentang makanan,” sarkas Vitto yang kali ini tertawa renyah. Sangat puas.
“Aku tahu tentang makanan. Hanya ... tidak bisa memasaknya saja,” santai Caterina yang sudah menahan saliva untuk tidak terjerat pesona makanan asing tersebut.
“Tetapi yang ini ... aku belum pernah melihatnya. Rasanya ini tidak ada di Italia,” lanjut Caterina seraya menggaruk tengkuknya yang sedang tidak gatal sama sekali. Ditatap begitu tajam oleh sang tunangan membuat hati lemahnya bergetar.
“Jadi ... kamu belum tahu ini apa?” tanya Tristan akhirnya. Mendadak ia ingin mengulik lebih dalam tentang calon istrinya itu. Ia memang sudah tidak waras, saat menandatangani perjanjian dengan Henry tanpa bertanya apa pun bagaimana sosok yang akan dinikahinya.
“Tidak. Ini kulitnya seperti omelette, tetapi isinya apa? Bisa dimakan, kan?” tanya Caterina yang semakin dibuat penasaran. Sebenarnya karena sudah tidak sabar untuk segera mencicipinya. Cate melenguh karena dua lelaki tampan di hadapannya itu belum juga mempersilahkannya untuk makan.
“Astaga ... astaga. Memang benar ya, jodoh itu adalah cerminan diri. Aku akhirnya melihat bukti konkret di depan mataku sendiri sekarang. Kalian berdua itu sangat cocok. Takdir pernikahan kalian nanti memang sudah ada campur tangan Tuhan. Terima saja, Tristan. Kau juga, Cate. Terima saja kalau Tristan ini tidak tahu-menahu tentang urusan rumah tangga. Jangan menolak penikahan ini lagi. Okay?”
“SIAPA YANG MENOLAK?!”
Suara soprano dan tenor yang memendar serempak itu membuat Vitto tercekat. Tristan dan Caterina kini tengah mengunci tatapan setajam elang pun begitu menusuk ke arahnya.
***
To be continued ....